“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Ridho terbangun dengan kepala terasa berat, seolah ada ribuan serpihan kaca berputar di dalam kepalanya. Cahaya pagi menerobos tirai tipis kamarnya, menyentuh wajahnya yang pucat. Ia menutup mata kembali, lalu membukanya pelan, mencoba mengingat sesuatu.
Kosong.
Semakin ia memaksa, semakin nyeri itu datang, menjalar dari pelipis hingga ke tengkuk. Ridho meringis, tangan kanannya terangkat memegangi kepala.
"Ridho!? Kamu kenapa? Sakit lagi?"
Suara itu lembut, penuh kekhawatiran. Bu Pur duduk di samping ranjang, tangannya yang mulai keriput menggenggam tangan Ridho erat-erat, seakan takut anaknya menghilang jika dilepas.
"Aku cuma... Coba mengingat... Tapi..."
“Jangan dipaksa mengingat,” sela ibunya.“Kalau sakit, berhenti. Ibu enggak butuh kamu ingat apa-apa. Yang penting kamu sehat, Ridho.”
Ridho menoleh, menatap wajah ibunya. Ada garis lelah yang tak bisa disembunyikan di sana. Matanya berkaca-kaca.
“Tapi… Rasanya seperti ada yang hilang, Bu,” ucap Ridho lirih. “Bukan cuma ingatan. Kayak… bagian dari diri aku.”
Bu Pur tersenyum tipis, meski hatinya teriris mendengar itu. Ia mengelus rambut Ridho perlahan.
“Kadang Tuhan mengambil sesuatu bukan untuk menyiksa, tapi untuk melindungi,” katanya pelan. “Kalau memang harus kembali, ingatan itu akan datang sendiri. Jangan dikejar.”
Ridho terdiam, lalu mengangguk.
"Ayo makan dulu. Ibu sudah siapkan sarapan untukmu."
"Iya. Buk."
Pagi itu, Ridho sarapan di ruang makan.
"Ini dulu masakan kesukaan mu, Dho. Tidak usah diingat, ibu cuma kasih tau kamu aja," kata Bu Pur seraya meletakkan sepiring nasi sop ayam.
Ridho hanya memandang saja, ia pusing setiap kali mencoba menggali ingatannya. Jadi, dia akan coba pasrah saja, seperti yang ibunya bilang, biar waktu yang menyembuhkan.
Satu sendok sop telah berpindah ke mulutnya. Namun, rasa itu masih asing.
Pintu diketuk. Sebelum Bu Pur sempat menjawab, pintu sudah terbuka.
"Assalamualaikum!"
Bu Pur dan Ridho saling pandang. "Wa'alaikum salam," jawab bersamaan.
“Mas Ridho!”
Dewi masuk dengan senyum lebar, mengenakan gaun lembut warna pastel. Tangannya membawa sekantong buah, wajahnya berseri seolah sedang mengunjungi kekasih lama yang dirindukan.
Bu Pur menahan napas. Ada sesuatu dalam dirinya yang selalu menegang setiap kali Dewi muncul. Namun wanita itu seakan tak peduli. Dengan langkah ringan, Dewi mendekat ke Ridho.
“Gimana keadaanmu, Mas Ridho?” tanya Dewi manja, langsung duduk di sisi Ridho duduk.
Ridho tersenyum canggung. “Sudah mendingan.”
“Makanya jangan dipikirin yang berat-berat. Kamu harus fokus sembuh,” kata Dewi sambil menyentuh tangan Ridho, terlalu akrab.
Bu Pur menghela napas pelan, memilih diam. Ia tak ingin ribut di depan anaknya yang masih lemah.
"Lagi sarapan ya?"
"Iya."
"Bu, boleh kan kalau Dewi main ke sini dan lebih sering ketemu. Mas Ridho kan butuh suport juga biar cepat sembuh."
"Terserah kamu," jawab Bu Pur melengos.
Dewi tersenyum puas.
“Ayo, Mas. Kita jalan sebentar,” ajaknya. “Ke tempat yang dulu sering kita datangi.”
Ridho mengangguk, meski hatinya ragu. Ia tak ingat tempat itu, tak ingat kebersamaan yang dimaksud Dewi. Namun ia mencoba tersenyum, mencoba menikmati perjalanan itu.
Mereka duduk di sebuah taman kecil, bangku kayu menghadap danau buatan. Angin yang berembus pelan.
“Dulu kamu suka banget duduk di sini,” kata Dewi, matanya berbinar. “Kamu bilang… tempat ini bikin kamu tenang.”
Ridho menatap permukaan air yang berkilau diterpa cahaya matahari senja. Hatinya justru terasa hampa.
“Iya?” tanyanya singkat.
Dewi mengangguk cepat. “Kamu sering bilang aku bagian dari ketenangan itu.”
Ridho tersenyum tipis. Ada perasaan aneh yang mengganjal—bukan bahagia, bukan rindu. Lebih seperti kehilangan yang tak bernama.
"Mas, nanti kita ke hutan Pinus ya. Di sana kita juga punya banyak kenangan."
"Aku ikut aja, Wi."
Mereka jalan-jalan di hutan Pinus, Dewi tetap semangat menunjuk tempat-tempat yang jadi kenangan mereka. Namun, seperti sebelumnya, Ridho tak merasakan apapun.
Sore harinya, Dewi ikut pulang ke rumah Ridho. Bu Pur menyambut dengan wajah datar.
Ridho mengangguk. “Aku ke kamar mandi dulu.”
Begitu Ridho pergi, Dewi masuk ke kamar itu. Matanya berkeliling, memperhatikan setiap sudut. Lemari rapi, meja belajar sederhana.
"Aku harus simpan foto dan beberapa barangku di sini. Biar dia makin yakin kalau kami emang punya hubungan serius," gumam Dewi. Ia menyimpan beberapa barang dan foto di kamar itu.
Lalu pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang terselip di antara meja dan tembok.
Sebuah foto.
Dewi mengambilnya. Seorang gadis berjilbab tersenyum lembut dalam foto itu. Wajahnya sederhana, matanya hangat. Jelas diambil diam-diam.
“Ning…” gumam Dewi, rahangnya mengeras.
Tangan Dewi meremas foto itu kuat-kuat. Dadanya naik turun menahan amarah. Dengan cepat, ia memasukkan foto itu ke dalam sakunya.
Saat Ridho keluar dari kamar mandi, Dewi sudah duduk manis di ruang tengah, seolah tak terjadi apa-apa.
“Mas,” katanya lembut. “Kamu kelihatan capek. Istirahat aja.”
Ridho tersenyum ramah. “Iya. Makasih ya.”
Dewi membalas senyum, meski hatinya bergolak.
****
Sesampainya di rumah, Dewi langsung masuk ke kamar ibunya.
“Bu,” katanya cepat.
"Apa? Pulang dari rumah Ridho kok malah merengek?"Bu Sumi mengangkat alis.
"Aku nemu foto Ning di kamar Mas Ridho." Dewi cemberut.
“Enggak usah mikirin Ning lagi. Dia sudah pergi jauh.”
"Iya, sih, Buk. Tapi, udah pergi dari rumah ini saja masih jadi penganggu."
“Sekarang fokusnya tinggal Ridho,” ucap Bu Sumi mantap. “Ikatanin dia. Bikin dia setuju nikah secepatnya. Selagi dia belum ingat apa-apa.”
Dewi tersenyum tipis. “Iya juga sih. Tapi, gimana caranya?”
****
Di ruangan Yudha, mendadak dipenuhi ketegangan.
“Apa?!”
Anggun berdiri dari kursinya, wajahnya memerah. “Kamu bilang apa barusan, Yuda?!”
Yuda berdiri tegak di hadapan mamanya. “Aku udah nikahi Ning.”
“TANPA BILANG APA-APA KE MAMA?!”
Yuda menarik napas panjang. "Keadaannya mendesak, Ma."
"Itu bukan alasan kamu, kan Yud?" Anggun menatap anaknya curiga.
“Mama udah cukup kenal Ning, kan? Apa mama pikir Ning wanita yang mau tinggal serumah dengan laki-laki tanpa ikatan?”
Anggun terdiam, napasnya berat.
“Iya, Mama tau, dia bukan perempuan yang neko-neko. Tapi, bukan berarti kamu nikahin dia tanpa ngomong apapun sama kami, Yuda!”
"Ma! Rumah itu... Neraka buat Ning, Ma. Aku harus bawa dia keluar dari sana. Dan Mama harus tau satu hal. Kakinya itu... Karena kecelakaan dua tahun lalu."
Anggun tersentak.
"Apa kamu bilang!?"