menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
BAB 8: Penyatuan di Balik Badai
Aula Grand Ballroom masih berdenyut dengan musik orkestra yang megah dan tawa basa-basi para elite dunia, namun bagi Aurelius Renzo, tempat ini telah berubah menjadi penjara emas yang menyesakkan. Maximilian, sang ayah, akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal setelah merasa dominasinya atas para pengusaha Jepang sudah cukup mutlak untuk malam itu. Elara dan Julian mengikuti di belakangnya, memberikan tatapan cemas terakhir pada kakak mereka yang masih berdiri mematung di sudut balkon, menatap kegelapan kota.
"Pastikan kau pulang ke mansion sebelum fajar, Aurelius," suara Maximilian menggema dingin sebelum ia menghilang di balik pintu ganda.
Aurelius tidak menjawab. Ia hanya menyesap sisa sampanyenya yang kini terasa sepahit empedu. Begitu bayangan ayahnya menghilang, topeng ketenangan di wajah Aurelius retak. Ia memanggil Yoto dengan satu isyarat tangan yang tajam.
"Yoto," suara Aurelius rendah, hampir seperti geraman predator. "Bawa dia padaku. Sekarang."
Yoto tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud. Sebagai orang kepercayaan yang telah melihat transisi Aurelius dari bocah pewaris menjadi pria yang berkuasa, ia tahu bahwa tuannya sedang berada di titik didih. "Bagaimana dengan Kaito Shimada, Tuan Muda?"
"Gunakan namaku. Jika dia berani membantah, katakan padanya bahwa besok pagi keluarganya tidak akan punya kantor untuk dikunjungi. Bawa Hana ke apartemen pribadiku, bukan ke mansion."
Di kamar Presidential Suite Hotel Grand Imperial, suasana jauh dari kata mewah. Kaito Shimada sedang mondar-mandir seperti binatang buas yang terluka. Jasnya sudah dilempar ke lantai, dan wajahnya memerah karena amarah yang meluap-luap.
"Kau memalukan! Benar-benar sampah!" Kaito berteriak tepat di depan wajah Hana. "Kenapa kau menyebutnya 'Ren'? Siapa mekanik kotor itu hingga kau berani mempermalukanku di depan Aurelius Renzo? Kau tahu? Karena kebodohanmu, posisi keluarga Shimada sekarang terancam!"
Hana hanya diam, duduk di tepi tempat tidur dengan bahu yang bergetar. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia merasa jiwanya telah mati saat Ren—atau Aurelius—menatapnya dengan kedinginan yang membunuh tadi di pesta.
Tiba-tiba, ketukan pintu yang ritmis dan keras terdengar.
Kaito menyambar kemejanya dengan kasar dan membuka pintu, siap memaki siapa pun yang mengganggunya. Namun, kata-katanya tertahan di tenggorokan saat ia melihat Yoto berdiri di sana. Yoto tidak sendiri; dua pengawal bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam berdiri di belakangnya.
"Tuan Shimada," Yoto membungkuk dengan derajat yang sangat minimal, menunjukkan formalitas tanpa rasa hormat. "Saya di sini atas perintah langsung dari Tuan Muda Aurelius Renzo von Hohenzollern."
Kaito menelan ludah, amarahnya seketika berganti menjadi kecemasan yang menjilat. "A-apa yang diinginkan Tuan Aurelius?"
"Beliau ingin meminjam Nona Hana Asuka untuk sisa malam ini. Ada beberapa detail mengenai kontrak Asuka Group yang ingin beliau diskusikan secara pribadi tanpa campur tangan Anda," ucap Yoto dengan nada datar yang tidak menerima bantahan.
Hana terbelalak. Jantungnya berpacu liar. Meminjamnya?
Kaito tertegun sejenak, namun otaknya yang transaksional segera bekerja. Jika Aurelius menginginkan Hana, mungkin itu adalah kunci untuk menyelamatkan hubungannya dengan keluarga Hohenzollern. Ia berbalik, menatap Hana dengan tatapan tajam yang penuh ancaman. Kaito mendekat dan berbisik tepat di telinga Hana, "Pergilah. Dan kali ini, jangan buat kesalahan lagi. Jika kau bisa menyenangkannya, mungkin aku akan memaafkan kelakuan bodohmu tadi. Jangan memalukanku lagi, mengerti?"
Hana merasa ingin muntah mendengar kata-kata tunangannya sendiri. Ia berdiri dengan kaki yang terasa lemas, mengikuti Yoto keluar dari kamar hotel yang terasa seperti sel tahanan itu.
Perjalanan menuju apartemen pribadi Aurelius berlangsung dalam keheningan yang mencekik. Yoto membukakan pintu unit penthouse yang paling eksklusif di Tokyo itu. "Silakan masuk, Nona Hana. Tuan Muda sudah menunggu."
Hana melangkah masuk. Ruangan itu luas, minimalis, dan sangat modern, didominasi oleh warna hitam, abu-abu, dan kaca yang memperlihatkan cakrawala Tokyo. Tidak ada pelayan lain di sana. Hanya kesunyian yang berat.
Di ujung ruangan, di depan jendela besar yang menghadap menara Tokyo, Aurelius berdiri.
Hana tersentak. Pria itu tidak lagi mengenakan jas atau kemeja hitamnya yang megah. Ia hanya mengenakan celana kain hitam, bertelanjang dada, memperlihatkan punggung yang luas dengan guratan otot yang kokoh—punggung yang sama yang Hana lihat di bengkel Ota. Namun kali ini, aura di sekitarnya jauh lebih mengintimidasi.
Aurelius berbalik. Matanya tidak lagi dingin seperti di pesta. Matanya penuh dengan rasa bersalah, kerinduan, dan gairah yang tertahan. Sebelum Hana sempat mengucapkan sepatah kata pun, Aurelius sudah melangkah mendekat. Ia meraih pinggang Hana dengan satu tangan yang kuat dan menariknya dalam satu sentakan.
Tanpa peringatan, Aurelius menundukkan kepalanya dan mencium Hana. Itu bukan ciuman yang lembut; itu adalah ciuman yang menuntut, penuh dengan keputusasaan pria yang telah menahan diri terlalu lama. Hana terkejut, namun dalam hitungan detik, rasa rindu yang ia pendam meledak. Ia membalas ciuman itu, tangannya merambat naik ke leher Aurelius yang hangat.
Aurelius melepaskan ciumannya sejenak, napasnya memburu di depan wajah Hana. "Maafkan aku," bisiknya, suaranya kembali menjadi suara Ren yang lembut, suara yang Hana rindukan. "Kejadian di pesta itu... aku harus melakukannya. Aku harus melindungimu dari ayahku. Maafkan aku karena harus bersikap sekejam itu."
Hana menggeleng, air mata kembali jatuh namun kali ini adalah air mata lega. "Aku pikir aku kehilanganmu, Ren... Aurelius..."
"Panggil aku Ren saat kita hanya berdua," ucap Aurelius rendah.
Ia tidak membiarkan Hana bicara lebih jauh. Aurelius mengangkat tubuh Hana dengan mudah, menggendongnya menuju kamar utama yang lampunya temaram. Ia membaringkan Hana di atas ranjang king-size yang empuk dan kembali menindihnya dengan ciuman yang semakin dalam.
Tangan Aurelius yang terbiasa memegang mesin kini bergerak dengan kelembutan yang luar biasa. Ia membuka ritsleting gaun malam biru safir milik Hana, membiarkan kain mahal itu meluncur jatuh, mengekspos kulit putih Hana di bawah cahaya remang. Aurelius menciumi bahu Hana, turun ke lehernya, menciptakan desahan lembut yang keluar dari bibir Hana.
"Kau milikku, Hana," bisik Aurelius di sela ciumannya. "Bukan milik Kaito, bukan milik ayahmu. Hanya milikku."
Hana mendesah pelan, merespons setiap sentuhan Aurelius dengan gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa takut, frustrasi, dan tekanan selama beberapa hari terakhir seolah menguap, digantikan oleh api yang dinyalakan oleh pria di atasnya.
Aurelius melepaskan sisa pakaiannya, menampakkan tubuh atletisnya yang sempurna di bawah rembulan yang masuk melalui celah jendela. Malam itu, di puncak tertinggi Tokyo, tidak ada lagi sekat antara pewaris takhta dunia dan putri konglomerat yang terbuang. Hanya ada dua jiwa yang saling mendambakan.
Mereka menyatu dalam ritme yang intens dan penuh gairah. Setiap goyangan pinggul Aurelius yang bertenaga membuat Hana mendesah lembut, memanggil nama pria itu berulang kali. Aurelius tidak memberikan ruang bagi Hana untuk berpikir tentang hari esok; ia hanya ingin Hana merasakan kehadirannya sepenuhnya.
Sepanjang malam, di bawah langit Tokyo yang menjadi saksi, mereka tenggelam dalam lautan kenikmatan yang tak berujung. Bagi Aurelius, ini adalah caranya menandai Hana, memastikan bahwa wanita ini tidak akan pernah bisa melupakannya. Dan bagi Hana, ini adalah penyerahan diri yang paling tulus kepada pria yang memiliki seribu rahasia, namun hanya memberikan hatinya pada satu wanita.
Badai di luar mungkin masih mengintai dalam bentuk Maximilian dan Kaito, namun di dalam kamar itu, Aurelius telah memutuskan: ia akan menghancurkan dunia jika itu diperlukan untuk menjaga Hana tetap dalam pelukannya.