Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damar Pindah
"Ngomong-ngomong, orang tua anak yang punya boneka. Gimana kabarnya?" tanya Damar penasaran
"Mereka sering ke perumahan itu, untuk meratapi penyesalannya. Karena meninggalkan putrinya seorang diri, menyebabkan harus kehilangan nyawa." jawab Akbar, Damar menghembuskan nafas panjang
"Kita juga ga bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, karena biasanya mereka tak meninggalkan putrinya. Hanya saja di hari insiden itu terjadi, mereka terburu-buru karena katanya toko mereka kemalingan. Sehingga mereka pikir, tak akan lama meninggalkan putrinya. Dan siapa juga yang akan tau, bila akan terjadi musibah ini bukan?" lanjut Akbar, Damar mengangguk setuju.
.
.
Waktu berlalu, Bayu sudah keluar dari rumah sakit. Damar terlihat lebih sering bersama Ghaffar dan Akbar, karena tak ingin terseret kembali kasus seperti sebelumnya. Bayu mengerti, karena ia juga sudah di tegur oleh sang ayah. Om Gunawan baru tau, bila ternyata Bayu sering memaksa kehendak nya pada Damar. Hanya karena keluarganya, sering membantu Damar.
Setelah om Gunawan bercerita, bila dengan bantuan Damar yang meminta tolong pada Ghaffar. Nyawanya bisa tertolong, sehingga ia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Bayu sempat meminta maaf, Damar pun menerima maafnya. Hanya saja, Damar memilih untuk menjaga jarak.
"Kamu teh ga papa, jadi jauh sama temen kamu?" tanya Akbar
"Justru gue yang harusnya tanya, apa ga papa gue jadi selalu gabung ma kalian?" tanya Damar balik, ia hanya tak ingin membuat Ghaffar jadi tak nyaman karena keberadaannya. Damar sudah nyaman dengan keduanya, sehingga ia sudah tak formal saat berbicara dengan keduanya. Hanya Akbar, yang memang tidak bisa bila harus lu-gue.
"Ga masalah kalo kita mah, kamu juga anaknya ga ribet. Yang penting, ga ganggu kenyamanan Ghaffar aja." jawab Akbar
"Ghaf, lu kan pemilik kafe yang kapan hari kita ketemuan. Kalo gue ngelamar kerja si sana, bisa kagak?" tanya Damar, Ghaffar menoleh.
"Kalo lu mau, ada lowongan di bagian belakang. Bagian cuci piring, lu mau?" jawab Ghaffar, seraya bertanya
"Mau mau... apa aja gue mah mau, yang penting gue masih bisa biayain nenek ma sekolah gue. Gue ga mau kalo terus-terusan di sangkut pautin sama jasa, yang udah Bayu dan keluarganya kasih. Gue bakal cicil sedikit demi sedikit, uang yang udah pernah mereka kasih ma gue. Bukan maksud gue ga mau balas budi, gue tau hutang budi gue ma mereka ga akan pernah selesai. Tapi seenggaknya, gue bisa buktiin... kalo gue bisa berdiri sendiri, tanpa uluran tangan mereka." jawab Damar, Ghaffar dan Akbar mengangguk
"Ya udah atuh, kalo gitu mah kamu ambil kerjaan yang jam sepulang sekolah. Jam 3 sampe jam 11 malem, eh.. rumah kamu dimana? Jauh apa deket dari kafe?" jelas Akbar, saat mengingat tempat tinggal. Ia pun menanyakan hal itu pada Damar, takut bila jaraknya terlalu jauh. Ia hanya tak ingin, membuat nenek nya Damar cemas.
"Mmm... satu kali naik bis" jawab Damar
"Rumah pribadi atau sewa?" tanya Ghaffar
"Sewa, gue bukan asli orang sini. Gue dari Malang, cuma pindah ke sini sejak SD kelas 2. Kalo lu berdua, asli sini?" keduanya menggelengkan kepala
"Kita mah asli Bandung, aku ikut pindah ke sini sama ibu. Soalnya ga bisa jauh dari Ghaffar, aku dan ibu ga bisa kalo harus lepasin Ghaffar sendiri di kota ini." jawab Akbar, Ghaffar tak berkomentar. Karena yang di katakan Akbar memang benar, Akbar dan ibunya memang tak bisa melepaskannya. Mereka takut, bila Ghaffar melakukan hal gila yang tak di inginkan.
Karena ia tau, bila keduanya memang tulus padanya, ia pun menerima keduanya dengan tangan terbuka. Mereka pindah ke kota ini, sejak masuk SMP. Ghaffar membeli kan rumah bersebelahan, untuk Akbar dan ibunya. Sungguh, Akbar tak bisa meninggalkan Gahffar. Terlalu banyak bantuan, yang di berikan oleh nya.
"Kalo lo sewa, lo pindah aja ke kosan yang ada di belakang kafe. Lo sama nenek lo bisa tinggal di sana, selama lo kerja bareng gue." ucap Ghaffar
"Kosan di belakang kafe? Kosan bagus itu? Itu mahal Ghaff, gue mana sang..
"Kosan itu milik Ghaffar, Dam. Jadi kamu ga usah ambil pusing masalah biaya sewa, kamu bisa bayar separuhnya aja." potong Akbar, mengejutkan Damar.
"DEMI APA?! KOSAN ITU...
"sssttt" Akbar meminta Damar mengecilkan suaranya
"Kosan itu miliki Ghaffar? Kosan mewah itu?" Akbar mengangguk
"Masya Allah... gue ga percaya kalo lo sesukses ini, di usia lu yang masih..." Damar menggelengkan kepala tak percaya, apa semua orang jenius seperti Ghaffar?
'Kamu pasti lebih kaget, kalo tau siapa Ghaffar.' ucap Akbar dalam hati
"Jadi gimana? Kamu mau?" tanya Akbar, Damar mengangguk
"Tapi, apa ga papa kalo gue bayar cuma separo?" tanya Damar
"Aman, kalo Ghaffar udah acc. Mang siapa yang bisa protes?" Damar tersenyum lebar, mendengar ucapan Akbar
"Di setiap kamar udah ada kasur, lemari sama meja belajar. Kalo kamu mau nonton, ada tv di ruang kumpul. Dapur pake bareng-bareng sama yang lain, kamu tinggal pilih.. mau ada AC atau ga." ucap Akbar menjelaskan
"Ga, gue ga butuh AC. Cukup ada jendela yang bisa di buka, kalo bisa yang di lantai bawah. Supaya nenek gue ga harus naik turun, lagian kalo pake AC. Gue takut, nenek malah sakit." ucap Damar, Akbar nampak mengingat-ingat
"Kayanya ada kamar di deket dapur, tapi ruangannya ga seluas yang lain." ucap Akbar
"Ga papa, kalo lu liat kontrakan gue. Lu pasti bakal bilang, kalo kamar itu lebih besar di banding kontrakan gue." balas Damar
"Kalo gitu, kamu bisa langsung pindah sore ini. Kamu juga bisa langsung kerja hari ini, gimana?" ucap Akbar
"Kalo pindah mungkin bisa, kalo kerja. Gue bisa masuk, setelah semua urusan pindah gue selesai." jawab Damar, Akbar terkekeh
"Oh iya ya, sorry gue lupa. Butuh bantuan?" tanya Akbar, Damar menggelengkan kepalanya
"Barang gue cuma baju, karena pemilik kontrakan sebelumnya juga kasih pinjam barang-barangnya. Jadi nanti gue pake mobil online aja, gampang itu mah." Ghaffar menatap Damar
"Lu pake mobil kafe aja, biar Akbar yang bantu lo." ucap Ghaffar
"Ok, gitu aja" ucap Akbar
"Tapi...
"Udah... ga ada tapi-tapian, kita masuk kelas. Bel juga udah bunyi, gue tunggu sepulang sekolah." Akbar dan Ghaffar, meninggalkan Damar sendirian di perpus. Demi apa, perasaan Damar saat ini sungguh sangat senang. Dia bisa bekerja, tanpa mengganggu waktu sekolahnya. Bahkan ia juga bisa mendapatkan kamar sewa bagus, dengan harga terjangkau.
'Alhamdulillah, mungkin ini adalah kebaikan yang di tabur ayah dan ibu. Sehingga aku yang menuai hasilnya, terima kasih...'
.
.
Ghaffar sudah lebih dulu sampai di kafe, Akbar mengantar dan membantu Damar untuk pindahan. Sesampainya di kafe, Ghaffar naik ke lantai atas. Dimana kamar khusus untuknya, Ghaffar pergi mandi dan mengganti seragamnya, ia lalu turun ke bawah. Hanya duduk di salah satu meja, yang ada di sudut kafe. Dan tak ketinggalan, dengan Al-Qur'an mini di tangannya.
"Assalamu'alaikum nak Ghaffar" sedang khusuk mengaji, tiba-tiba ada yang menyapanya. Ghaffra segera menyudahi nya, ia melihat siapa yang menyapanya.
"Wa'alaikum salam pak Anwar, silahkan duduk." jawab Ghaffar, seraya mencium punggung tangan pria tersebut, pria yang di panggil Anwar pun duduk.
"Terima kasih nak" pak Anwar duduk, tak lama ia menghembuskan nafas panjang. Pak Anwar adalah warga yang tinggal di belakang kafe, rumahnya tak jauh dari kosan milik Ghaffar. Dan kebetulan, beliau merupakan ketua RT.
"Nak, bisa bantu bapak?"
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘