NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rumah baru su jinyu

Keesokan harinya, Su Jinyu dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit. Tubuh mungilnya masih lemah, tapi setidaknya warna kebiruan di kaki dan tangannya sudah hilang, digantikan oleh rona sehat yang mulai muncul di pipinya.

Pintu terbuka lagi. Su Yichen masuk, kali ini tanpa seragam lengkap hanya kemeja lengan panjang dan celana bahan. Wajahnya sedikit lebih santai.

"Sudah siap pulang, Jinyu?" Ia mendekat, tersenyum. "Infusnya sudah hampir habis. Aku sudah bicara dengan dokter, kamu boleh pulang hari ini"

Jinyu mengangguk, meletakkan buku. Su Yichen melihat buku itu dan tertawa kecil. "Oh, suka membaca? Bagus. Di rumahku banyak buku, kamu bisa baca semuanya." Ia memencet tombol bel, memanggil perawat untuk melepas infus.

Perawat datang, melepas jarum dengan hati-hati, menempelkan kapas alkohol. "Tekan di sini sebentar, ya, Nak." Jinyu menurut.

Setelah infus dicabut, hanya tersisa Jinyu dan yichen yang ada diruangan. Su Yichen datang menjemput. Kali ini ia tidak mengenakan seragam militer, melainkan pakaian sederhana: kemeja abu-abu lengan panjang dan celana bahan gelap. Di tangannya, ia membawa bungkusan kain.

"Ini untukmu," katanya sambil menyerahkan bungkusan itu. "Istriku yang menyiapkan. Kami pikir kau butuh baju ganti."

Jinyu membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat sebuah baju hangat berwarna merah muda agak norak menurut seleranya, celana panjang berbahan tebal, kaos kaki wol, dan sepatu kain hitam. Semuanya baru, masih berbau kapur barus.

Dia menatap baju itu sejenak, lalu mendongak pada Su Yichen. "Terima kasih, Ayah."

Masih terasa aneh baginya menerima kebaikan orang. Di dunia akhir zaman, kebaikan adalah komoditas langka. Setiap orang hanya memikirkan kelangsungan hidupnya sendiri. Memberi tanpa pamrih? Itu hanya legenda.

Setelah Jinyu Menganti pakaian menggunakan gaun merah indah dan cantik ditubuh kecilnya, Su Yichen mengulurkan tangan. "Ayo, kita pulang."

Jinyu meraih tangan itu. Besar, hangat, kuat. Kontras dengan tangannya yang mungil. Ia berdiri, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan berat tubuh barunya. Kaki sedikit goyah, tapi ia bisa berdiri.

Su Yichen menggendongnya tanpa bertanya. "Kamu masih lemah. Biar aku gendong."

Jinyu tak protes. Ia membiarkan dirinya digendong, kepala bersandar di bahu lebar pria itu. Wangin sabun, tembakau, dan sedikit minyak senjata. Aroma militer.

Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit, melewati ruang tunggu yang ramai, keluar ke halaman. Udara dingin menyapa, tapi kali ini Jinyu sudah berpakaian lebih hangat Su Yichen membawakan jaket kecil yang agak kebesaran, tapi cukup.

Di depan pintu rumah sakit, sebuah jip militer hijau tua sudah menunggu. Seorang prajurit muda membukakan pintu.

"Silakan, Komandan."

Su Yichen memasukkan Jinyu ke kursi belakang, lalu duduk di sampingnya. Mesin menyala, jip bergerak perlahan meninggalkan rumah sakit.

Jinyu menatap ke luar jendela. Pemandangan kota kecil tahun 60-an: gedung-gedung rendah, spanduk propaganda merah, orang-orang bersepeda dengan pakaian tebal. Sesekali truk militer lewat. Suasana sederhana, tapi hidup.

"Ini dunia baru," pikirnya. "Dan aku punya nama baru, keluarga baru. Mungkin... ini kesempatan kedua."

Ia tak tahu apa yang menanti di rumah Komandan Su. Tapi apapun itu, ia siap.

Lagi pula, menjadi anak kecil di era damai pasti lebih mudah daripada menjadi ratu iblis di akhir zaman. Atau... mungkinkah sebaliknya?

Jip melaju, meninggalkan rumah sakit, meninggalkan masa lalu yang singkat namun pahit. Menuju masa depan yang tak pasti.

Dan Su Jinyu—mantan Ratu Iblis Dinasti Jinyu, kini anak angkat seorang komandan divisi—hanya bisa tersenyum kecil.

"Ayo kita lihat, dunia tahun 1962. Apa kau bisa menerimaku?"

Kompleks militer terletak sekitar setengah jam perjalanan dari rumah sakit dengan mobil jip militer sebuah kemewahan yang membuat Jinyu terkejut. Era 60-an, mobil masih langka, apalagi untuk penggunaan pribadi. Tapi tentara dengan pangkat tinggi seperti Su Yichen jelas mendapat fasilitas istimewa.

Jip itu melewati gerbang besar dengan pos penjagaan. Dua tentara bersenjata memberi hormat saat mobil lewat. Jinyu mengamati sekeliling dari balik kaca. Kompleks ini luas, terdiri dari deretan rumah dinas berbentuk sama: rumah panggung sederhana dengan dinding papan dan atap genteng. Halaman depan masing-masing rumah ditanami sayuran atau bunga seadanya. Beberapa ibu terlihat menjemur pakaian di tali yang direntangkan, sementara anak-anak berlarian di tanah lapang.

"Ini tempat tinggal para perwira dan keluarganya," jelas Su Yichen. "Kita tinggal di bagian ujung, rumah yang agak besar karena jabatanku."

Jip berhenti di depan sebuah rumah yang sedikit lebih luas dari lainnya. Pagar kayu mengelilingi halaman depan, dan di halaman itu...

Sesosok wanita berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar akhir 30-an, berwajah lembut dengan rambut disanggul rapi. Ia mengenakan kebaya sederhana dan kain batik. Di sampingnya, tiga anak laki-laki berjejer dengan ekspresi berbeda-beda.

"Kita sudah sampai." Su Yichen menggendong Jinyu turun.

Wanita itu segera menghampiri, wajahnya merekah oleh senyum hangat. "Pasti ini Jinyu, ya? Aduh, kecil... eh, tinggi sekali! Umur 4 tahun? Anakku yang bungsu saja umur 10 tahun baru setinggi itu."

Jinyu menatapnya dengan pandangan menyelidik—refleks lamanya. Wanita ini tulus, tidak ada kepalsuan di matanya. Jinyu sudah cukup lama hidup untuk bisa membedakan.

"Ibu Liu," sapa Jinyu pelan, memanggil sesuai informasi yang diberikan Su Yichen sebelumnya.

Mata wanita itu langsung berkaca-kaca. "Dia memanggilku Ibu... Yichen, dia memanggilku Ibu!"

Su Yichen tertawa kecil. "Sudah, jangan menangis dulu. Ayo kita masuk, di luar dingin."

Tapi Ibu Liu sudah terlanjur terharu. Ia meraih Jinyu dari gendongan suaminya dan mendekapnya erat. "Nak, mulai sekarang kau anakku. Tak akan ada yang mengusirmu lagi, paham?"

Jinyu terdiam dalam dekapan itu. Tubuhnya kaku. Sudah berapa lama ia tak merasakan pelukan seperti ini? Mungkin tidak pernah. Bahkan di kehidupan sebelumnya, sebagai Ratu Iblis, ia lebih sering dikelilingi ketakutan daripada kasih sayang.

"Na... Nak?" Ibu Liu mengendurkan pelukannya, khawatir melihat Jinyu yang diam membeku.

"Tidak apa-apa," gumam Jinyu akhirnya. "Hanya... belum terbiasa."

Di dalam rumah, ketiga anak laki-laki Su sudah duduk rapi di ruang tamu. Su Yichen dan Ibu Liu duduk di kursi utama, sementara Jinyu duduk di pangkuan ibu barunya—sebuah posisi yang masih terasa canggung.

"Ini kakak-kakakmu," Ibu Liu memulai perkenalan. "Yang paling besar, Su Weiguo, 19 tahun. Dia mahasiswa di universitas komunikasi."

Su Weiguo adalah pemuda tinggi dengan wajah mirip ayahnya—tegas dan serius. Ia menatap Jinyu dengan pandangan netral, tidak hangat tapi juga tidak dingin. "Halo, Adik."

Jinyu mengangguk sopan. "Kakak Weiguo."

"Yang kedua, Su Jianguo, 16 tahun. Masih sekolah menengah atas."

Su Jianguo lebih santai dari kakaknya. Ia tersenyum ramah dan melambai kecil. "Hai, Adik kecil. Rambutmu bagus, warnanya unik."

Jinyu hanya mengangguk lagi. "Kakak Jianguo."

"Dan yang terakhir," Ibu Liu menunjuk anak bungsu yang duduk paling ujung, "Su Weimin, 10 tahun. Dia paling dekat usianya denganmu, jadi kalian bisa main bersama."

Su Weimin adalah bocah kurus dengan mata besar dan ekspresi penasaran. Ia menatap Jinyu dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu bertanya polos, "Kamu benar-benar umur 4 tahun? Tinggimu kayak anak 9 tahun, bahkan kamu menyamakan tinggi ku."

"Kurang tau. Tapi cukup tinggi," jawab Jinyu singkat.

Weimin mengernyit bingung, tapi lalu mengangguk-angguk sendiri seolah mengerti. "Oke deh. Nanti aku ajak main, ya. Aku punya banyak mainan. Ada mobil-mobilan dari kaleng bekas, terus aku juga punya kelereng."

Jinyu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Mainan? Terakhir kali ia memegang mainan mungkin ribuan tahun lalu. Tapi ia mengangguk sopan. "Terima kasih."

Makan siang disiapkan Ibu Liu dengan lauk sederhana: sayur-sayuran, ayam goreng, dan telur dadar. Di era yang serba sulit ini, menu seperti itu sudah terbilang mewah. Apalagi ada daging seperti ini, jarang sekali ada yang bisa makan daging kecuali tahun baru. Jinyu makan perlahan, mengamati interaksi keluarga ini.

Su Weiguo makan dengan cepat dan serius, seperti orang yang selalu terburu-buru. Su Jianguo lebih santai, sesekali melirik Jinyu dengan rasa ingin tahu. Su Weimin malah makan sambil bergerak-gerak gelisah di kursinya, sesekali melontarkan pertanyaan:

"Jinyu, kamu suka main ke sawah? Nanti aku ajak mancing, ya. Aku tahu tempat banyak ikannya."

"Jinyu, kamu bisa baca? Aku sudah bisa baca, lho, meski masih terbata-bata."

"Jinyu, kenapa kamu diam saja?"

"Su Weimin!" Ibu Liu menegur lembut. "Biarkan adikmu makan dulu. Dia baru sembuh."

Weimin meringis, lalu kembali fokus ke makannya meski matanya masih sesekali melirik Jinyu.

Setelah makan, Su Yichen pamit kembali ke kantor. "Ada rapat penting. Aku pulang malam mungkin." Sebelum pergi, ia mengusap kepala Jinyu. "Jaga diri. Ibu Liu akan merawatmu."

Jinyu mengangguk, masih belum terbiasa dengan kontak fisik yang hangat ini.

Sore harinya, Ibu Liu memandikan Jinyu dengan air hangat di dapur. Ini pengalaman aneh bagi mantan Ratu Iblis—seorang dewasa dalam tubuh anak kecil, dimandikan seperti bayi. Tapi tubuh ini memang butuh perawatan, dan ia terlalu lemah untuk menolak.

"Kulitmu putih bersih," gumam Ibu Liu sambil menggosok punggung Jinyu dengan waslap. "Rambutmu juga indah. Warnanya seperti madu kalau kena sinar matahari."

Jinyu hanya diam. Ia masih belum tahu harus bersikap bagaimana. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah penguasa yang disegani, bukan anak kecil yang menerima kasih sayang.

Selesai mandi, Ibu Liu memakaikannya baju hangat dan menyisir rambutnya yang sedikit keriting. "Saat rambut mu panjang nanti, kita buatkan kepang biar rapi. Kau mau?"

Jinyu mengangguk sopan. Terserah, pikirnya.

Malam harinya, untuk pertama kalinya setelah bertransmigrasi, Jinyu tidur di tempat yang hangat. Ibu Liu menyiapkan kamar kecil di samping kamar utama—kamar yang sebenarnya adalah ruang penyimpanan yang dibersihkan dan diberi ranjang lipat.

"Maafkan, ya, rumah kami tidak terlalu besar," kata Ibu Liu sambil merapikan selimut. "Tapi untukmu, kami akan usahakan yang terbaik."

Jinyu berbaring, menatap langit-langit kayu. Dari luar terdengar suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing. Hangatnya selimut kapas dan bau sabun di tubuhnya membuatnya merasa... aneh. Aman? Mungkin itu katanya.

"Ibu Liu," panggilnya pelan saat wanita itu hendak keluar.

Ibu Liu menoleh. "Ya, Nak?"

"Terima kasih... sudah menerimaku."

Senyum Ibu Liu melebar, matanya berkaca-kaca lagi. "Sama-sama, Nak. Selamat tidur, ya. Mimpi indah."

Pintu ditutup perlahan. Jinyu menatap gelap, mendengar langkah kaki Ibu Liu menjauh. Lalu ia memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia tidur tanpa rasa waspada. Tanpa perlu memasang perisai energi. Tanpa harus menyimpan senjata di bawah bantal.

Ia hanya tidur. Seperti anak kecil normal.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!