NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Saat Gatotkaca memasuki ruangan, semua mata langsung tertuju padanya. Ada keheningan yang sangat janggal dan mematikan menggantung di udara. Sebuah keheningan yang dipenuhi oleh rasa bersalah yang tak terucapkan.

"Kau memanggil hamba, Uwa Prabu Kresna," ucap Gatotkaca memecah keheningan, memberikan penghormatan singkat dengan menundukkan wajahnya.

Sri Kresna menghela napas panjang. Ia berjalan mendekati Gatotkaca, menatap lekat-lekat pada zirah emas pria itu yang kini tertutup lapisan kerak darah kering yang mengerikan. Sang penitis dewa itu tahu betul kehancuran batin apa yang telah mengubah raksasa ini menjadi mayat hidup.

"Situasi kita di ujung tanduk, Gatotkaca," Kresna memulai, suaranya pelan namun tegas. "Karna telah memecah barisan tengah kita. Jika ia tidak dihentikan malam ini juga, besok pagi panji Astina akan berkibar di atas perkemahan kita. Kita akan kehilangan semuanya."

"Lalu biarkan hamba turun ke sana dan meremukkan kepalanya, Uwa Prabu," sahut Gatotkaca dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Tunjukkan saja di mana letak keretanya."

"Tidak sesederhana itu, Putraku," potong Bima dengan suara parau. Sang ayah maju selangkah, menatap putranya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kegetiran luar biasa. "Karna... Karna memegang Senjata Konta Wijayadanu."

Mendengar nama pusaka itu disebut, tubuh Gatotkaca seketika mematung.

Konta Wijayadanu. Tombak pusaka para dewa yang sarungnya dulu memotong tali pusarnya, dan kini sarung itu menyatu tertanam di dalam pusarnya sendiri. Itu adalah satu-satunya senjata di tiga dunia yang sanggup menembus kulit saktinya. Satu-satunya ujung besi yang memegang kunci maut bagi seorang Gatotkaca.

"Karna menyimpan pusaka Konta itu hanya untuk satu tujuan: membunuh Arjuna di pertempuran puncak nanti," Kresna mengambil alih penjelasan, matanya tak berkedip menatap Gatotkaca. "Jika Arjuna berhadapan dengannya sekarang, Karna akan menggunakan pusaka itu, dan Arjuna pasti akan gugur. Jika Arjuna gugur, Amarta kehilangan pilar utamanya dan kita akan kalah dalam perang ini."

Kresna menghentikan kalimatnya sejenak. Ruangan itu begitu sunyi, hingga derak api di luar tenda pun terdengar seperti gemuruh petir.

"Kita harus memaksa Karna untuk melepaskan pusaka Konta itu malam ini juga," Kresna menelan ludah, sebuah tindakan langka bagi seorang manusia setengah dewa. "Kita harus mengirimkan sebuah ancaman yang begitu besar, begitu mengerikan dan tak bisa dihentikan, hingga Karna terpaksa, karena rasa panik dan putus asa, melemparkan pusaka Konta itu kepada ancaman tersebut, dan bukan kepada Arjuna."

"Dan ancaman itu... adalah diriku," Gatotkaca menyambung kalimat itu. Suaranya tidak bergetar. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada ketakutan.

Arjuna memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap keponakan yang dulu pernah ia bebankan tugas untuk mengawal putrinya itu. Bima menunduk, meremas kuat gagang gadanya hingga kayu bajanya nyaris patah, menahan tangis seorang ayah yang harus mengirim putranya sendiri ke tiang gantungan.

"Ya," jawab Kresna pelan. "Hanya kau, Gatotkaca. Hanya raksasa Pringgandani yang mengamuk dari angkasa yang sanggup membuat Karna ketakutan setengah mati. Kau harus menyerangnya. Kau harus memaksanya mengeluarkan Konta. Dan saat pusaka itu dilemparkan ke udara..."

"...pusaka itu akan mencari sarungnya," potong Gatotkaca lagi, menyimpulkan takdirnya dengan sebuah ketenangan yang membekukan darah semua orang di tenda itu. "Pusaka itu akan mencariku, dan menembus dadaku. Arjuna akan selamat. Amarta akan menang."

Keheningan yang mencekik kembali turun. Tidak ada yang berani membenarkan, namun diamnya mereka adalah jawaban mutlak. Mereka meminta sang perisai untuk melakukan tugas pamungkasnya: hancur demi yang lain.

Tiba-tiba, tanpa terduga, Gatotkaca tertawa.

Tawa itu rendah, parau, dan hampa. Tawa yang tidak mengandung secercah pun kebahagiaan, melainkan sebuah ironi yang begitu pahit hingga menyayat kewarasan. Semua orang di tenda itu tersentak, menatap ngeri pada sang senopati. Bima bahkan memajukan langkahnya, mengira putranya telah kehilangan akal sehatnya.

"Sempurna," bisik Gatotkaca, tawanya mereda menjadi senyum getir di balik helm bajanya. "Ini sungguh skenario yang sangat sempurna dari para Dewa."

Gatotkaca menatap Arjuna, paman yang pernah memaksanya bersumpah di pelataran istana. Lalu ia menatap Kresna, yang mengetahui segala takdir.

"Uwa Prabu... Paman Arjuna... Ayahanda," ucap Gatotkaca, suaranya kini dipenuhi oleh sebuah kelegaan yang luar biasa murni. "Kalian mengira kalian sedang mengirimku menuju sebuah hukuman. Kalian menundukkan wajah karena merasa bersalah telah menjadikanku tumbal perang ini."

Gatotkaca melangkah mundur mendekati pintu tenda. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah kering, menyentuh pelat dada emasnya sendiri, tepat di atas lambang bintang Pringgandani. Di mana di balik besi itu, jantungnya telah lama berhenti merasakan kegembiraan.

"Kalian salah," suara Gatotkaca kini bergema dengan keagungan yang menyilaukan. "Kalian tidak sedang mengirimku ke neraka. Kalian baru saja memberikanku jalan pulang. Kalian baru saja memberikanku kunci kebebasan yang telah kutunggu-tunggu setiap hari sejak aku turun dari pegunungan Swantipura."

Bima mendongak, matanya yang basah terbelalak menatap putranya. "Gatotkaca..."

"Jangan tangisi kepergianku, Ayahanda," potong Gatotkaca, menarik napas dalam-dalam. "Hamba telah lelah. Hamba telah sangat lelah menjadi mesin yang tidak bisa mati, sementara jiwa hamba telah lama gugur di tangan wanita yang hamba cintai. Hari ini, biarkan hamba memeluk takdir hamba. Biarkan hamba menjemput pusaka Konta itu... seperti seorang kekasih yang menjemput pasangannya."

Tanpa menunggu balasan apa pun, Gatotkaca berbalik dan melangkah keluar dari tenda komando.

Malam di Tegal Kurusetra sedang mengamuk. Api berkobar di mana-mana. Namun saat Gatotkaca menengadahkan wajahnya ke langit malam yang gelap gulita, ia tidak melihat kengerian perang.

Di atas sana, di balik kepulan asap hitam, imajinasinya melukiskan sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa. Ia membayangkan senyum wanita itu, aroma melatinya, dan sentuhan pualamnya yang pernah mengusap rahangnya di celah tebing.

*Hamba telah menepati sumpah hamba kepadamu, Tuan Putri,* batin Gatotkaca, sebuah monolog perpisahan yang ia kirimkan melalui angin malam, berharap angin itu sanggup membawanya hingga ke utara yang jauh. *Hamba telah memastikan kau tetap bersinar sebagai ratu. Dan kini, setelah tugasku usai, izinkanlah aku mengambil istirahat panjangku. Di kehidupan selanjutnya, hamba berjanji... hamba tidak akan lahir sebagai perisai baja. Hamba akan lahir sebagai pria biasa... agar hamba berhak memelukmu tanpa rasa takut.*

Gatotkaca memejamkan matanya, mengukir senyum terakhirnya di balik helm besi itu.

Ia memusatkan seluruh sisa prana di tubuhnya hingga batas yang sanggup meledakkan pembuluh darahnya. Otot-otot raksasanya menegang maksimal. Dengan satu tolakan kaki terkuat yang pernah ia lakukan seumur hidupnya, Gatotkaca melesat merobek angkasa Kurusetra. Ia terbang menembus lautan awan yang terbakar, meraung dengan kebebasan absolut, menjemput tombak Konta Wijayadanu yang akan menembus jantungnya malam ini, menuju sebuah akhir di mana sayap patahnya akhirnya bisa beristirahat dalam keabadian.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!