NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.Perdana ke kantor

HAPPY READING!!!

Kaki Lora melangkah mantap memasuki gedung kantor. Dagunya terangkat tinggi, punggungnya tegak, tak ada sedikit pun rasa takut atau ragu tergambar di wajahnya. Setiap langkahnya memantul di lantai marmer lobi yang luas, menarik perhatian siapa pun yang berada di sana.

Para karyawan yang melihat kedatangannya seketika membeku.

Mereka tahu siapa wanita yang berjalan di tengah lobi itu—istri dari CEO perusahaan yang sebenarnya. Meskipun kondisi sang CEO jauh dari kata normal, bahkan tak pantas disebut sebagai pemimpin dalam keadaan sadar sepenuhnya, tetap saja mayoritas saham perusahaan berada di tangan Devon.

Dan itu berarti… wanita itu memiliki kuasa.

Bisik-bisik mulai memenuhi lobi. Suara lirih yang awalnya pelan perlahan berubah menjadi dengungan gosip yang tak terkontrol.

Dua orang wanita yang berdiri di dekat lift saling melirik dengan tatapan tidak suka. Bibir mereka bergerak cepat, sengaja tidak mengecilkan suara ketika Lora melintas.

“Kamu tahu, wanita itu sebenarnya adalah kekasih Tuan Vino, tapi dia berpaling saat di pernikahan karena tahu si cacat mental itu memiliki harta kekayaan yang berlimpah.”

“Oh ya? Astaga… perempuan itu memang sangat mengerikan. Dia memanfaatkan keadaan Pak Devon untuk meraup keuntungannya.”

“Iya, kasihan Tuan Vino terpaksa harus menikahi adik tiri perempuan itu agar tidak malu.”

“Sungguh, baru kali ini aku melihat jalang sepercaya diri seperti dia. Jangan-jangan dia ke sini bukan untuk bekerja, tetapi mencari selingan untuk ditiduri, mengingat keadaan Pak Devon.”

“Mungkin saja. Wanita yang gila harta seperti dia pasti juga gila belaian dari pria. Pak Devon kan tidak bisa membelainya.”

Ucapan itu bergantian keluar dari mulut mereka, bahkan ketika Lora telah masuk ke dalam lift. Suara mereka justru semakin keras, seolah sengaja memastikan setiap kata sampai ke telinga Lora.

Pintu lift hampir tertutup.

Namun—

Tangan Lora menahan sensor pintu.

Lift kembali terbuka.

Dengan langkah tenang, ia keluar lagi. Tatapannya datar, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihina.

Dalam satu gerakan cepat, ia meraih minuman dingin yang dipegang oleh seorang karyawan lain yang hendak masuk ke lift. Tanpa ragu, Lora menyiramkan kopi dingin itu tepat ke wajah dua gadis yang sedang bergunjing tersebut.

Cipratan cokelat pekat membasahi wajah menor mereka, melunturkan riasan tebal yang sejak tadi terlihat mencolok. Pakaian ketat yang membungkus tubuh mereka ikut ternodai.

“Aaaahhh!” teriak keduanya bersamaan.

Lobi seketika hening.

Lora melangkah mendekat. Tatapannya tajam, dingin, menusuk.

“Sebelum kalian berdua membicarakanku, lebih baik kalian berdua memperbaiki cara berpakaian yang pantas disebut seperti jalang dan makeup kalian lebih dulu. Lihatlah, hanya dengan cipratan air sedikit saja make-up kalian luntur tak bersisa. Apa karena make-up kalian dari barang murahan? Ciih… apa kalian sekarang sudah paham betapa pentingnya uang sekarang? Kalian berdua beruntung aku hanya menyiram kalian dengan kopi dingin, bukan dengan air comberan.” ucap Lora tegas.

Tak ada teriakan. Tak ada emosi berlebihan. Justru ketenangannya yang membuat kata-kata itu terasa lebih menghina.

Ia berbalik, mengabaikan tatapan murka dan wajah memerah kedua wanita tersebut.

Lora lalu mengeluarkan black card miliknya dan menyerahkannya kepada karyawan yang tadi ia ambil minumannya.

“Kamu bisa membeli minuman itu kembali. Belikan juga untuk teman-temanmu dengan ini.” ucap Lora sambil meletakkan kartu itu di tangan wanita tersebut sebelum kembali berlenggok masuk ke dalam lift.

Pintu lift tertutup perlahan.

Wanita yang menerima black card itu hanya bisa ternganga. Beberapa karyawan lain mendekat, melihat kartu hitam itu dengan mata berbinar.

Beberapa detik kemudian, sorakan kecil penuh kegembiraan terdengar di sudut lobi.

Di kejauhan, Delia yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu menatap dengan wajah tidak suka. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal.

“Perempuan itu mencoba mengusik kenyamananku di sini.” ucapnya lirih namun penuh racun.

Tanpa menunggu lebih lama, Delia berbalik dan menuju lift lain. Tumit sepatunya berbunyi nyaring saat ia melangkah cepat menuju ruangan Donni.

_______

Lora melangkah mantap menuju ruang HRD. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya bekerja cepat. Semua berkas sudah lebih dulu diurus oleh David—kepala pelayan keluarga sekaligus suami pelatih bela dirinya. David yang mengatur semuanya dengan rapi, memastikan tak ada celah hukum sedikit pun saat Lora resmi masuk sebagai staf keuangan.

Begitu pintu ruang HRD terbuka, suasana di dalam berbeda dari lantai lain—lebih tenang, lebih profesional.

Perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun segera berdiri menyambutnya dengan hangat. Wajahnya tegas namun bersahabat.

David pernah berkata, hanya satu orang di perusahaan ini yang benar-benar bisa dipercaya—HRD tersebut. Ia adalah keponakannya dan sudah bekerja sejak masa kepemimpinan Devon yang masih disegani. Mustahil ia berkhianat.

Tia menyerahkan map tebal berisi dokumen kepada Lora.

“Aku harap kamu bisa mengembalikan perusahaan seperti sedia kala lagi seperti kepemimpinan Tuan Devon.” ucap HRD tersebut yang bernama Tia, perempuan berusia 30 tahun.

Nada suaranya bukan basa-basi. Ada harapan dan juga kelelahan yang tersirat di sana.

Lora menerima berkas-berkas itu dengan senyum hangat, meski tatapannya menajam.

“Memang ada apa dengan perusahaan ini?”

Tia menghela napas pelan sebelum menjawab.

“Banyak orang-orang yang tidak jelas, tidak sesuai dengan standar kantor, diterima begitu saja dengan mudah karena rekomendasi Ibu Delia, Kepala Keuangan. Pak Donni memintaku menerima semua orang-orang tersebut. Jika aku membantah, aku akan diancam dipecat tanpa pesangon, tidak peduli berapa lama aku bekerja di sini.” jelas Tia.

Rahang Lora mengeras.

“Kebanyakan dari mereka dikirim ke bagian mana?”

“Staf keuangan.” ucap Tia singkat.

Tatapan Lora langsung berubah dingin.

“Apa mereka ada hubungan kerabat dengan Delia?” tanya Lora.

“Kebanyakan memang seperti itu dari CV dan berkas-berkas yang aku lihat.” jelas Tia.

Lora tersenyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyimpan perhitungan.

“Kalau seperti itu kemungkinan mereka sedang menyusun rencana untuk mengelabui keuangan perusahaan. Sepertinya Delia sengaja merekrut kerabatnya karena akan lebih mudah membungkamnya.” jelas Lora.

Tia menatapnya semakin yakin.

“Aku juga berpikir seperti itu. Sepertinya Pak Donni dan Ibu Delia bersekongkol untuk menggelapkan dana perusahaan, karena ada rumor yang mengatakan jika Delia dan Pak Donni itu berselingkuh.” jelas Tia pelan, seolah dinding pun bisa menguping.

Lora mengangguk perlahan. Potongan-potongan teka-teki mulai tersusun di kepalanya.

“Sekarang aku paham kenapa Donni begitu tertarik menyuruhku menikah dengan Vino dan bergabung pada staf keuangan. Ternyata untuk ini—untuk membantunya menguasai perusahaan bersama dengan selingkuhannya. Sungguh menarik… kasihan sekali Sinta yang mengira Donni begitu setia kepadanya.” gumam Lora, suaranya rendah namun masih dapat didengar oleh Tia.

Tak ada rasa simpati di wajahnya. Hanya kecerdikan dan tekad.

“Baiklah,” Lora berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan. “Kalau begitu aku pergi dulu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan selingkuhan Donni itu. Pasti dia akan sangat senang menyapa adik iparnya ini.” ucap Lora.

Ia melangkah menuju pintu dengan penuh percaya diri. Tangannya sudah menggenggam gagang pintu ketika tiba-tiba tangan Tia terulur dan memegang pundaknya.

Seketika Lora berteriak kesakitan.

“AAAKKK…..”Tubuh Lora sontak sedikit terhuyung.

.

.

.

💐💐💐Bersambung 💐💐💐

Hayo ini HRD nya benaran baik atau di baik - baikin nih ???

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!