NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: ISTANA BETON DAN TUAN MUDA YANG "JINAK"

Burung besi itu akhirnya mendarat di sebuah pelataran luas yang terbuat dari marmer hitam mengkilap. Alurra melompat keluar bahkan sebelum tangga helikopter benar-benar menyentuh tanah. Rambut emasnya berkibar tertiup angin baling-baling, dan matanya yang jernih langsung berbinar menatap bangunan raksasa di depannya.

"Wah! Nael! Ini sarangmu?" teriak Alurra sembari menunjuk gedung putih megah dengan pilar-pilar setinggi langit. "Besar sekali! Tapi kok warnanya pucat? Apa kau tidak punya cat warna pelangi di sini?"

Nael melangkah turun dengan tenang, namun tangannya segera disambar oleh Alurra. Bidadari itu langsung bergelayut di lengannya, menempelkan pipinya ke jas mahal Nael tanpa memedulikan tatapan puluhan pelayan yang sudah berbaris rapi di depan pintu utama.

Kepala Pelayan, Pak satrio, seorang pria tua yang sangat disiplin, hampir saja menjatuhkan nampan peraknya. Matanya membelalak melihat Tuan Mudanya—pria yang biasanya akan menjaga jarak minimal dua meter dari wanita mana pun—kini hanya diam mematung saat seorang gadis asing "menempel" seperti perangko.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Nael," suara Pak Satrio bergetar. Ia melirik Alurra yang saat itu sedang mencoba menggigit salah satu pilar marmer untuk memastikan apakah itu makanan atau bukan. "Maaf, Tuan... siapakah... nona ini?"

Nael hanya menatap Pak Satrio dengan tatapan lelah. Ia tidak bisa bicara, jadi ia hanya memberi isyarat tangan agar mereka segera masuk.

"Heh, Pak Tua!" Alurra tiba-tiba berdiri di depan Pak Satrio, berkacak pinggang. "Namaku Alurra. Aku bidadari paling cantik dan calon pemilik 'harta' paling banyak di rumah ini. Jadi, jangan panggil aku nona, panggil saja 'Ibu Ratu', oke?"

Pak Satrio tersedak ludahnya sendiri. Para pelayan wanita di belakangnya mulai berbisik-bisik.

"Siapa dia? Berani sekali bicara begitu pada Pak Satrio?"

"Lihat bajunya, robek-robek begitu. Apa dia gadis hutan?"

"Tapi lihat Tuan Muda... dia diam saja saat lengannya ditarik-tarik!"

Nael menarik napas panjang. Ia mencoba melepaskan tangan Alurra dengan halus, namun Alurra justru semakin mengencangkan pelukannya. Alurra mendongak, menatap Nael dengan mata bulat yang besar.

"Kenapa? Kau malu punya calon istri secantik aku?" tanya Alurra blak-blakan.

Nael menggeleng cepat, wajahnya sedikit memerah. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di aplikasi catatan, lalu menunjukkannya pada Pak Satrio: "SIAPKAN KAMAR TERBESAR. DIA AKAN TINGGAL DI SINI. JANGAN ADA YANG MEMBANTAHNYA."

Pak Satrio membungkuk dalam, meski hatinya penuh tanya. "Baik, Tuan Muda. Mari, Nona—maksud saya, Nona Alurra, silakan masuk."

Begitu melangkah ke dalam aula utama, Alurra langsung berlari ke sana kemari. Ia melompat ke atas sofa kulit mahal seharga ratusan juta rupiah seolah itu adalah trampolin.

"Hoooi! Empuk sekali!" Alurra berguling-guling di sofa. "Tapi kenapa baunya seperti kulit sapi mati? Nael, besok ganti sofa ini dengan hamparan bunga melati ya!"

Seorang pelayan muda mencoba mendekat dengan gemetar. "Ma-maaf Nona, mohon jangan melompat di sana, kulit sofanya sangat sensitif—"

"Kau yang sensitif!" sahut Alurra ketus sembari menjulurkan lidah. "Sofa ini kan benda mati, dia tidak akan menangis kalau aku injak!"

Nael hanya bisa memijat pelipisnya. Ia berjalan menghampiri Alurra, mencoba menariknya turun. Biasanya, jika ada wanita yang menyentuh jasnya, Nael akan langsung mengganti jas itu dan mandi berjam-jam karena merasa tidak nyaman. Tapi sekarang? Alurra terus-menerus menarik-narik kerah kemejanya, bahkan mengacak-acak rambutnya yang rapi, dan Nael hanya bisa berdiri pasrah dengan wajah "pasrah".

Para pelayan yang melihat itu merasa dunia sedang kiamat. Tuan Muda mereka yang terkenal memiliki fobia terhadap sentuhan wanita, kini seperti kerbau yang dicocok hidungnya oleh gadis bar-bar ini.

"Nael, aku haus!" Alurra tiba-tiba berhenti melompat dan menarik dasi Nael hingga wajah pria itu merunduk. "Aku mau minum embun pagi yang diperas dari kelopak mawar. Ada?"

Nael menatap Pak Satrio. Pak Satrio mengangguk paham, meski bingung di mana mencari embun perasan mawar di jam seperti ini. "A-akan kami siapkan jus buah segar yang paling baik, Nona."

Alurra melepaskan dasi Nael, lalu menepuk-nepuk dada pria itu dengan bangga. "Bagus! Pangeranku memang punya pelayan yang sigap."

Nael kemudian menunjuk ke arah tangga, memberi isyarat bahwa Alurra harus segera ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, Alurra justru menggeleng kuat-kuat. Ia kembali menggandeng lengan Nael, kali ini lebih erat hingga dadanya menempel pada lengan Nael.

"Ingat perjanjian kita di burung besi tadi, Sayang?" Alurra berbisik cukup keras hingga terdengar oleh seluruh pelayan di aula. "Satu kamar! Aku tidak mau tidur sendirian. Kalau ada hantu kota yang menggigitku bagaimana?"

Prang!

Satu gelas kristal yang sedang dibersihkan pelayan di pojok ruangan pecah berantakan. Pak Satrio hampir pingsan di tempat. Tuan Muda Nael... satu kamar dengan wanita? Ini bukan lagi berita besar, ini adalah sejarah baru yang mengerikan di Mansion Ryker.

Nael memejamkan mata, wajahnya memerah padam. Ia menunjuk ke arah ponselnya, ingin menjelaskan bahwa "satu kamar" bukan berarti "satu ranjang", tapi Alurra sudah lebih dulu menariknya menaiki tangga dengan semangat luar biasa.

"Ayo Pangeranku! Tunjukkan padaku di mana 'harta' itu disimpan!"

Nael melangkah gontai mengikuti tarikan Alurra, meninggalkan para pelayan yang masih mematung dengan mulut terbuka lebar. Mereka baru menyadari bahwa mulai hari ini, Mansion Ryker tidak akan pernah sunyi lagi.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!