Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Manusia Selokan
PERHATIAN UNTUK PEMBACA:
Novel ini ditulis untuk segmen dewasa yang menyukai genre Anti-Villain dan Harem Kolektor.
Tokoh utama BUKAN pahlawan baik hati. Dia adalah produk dari dunia kejam yang mengajarkannya bahwa moralitas adalah kemewahan yang tidak mampu dia beli. Dia membunuh, mengkhianati, dan memanfaatkan siapa pun yang menghalangi jalannya ke puncak.
......................
Di Alam Bawah Sembilan Langit, kekuatan adalah segalanya. Bukan keturunan, bukan kebajikan, bukan kerja keras biasa. Hanya kekuatan.
Dunia ini berputar di atas hierarki yang tak terbantahkan. Kultivator di puncak, rakyat jelata di bawah, dan di antara keduanya terbentang jurang yang takkan pernah terjembatani oleh doa. Mereka yang mencapai Pemurnian Qi sudah berhak berjalan di jalur utama kota. Yang menembus Pembentukan Dasar bisa mendirikan nama. Adapun mereka yang meraih Inti Emas, mereka adalah penguasa kecil yang gerakannya menentukan hidup mati orang-orang di sekitarnya.
Kota Qingyun berdiri megah di selatan Kekaisaran Qinglong, pusat perdagangan terbesar yang pernah ada di wilayah itu. Menara-menara sekte menjulang di sudut kota. Toko pil berjejer di sepanjang jalan utama, menjual ramuan yang harganya setara nyawa puluhan keluarga miskin. Di sini, bau dupa mahal dan tawa para kultivator berpadu menjadi satu. Di sini pula, tempatnya lorong-lorong gelap dan selokan yang mengalir keruh, di mana orang-orang yang tak punya Qi hidup seperti bayangan yang tak pernah dilihat.
Manakala matahari terbenam di balik tembok tinggi kota, para pemulung mulai bergerak. Mereka adalah makhluk-makhluk yang paling tidak dianggap kerena memunguti ampas pil yang dibuang kultivator, menjual tulang binatang buas yang sudah diambil inti kekuatannya, mencari remah-remah dari meja pesta orang-orang berkuasa. Bahkan ampas pil sekalipun, kandungan Qi yang tersisa di dalamnya masih bernilai bagi mereka yang tak punya apa-apa.
Huang Shen paham betul soal itu.
Pemuda berusia enam belas tahun dengan rambut kusut, berpakaian lusuh yang sudah beberapa kali dijahit ulang itu menggenggam karung butut kala mata hitamnya menyapu cermat setiap sudut selokan. Kendati hidupnya jauh dari kata layak, ada sesuatu di balik matanya yang belum padam, dan itu bukan kepasrahan apalagi ratapan, tetapi harapan.
"Hari ini pasti ada yang bagus, atau setidaknya berguna untuk kultivasiku," bisiknya pada diri sendiri sambil membalik batu besar di pinggir selokan.
Empat tahun lalu, Desa Hutan Jamur habis dilalap api. Sekte Iblis Hitam datang malam-malam, mencabut nyawa tanpa basa-basi seperti hal biasa yang mereka lakukan selama ini. Huang Shen, dua belas tahun kala itu, bersembunyi di dalam tong kayu selama semalaman penuh. Tangannya menutup mulutnya sendiri saat mendengar teriakan ibunya berhenti tiba-tiba. Ayahnya, seorang pandai besi yang jujur, mati tanpa sempat mengangkat senjata.
Tatkala fajar datang dan asap sudah menipis, hanya Huang Shen yang tersisa.
Sejak itu, Kota Qingyun menjadi rumahnya. Jalanan menjadi kasurnya. Dan dendam menjadi bahan bakarnya. Meski begitu, dia memilih untuk tetap percaya. Andaikata dia menyerah sekarang, bukankah itu berarti kematian orang tuanya benar-benar sia-sia?
"Suatu hari nanti," tuturnya lirih sambil melanjutkan langkah, "aku akan tumbuh cukup kuat. Aku hanya harus percaya dengan harapan itu."
Lantaran itulah, tatkala Huang Shen menemukan tiga butir ampas pil di sudut selokan belakang Distrik Timur, jantungnya berdegup kencang. Ampas pil Inti Emas, yang tampak dari warna keemasan yang masih tersisa di permukaannya. Bahkan sisanya pun bisa memperkuat Qi-nya yang baru di Pemurnian Qi tingkat tiga.
Tangannya belum sempat menyentuh, saat seorang pemulung tua merangkak dari arah lain.
Keduanya pun saling bertatap mata.
Pemulung itu lebih dulu menerkam. Sementara Huang Shen juga tak kalah cepat. Dua pasang tangan saling dorong, saling tarik. Ampas pil bergulingan di antara lumpur dan Huang Shen berhasil merebut dua butir, pemulung tua mendapat satu.
Alhasil, belum sempat keduanya berdiri, tiga bayangan jatuh dari tembok selokan.
"Hei, sampah! Itu milik kami yang tadi kami buang. Kalian berani menyentuhnya?"
Dia adalah Liu Kun. Murid Sekte Aliran Qing, yang berada di Inti Emas tingkat dua. Huang Shen pernah melihat wajah itu dari kejauhan, tapi belum pernah sedekat ini. Di belakangnya berdiri Wang Bao dan Zhang Wei, keduanya tersenyum dengan cara yang membuat perutnya mual.
"Kami hanya mengambil yang sudah dibuang, Tuan Kultivator," ucap Huang Shen hati-hati.
"Dibuang?" cibir Liu Kun. "Kami sedang bermain lempar tangkap, dasar tolol!"
Wang Bao terkekeh. "Lihat, Kun, bahkan sampah pun sekarang berani bicara."
Huang Shen mengepalkan tangan. Ampas pil itu masih ada di genggamannya.
"Kembalikan!" hardik Zhang Wei, "atau kami yang akan mengambilnya sendiri."
"Ini sudah di selokan," tampik Huang Shen. Suaranya lebih keras dari yang dia niatkan. "Tidak ada yang memilikinya lagi."
Dua detik kebisuan yang membekukan tempat itu sebelum Kun mengayunkan tangannya.
Pukulan pertama menghantam dada Huang Shen dan melontarkannya tiga langkah ke belakang. Qi Inti Emas yang mengaliri kepalan itu bukan sekadar kekuatan fisik. Rasanya seperti dipukul gunung. Huang Shen membentur dinding selokan, tulang iganya berderak hebat. Sementara pemulung tua sudah kabur duluan tanpa dihajar sedikitpun.
"Rasakan itu," dengus Liu Kun. "Ini pelajaran buat kalian yang lupa diri."
Wang Bao melangkah maju dan menginjak pergelangan tangan Huang Shen yang mencoba bangkit. Ampas pil terlepas dari genggaman, jatuh ke lumpur.
"Lihat matanya," celetuk Zhang Wei, "masih berani melotot."
Huang Shen mencoba merangkak tapi tendangan menyasar sisi kepalanya. Dunia pun memudar. Dia rasakan darah mengalir hangat dari alisnya, membasahi sisi wajah kirinya. Tapi yang lebih sakit dari semua itu bukan tulangnya, melainkan mimpinya yang kandas.
Empat tahun bertahan. Empat tahun mengumpulkan ampas pil, menghirup sisa-sisa Qi dari hal-hal yang dibuang. Empat tahun mengulang janji kepada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti dia akan cukup kuat. Dan di sini, empat tahun itu dipatahkan dalam hitungan menit oleh tiga orang yang bahkan tak menganggapnya manusia.
"S-suatu hari nanti... ." erang Huang Shen di antara giginya yang berdarah.
Liu Kun berjongkok di depannya. "Apa katamu?"
"Suatu hari nanti, aku akan—" Kalimatnya terganggu oleh tendangan terakhir yang menghantam pelipis kirinya.
Setelah itu semuanya gelap.
Huang Shen merasakan airnya yang dingin. Selokan yang mengalir perlahan merendam setengah tubuhnya. Langit di atas sudah hitam, bintang-bintang muncul satu per satu. Ketiga murid itu sudah pergi, tentu saja. Tak ada yang peduli pada seorang pemulung sekarat di selokan. Malahan, merekalah yang membuangnya ke sana.
Napasnya begitu pendek. Putus-putus.
Dalam gelap pikirannya, wajah ibunya muncul. Senyum yang selalu hangat itu. Tangannya yang kasar namun lembut mengelus rambutnya. Suara ayahnya yang dalam, mengajarkan cara menempa besi. "Shen-er, besi yang baik harus ditempa berkali-kali. Begitu pula manusia."
Ternyata dia tidak cukup ditempa.
Alhasil, janjinya berakhir di selokan berlumpur, tanpa ada yang menyaksikan. Dadanya makin terasa sesak dan tangannya tak bisa lagi bergerak. Mungkin ini memang sudah akhirnya. Mungkin memang ada orang yang dilahirkan untuk kalah.
Matanya mulai menutup.
Lalu sesuatu menyala.
Di dada kirinya, tepat di atas jantung, terasa seperti ada api kecil yang baru dinyalakan. Itu panas yang membangunkan.
Cahaya merah sepekat darah menembus kulitnya dari dalam.
Tanda itu berbentuk gerbang, setinggi ujung jari, dengan ukiran naga dan iblis yang melilit di kedua sisinya. Huang Shen bahkan tidak tahu tanda itu ada di tubuhnya. Dia tak pernah menyadarinya.
Gerbang Iblis dalam Darah.
Peninggalan seorang Dewa Iblis yang hidup enam puluh enam ribu tahun lalu, sebelum peradaban kultivasi saat ini bahkan ada. Gerbang itu menunggu. Selama enam belas tahun ia menunggu tuannya berada di ambang kematian yang sejati, momen ketika jiwa hampir terlepas dari raga.
Momen ini.
Darah yang menggenang di selokan mulai bergerak. Perlahan. Lalu cepat. Mengalir ke arahnya, meresap ke pori-pori kulitnya, masuk ke dalam seperti tanah kering menyerap air hujan pertama. Tulang-tulangnya bergemeretak ngilu, untuk pulih. Luka di pelipis menutup. Tulang iga yang retak kembali lurus.
Dan suara purba itu muncul dari dalam kepalanya sendiri layaknya gema dari tempat yang sangat jauh.
"Akhirnya kau hampir mati juga, Tuanku."
Huang Shen segera membuka matanya.
Merah seperti langit terbakar, seperti darah yang baru diperas, seperti amarah yang sudah disimpan terlalu lama dan baru menemukan jalan keluarnya. Dia berdiri perlahan, lututnya tidak lagi goyah, tangannya tidak lagi lemas.
Adapun di genggamannya, ampas pil yang tadi jatuh ke lumpur sudah hancur menjadi serbuk. Qi-nya terserap habis.
Huang Shen menatap ke arah Distrik Barat, tempat Sekte Aliran Qing berdiri.
"Liu Kun," desisnya.
Bukan janji kosong kali ini, karena malam pertama Gerbang terbuka, adalah malam pertama Huang Shen benar-benar lahir.