Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 – SERANGAN BERANGKATAN DAN KEMBALINYA KEKUATAN
Sinar matahari sore menyinari arena batu besar yang kini berubah menjadi medan pertempuran darurat. Udara yang dulu sejuk dengan aroma bunga sakura kini terasa panas dan menyengat, dengan percikan energi gelap yang terkadang menyambar seperti kilat hitam. Nam Ling masih terluka di bagian dada, namun ia tetap berdiri dengan gagah menghadapi ancaman yang datang tak terduga.
Setelah kejadian di arena pertarungan, Arlan yang telah sadar akan kesalahannya mulai membantu membersihkan energi jahat yang tersisa. Namun saat mereka mulai merasa lega, dari balik reruntuhan arena muncul sosok tinggi dengan pakaian hitam pekat yang menyatu dengan bayangan gelap.
“Kalian benar-benar berpikir bisa mengalahkan kekuatan Raja Iblis?” tanya sosok tersebut dengan suara yang menggema seperti guntur jauh. Tanpa balasan, ia mengangkat tangan kanannya dan memancarkan energi gelap yang menyala seperti lava yang keluar dari gunung berapi. Nam Ling segera mengangkat Pedang Abadi yang menyala cahaya merah pekat untuk menghadangnya.
“Jangan biarkan dia menyebarkan energi jahat itu!” teriak Nam Ling sambil menghindari serangan dengan cepat. Setiap gerakan tubuhnya lancer dan terkontrol, namun musuh yang hadir kali ini jauh lebih kuat dari yang pernah ia hadapi sebelumnya. Serangan energi gelap yang datang dari berbagai arah membuatnya harus tetap waspada setiap detiknya.
Pada saat yang sama, Master Liya muncul dengan cepat dari balik reruntuhan markas. Gaun ungu mudanya bergerak mengikuti setiap gerakan tangannya yang mengeluarkan cahaya biru muda yang menyilaukan. “Kekuatan ini bukan berasal dari alam semesta yang sebenarnya!” ucapnya dengan suara yang jelas terdengar di tengah kebisingan pertempuran. “Mereka menggunakan mantra yang salah untuk membangkitkan kekuatan lama yang seharusnya tetap tertidur!”
Tanpa berlama-lama, Liya mengangkat kedua tangannya ke atas. Cahaya biru muda menyatu dengan cahaya merah dari Pedang Abadi, membentuk lingkaran pelindung yang kuat mengelilingi seluruh arena. Setiap serangan energi gelap yang menyambar langsung terperangkap dan dinetralkan oleh kekuatan gabungan mereka.
Nam Ling dengan gesit menghindari serangan dari belakang, memutar tubuhnya dengan cepat dan memukul balik musuh dengan ujung pedangnya yang menyala terang. Pertempuran semakin sengit – tanah bergoyang hebat, membuat beberapa bagian arena mulai runtuh perlahan. Namun mereka tetap fokus, tidak ingin membiarkan usaha yang telah dilakukan selama ini sirna begitu saja.
Setelah beberapa saat, musuh akhirnya tertekan dan mulai mundur. Energi gelap yang mengelilingi arena perlahan menghilang, digantikan oleh udara yang segar dan aroma bunga sakura yang kembali menyebar. Liya menghela napas lega sambil melihat ke arah Nam Ling yang sedang menepuk pundak Arlan yang telah membantu banyak hal selama pertempuran.
“Kita telah berhasil melindungi apa yang kita cintai,” ucap Liya dengan senyum lembut. Rambut putihnya yang mengkilap di bawah sinar matahari sore kini terlihat lebih cerah. “Namun ini bukan akhir dari perjuangan kita. Ada banyak hal yang harus kita pelajari dan jaga bersama-sama.”
Nam Ling mengangguk dengan rasa hormat yang dalam. Yue Xin datang menghampiri dengan tangan yang membawa kain bersih untuk membersihkan luka di tubuh mereka. “Kita harus segera pulang dan memperkuat segel di Desa Hua agar tidak terjadi hal yang sama,” ucapnya dengan suara penuh perhatian.
Mereka mulai bergerak pulang dengan langkah yang lebih ringan, meskipun tubuh masih terasa lelah akibat pertempuran yang melelahkan. Matahari mulai tenggelam, menyinari langit dengan warna jingga dan merah yang indah – seperti sebuah lambang bahwa setiap kegelapan pasti akan digantikan oleh cahaya yang lebih terang.
Setelah sampai di markas sekte, semua orang berkumpul di halaman tengah yang sudah dibersihkan dan dihiasi dengan bunga-bunga cantik. Liya mulai menjelaskan bahwa mereka perlu membangun sistem pertahanan yang lebih kuat agar tidak ada lagi yang bisa menyusup dan membangkitkan kekuatan jahat seperti sebelumnya.
“Kita akan bekerja sama dengan Desa Hua untuk melindungi seluruh wilayah ini,” ucap Liya dengan suara yang penuh keyakinan. “Bersama kita bisa menjaga kedamaian dan kebahagiaan yang telah kita dapatkan dengan susah payah.”
Nam Ling tersenyum melihat semua orang yang berkumpul dengan bahagia. Ia tahu bahwa perjuangan panjang yang telah ditempuh bersama telah membawa mereka pada titik di mana persatuan adalah kekuatan terbesar yang mereka miliki – sebuah kekuatan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh apa pun.