Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Matahari sore Jakarta yang terik menyengat kaca jendela apartemen, namun panasnya tidak sebanding dengan api yang mulai membakar dada ku. Aku berdiri di ruang tamu, telinga ku yang tersembunyi di balik rambut hitam ku mendadak tegak sempurna saat mendengar suara kunci berputar di pintu depan. Penciuman ku, yang kini sepuluh kali lipat lebih sensitif karena kehadiran Elkan kecil di dalam rahim ku, mulai menangkap molekul-molekul udara yang dibawa masuk dari dunia luar.
“Dia pulang,” Keluh ku, ekor ku yang sembilan, yang biasanya aku sembunyikan di balik rok lebar, kini mengibas gelisah di balik kain. “Aku bisa mencium aroma aspal, debu AC kantor, dan... tunggu. Bau apa ini?”
Pintu terbuka. Dimas melangkah masuk dengan wajah lelah, dasinya sudah dilonggarkan, dan kemeja putihnya sedikit kusut setelah seharian bergelut dengan logistik perusahaan. Ia tersenyum pada ku, sebuah senyum yang biasanya mampu meluluhkan segala emosi negatif ku.
"Aku pulang, Linda. Maaf agak telat, jalanan macet parah karena ada kecelakaan di Gatot Subroto," katanya sambil meletakkan tas kerjanya di atas sofa.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bergerak untuk menyambutnya dengan pelukan seperti biasanya. Aku terpaku, hidung ku kembang kempis. Sebuah aroma asing menyusup ke dalam sensor sensorik ku, aroma lily of the valley yang bercampur dengan musk sintetik yang tajam. Aroma yang bukan milik ku. Aroma parfum wanita lain.
“Shinta,” desis ku dalam hati. “Hanya dia di kantor Dimas yang menggunakan parfum semurah dan seberisik itu. Kenapa baunya bisa menempel begitu kuat di bahu suami ku? Berapa dekat jarak mereka saat bicara tadi? Apakah dia sengaja menyentuh Dimas saat menanyakan laporan? Ataukah dia berani bersandar di meja kerja suami ku?”
"Linda? Ada apa? Kenapa kau menatap ku seperti aku ini tersangka kriminal?" Dimas mendekat, mencoba menyentuh dahi ku untuk mengecek suhu tubuh ku.
Aku segera menepis tangannya. Aku melangkah maju, memojokkannya ke tembok di samping rak sepatu. Aku menarik kerah kemejanya, membenamkan hidung ku di lehernya, menghirup dalam-dalam tepat di titik di mana aroma itu paling menyengat.
"Siapa, Dimas?" suara ku rendah, hampir seperti geraman yang tertahan di tenggorokan.
Dimas tampak bingung, matanya berkedip cepat. "Siapa apanya? Linda, kau membuat ku takut. Kenapa kau mengendus ku seperti anjing pelacak?"
"Jangan samakan aku dengan anjing!" aku mendesis, mata ku berkilat hijau predator. "Bau ini. Parfum ini. Ini bukan milik ku. Ini bau wanita itu, kan? Si Shinta yang selalu mencari alasan untuk masuk ke ruang kerja mu?"
Dimas menghela napas panjang, ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Astaga, Linda... tadi sore ada rapat evaluasi. Ruangan rapatnya sempit, dan AC-nya mati. Kami duduk berdekatan selama dua jam. Shinta duduk di sebelah ku karena dia yang mencatat notulen. Aku bahkan tidak menyentuhnya!"
"Duduk berdekatan?" aku menarik napas panjang lagi, rasa mual mendadak bangkit bukan karena Elkan, tapi karena cemburu yang murni. "Dua jam dalam ruangan tertutup dengan bau ini? Kau tahu betapa sensitifnya aku sekarang, Dimas? Bau ini terasa seperti polusi yang meracuni sarang kita! Rasanya seperti dia sedang menandai wilayahnya di atas baju mu!"
“Berani-beraninya dia,” Keluh ku, kuku-kuku ku mulai memanjang tanpa aku sadari. “Dia pikir dia bisa menggoda pria yang sudah memiliki ratu rubah? Dia tidak tahu bahwa aku bisa merasakan setiap sel kulit Dimas yang terkontaminasi oleh kehadirannya. Aku ingin merobek kemeja ini sekarang juga dan membakarnya di balkon!”
"Oke, oke, aku minta maaf. Aku tidak menyadari parfumnya akan menempel sekuat itu," Dimas mencoba menenangkan ku dengan memegang pinggang ku. "Aku akan langsung mandi. Aku akan buang kemeja ini ke keranjang cucian yang paling dalam."
"Tidak cukup!" aku mendorongnya kembali. "Mandi saja tidak cukup untuk menghilangkan penghinaan ini."
Hormon kehamilan ku meledak. Aku merasa sangat agresif, sangat protektif, dan sangat... haus akan klaim kepemilikan. Aku tidak ingin dia mandi di sini. Aku ingin dunia tahu bahwa dia adalah milik ku.
"Pakai jaket mu kembali," perintah ku.
"Hah? Untuk apa? Aku baru saja pulang, Linda. Aku lapar dan lelah."
"Pakai. Jaket mu. Sekarang," aku menekankan setiap kata dengan kekuatan sihir yang membuat udara di sekitar kami bergetar.
Dimas, yang menyadari bahwa mendebat istri siluman yang sedang cemburu buta adalah ide buruk, hanya bisa pasrah. Ia memakai kembali jaket bomber-nya. Aku menyambar kunci apartemen dan menarik tangannya keluar.
"Kita mau ke mana?" tanya Dimas saat kami berada di dalam lift.
"Makan malam. Di luar. Di tempat yang ramai," jawab ku singkat.
Sepanjang perjalanan di lift, aku tidak melepaskan lengannya. Aku membelitkan seluruh ekor ku secara tidak terlihat di sekeliling tubuhnya. Aku menyebarkan aroma melati alaminya secara masif, menutupi jejak lily yang menjijikkan itu.
“Setiap manusia di luar sana harus tahu,” pikir ku. “Bahkan jika mereka tidak bisa melihat ekor ku, mereka harus merasakan aura kekuatan ku. Mereka harus tahu bahwa pria ini sudah disegel oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar parfum kantor.”
Kami sampai di sebuah restoran terbuka di area Kemang yang cukup ramai oleh anak muda dan pekerja kantoran yang sedang hangout. Saat kami masuk, aku tidak membiarkan Dimas memilih meja di pojok yang sepi. Aku memilih meja di tengah-tengah, tepat di bawah sorotan lampu.
"Linda, ini terlalu berisik untuk mu yang sedang sensitif," bisik Dimas.
"Diam dan duduklah," aku mendudukkannya dengan paksa.
Begitu pesanan datang, aku tidak membiarkannya makan sendiri. Aku mengambil sendoknya, menyuapinya, dan terus-menerus mengusap lehernya dengan tangan ku yang sudah aku semprotkan energi spiritual beraroma melati pekat.
Beberapa wanita di meja sebelah melirik ke arah kami. Beberapa pria juga menatap Dimas dengan iri, mungkin karena kecantikan ku yang memang mencolok sebagai siluman rubah. Namun, saat tatapan mereka terlalu lama hinggap di suami ku, aku menoleh ke arah mereka, memberikan kilatan mata hijau yang membuat mereka segera membuang muka dengan ketakutan yang tidak bisa mereka jelaskan.
"Linda... kau bertingkah sangat aneh malam ini," Dimas berbisik, wajahnya memerah karena malu diperhatikan banyak orang. "Kau menyuapi ku seperti anak kecil. Orang-orang melihat kita."
"Bagus," kata ku sambil mengelus pipinya dengan posesif. "Biarkan mereka melihat. Biarkan parfum Shinta itu menguap dan digantikan oleh kehadiran ku. Kau tahu apa yang ingin aku lakukan sekarang?"
"Apa?" tanya Dimas ragu.
Aku mencondongkan tubuh ke seberang meja, mencium lehernya dengan sangat intens tepat di depan semua orang. Aku tidak peduli dengan sopan santun manusia. Aku memberikan gigitan kecil di cuping telinganya, menyisipkan sedikit energi spiritual yang akan membuat aroma melati ku menempel di kulitnya selama tiga hari ke depan, tidak peduli berapa kali dia mandi.
“Ini adalah segel yang tidak bisa dilihat manusia, tapi bisa dirasakan oleh insting mereka,” Keluh ku penuh kepuasan. “Shinta tidak akan berani mendekat besok. Begitu dia mencium aroma ini, insting silumannya akan berteriak bahwa pria ini adalah properti milik predator puncak. Dia akan merasa mual setiap kali berada dalam radius satu meter dari Dimas.”
"Linda... cukup... ini tempat umum," Dimas mencoba menarik diri, namun aku menahan tengkuknya.
"Kau milik ku, Dimas. Di kantor, di rumah, di mana pun. Jangan pernah biarkan aroma wanita lain menyentuh mu lagi. Jika itu terjadi lagi, aku tidak akan hanya menandai mu di restoran, aku akan datang ke kantor mu dan menunjukkan wujud asli ku di depan bos mu."
Dimas menelan ludah. Ia tahu aku tidak bercanda. Sifat protektif ku sebagai ibu dan istri siluman sedang berada di level puncak. "Aku mengerti, Sayang. Aku janji akan lebih menjaga jarak. Aku akan bilang pada Shinta untuk tidak duduk terlalu dekat karena... eh, karena aku punya alergi parfum baru."
"Alibi yang bagus," aku akhirnya melepaskannya dan kembali duduk dengan tenang, memakan salad ku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Suasana menjadi sedikit lebih santai setelah klaim kepemilikan itu selesai. Aku merasa Elkan di dalam sana juga menjadi lebih tenang, seolah dia setuju dengan tindakan ibunya. Namun, sisi komedi dari situasi ini baru muncul saat seorang pelayan pria datang membawakan minuman tambahan. Pelayan itu tampak gemetar saat mendekati meja kami.
"I-ini m-minumannya, Kak," katanya dengan suara bergetar. Ia bahkan tidak berani menatap mata ku.
“Sihir ku terlalu kuat,” pikir ku sambil tertawa dalam hati. “Dia merasa seperti sedang mendekati kandang harimau yang sedang lapar.”
"Terima kasih," kata ku dengan senyum manis yang justru membuatnya semakin pucat dan hampir menjatuhkan nampannya.
Dimas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kau benar-benar menghancurkan malam tenang kita, Linda. Sekarang semua orang di restoran ini berpikir aku diculik oleh dewi yang sangat galak."
"Dewi rubah yang sangat galak," aku mengoreksinya. "Dan kau tidak diculik. Kau sedang dilindungi."
Setelah selesai makan, kami berjalan kembali ke mobil. Di bawah lampu jalan yang redup, aku merasa jauh lebih tenang. Aroma parfum itu sudah benar-benar hilang, terkubur di bawah dominasi melati ku yang elegan namun mematikan.
Saat kami sampai di dalam mobil, Dimas tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap ku lama, tangannya menggenggam tangan ku. "Kau tahu, Linda... meskipun kau gila dan posesif malam ini, aku sebenarnya merasa... sangat dicintai."
"Kau baru tahu?" aku mengangkat alis.
"Maksud ku, melihat mu begitu marah hanya karena sedikit bau parfum... itu membuat ku sadar betapa berartinya aku bagi mu. Terutama sekarang, saat ada Elkan." Dimas mencium tangan ku. "Tapi tolong, jangan gigit telinga ku di depan umum lagi. Itu sangat... menggairahkan sekaligus memalukan di saat yang bersamaan."
Aku tertawa, tawa yang ringan dan tulus. "Aku tidak janji, Dimas. Tergantung bagaimana tingkah Shinta besok."
"Aku akan memakai masker dan menjaga jarak dua meter darinya. Aku bersumpah," Dimas menyalakan mesin mobil.
“Baguslah kalau dia mengerti,” Keluh ku saat kami berkendara membelah malam Jakarta yang macet. “Dunia luar mungkin penuh dengan godaan dan aroma yang berbahaya, tapi selama aku punya ekor ku untuk membelitnya dan sihir ku untuk menandainya, sarang kami akan tetap suci. Aku tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari kebahagiaan kami dicuri oleh siapa pun.”
Aku membelai perut ku dengan lembut. “Elkan, kau lihat? Papa mu memang hanya manusia biasa yang berbau parfum kantor, tapi dia milik kita. Hanya milik kita.”
Malam itu, saat kami sampai kembali di apartemen nomor 404, Dimas langsung menepati janjinya. Ia melepas kemejanya di luar kamar mandi, membungkusnya dalam kantong plastik seolah-olah itu adalah limbah B3, dan langsung masuk ke pancuran air panas.
Aku duduk di sofa, menyesap teh melati hangat, merasa seperti ratu yang baru saja memenangkan pertempuran wilayah yang sengit. Ketegangan karena Genta masih ada, ancaman klan masih mengintai, tapi malam ini, kedaulatan apartemen nomor 404 telah ditegakkan kembali.
Dimas keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, uap air hangat mengikuti langkahnya. Ia berbau sabun cendana favorit ku, bercampur dengan aroma melati alami yang memang sudah meresap ke dalam jiwanya.
"Sudah bersih, Yang Mulia Ratu?" godanya sambil mendekat.
Aku tersenyum puas, menariknya ke sofa untuk duduk di samping ku. "Sudah. Sekarang, kau boleh mencium ku. Tanpa gangguan bau parfum murah itu."
Malam itu berakhir dengan kemesraan yang intens di bawah perlindungan CCTV dan sihir pelindung. Komedi kecemburuan tadi sore berubah menjadi romansa yang hangat dan dewasa. Di balik jendela, Jakarta terus berisik, namun di dalam sini, hanya ada detak jantung dua makhluk yang berbeda namun telah menyatu dalam satu aroma yang sama.
Aroma cinta yang posesif, aroma yang menjadi benteng tak tertembus bagi keluarga kecil kami.