NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Akik Biru Harapan

Malam itu, di rumah baru mereka yang tak lagi bocor, suasana dipenuhi tawa dan cerita. Ibu Siman masak besar, menyajikan sarden dan ikan asin kesukaan Siman, di tambah sayur bening yang menggugah selera. Rasa kebahagiaan mereka menyebar, membuat semua kesedihan yang dulu hinggap sirna seketika. Murni ikut bergabung, makan bersama mereka dengan lahap, seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga kecil Siman.

Siman memandangi akiknya di bawah remang lampu teplok. Kini cincin itu seolah tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah penunjuk jalan, sebuah cermin akan perjalanan tak terduga. Sebuah pertanyaan lain muncul: apa lagi selanjutnya?

"Man, kamu mau ngelanjutin kuliah? Atau langsung kerja aja?" tanya Murni tiba-tiba, menyadari lamunan Siman.

Siman menatap Murni. Ini pertanyaan penting. Dulu, kuliah hanyalah mimpi di siang bolong, sesuatu yang teramat mahal dan tak terjangkau. Sekarang, dengan sedikit modal dari jerih payahnya, impian itu terasa lebih dekat, lebih nyata. Tetapi, apakah ia sanggup membagi waktu? Dan bagaimana ia bisa menahan biaya untuk uang kuliah yang pasti sangat mahal?

"Aku… sebenarnya ingin kerja lagi, Mur," Siman memulai, "tapi aku juga punya mimpi, ingin tahu lebih banyak tentang komputer dan desain. Kursus gitu. Aku kan nggak punya bakat apa-apa, Mur." Ini adalah kejujuran dirinya yang tak pernah ia sampaikan kepada Murni.

Murni mengerutkan kening. "Halah, apaan itu. Jaman sekarang apa-apa di internet semua kok. Mau kuliah sambil kerja juga banyak yang bisa, Man! Kan sudah aku bilang kamu pintar, bahkan sekarang sudah dapat hasil kelulusan. Apa-apaan kamu? Malah bilang tidak punya bakat!"

"Nggak ada uang, Mur," Siman akhirnya berkata jujur. Ia mengeluarkan kantung goni dari bawah bantal. Menumpahkannya perlahan ke meja makan. Tiga amplop putih yang tadinya ada di saku, dia keluarkan. Diisi lima juta masing-masingnya. Total 15 juta. Angka ini yang membuat Murni terpukau dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Bahkan dia bisa memberikan uang lebih ke kedua orang tuanya tanpa rasa ragu. Ada lima juta sisa untuknya sendiri.

Ibu Siman menatap Siman, tak percaya dengan kantung goni dan amplop yang sudah dia ambil dari saku baju kerjanya. Wajah Ibu Siman tampak tercengang, begitu pun dengan Bapak Siman. Matanya melebar sempurna. Apalagi dengan 15 juta di meja. Ini adalah hal yang mustahil bagi keluarga miskin Siman.

"Ya, ampun! Siman! Itu... itu dari mana? Banyak sekali!" pekik Ibu Siman. Ia menunjuk goni dan amplop itu dengan tangan gemetar. Ini pasti rezeki dari Tuhan. Kata hati Siman berseru pada dirinya sendiri. Namun, hatinya tetap tidak bisa berbohong soal akiknya. Itu bukan semata kerja kerasnya.

"Ini hasil kerja aku di bengkel, Bu, Pak. Lumayan," Siman tersenyum samar. "Ini sisanya aku sisihkan, kalau bapak dan ibu butuh sesuatu." Ia menyisihkan 15 juta ke orang tuanya.

Seketika itu juga, Ibu Siman menangis haru. Bapak Siman terdiam kaku. Mereka tahu itu adalah kerja keras anaknya. Mereka hanya tahu anaknya ingin melihat keluarga itu keluar dari kesulitan. Tangannya menepuk bahu Siman. Ini jauh dari pekerjaan biasa di sebuah bengkel.

"Siman... aku pikir kamu bohong," Murni tiba-tiba berbisik di samping Siman, suaranya pelan dan menusuk. Ada sedikit nada kecurigaan di sana. Ini pasti rezeki yang aneh. Mata Murni menatap akik Siman, lalu melirik goni di samping amplop itu. Akiknya seolah bersembunyi. Tidak lagi hangat, dan seolah tidak lagi berdenyut. Akik itu terdiam, tidak bersuara.

Siman tersentak. Rasa bersalah kembali mencubit hatinya. Kenapa ia selalu berbohong pada Murni? Ini adalah hadiah yang harus ia tunjukkan, ini adalah janji jujur Siman padanya. "Mur, sebenarnya... sebenarnya ada hal lain yang belum aku ceritakan padamu tentang..."

Murni menggeleng. Ia tidak mau mendengar Siman yang bohong lagi padanya. Dia lelah mendengar kebohongan Siman. Matanya yang selalu tulus kini penuh dengan amarah. Sejak kapan Siman memiliki ambisi yang tak pernah ia beritahu padanya? Ini membuat hatinya cemas.

Akik itu terasa semakin dingin di jari manisnya, seolah sebuah kekuatan dalam dirinya menolak kebenaran itu keluar. Bukan karena Siman takut. Tapi ada rasa segan. Itu bukanlah sesuatu yang penting lagi, ini hanya soal kerja kerasnya yang harus dipupuk, bukan lagi akiknya.

Semenjak ia menjadi Bos Jitomo, dia mendapatkan gaji besar dari sana, juga dari Bapak Hartoko. Dia memiliki banyak pendapatan kini, tanpa perlu menjelaskan soal akik lagi. Pekerjaan paruh waktu, yang menghasilkan uang hingga 20 juta lebih, hanya dalam waktu dua bulan? Murni tak pernah mengira Siman bisa berbuat seperti itu. Padahal Siman, di awal masa ujian, hanya mengeluh dan mengeluh.

Kini Siman sadar, dia bisa melakukan hal-hal yang lebih besar. Tidak hanya untuk kedua orang tuanya, dan tidak hanya untuk dirinya sendiri, Siman bisa melakukannya dengan kemampuannya dan juga bantuan dari akiknya.

Senyum di wajah Siman merekah sempurna. Ia menatap Murni. Ini bukan tentang uang yang dia punya, ini tentang validasi dirinya sendiri. "Murni, aku akan kuliah." Siman tidak dapat membalas perkataan Murni lagi. Matanya kembali menatap lurus ke mata Murni, kini dengan kepercayaan diri penuh, tak ada keraguan lagi, atau bayang-bayang Dina yang selalu menghantuinya.

"Akan kutunjukkan padamu, Mur. Akan aku tunjukkan siapa diriku ini!"

Siman menggosok lembut permukaan cincin akik biru laut di jari manisnya. Rasa hangat menjalari telapak tangannya, seolah ada detak kehidupan dari dalam batu itu. Pandangannya menerawang ke etalase toko elektronik yang memajang ponsel pintar terbaru. Malam sebelumnya, ucapan tekad yang dia lontarkan pada Murni masih menggema di benaknya, membakar semangatnya untuk terus melangkah maju. "Akan kutunjukkan padamu, Mur. Akan aku tunjukkan siapa diriku ini!" Bisikan Murni tentang memilih kuliah dan melupakan trauma Dina memang sempat menyengat, tetapi justru menjadi cambuk baginya. Ia merasa harus menunjukkan jati diri yang sebenarnya, bukan hanya lewat kata-kata.

Sehelai kemeja baru berwarna biru muda, yang Murni bilang membuatnya tampak 'ganteng', membalut tubuh Siman dengan rapi. Harganya tidak terlalu mahal, tapi itu adalah simbol kebangkitan baginya. Setelah menawar berkali-kali, akhirnya sisa dari lima juta hasil gajinya selama dua bulan ini hanya tersisa satu juta saja. Rasa puas itu begitu membuncah dalam dirinya, sebuah kebanggaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sekarang ia tahu, bahwa kerja kerasnya membuahkan hasil, membuatnya kini bisa berdiri tegak, tak lagi ciut seperti dulu.

Dia tak mau menyia-nyiakan keberuntungan yang selama ini terus menghampirinya. Pakaian, sepatu baru, dan parfum adalah simbolisasi bahwa dirinya juga mampu.

"Sudah cukup belum? Tanganmu nanti sakit kebanyakan ngusap terus!" Suara ceria Murni memecah konsentrasi Siman. Gadis itu berdiri di sampingnya, melipat tangan di dada sambil tersenyum geli. "Mulai deh! Diajarin bersih sedikit, eh langsung dibilang 'ganteng'!" Murni tergelak. Ia meraih sebungkus tahu bulat dari kantong belanjaan kecilnya.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!