NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Malam di kamar asramanya terasa begitu sunyi, hanya detak jam dinding yang menemani pergulatan batin Zavier. Cahaya dari layar ponsel rahasianya menerangi wajahnya yang lelah. Sebuah pesan dari Zaheera masuk, membawa getaran yang membuat jantungnya berdesir perih.

Zee❤️: Besok aku disuruh pakai kerudung oleh kakakmu yang kaku itu. Kira-kira akan seperti apa aku di matamu kalau pakai kerudung, Zavi? Apa aku masih gadis liar mu yang cantik?

Zavier menarik napas dalam, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik virtual.

Zavier : Kau akan terlihat sangat cantik, Zee. Bahkan jauh lebih cantik dari biasanya. Kain itu tidak akan melunturkan binar matamu yang selalu membuatku bertekuk lutut. Pakailah, demi ketenangan kita di sini.

Zavier meletakkan ponselnya di bawah bantal, lalu merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar yang putih polos. "Tunggu aku di kampus besok, Sayang. Aku ingin melihat mahkota barumu," bisik Zavier lirih dalam hati.

Ada rasa rindu yang membuncah, rasa ingin mendekap Zaheera dan membisikkan bahwa ia akan selalu ada di sana, meski hanya bisa menatap dari kejauhan gedung yang berbeda.

...****************...

Suasana di ruang makan keluarga Kyai Luqman malam itu terasa lebih hangat. Aroma opor ayam dan sambal goreng kentang memenuhi ruangan. Di meja jati itu, berkumpul seluruh inti keluarga El-Shaarawy.

Syafi’iyah, kakak perempuan Zavier yang berusia 24 tahun sekaligus kembaran Gus Azlan, tampak lebih banyak menunduk dengan wajah merona. Azlan, sang kembaran, sesekali meliriknya dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.

"Abi dengar, keluarga Gus Hanan dari pesantren sebelah akan datang minggu depan," ujar Kyai Luqman memecah keheningan. "Niatnya sudah bulat untuk mengkhitbah Syafi’iyah."

"Masya Allah, Kak Syafi akhirnya laku juga!" celetuk Zahra, si bungsu yang baru berusia 16 tahun. Zahra adalah sosok yang paling dominan di meja makan itu; ceria, ceplas-ceplos, dan menjadi penengah di antara kakak-kakaknya yang kaku. "Jangan sampai pas hari-H nanti Kak Syafi malah nangis karena grogi ya!"

"Zahra, jaga bicaramu," tegur Azlan pelan, namun matanya tetap jenaka.

Zavier yang duduk di ujung meja hanya mengangguk-angguk kecil. Sebagai pemuda 19 tahun yang baru kembali setelah tiga tahun "diasingkan" di kemewahan Kota A, ia merasa seperti penonton dalam drama keluarga ini. Ia belum sepenuhnya paham dengan protokol perjodohan ala pesantren atau istilah-istilah religius yang sering keluar nya gunakan. Pikirannya hanya melayang pada aroma parfum Zaheera dan dentuman musik kelab malam.

Tiba-tiba, suara dering telepon rumah yang berada di sudut ruangan berbunyi nyaring. Seorang abdi dalem mengangkatnya sejenak sebelum memberikan isyarat pada Zavier.

"Gus Zavier, ada telepon dari Ibu Sarah di Kota A."

Zavier tersentak. Ia segera bangkit, merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Di hadapan Abi dan Umi-nya, ia harus tetap terlihat tenang. Ia meraih gagang telepon itu.

"Assalamualaikum, Mommy?" sapa Zavier pelan. Panggilan "Mommy" sudah melekat sejak ia tinggal bersama bibinya, Sarah, di Kota A selama tiga tahun terakhir.

"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabarmu di sana? Apa kamu betah di lingkungan yang tenang itu?" suara lembut Bibi Sarah terdengar di seberang sana.

"Kabarku baik, Mom. Hanya... masih sedikit penyesuaian," jawab Zavier, melirik ke arah meja makan di mana keluarganya masih memperhatikannya.

"Ayahmu sangat merindukanmu, Nak. Dia sering mengeluh karena tidak ada teman bicara soal bisnis di kantor. Kalau ada hari libur di sana, datanglah ke rumah. Kota A terasa sepi tanpamu," Bibi Sarah menjeda sejenak, lalu suaranya merendah. "Dan... apa kekasihmu sudah kamu beritahu soal posisimu sekarang, Sayang? Apa kalian sudah bertemu?"

Zavier terdiam. Ia memutar tubuhnya membelakangi meja makan, menundukkan kepala sedalam mungkin. Tenggorokannya terasa tersumbat. "Rasanya ingin gila, Mom. Aku merindukannya... sangat merindukannya. Dia ada di sini, dekat sekali, tapi rasanya seperti dipisahkan jurang yang dalam."

Bibi Sarah menghela napas panjang di ujung telepon. Ia tahu betul rahasia keponakan kesayangannya itu. Ia yang selama ini menutupi jejak Zavier dan Zaheera di Jakarta.

"Sabar, Sayang. Jalani dulu perantauan mu di rumah sendiri," hibur Bibi Sarah. "Nanti Mommy akan bicara sama Abi mu. Mommy akan cari alasan supaya kamu dikirim kembali ke Kota A, mungkin untuk bantu mengurus cabang bisnis ayahmu di sana. Mommy tidak tega melihatmu tertekan seperti itu."

"Terima kasih, Mom. Aku sangat berharap itu bisa terjadi secepatnya," bisik Zavier parau.

Zavier menutup telepon dengan perasaan yang sedikit lebih ringan namun sekaligus semakin sesak. Ia kembali ke meja makan, mendapati tatapan menyelidik dari Gus Azlan.

"Kenapa, Zavier? Ada masalah di Jakarta?" tanya Azlan datar.

"Tidak, Mas. Hanya rindu biasa," jawab Zavier singkat sambil kembali menyuap nasinya yang mendadak terasa hambar.

Di dalam kepalanya, rencana pelarian mulai tersusun. Jika ia tidak bisa membawa Zaheera masuk sepenuhnya ke dunianya tanpa kehancuran, maka ia harus menemukan cara untuk membawa Zaheera—dan dirinya sendiri kembali ke kebebasan Kota A yang mereka cintai.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!