Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Menuju Kota Pahlawan
. Semburat merah mulai muncul di ufuk timur perbatasan Sidoarjo. Genta mencoba menggerakkan bahunya yang masih terbalut kain putih. Rasa nyerinya sudah berkurang banyak berkat air doa dari Abah Mansur, meski tenaganya belum pulih seratus persen.
. "Genta, kamu yakin sudah bisa menyetir? Biar aku saja yang bawa motornya," tawar Clarissa dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan. Matanya yang sembab menunjukkan kalau dia tidak tidur semalaman menjaga Genta.
. Genta menyeringai tipis sambil memakai jaket kulitnya yang sudah agak robek di bagian bahu. "Waduh, Mbak Bos mau jadi rider? Nanti kalau jatuh, sarung sakti saya ini nggak kuat nahan berat badan Mbak Bos yang makin makmur gara-gara makan bakso terus."
. Clarissa mencubit pinggang Genta dengan gemas. "Dasar bodyguard nggak tahu diri! Orang khawatir malah diledek!"
. Abah Mansur keluar dari rumah tua itu membawa bungkusan kain kecil. "Genta, bawa ini. Isinya minyak zaitun yang sudah Abah bacakan ayat-ayat perlindungan. Kalau lukamu terasa panas lagi, oleskan sedikit saja."
. Genta menerima bungkusan itu dengan khidmat, lalu mencium tangan gurunya. "Terima kasih, Abah. Maaf kalau Genta selalu merepotkan dan jarang pulang ke sini."
. "Sudahlah, itu sudah tugasmu. Ingat, sesampainya di Surabaya, cari seseorang bernama Cak Jito di dekat Jembatan Merah. Dia yang akan membantumu membuka tabir siapa sebenarnya 'Tangan Hitam' itu," pesan Abah Mansur dengan sorot mata yang sangat dalam.
. Genta mengangguk mantap. Dia menyalakan mesin motor bututnya yang suaranya masih tetap gahar meski habis "terbang" semalam. Clarissa naik ke boncengan, memeluk pinggang Genta lebih erat dari biasanya, seolah takut kehilangan pelindungnya itu.
. "Hati-hati di jalan, Genta. Jaga Nona ini dengan nyawamu," ucap Abah Mansur sambil melambaikan tangan saat motor itu perlahan meninggalkan gang sempit dan masuk ke jalan raya menuju Surabaya.
. Di tengah jalan yang mulai ramai oleh truk-truk kontainer, Genta merasa ada beberapa motor sport yang mengikuti mereka dari jarak jauh. Mripatne Genta nglirik spion, atine mulai waspada maneh. "Waduh, Mbak Bos... sepertinya kita punya teman baru yang mau ikut sarapan di Surabaya."
. Matahari mulai naik, menyinari aspal jalanan Surabaya yang mulai padat. Genta terus memantau kaca spionnya yang retak. Tiga motor sport hitam dengan pengendara berpakaian serba gelap tampak lincah menyelip di antara truk-truk kontainer, jarak mereka semakin dekat.
. "Mbak Bos, peluk yang kencang! Sepertinya teman-teman lama kita kemarin belum kapok juga!" teriak Genta sambil memacu gas motor bututnya hingga suaranya meraung memekakkan telinga.
. Clarissa menoleh ke belakang dan wajahnya seketika pucat. "Genta! Itu motor sport, mana mungkin motor rongsokanmu ini bisa lari lebih cepat?!"
. "Eh, jangan meremehkan rongsokan ini, Mbak Bos! Mesinnya memang tua, tapi semangatnya luar biasa!" Genta melakukan manuver gila, menyelip di antara dua bus kota yang sedang berebut penumpang.
. Wuuuzzz!
. Salah satu motor sport itu berhasil sejajar dengan motor Genta. Pengendaranya mengeluarkan sebuah rantai besi yang ujungnya bergerigi, siap diayunkan ke arah roda depan Genta. "Serahkan perempuan itu, Genta! Atau kalian akan terseret di aspal ini!"
. Genta tidak panik. Dia merogoh kantong jaketnya, mengambil sedikit minyak zaitun pemberian Abah Mansur, lalu dengan cepat mengoleskannya ke ujung sarung saktinya yang terikat di pinggang. "Rasakan ini! Jurus Sarung Licin Anti Rantai!"
. Dengan satu tangan yang masih memegang stang, Genta menyabetkan sarungnya ke arah rantai besi musuh. Anehnya, rantai itu bukannya melilit, malah terpental balik seolah-olah menghantam perisai baja yang sangat licin. Pengendara motor sport itu kehilangan keseimbangan dan hampir menabrak pembatas jalan.
. "Mampus kau! Makan tuh debu Surabaya!" seru Genta girang, meski dadanya sebenarnya berdegup kencang karena luka di bahunya mulai terasa berdenyut lagi.
. Namun, dua motor lainnya tidak tinggal diam. Mereka mencoba mengepung Genta dari sisi kiri dan kanan, menjepit motor butut itu di tengah-tengah jalan raya yang sedang ramai. "Genta, mereka menjepit kita! Lakukan sesuatu!" teriak Clarissa histeris.
. Genta melihat sebuah gang kecil yang menuju ke arah pemukiman padat penduduk. "Mbak Bos, tahan napas! Kita akan masuk ke labirin Surabaya!"
. Sreeeettt! Genta membanting stang motornya ke arah kiri, masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk satu motor. Dua motor sport di belakangnya terpaksa mengerem mendadak, ban mereka berdecit keras di atas aspal panas.
. "Genta! Kamu mau ke mana?! Ini buntu!" teriak Clarissa saat melihat tembok tinggi di depan mereka. Jantungnya berdegup kencang, hampir copot rasanya.
. "Tenang, Mbak Bos! Di kamus Genta, nggak ada kata buntu selama sarung masih melilit!" Genta dengan tenang memiringkan motornya, menyelip di antara jemuran warga dan gerobak sampah yang terparkir sembarangan.
. Salah satu motor sport musuh nekat menyusul masuk. Suara raungan mesinnya bergema keras di tembok gang yang sempit. "Jangan lari kau, Genta! Serahkan nona itu sekarang juga!"
. Genta melirik kaca spionnya sambil menyeringai nakal. "Waduh, Mbah... motor mahal kok mau diajak main di gang becek. Rasakan ini, Jurus Pengalihan Bau Sarung!" Genta sengaja menarik gas sambil sedikit mengerem, menciptakan kepulan asap knalpot hitam yang pekat bercampur debu jalanan.
. Musuh di belakangnya terbatuk-batuk, pandangannya tertutup asap knalpot motor butut Genta yang baunya minta ampun. Motor sport itu oleng dan akhirnya menabrak tumpukan kayu bekas di pinggir gang. Brakkk!
. "Hahaha! Makanya, kalau mau balapan jangan pakai motor sport, pakai motor butut biar tahan banting!" seru Genta girang. Clarissa hanya bisa geleng-geleng kepala, antara takut dan ingin tertawa melihat tingkah bodyguard-nya yang satu ini.
. Genta terus meliuk-liuk di antara gang-gang sempit daerah Bubutan. Dia hafal betul jalanan ini karena dulu sering main di sini. "Mbak Bos, sebentar lagi kita sampai di daerah Jembatan Merah. Tapi kita harus tetap waspada, karena 'tangan hitam' pasti punya orang di mana-mana."
. Benar saja, saat mereka keluar dari gang menuju jalan utama dekat Jembatan Merah, terlihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sudah terparkir di sana. Pintunya terbuka, dan seorang pria dengan pakaian rapi namun aura dinginnya sangat kuat melangkah keluar.
. "Genta Arjuna... akhirnya kamu datang juga. Serahkan Clarissa secara baik-baik, atau Jembatan Merah ini akan menjadi saksi kehancuranmu," ucap pria itu dengan nada yang sangat tenang tapi mematikan.
. Genta mengerem motornya tepat di tengah jembatan yang menjadi saksi bisu sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo. Angin dari sungai Kalimas berhembus kencang, menerbangkan ujung sarung kotak-kotaknya yang mulai kotor terkena debu jalanan.
. Pria berpakaian rapi itu melangkah maju, membetulkan letak kacamatanya yang berkilat tertimpa sinar matahari. "Sudah cukup pelariannya, Genta. Serahkan Clarissa padaku, dan aku akan melupakan semua kekacauan yang kamu buat di perbatasan Sidoarjo kemarin."
. Clarissa mencengkeram bahu Genta dengan tangan gemetar. "Genta... dia itu pengacara keluarga besarku yang sudah lama menghilang. Namanya Pak Baskoro. Kenapa dia ada di pihak 'Tangan Hitam'?"
. Genta menyeringai, matanya menatap tajam ke arah Pak Baskoro. "Waduh, Pak Pengacara... kelihatannya bapak salah alamat. Saya ini cuma bodyguard sarungan, bukan agen pengiriman barang. Mbak Bos ini manusia, bukan paket kiriman yang bisa Bapak ambil begitu saja!"
. Pak Baskoro tertawa dingin, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak bersahabat. "Kamu hanya seekor semut di depan kekuatan besar kami, Genta. Jangan sampai sarungmu itu menjadi kain kafanmu sendiri malam ini."
. Tiba-tiba, dari balik tiang jembatan, muncul seorang pria bertubuh gempal dengan kaos oblong putih dan celana kombor hitam. Dia membawa sebuah clurit besar yang disampirkan di bahunya. "Sopo sing wani ngganggu tamuku nang Jembatan Merah iki?!" teriak pria itu dengan dialek Suroboyoan yang sangat kental.
. Genta langsung bernapas lega. "Cak Jito! Akhirnya muncul juga! Saya kira Cak Jito masih asyik makan tahu tek di pinggir jalan!"
. Cak Jito meludah ke samping, matanya menatap liar ke arah Pak Baskoro dan anak buahnya yang mulai bermunculan dari balik mobil. "Genta, bawa Nona itu ke warungku sekarang! Biar urusan koco-koco (kacamata) iki aku sing ngatasi!"
. Pak Baskoro tampak geram, wajahnya memerah karena rencananya diganggu oleh preman lokal seperti Cak Jito. "Berani sekali kamu ikut campur urusan kami, preman pasar!"
. "Iki Surabaya, Pak! Sopo wae sing nggae geger nang kene, kudu ijin disik karo aku!" tantang Cak Jito sambil memutar cluritnya dengan lincah. Suasana di Jembatan Merah mendadak mencekam, sebuah pertempuran besar antara kekuatan modern dan kekuatan lokal Surabaya siap meledak.
. . Terima kasih Gusti Allah, Bab 30 telah selesai hamba tuliskan. Semoga setiap kata di dalamnya membawa manfaat dan kebahagiaan bagi para pembaca. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dijauhkan dari segala kesulitan, dan dipertemukan kembali di bab selanjutnya dalam keadaan sehat walafiat. Amin.
. Iki lur, pungkasan Bab 30 sing seru pol! Cak Jito teko nulungi Genta mbek Mbak Bos! Sopo sing bakal menang nang Jembatan Merah? Ojo lali Like, Komen, mbek Share terus yo rek, ben Genta iso bongkar rahasiane Pak Baskoro!
. BERSAMBUNG