NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Yett~

Di puncak Menara Astraea, Aetherion tiba-tiba tersentak. Mata biru esnya menatap menembus lapisan awan menuju bumi yang fana. Ia merasakan denyut energi yang sangat asing—kombinasi mengerikan antara sihir purba Erebus dan tekad manusia yang putus asa.

"Goddess," suara Aetherion bergema, tenang namun mendesak saat ia menghampiri Elysianne yang sedang menatap hamparan bintang. "Ada pergeseran di dunia bawah. Sebuah kegelapan baru telah lahir, lebih pekat dari Erebus. Gerbang dimensi mulai bergetar."

Elysianne tidak menoleh. Tatapannya datar, hampa akan rasa takut. "Biarkan mereka datang, Aetherion. Cahaya Astraea akan memurnikan setiap kotoran yang berani menyentuh langit."

Sementara itu, di reruntuhan Perpustakaan Rahasia Skyrosia, Cyprian berdiri tegak dengan sayap hitam raksasa yang membentang luas. Rambut hitam jelaganya menutupi sebagian wajahnya yang kini sedingin es dengan mata merah ruby yang menyala.

Di tangannya, pedang Adamant yang dulu bersinar suci kini telah bertransformasi. Bilahnya berubah menjadi hitam pekat, seolah menyerap seluruh cahaya di ruangan itu, dan dikelilingi oleh aura merah darah yang berdenyut kencang. Wujud dari kutukan Darah Putih-nya.

"Bangkitlah, kalian yang terbuang!" seru Cyprian, suaranya berat dan bergema dengan nada-nada mengerikan dari alam bawah. "Kini, kalian memiliki tuan baru!"

Dari bayangan-bayangan di sudut istana, sisa-sisa legiun Erebus merayap keluar, menunduk takzim di hadapan Lord Demon baru mereka. Ribuan mata merah menyala di kegelapan, bersiap untuk membalas dendam pada langit.

Cyprian membuka sebuah halaman dari buku terlarang itu. Jemarinya yang pucat menelusuri aksara kuno yang berbisik di dalam kepalanya. Dengan suara yang dingin, ia mengucapkan mantra perpindahan dimensi yang tak tertandingi.

Zzap!

Dalam satu ledakan cahaya merah yang memekakkan mata, Cyprian dan ribuan pasukannya lenyap dari Skyrosia dan muncul tepat di tengah Balairung Astraea di Kayangan.

"Serang!" perintah Cyprian.

Legiun Iblisnya berpencar, menyerang para prajurit langit dengan brutal. Kekacauan meletus seketika. Teriakan perang, denting senjata, dan ledakan energi suci memenuhi udara.

Aetherion dan para Dewa tersentak kaget. Mereka segera memimpin pertahanan, mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya pada pasukan iblis yang mengamuk, tidak menyadari bahwa itu hanyalah taktik pengalihan.

Elysianne berdiri di tengah kekacauan, bersiap menghunus Pedang Astraea. Namun, sebelum ia sempat bergerak, sebuah bayangan hitam melesat cepat ke arahnya.

Bruk!

Cyprian menerjangnya, menjatuhkan sang Dewi ke lantai kristal. Dengan kekuatan iblisnya yang mengerikan, ia mengunci kedua tangan Elysianne di atas kepalanya.

Elysianne tertegun. Matanya yang emas-biru menatap wajah Cyprian—wajah yang dulu ia lupakan namun kini terasa sangat familiar, namun dipenuhi oleh kegelapan yang pekat.

"Kau..." bisik Elysianne, suaranya jernih namun bergetar oleh emosi yang tiba-tiba muncul.

Cyprian tidak menjawab. Ia menatap bibir sang dewi dengan kerinduan dan obsesi yang gila. Tanpa ragu, ia menundukkan kepalanya dan mencium Elysianne.

Ciuman itu bukan lagi ciuman cinta, melainkan ciuman kegelapan yang pekat. Kekuatan iblis Cyprian mengalir masuk ke dalam tubuh Elysianne, mencemari kesucian Cahaya Astraea di dalam nadinya.

Elysianne mencoba memberontak, mencoba memanggil kekuatan sucinya untuk menghancurkan Cyprian. Namun, Cyprian, yang kini telah mempelajari rahasia Kayangan dari buku terlarang itu, merapalkan mantra gelap kuno.

"Liber Exilio: Segel Pemutus Keabadian!"

Mantra itu bekerja seketika. Energi gelap merambat di seluruh tubuh Elysianne, mengunci kekuatan dewinya di wilayahnya sendiri. Cahaya emas di mata Elysianne perlahan meredup, digantikan oleh keraguan dan ketakutan manusiawi.

Cyprian melepaskan ciumannya, menatap Elysianne yang kini terengah-engah di bawahnya, tak berdaya dan tak lagi suci.

"Tidak ada perlawanan, sekarang dan selamanya..." desis Cyprian, suaranya seperti desiran angin malam yang membawa maut. "Kau adalah milikku."

Cyprian mengangkat tubuh Elysianne yang pingsan dengan kelembutan yang mengerikan. Ia melirik ke arah pertempuran yang masih berkecamuk, lalu dengan satu kibasan sayap hitamnya, ia merobek ruang dan waktu.

Mereka kembali ke Skyrosia. Namun istana itu kini tidak lagi damai. Kegelapan pekat menyelimuti setiap sudutnya, mencerminkan hati sang Duke yang telah berubah menjadi Lord Demon.

Cyprian membawa Elysianne menuju kamar pribadi mereka yang dulu penuh vanila, namun kini terasa dingin dan mencekam. Ia meletakkannya di atas tempat tidur, menatap wajah dewi yang kini tertidur di tengah kegelapan, bersumpah untuk tidak akan pernah melepaskannya lagi, meski ia harus menghancurkan seluruh alam semesta.

.

.

.

Kegelapan di dalam kamar utama Skyrosia terasa semakin kental, seolah udara itu sendiri tunduk pada kehendak Lord Demon yang baru. Cyprian berdiri di tepi ranjang, menanggalkan zirah hitamnya yang retak hingga jatuh ke lantai marmer dengan dentum yang sunyi. Tubuhnya yang kini tegap, beraura tajam, dan dihiasi sayap hitam raksasa tampak mendominasi sosok dewi yang terbaring lemah di atas seprai sutra.

Ia mulai menanggalkan helai demi helai jubah cahaya Elysianne. Setiap jengkal kulit porselen sang dewi yang tersingkap dibalas dengan ciuman yang menuntut—sebuah klaim kegelapan atas kesucian langit. Cyprian menciumi lehernya, bahunya, hingga ke lekuk tubuh yang dulu tak tersentuh, menyesap aroma surgawi yang mulai bercampur dengan bau maskulin yang dominan.

Saat tubuh mereka akhirnya bersentuhan tanpa penghalang, Cyprian memaksakan dirinya masuk. Ini adalah penyatuan pertama bagi mereka berdua—sebuah tindakan yang merobek batas antara mahluk fana dan ilahi.

Cyprian mengerang rendah, suaranya parau oleh rasa asing yang luar biasa. Sensasi panas dan sempit yang menyelimutinya seolah membakar kesadarannya sebagai iblis. Elysianne tersentak bangun, matanya yang emas-biru membelalak saat rasa sakit yang tajam menusuk kesadarannya. Sebuah desahan rasa sakit yang murni keluar dari bibirnya, bergema di ruangan yang kedap suara itu.

"Ah... hgh..." Elysianne mencengkeram bahu tegap Cyprian, kuku-kukunya menggores kulit pucat sang Lord Demon saat tubuh dewinya dipaksa menerima kehadiran fisik yang begitu nyata.

Cyprian tidak berhenti. Setiap dorongannya adalah mantra untuk menarik Elysianne turun dari singgasananya. Peluh dingin bercampur dengan aura merah darah yang berdenyut di sekitar mereka. Hingga pada puncaknya, saat seluruh esensinya dilepaskan ke dalam rahim sang dewi, Cyprian melakukan langkah terakhir yang paling fatal.

Cyprian menggigit lidahnya sendiri dengan keras hingga luka robek tercipta. Ia kemudian mencium Elysianne dengan paksa, menyatukan bibir mereka dalam pagutan yang penuh darah. Darah Putih yang kental dan bersinar redup hasil kutukan sucinya, mengalir masuk dan tertelan paksa oleh Elysianne.

Seketika, cahaya ungu berpendar hebat dari dalam tubuh Elysianne. Pendar itu merambat dari jantung ke setiap ujung syarafnya, menghancurkan sisa-sisa keabadian yang melindunginya.

Tubuh dewinya yang transparan kini mengental, membentuk jaringan daging, otot, dan darah yang sempurna. Ia meraskan gravitasi, rasa hangat, dan detak jantung yang berdebu—ia menjadi manusia kembali, namun dalam wujud yang benar-benar baru.

Memori tentang Kayangan, tentang Aetherion, bahkan tentang Christina dan Sybilla yang lama, hancur berkeping-keping. Pikirannya menjadi seputih salju yang baru turun.

Kamar itu kini hanya menyisakan aroma ozon yang terbakar dan wangi darah putih yang manis namun mematikan. Elysianne mengerjapkan matanya, merasakan berat yang asing pada kelopak matanya—sebuah beban yang hanya dimiliki oleh makhluk berdaging dan berdarah.

Rambut perak-emasnya yang dulu bersinar seperti benang cahaya kini telah padam, berubah menjadi hitam legam yang kontras dengan kulit porselennya yang pucat. Warna ungu di matanya kini begitu dalam dan jernih, seperti batu kecubung yang baru saja diasah, namun kosong dari segala memori surgawi.

Ia mencoba menggerakkan jemarinya, merasakan gesekan kasar seprai sutra di bawah tubuhnya. Pandangannya perlahan beralih ke samping, tertuju pada pria yang masih menindihnya dengan aura yang begitu pekat dan dominan.

Pria itu tampak seperti dewa kematian yang turun dari mimpi buruk. Sayap hitam raksasanya masih membentang, sesekali bergetar pelan, sementara mata merah rubinya menatap Elysianne dengan intensitas yang sanggup membakar jiwa. Aura menyeramkan yang terpancar dari tubuh tegap pria itu membuat insting fana Elysianne bergejolak, menciptakan rasa takut yang sekaligus terasa sangat akrab.

"Siapa...?" bisik Elysianne, suaranya kini lebih rendah, lebih serak, dan sepenuhnya manusiawi.

Cyprian mendekatkan wajahnya, membiarkan helai rambut hitamnya bersentuhan dengan dahi Elysianne. Jemarinya yang pucat mengusap bibir wanita itu yang masih basah oleh sisa darah putihnya.

"Kau adalah Duchess-ku," ucap Cyprian dengan suara yang berat dan posesif, seolah sedang memahat takdir baru langsung ke dalam tulang-tulang Elysianne. "Elysianne Sybilla Christina."

Elysianne menatap pria itu dengan bingung. Nama-nama itu terdengar indah, namun asing. Ia tidak ingat Kayangan, ia tidak ingat peperangan, ia bahkan tidak ingat rasa sakit yang baru saja mereka lalui. Di dunianya yang kini sempit dan gelap, hanya ada pria bersayap hitam ini sebagai pusat semestanya.

"Apakah... aku milikmu?" tanyanya polos, sebuah pertanyaan yang sekaligus menjadi pengakuan atas penjaranya yang baru.

Cyprian menyeringai gelap, sebuah ekspresi kemenangan yang haus darah. "Sekarang, dan selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!