NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - monster

Di tengah kekacauan dan jerit kematian yang menggema di aula utama, Kaelan bergerak seperti hantu di balik tirai kabut es. Namun, saat ia bersiap untuk menerjang ke arah singgasana Tuan Besar, indra Domain Kesunyian miliknya menangkap sebuah getaran yang berbeda.

Di sudut gelap dekat perpustakaan rahasia sekte, ada seseorang yang tidak memegang senjata. Detak jantungnya cepat, penuh ketakutan, namun tidak memiliki niat membunuh.

Kaelan menghilang dari hadapan Penatua Bayang, meninggalkan bayangan es yang pecah saat ditebas. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di pojok perpustakaan, belati hitamnya menempel di leher sosok misterius itu.

"Tunggu! Kaelan... ini aku!" sebuah suara bergetar memecah kesunyian.

Kaelan menghentikan gerakannya. Di bawah cahaya rembulan yang masuk dari celah atap, ia melihat seorang pemuda dengan pakaian pelayan sekte yang compang-camping. Wajahnya penuh bekas luka, dan salah satu matanya tertutup katarak putih.

"Rian?" bisik Kaelan. Nama itu terasa asing di lidahnya.

Rian adalah satu-satunya anak yang pernah berbagi sepotong roti kering dengan Kaelan saat mereka pertama kali diculik tujuh tahun lalu. Rian tidak terpilih masuk ke lubang "Rahim Batu" karena tubuhnya dianggap terlalu lemah; ia dijadikan budak pekerja kasar untuk mengurus keperluan logistik para petinggi sekte.

"Kau... kau benar-benar hidup," air mata mengalir dari mata sehat Rian. "Mereka bilang kau sudah mati di lubang itu. Lalu kau muncul sebagai monster berambut putih ini..."

"Pergilah dari sini, Rian. Sekte ini akan runtuh malam ini," ucap Kaelan dingin, meski ada sedikit getaran dalam nadanya yang biasanya datar.

"Tidak, Kaelan! Kau harus tahu satu hal," Rian mencengkeram jubah hitam Kaelan dengan tangan gemetar. "Tuan Besar... dia tidak hanya melatihmu. Di bawah aula ini, di ruang terdalam yang disebut Sumur Jiwa, ada sepuluh anak lagi. Mereka adalah 'Batch Kedua'. Mereka telah diberikan darahmu yang diambil saat kau pingsan setelah ujian pertama. Mereka adalah versi yang lebih kuat dan tanpa akal sehat."

Kaelan tertegun. Jadi itulah alasan mengapa Tuan Besar begitu tenang melihatnya membantai para pengawal. Kaelan hanyalah prototipe, sebuah eksperimen sukses yang kini akan digunakan untuk menciptakan pasukan yang lebih mengerikan.

"Mereka akan dilepaskan jika kau tidak segera menghancurkan mekanisme penguncinya di bawah singgasana," lanjut Rian tergesa-gesa.

Tiba-tiba, suara tawa menggelegar dari tengah aula. Tuan Besar berdiri di atas singgasananya, memegang sebuah tuas emas.

"Terima kasih atas reuninya, budak tak berguna," ucap Tuan Besar sambil melirik ke arah Rian dan Kaelan. "Kaelan, kau pikir kau adalah satu-satunya mahakarya? Kau hanyalah donor darah untuk pasukan sejatiku."

Tuan Besar menarik tuas itu.

Lantai aula bergetar hebat. Ubin marmer retak dan amblas ke bawah. Dari kegelapan lubang yang baru terbuka, muncul sepuluh sosok dengan tubuh yang lebih besar dari manusia normal, kulit mereka berwarna abu-abu pucat dengan urat-urat hitam yang menonjol. Mata mereka benar-benar putih, tanpa pupil, dan dari mulut mereka keluar uap beracun yang sama dengan Qi milik Kaelan.

Para 'Tentara Mayat Es' itu meraung, suara yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang mendengarnya.

Kaelan mendorong Rian ke balik lemari buku besar. "Sembunyi di sana. Jangan keluar sampai suara pedang berhenti."

Kaelan berdiri tegak, memutar kedua belatinya. Rambut putihnya kini berpendar biru karena ia memaksa seluruh energi di meridiannya untuk keluar. Jika sekte ini menciptakan monster menggunakan darahnya, maka ia akan menunjukkan kepada mereka bahwa sang pemilik asli darah itu jauh lebih mematikan.

"Darahku bukanlah sesuatu yang bisa kalian curi tanpa membayar harganya," geram Kaelan.

Ia menerjang ke arah sepuluh monster itu, memulai tarian kematian yang paling brutal dalam sejarah Lembah Kabut Abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!