NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Matahari baru saja mengintip dari balik tirai tipis kamar kos Anya yang sempit ketika gedoran keras di pintu membuatnya terlonjak dari kasur tipisnya.

BAM! BAM! BAM!

"Woi! Sabar! Pintu kosanku bisa rubuh!" teriak Anya sambil mengucek mata, nyawanya belum terkumpul penuh. Ia menyambar tongkat bisbol usang dari balik pintu, bersiap jika itu adalah lintah darat suruhan ayahnya.

Namun, ketika pintu dibuka, bukan preman pasar yang ia temui, melainkan dua pria berjas hitam rapi dengan kacamata hitam, berdiri tegak seperti patung. Di belakang mereka, sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengilap terparkir tidak pada tempatnya di gang sempit yang becek itu, membuat para tetangga mengintip dari jendela dengan mulut ternganga.

"Nona Anya," ucap salah satu pria berjas itu sambil membungkuk sedikit. "Tuan Kaelan sudah menunggu di mobil. Jadwal fitting gaun Anda dimulai tiga puluh menit lagi."

Anya mengerjap, melirik jam beker berbentuk ayam di mejanya. Pukul 07.00 pagi. "Gila. Mafia nggak pernah tidur, ya?" gerutunya. Ia membanting tongkat bisbolnya, menyambar jaket kulit kebesaran, dan berjalan keluar dengan sandal jepit karetnya.

Di dalam bagian belakang Rolls-Royce yang luas dan beraroma maskulin, Kaelan sedang membaca beberapa dokumen di tabletnya. Ia mendongak saat Anya masuk dan duduk di seberangnya. Mata elang pria itu langsung tertuju pada sandal jepit hijau terang yang dikenakan Anya.

"Kau berencana menemui keluargaku dengan... alas kaki itu?" sindir Kaelan dengan nada datar, meski ada kedutan tipis di sudut bibirnya.

Anya bersedekap, mengangkat sebelah kakinya dengan bangga. "Kenapa? Ini anti-selip, Tuan Mafia. Kalau keluargamu macam-macam, aku bisa lari lebih cepat pakai ini daripada sepatu hak tinggi."

Kaelan hanya menghela napas, meletakkan tabletnya, lalu mengetuk pelat kaca yang memisahkan mereka dengan sopir. "Jalan ke butik Madame Celine."

Butik Celine adalah surga bagi para sosialita. Lantainya terbuat dari marmer putih, dan aroma bunga lili mahal menguar di setiap sudutnya. Namun, bagi Anya, tempat ini lebih mirip ruang penyiksaan elit.

Sudah lima kali Anya keluar-masuk ruang ganti, dan kelima-limanya Kaelan hanya menggelengkan kepala.

"Tidak," ucap Kaelan saat Anya keluar mengenakan gaun merah muda berenda.

"Ini gatal sekali! Aku kelihatan seperti kue lapis yang berjalan!" rengek Anya sambil menggaruk lehernya dengan kasar. Madame Celine, sang pemilik butik yang anggun, nyaris pingsan melihat gaun seharga puluhan juta itu ditarik-tarik sembarangan.

"Ganti," perintah Kaelan mutlak.

Anya masuk lagi dengan bersungut-sungut. Sepuluh menit kemudian, ia keluar mengenakan gaun kuning dengan banyak pita.

Kaelan memijat pangkal hidungnya. "Dia bukan badut ulang tahun, Celine. Aku butuh dia terlihat mengintimidasi, anggun, tapi mematikan." Kaelan berdiri, berjalan melewati deretan gaun, lalu menarik sebuah gaun malam berbahan silk berwarna merah marun gelap (burgundy). Gaun itu memiliki kerah halter-neck yang elegan, punggung terbuka, dan belahan tinggi di bagian paha.

"Pakai ini," Kaelan menyodorkannya pada Anya.

"Kau yakin? Belahannya tinggi sekali. Aku bisa masuk angin," protes Anya.

"Pakai, atau kontrak satu miliar kita batal."

Ancaman itu ampuh. Anya mendengus sebal, merampas gaun itu, dan kembali ke ruang ganti. Kali ini, ia dibantu oleh para asisten butik untuk merias wajah dan menata rambut wolf-cut-nya. Mereka tidak mengubah gaya rambut tomboynya, melainkan menatanya menjadi lebih tajam dan edgy dengan sedikit gel. Riasan wajahnya dibuat bold di bagian mata, menonjolkan tatapan tajam Anya yang alami.

Saat tirai ruang ganti ditarik, suasana butik mendadak hening.

Anya melangkah keluar dengan canggung. Ia mengenakan stiletto hitam setinggi tujuh sentimeter yang membuatnya berjalan sedikit gontai. Namun, gaun merah marun itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Otot lengan dan bahunya yang terbentuk karena sering berkelahi justru memberikan kesan tangguh yang sangat seksi. Punggungnya yang tegap dan tatapan matanya yang kini dibingkai eyeliner tajam membuatnya tidak terlihat seperti pelayan bar yang miskin, melainkan seorang ratu pembunuh bayaran.

Kaelan yang sedang menyesap kopi espreso-nya, terdiam. Cangkir di tangannya berhenti di udara. Mata dinginnya menelusuri sosok Anya dari bawah hingga ke atas. Untuk sesaat, napas sang mafia tercekat. Gadis tomboy yang kasar dan berantakan itu... telah hilang.

"B-bagaimana?" tanya Anya gugup, memegangi belahan gaunnya agar tidak terlalu mengekspos pahanya. "Aku kelihatan aneh, kan? Sepatu ini rasanya mau mematahkan pergelangan kakiku."

Kaelan berdeham pelan, meletakkan cangkirnya ke meja untuk menyembunyikan tangannya yang tiba-tiba terasa kaku. Ia kembali memasang wajah datarnya.

"Lumayan," jawab Kaelan singkat, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. "Setidaknya kau tidak terlihat seperti gelandangan lagi."

Anya memutar bola matanya. "Dasar pria es. Mulutmu itu harusnya disekolahkan lagi."

Kaelan mengabaikan gerutuan Anya dan melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal. Kaelan bisa mencium aroma mawar dan vanila dari tubuh Anya. Tangan besar Kaelan terangkat, membuat Anya sempat memejamkan mata dan mundur selangkah sebagai refleks pertahanan diri.

Namun, alih-alih menyakiti, tangan Kaelan dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang jatuh di dahi Anya. Sentuhan kecil itu membuat jantung Anya tiba-tiba berdebar tak karuan.

"Mulai malam ini," bisik Kaelan, menatap lurus ke dalam mata cokelat Anya, "kau bukan lagi Anya si pelayan bar. Kau adalah Anya, istri dari Kaelan. Berjalanlah dengan dagu terangkat, jangan tundukkan kepalamu pada siapa pun di keluargaku, bahkan pada Tetua sekalipun. Paham?"

Anya menelan ludah, menatap mata hitam kelam Kaelan yang entah mengapa kini terasa sangat menghipnotis. Perlahan, gadis tomboy itu mengangguk. Seringai tipisnya yang tengil kembali muncul.

"Tenang saja, Suamiku," goda Anya, sengaja menekan kata terakhir. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah keluargamu saat kau membawa preman pasar ini ke istana mereka."

Kaelan menyeringai tipis. Ya, malam ini, kediaman utama klan mafianya pasti akan hancur lebur oleh gadis di depannya ini.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!