NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Memilih Bertahan

Matahari pagi itu tidak lagi terasa seperti pedang yang menusuk lewat celah gorden Mansion Setiawan. Sinar itu kini jatuh seperti helaian sutra emas, membasuh lantai marmer yang biasanya dingin menjadi terasa hangat. Mansion ini, yang dulunya adalah museum kesombongan dan monumen kesepian bagi Danu, perlahan-lahan bertransformasi. Aroma pembersih lantai yang tajam kini kalah oleh wangi sedap malam dan melati segar yang diletakkan Nara di setiap sudut ruangan.

Sebuah mobil sedan hitam perlahan memasuki pekarangan. Pintu terbuka, dan Danu Setiawan melangkah keluar dengan perlahan. Wajahnya masih sedikit pucat, dan gerakannya tampak hati-hati karena balutan perban di pundak dan punggungnya masih terasa kaku. Namun, sorot matanya tidak lagi kelam. Ada binar kehidupan yang baru, seolah ia baru saja pulang dari medan perang yang panjang dan akhirnya melihat daratan harapan.

Di ambang pintu besar, Nara berdiri menunggu. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna putih gading dengan kerudung senada. Tidak ada perhiasan mewah, namun kecantikannya pagi itu sanggup membuat napas Danu tertahan. Nara tidak lagi berdiri dengan bahu yang tegang atau tatapan yang menunduk takut. Ia berdiri dengan tangan yang terbuka, siap menyambut pelabuhannya.

"Selamat datang di rumah, Mas Danu," bisik Nara saat pria itu sampai di depannya.

Danu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Nara cukup lama, lalu dengan tangan kirinya yang sehat, ia menarik pinggang Nara mendekat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Nara, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya campuran antara wangi sabun bayi dan minyak zaitun yang selalu menenangkannya.

"Terima kasih sudah menungguku, Nara," gumam Danu parau. "Terima kasih sudah tidak pergi."

Di dalam kamar utama yang kini terasa jauh lebih luas karena dipenuhi rasa saling percaya, Nara membantu Danu duduk di tepi ranjang. Dengan gerakan yang sangat halus, seolah Danu adalah porselen retak yang paling berharga di dunia, Nara mulai membuka satu per satu kancing kemeja suaminya.

Jemari Nara yang lentik menyentuh kulit Danu, membuat pria itu sedikit bergetar. Bukan karena sakit, tapi karena aliran listrik aneh yang selalu muncul setiap kali Nara menyentuhnya. Saat kemeja itu terbuka, tampaklah bekas jahitan yang masih memerah di pundak Danu saksi bisu pengorbanan nyawa demi wanita yang dicintainya.

Nara tertegun sejenak. Matanya berkaca-kaca melihat luka itu. Ia menunduk dan mengecup lembut pinggiran perban itu.

"Kenapa menangis lagi?" tanya Danu sambil mengangkat dagu Nara.

"Luka ini... seharusnya milikku, Mas. Harusnya aku yang merasakannya," isak Nara pelan.

Danu tersenyum, lalu mengecup kening Nara dengan khidmat. "Luka ini adalah medali kehormatanku, Nara. Ini adalah pengingat bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melakukan sesuatu yang benar. Aku akan memikul seribu luka lagi jika itu berarti kamu tetap bisa tersenyum di depanku."

Nara menyeka air matanya, lalu mengambil mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil. Ia mulai mengelap tubuh Danu dengan telaten. Tidak ada kecanggungan di antara mereka. Pelayanan Nara bukan lagi bagian dari kontrak, bukan lagi paksaan untuk menebus utang ayah. Ini adalah ibadah hati. Setiap usapan handuk di punggung Danu adalah doa yang ia bisikkan dalam diam.

Setelah itu, Nara membawakan nampan berisi sup ayam jahe dan teh herbal yang masih mengepulkan uap. Ia menyuapi Danu perlahan.

"Rasanya lebih enak dari masakan koki di rumah sakit," puji Danu setelah suapan pertama.

"Tentu saja. Karena aku memasaknya sambil membayangkan Mas cepat sembuh agar bisa memelukku lagi tanpa merasa sakit," jawab Nara dengan rona merah di pipinya.

Danu tertawa kecil sebuah tawa yang terdengar sangat lepas. Ia merasa seperti pria paling kaya di dunia, bukan karena saldo di rekeningnya, tapi karena perhatian tulus dari wanita yang dulu ia paksa untuk menikahinya.

Tiba-tiba, suara deru mobil lain terdengar dari luar, diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan isakan tangis yang tertahan. Pintu kamar diketuk dengan tidak sabar.

"Mas Danu? Bu Nara?"

Pintu terbuka, dan seorang wanita muda berdiri di sana. Rambutnya yang dulu sering dicat warna-warni kini kembali ke warna hitam alami. Pakaiannya yang biasanya serba terbuka dan provokatif kini berganti menjadi setelan blazer yang sopan namun tetap elegan.

Dia adalah Karin, adik perempuan Danu yang selama beberapa bulan terakhir tinggal di London dan hampir tidak pernah memberikan kabar, selain meminta kiriman uang.

Karin mematung di ambang pintu saat melihat kakaknya yang tangguh kini tampak rapuh dengan perban

, namun terlihat sangat damai di samping Nara.

"Karin?" Danu terkejut.

Karin berlari menuju ranjang dan langsung berlutut di kaki kakaknya. Ia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di sprei ranjang.

"Mas... maafkan aku. Aku baru tahu semuanya dari Andra. Aku baru tahu Mas tertembak... aku baru tahu tentang apa yang Mas lalui selama ini sendirian menjaga Papa," isak Karin.

Danu mengusap rambut adiknya dengan sayang. "Bangun, Karin. Kenapa kamu pulang mendadak?"

Karin mendongak, matanya sembab. Ia menoleh ke arah Nara, lalu meraih tangan Nara dan menciumnya sebuah tindakan yang membuat Nara dan Danu terperangah.

" Bu Nara... maafkan aku. Selama ini selalu memandang rendang ibu. aku hidup egois. Aku hanya memikirkan kesenanganku sendiri tanpa memikirkan Mas Danu yang berjuang untuk keluarga ini. aku hanya selalu membuat semoga orang sakit hati karena kelakuanku, selalu menganggap orang rendah.

Andra menceritakan bagaimana Mbak merawat Papa, bagaimana ibu tetap bertahan meski Mas Danu sempat bersikap buruk..." Karin kembali terisak. "ibu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk keluarga Setiawan yang sudah hancur ini."

Nara segera merangkul pundak Karin. "Sudah, Karin. Jangan bicara begitu. Kita semua punya masa lalu yang pahit. Yang penting kamu sudah pulang, dan kamu sudah sadar."

Karin mengangguk mantap. "Aku sudah menyelesaikan studiku lebih awal, Mas. Aku tidak akan kembali ke London untuk hura-hura lagi. Aku ingin membantu Mas di kantor. Aku ingin belajar menjadi manusia yang berguna seperti Bu Nara."

Malam harinya, ruang makan Mansion Setiawan menjadi saksi bisu sebuah momen yang selama bertahun-tahun dianggap mustahil. Tuan Surya duduk di kursi roda di kepala meja, wajahnya tampak segar dan bercahaya. Di sampingnya, Nyonya Sofia tersenyum lebar sambil menggandeng tangan Karin.

Di sisi lain meja, Danu duduk berdampingan dengan Nara. Tangan mereka bertautan di bawah meja, saling memberikan kehangatan yang mengalir lurus ke jantung masing-masing.

"Malam ini," Tuan Surya memulai bicaranya dengan suara yang meskipun masih lemah namun penuh wibawa. "Papa ingin bersyukur. Bukan karena harta kita yang kembali stabil setelah kekacauan Vanya, tapi karena keluarga ini akhirnya memiliki nyawa kembali."

Tuan Surya menatap Nara dengan dalam. "Nara, kamu datang ke rumah ini dalam keadaan yang tidak adil. Tapi kamu tidak membalas ketidakadilan itu dengan kebencian. Kamu membalasnya dengan cinta yang begitu luas. Terima kasih sudah menyembuhkan putraku. Terima kasih sudah menyatukan kembali anak-anakku."

Nyonya Sofia mengangguk setuju. "Karin sudah bercerita bahwa dia akan menyelesaikan studinya mulai bekerja di perusahaan. Ini semua berkat inspirasi darimu, Nara. Kamu menunjukkan bahwa kehormatan seorang wanita bukan terletak pada apa yang ia pakai, tapi pada apa yang ia berikan pada orang lain."

Nara tersipu, ia melirik Danu yang menatapnya dengan bangga. "Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai bagian dari keluarga ini, Pa, Ma. Rumah ini memberikan saya tempat untuk belajar tentang arti kesabaran."

"Dan rumah ini memberiku alasan untuk tidak pernah menyerah pada kegelapan," tambah Danu sambil mengangkat gelas berisi jus jeruknya. "Untuk kepulangan Karin, untuk kesembuhanku, dan yang terpenting... untuk Nara, cahaya dalam hidupku."

Setelah makan malam yang penuh tawa dan kehangatan, Danu mengajak Nara ke ruang kerjanya. Ruangan yang dulunya menjadi tempat Danu menyusun strategi bisnis yang dingin dan tempat ia pertama kali menyodorkan kontrak pernikahan yang menghina Nara.

Danu membuka laci mejanya, mengambil sebuah map biru yang sangat dikenal Nara. Kontrak Pernikahan Setiawan-Rahardi.

Danu meletakkan map itu di atas meja. "Nara, hari ini, semua poin dalam kontrak ini secara resmi sudah berakhir. Kamu bukan lagi istri kontrak. Kamu tidak punya utang lagi padaku. Ayahmu sudah sehat, yayasanmu sudah berdiri tegak."

Nara menatap map itu dengan perasaan campur aduk. "Lalu... apa artinya ini?"

Danu mengambil pemantik api di atas meja. Ia membakar ujung kertas kontrak itu. Api kecil mulai melalap lembar demi lembar kesepakatan hitam di atas putih itu, mengubahnya menjadi abu yang beterbangan.

"Artinya, mulai detik ini, kamu bebas," ucap Danu sambil menatap mata Nara yang berkaca-kaca.

"Jika kamu ingin pergi, jika kamu ingin mencari pria yang lebih baik dariku, pria yang tidak pernah menyakitimu... aku tidak akan menahanmu. Aku tidak ingin memilikimu karena selembar kertas."

Nara terdiam sejenak. Ia melihat sisa-sisa abu kontrak itu. Lalu, ia melangkah maju, memeluk pinggang Danu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

"Aku memang bebas, Mas," bisik Nara. "Dan dalam kebebasanku ini, aku memilih untuk tetap di sini. Aku memilih untuk tetap menjadi istrimu. Bukan karena kontrak, bukan karena Papa, tapi karena aku mencintaimu... Mas Danu yang sekarang, yang rela terluka demi aku."

Danu memejamkan mata, merasakan beban besar yang selama ini menghimpit pundaknya seolah menguap begitu saja. Ia mengangkat tubuh Nara, mendudukkannya di atas meja kerja yang dulu begitu kaku itu, dan menciumnya dengan penuh gairah namun sarat akan rasa hormat.

Malam semakin larut. Di balkon kamar, Danu dan Nara berdiri berdampingan menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit Jakarta. Angin malam berembus lembut, memainkan ujung kerudung Nara.

Danu merangkul bahu Nara dari belakang, menyelimuti tubuh istrinya dengan kehangatan tubuhnya sendiri. Nara menyandarkan kepalanya di dada Danu.

"Dan aku..." Danu mencium puncak kepala Nara. "Aku akan belajar menjadi suami yang lebih baik setiap harinya. Aku ingin kita membangun kenangan baru yang jauh lebih indah dari awal perkenalan kita yang buruk."

Nara mendongak, tersenyum manis. "Kita sudah memulainya, Mas. Sejak peluru itu bersarang di pundakmu, dan sejak cintamu bersarang di hatiku."

Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti harapan yang tak pernah padam. Di dalam mansion yang kini penuh dengan cinta itu, rahasia-rahasia gelap mulai memudar, digantikan oleh kejujuran dan ketulusan. Perjalanan mereka mungkin dimulai dari sebuah tragedi dan paksaan, namun malam ini, mereka membuktikan bahwa bahkan dari tanah yang paling kering sekalipun, bunga cinta yang paling indah bisa tumbuh jika disirami dengan pengorbanan dan maaf.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!