NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:789
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08

Malam itu berjalan lebih lambat dari biasanya.

Nadia berbaring memunggungi Arya, tubuhnya kaku, napasnya teratur namun tidak sepenuhnya tenang. Sesuai dengan apa yang Arya perkirakan sejak awal, gadis itu tidak akan langsung mempercayainya. Tidak setelah semua yang terjadi. Tidak setelah paksaan, ancaman, dan kontrak dingin yang mengikat mereka berdua dalam hubungan yang sama sekali tidak dilandasi cinta.

Kelopak mata Nadia memang terpejam, tapi pikirannya terjaga. Ia bisa merasakan kehadiran Arya di belakangnya duduk di tepi ranjang sempit itu, diam terlalu lama, seolah menimbang sesuatu. Sesekali, Nadia melirik melalui sudut matanya, berhati-hati agar gerakannya tak terlalu jelas. Ia ingin memastikan laki-laki itu tidak melakukan sesuatu yang tak ia inginkan.

Setiap detik terasa seperti ujian kesabaran.

Arya tentu menyadari hal itu.

Ia tidak bodoh. Ia melihat bahu Nadia yang tegang, cara napasnya sedikit berubah setiap kali ia bergerak. Gadis itu waspada, dan itu justru membuat Arya merasa tersentuh dengan cara yang aneh. Bukan lembut, tidak. Lebih seperti rasa puas karena tahu Nadia sadar bahwa ia berada dalam wilayah kekuasaannya.

Namun malam ini, Arya memilih menahan diri.

Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dari tepi ranjang. Suara langkah kakinya terdengar jelas di ruang sempit itu. Nadia semakin menegang, tapi ia tetap berpura-pura terlelap. Arya berjalan menjauh, menuju ruangan kecil yang hanya dipisahkan tembok tipis ruang yang oleh Nadia disebut dapur, meski sebenarnya lebih mirip sudut sempit dengan kompor kecil dan satu rak usang.

Arya mengambil segelas air dari galon, menuangkannya dengan hati-hati. Tidak ada apa pun yang ia masukkan ke dalamnya. Hanya air. Ia menatap cairan bening itu sejenak, lalu tersenyum tipis senyum yang lebih menyerupai refleksi pikiran rumit di kepalanya daripada kebahagiaan.

Ia kembali ke kamar dan menghampiri ranjang.

“Nadia,” panggilnya dengan suara rendah.

Tubuh Nadia sedikit bergerak. Ia membuka mata perlahan, berpura-pura baru terbangun.

“Minum,” ujar Arya sambil menyodorkan gelas itu. “Supaya kamu lebih tenang.”

Nadia ragu. Ia menatap gelas itu beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Arya. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada kemarahan di sana hanya kelelahan, dan sesuatu yang sulit Nadia tafsirkan.

“Tenang saja,” lanjut Arya, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Aku benar-benar hanya ingin menemanimu tidur. Kalau kamu masih keberatan aku akan pergi setelah kamu terlelap.”

Ada jeda panjang sebelum Nadia akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk. Tubuhnya masih dibungkus selimut, tangan kirinya menggenggam ujung kain itu erat. Dengan hati-hati, ia menerima gelas tersebut. Tidak ada kecurigaan berlebihan, hanya rasa waspada yang terus menempel di dadanya.

Ia menyesap air itu perlahan. Rasanya biasa. Tidak aneh.

Nadia mengembalikan gelas itu pada Arya sebelum kembali berbaring.

Arya berdiri, membawa gelas kembali ke dapur. Ia meletakkannya di atas rak, lalu bersandar sejenak pada dinding. Ada sesuatu di dadanya yang terasa tidak nyaman. Ia tidak menyukai keraguan. Tidak menyukai perasaan menahan diri.

Namun ia kembali ke kamar.

Ketika ia duduk di tepi ranjang lagi, ia melihat Nadia sudah memejamkan mata. Napasnya kini lebih dalam, lebih teratur.

"Apakah efeknya sudah bekerja?" Gumannya. Tanpa sepengetahuan Nadia, Arya telah memasukan obat tidur dengan dosis rendah pada minum yang dia berikan pada Nadia. Tujuannya jelas untuk menikmati tubuh Nadia tanpa penolakan dari gadis itu. Arya mengguncang tubuh Nadia mengetes apakah efek obat tidur itu sudah bekerja, setelah di rasa aman.

Ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri Arya.

Bukan sekadar hasrat.

Lebih berbahaya dari itu.

Ia berbaring di samping Nadia, menjaga jarak meski ranjang sempit membuat tubuh mereka hampir bersentuhan. Panas tubuh Nadia terasa, nyata, membuat pikirannya berputar. Arya memiringkan kepalanya, menatap gadis itu dari jarak dekat.Ia mengelusnya pelan wajah gadis itu lalu perlahan turun ke bibirnya. Benda itu, benar-benar membuatnya tidak tahan, tanpa basa-basi dia segera mengecup bibir Nadia, kemudian melumatnya. Setelah puas dia mencium leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang memabukkan.

" Harusnya kamu tidak menolakku untuk melakukan ini saat sadar, karena aku adalah suamimu," ujar Arya.

Arya menjelajah tubuh Nadia dan meninggalkan banyak tanda di tubuhnya, tak lama kegiatannya terganggu begitu dering dari ponsel Nadia.

Arya terkejut. Ia melirik ke arah meja kecil di samping ranjang. Ponsel Nadia bergetar, layar menyala di kegelapan. Sebuah nama muncul jelas di sana.

Sayangku.

Rahang Arya mengeras.

Ingatan tentang interaksi Nadia dengan seorang laki-laki senyum kecil yang jarang ia lihat, sorot mata yang berbeda seketika menyeruak. Arya meraih ponsel itu sebelum Nadia bergerak. Ia menatap layar beberapa detik terlalu lama, lalu menggeram pelan.

“Ingat Nadia kamu hanya milikku,” gumamnya dingin.

Ia tidak mengangkat telepon itu. Tidak juga mematikannya. Ia hanya meletakkannya kembali ke sembarang arah di atas meja, sedikit lebih kasar dari sebelumnya.

Hasrat yang tadi ia tahan kini berubah bentuk menjadi kecemburuan yang tajam dan berbahaya.

Ia kembali menoleh pada Nadia yang masih terbaring, tidak menyadari apa pun.

“Seharusnya kau sadar,” bisik Arya, nyaris tanpa suara. “Sekarang hidupmu tidak lagi sederhana.”

Arya kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda, hasrat itu semakin menjadi setelah mengetahui jika Nadia dan kekasihnya masih berhubungan. Namun kegiatannya kembali terganggu karena ketukan dari luar kamar kos.

Awalnya pelan.

Tok. Tok.

Arya mengabaikannya.

Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

Raut wajah Arya berubah kesal. Ia duduk tegak, melirik Nadia sejenak untuk memastikan gadis itu tidak terbangun. Nadia hanya bergumam kecil, lalu kembali diam.

Ketukan itu berubah menjadi ketukan mendesak.

“Tuan Arya,” terdengar suara dari luar. “Tuan, ini saya. Rio.”

Arya mendengus pelan. Ia berdiri, merapikan pakaiannya dengan cepat tak lupa juga ia melekatkan kembali pakaian Nadia yang sempat ia buka. Sebelum melangkah pergi, ia menarik selimut Nadia sedikit lebih tinggi, memastikan tubuh gadis itu tertutup dengan layak.

Ia membuka pintu kos dengan ekspresi tidak ramah.

“Ada apa?” tanyanya dingin.

Rio berdiri di luar dengan wajah tegang. “Maaf mengganggu, Tuan. Tapi ini mendesak. Salah satu gudang senjata terbakar.”

Arya terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengumpat pelan.

“Sial.”

Ia menoleh kembali ke dalam kamar, ke arah Nadia yang terbaring sendirian kini. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang tidak diucapkan, ancaman yang belum selesai.

Arya melangkah masuk sebentar, mendekati ranjang. Ia membenarkan kembali letak selimut Nadia yang sedikit bergeser.

“Anggap saja ini permulaan,” bisiknya pelan, hampir seperti sumpah. “Setelah ini… aku akan memastikan kamu menjadi milikku sepenuhnya, Nadia.”

Tanpa menunggu jawaban karena ia tahu tidak akan mendapatkannya, Arya berbalik dan keluar dari kamar kos itu. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Nadia sendirian dalam keheningan.

Beberapa menit kemudian, Nadia membuka matanya.

Ia tidak benar-benar tidur, karena obat itu tidak sepenuhnya bekerja.

Ia mendengar semuanya.

Dering ponsel. Ketukan pintu. Bahkan langkah kaki Arya yang menjauh.

Air mata perlahan mengalir di pelipisnya, membasahi bantal tipis itu. Bukan karena takut semata—melainkan karena ia sadar hidupnya kini berada di tangan seorang pria yang tidak hanya berbahaya karena kekuasaan, tapi juga karena obsesi.

Dan malam itu, Nadia mengerti satu hal dengan sangat jelas pernikahan kontrak ini bukan sekadar ikatan palsu.

Ini adalah awal dari pertarungan panjang—antara kehendaknya untuk bertahan, dan keinginan Arya untuk memiliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!