NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Cantik Gila

Rumah Sakit Jiwa Taoyong, terletak di Distrik Banqiao, Kota Taipei, dikenal karena dinding putihnya yang selalu lembap dan aroma obat yang menyengat. Malam itu, lorong sunyi yang panjang diterangi lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan menari yang mengganggu jiwa. Suasana hening itu pecah seketika.

"AHHH!!! DOKTER! PASIEN NOMOR 888 ITU BERULAH LAGI!!"

Teriakan melengking seorang perawat muda menggema di seluruh lorong. Ia berlari tergesa-gesa, sepatu perawatnya yang kebesaran hampir terlepas. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi poni yang menempel di dahi.

"KEDUA PASIEN GILA ITU KEMBALI LAGI!!" teriak perawat lainnya, menyusul dari arah berlawanan sambil menekan tombol alarm darurat di dinding.

Kekacauan langsung meledak. Seorang dokter jaga, Dr. Chen Weiming, bergegas keluar dari ruang istirahatnya, masih merapikan jas putihnya yang kusut. Matanya sembab, baru saja tertidur setelah shift 24 jam.

"Cepat, bawa tali pengikat! Panggil ambulans secepatnya!" perintahnya cepat sambil berlari menuju kamar 888, diikuti dua perawat pria bertubuh kekar Wang Qiang dan Liu Dawei.

Saat mereka tiba di depan pintu kamar 888, keributan dari dalam terdengar jelas. Suara benda jatuh, pecahan kaca, dan tawa kecil yang mengerikan. Mereka membuka pintu dan mendapati pemandangan yang sudah sering mereka lihat, tapi tak pernah bisa membuat mereka terbiasa.

Di tengah ruangan, Li Fei dengan rambut hitam panjang tergerai kusut dan gaun rumah sakit putih sedang duduk bersimpuh di lantai. Matanya berbinar-binar aneh, seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Di sekelilingnya berserakan puluhan jarum akupunktur perak yang mengilap di bawah lampu neon.

"Eh? Lin Yan, kenapa kamu tidak bangun? Lin Yan..." rengeknya, menggoyang-goyangkan bahu seorang gadis yang terbaring kaku di tempat tidur besi.

Gadis di atas ranjang itu adalah Lin Yan. si cantik dengan rambut putih panjangnya yang kontras menyebar di atas bantal kumal. Tubuhnya tergeletak diam, tak bergerak. Tapi yang paling mengerikan adalah puluhan jarum akupunktur tertancap di wajahnya di pipi, dahi, pelipis, bahkan kelopak mata. Jarum-jarum itu tertancap asal, tidak pada meridian yang benar, seperti seorang anak kecil yang menusuk-nusuk boneka.

"Dokter, yanyan sudah tidak mau bermain denganku lagi. Dia sudah dari tadi tidur," ucap Li Fei polos, menunjuk ke arah Lin Yan. Tangannya masih memegang beberapa jarum, siap ditusukkan lagi.

Seorang perawat wanita, Chen Xiaomei, mundur selangkah, menahan napas. Tangannya menutup mulut, menahan muntah. "Astaga, Pasien Li. Tidak bisakah kau berhenti bereksperimen? Ini udah keberapa kalinya" Suaranya bergetar.

Dia mencoba mendekati ranjang, tapi melihat jarum-jarum yang menancap di wajah cantik Lin Yan, wajah yang bahkan dalam keadaan seperti itu masih terlihat anggun membuat bulu kuduknya merinding. Ia segera mundur ke belakang Wang Qiang.

Dr. Chen menghela napas panjang. Kejadian ini sudah yang kelima kalinya bulan ini. Ia memijit pangkal hidungnya yang pegal. "Lepaskan jarum-jarumnya dengan hati-hati. Bawa Pasien Lin Yan ke ruang perawatan intensif, segera!" perintahnya tegas.

Wang Qiang dan Liu Dawei bergerak cepat. Dengan hati-hati mereka mencabuti jarum satu per satu. Beberapa jarum tercabut dengan mudah, beberapa menimbulkan sedikit darah. Wajah Lin Yan pucat pasi, bibirnya membiru.

"Jangan! Tidak boleh di cabut!! Itu karyaku!" Li Fei menjerit, mencoba menarik kembali ranjang Lin Yan. Matanya melebar, air mata mengalir di pipi. "Dokter! Kenapa kamu membawa Yanyan pergi? Jangan bawa Yanyan! Dia temanku! Hanya dia yang mau berteman denganku!"

Chen Xiaomei dengan sigap menarik lengan Li Fei, mengembalikannya ke sisi lain ruangan. Kekuatan Li Fei luar biasa untuk ukuran wanita kurus, tapi Xiaomei sudah terlatih.

"Pasien Li , tolong tenang. Kembali ke tempat tidurmu sekarang juga," kata Xiaomei, berusaha terdengar tegas meski hatinya ciut. Ia tahu Li Fei bisa berubah agresif kapan saja.

"Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku mau ikut Yanyan!" teriak Li Fei memberontak. Kakinya menendang-nendang, hampir mengenai Xiaomei.

Dengan bantuan dua perawat lain yang baru tiba, mereka akhirnya bisa mengembalikan Li Fei ke kamarnya. Pintu besi dikunci dari luar. Bunyi gedoran pintu diikuti teriakan Li Fei yang terus memanggil nama sahabatnya "Yanyan! Yanyan! Jangan tinggalin aku!" menjadi iringan saat tim medis membawa Lin Yan yang tak sadarkan diri keluar dari ruangan, tergolek di atas tandu darurat.

Dua Jam Sebelum Kejadian.

Matahari sore menerobos jendela berjeruji besi kamar 888, membuat garis-garis bayangan di lantai keramik yang retak di sana-sini. Debu menari-nari dalam cahaya jingga. Lin Yan duduk di ranjangnya, menyandarkan punggung di dinding lembap, menatap kosong ke arah Li Fei yang asyik dengan "peralatannya".

"yanyan, kamu percaya aku, kan? Aku tidak akan menyakitimu, hehe," gumam Li Fei. Dengan fokus seperti ahli akupunktur sungguhan, ia menusukkan jarum akupunktur ke lengan Lin Yan. Satu per satu, dengan ritme yang aneh.

Lin Yan, dengan mata merah delima indahnya yang kosong seperti dua batu rubi yang kehilangan cahaya, hanya diam membiarkan sahabatnya itu berkreasi. Rasa sakit sudah menjadi teman akrabnya. "Xiao fei, kau mengatakan hal itu dari tadi. Kau sudah sering melakukannya padaku." Suaranya datar, tanpa emosi. Seperti robot.

"Hehe, itu karena kau yang paling baik denganku," jawab Li Fei polos. Ia meletakkan jarum terakhir di dahi Lin Yan, tepat di antara kedua alis. Lalu ia memiringkan kepala, mengamati hasil karyanya seperti seorang seniman yang belum puas. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. "Hm, sepertinya kurang. Masih kurang... OH! Aku tahu!"

Lin Yan, yang sedang dalam fase sadarnya yang singkat, menatap Li Fei dengan sedikit was-was. Matanya yang biasanya kosong sedikit membelalak saat Li Fei berbalik dan meraih sesuatu dari balik lemari besi, kabel listrik dengan colokan masih menancap, ujung lainnya terkelupas, memperlihatkan kawat tembaga.

"Eh, Xiao Fei. Untuk apa kamu membawa kabel itu?" Suara Lin Yan sedikit bergetar. Untuk pertama kalinya hari itu, ada nada takut.

"Kamu percaya padaku, kan, Yanyan? Hehe." Senyum Li Fei mengembang, polos namun mengerikan. Gigi-giginya rapi, tapi matanya kosong, seperti dua lubang hitam.

"Aku... iya, percaya. Tapi—"

Belum sempat Lin Yan menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya langsung menegang. Sengatan listrik yang menyakitkan menjalar dari tangannya ke seluruh tubuh. Otot-ototnya kejang, matanya terbalik, mulutnya terbuka lebar tapi tak mampu mengeluarkan suara.

"AHHHH!!!"

Jeritan barulah keluar setelah kabel terlepas. Jeritan Lin Yan melengking, memekakkan telinga, dan seperti biasa, menjadi alarm bagi para perawat. Tapi kali ini, setelah jeritan itu, diam. Sunyi. Lin Yan jatuh terlentang di ranjang, matanya terbuka lebar, tak berkedip.

Li Fei memiringkan kepala. "Yanyan? Kok diam?"

Dua Hari Kemudian.

Di sebuah ruangan bernuansa biru gelap yang asing, Lin Yan perlahan membuka matanya.

Langit-langit putih bersih. Lampu neon yang lebih terang, tidak berkedip. Aroma disinfektan yang berbeda—lebih segar, lebih mahal. Bukan rumah sakit jiwa. Samar-samar ia ingat teriakan perawat, guncangan ambulans, suara sirene, tapi setelah itu... gelap. Kosong. Seperti mati.

Dring!!! Dring!!!

Suara alarm keras di samping ranjang membuatnya tersentak. Ia meraih jam weker antik merek Seiko, model lama tapi terawat di nakas dan mematikannya. Perlahan ia duduk. Rambut putih panjangnya tergerai dipunggung, menyebar di atas sprei sutra biru tua. Matanya yang merah delima mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu yang besar. Tidak ada rasa takut. Hanya rasa penasaran.

"Di mana ini?"

Ruangan ini bukan kamar 888 yang sumpek berbau pesing. Ukurannya lebih besar, mungkin tiga kali lipat. Di dinding tergantung beberapa lukisan pemandangan alam yang damai sebuah pegunungan Alishan, Danau Sun Moon, terasering sawah. Lantainya parket kayu jati mengilap. Di sudut ruangan, berdiri sebuah lemari kaca besar, hampir setinggi dua meter, dengan penerangan LED di dalamnya. Dan isinya... membuat jantung Lin Yan berdetak lebih kencang.

Bukan karena takut. Tapi karena... senang.

Lemari itu penuh dengan senjata. Bukan mainan, bukan replika.

Belati dari berbagai bentuk dan ukuran dari pisau lipat kecil hingga belati combat bergerigi. Pistol berjejer rapi di rak khusus seperti Glock, Beretta, revolver tua. Ada pedang lurus Jian dan pedang bermata lebar Dadao khas Tiongkok, keduanya dengan ukiran naga di sarungnya.

Di sampingnya, tergantung sebilah Katana Jepang dengan tali merah, sebilah tombak Qiang dengan ujung berkilau yang dipajang vertikal, dan bahkan sebilah pedang panjang Eropa, Rapier, dengan gagang berhiaskan batu biru. Di rak paling bawah, terpajang benda-benda kecil seperti shuriken bintang lempar, pisau lempar, dan beberapa kotak amunisi.

Lin Yan berdiri. Gaun tidur biru gelap tipis yang dikenakannya berbahan sutra, terasa mahal dan memperlihatkan lekuk tubuh rampingnya. Ia berjalan mendekati cermin besar di dinding, bingkai ukiran emas.

Wajahnya sama. Mata merah delima, rambut putih panjang. Hidung mancung, bibir tipis pucat. Tidak ada yang berubah. Ia mencubit pipinya. Sakit. Berarti ini nyata.

Lalu, tubuh ini milik siapa? Dan ruangan aneh penuh senjata ini milik siapa?

Saat ia hendak menyentuh lemari kaca, rasa sakit yang menusuk tiba-tiba menghantam kepalanya. Seperti ada paku ditusukkan ke otak. Ia meringkuk, memegangi pelipis, dan ambruk di lantai. Lututnya membentur parket, tapi ia tak merasakan sakit. Sakit di kepala jauh lebih luar biasa, seperti ada ribuan informasi yang dipaksakan masuk ke otaknya.

Dua jam kemudian, ia terbangun dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Gaun tidurnya basah, menempel di kulit. Napasnya tersengal. Tapi kini, ia tahu.

Gadis ini bernama Lin Yan juga. Lin Yan—dua karakter: 林 (hutan) dan 嫣 (cantik). Usia 22 tahun. Seorang yatim piatu yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil tragis di jalan bebas hambatan National Freeway 1 seminggu lalu. Ayahnya, Lin Guohua, seorang pengusaha properti yang bangkrut lima tahun lalu dan tenggelam dalam utang. Ibunya, Zhang Meiying, seorang ibu rumah tangga.

Tapi ada yang aneh.

Ingatan itu kabur di beberapa bagian, tapi jelas di bagian lain: orang tuanya bukan sekadar bangkrut. Mereka sengaja menyembunyikan kekayaan. Apartemen ini penthouse di distrik Xinyi, Taipei, dengan pemandangan Taipei 101 dibelikan atas nama Lin Yan kecil, jauh sebelum kebangkrutan. Rekening bank dengan saldo delapan digit atas namanya. Dan... hobi rahasianya.

Lin Yan pemilik tubuh asli, Lin Yan yang asli adalah seorang kolektor senjata antik. Tapi bukan kolektor biasa. Ia menyukai senjata berbahaya. Di depan umum, ia gadis pendiam, murid berprestasi di National Taiwan University, selalu tersenyum sopan, berpakaian rapi, tidak pernah menonjolkan diri. Tapi di belakang pintu tertutup... ia menyimpan lemari-lemari senjata. Bukan hanya yang di ruangan ini. Masih banyak lagi di gudang penyimpanan bawah tanah yang ia sewa atas nama palsu.

Ingatan tentang pengusiran oleh pamannya, Liu Jianming, juga terasa begitu nyata. Dua hari setelah pemakaman, paman dari pihak ayah itu datang dengan istri dan dua anaknya. Mereka memaksa Lin Yan menandatangani surat pengalihan hak atas mansion keluar Lin. Saat Lin Yan menolak, mereka mengancam akan membawanya ke pengadilan, mengatakan bahwa ia tidak waras, bahwa ia butuh "pengawasan keluarga".

Lin Yan yang asli hanya diam, tersenyum tipis, dan berkata, "Paman, silakan ambil mansion ini. Tapi ingat, aku akan selalu mengawasi kalian."

Kata-kata itu diucapkan dengan senyum paling manis, tapi mata Lin Yan yang asli merah delima itu berkilat aneh. Membuat Liu Jianming mundur selangkah. Sebelum Lin yan pergi tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang dia kenakan.

Dan sekarang, Lin Yan yang baru, Lin Yan dari rumah sakit jiwa yang mewarisi semua ingatan itu.

"Jadi, aku di tubuh orang lain dengan nama yang sama?" gumamnya sambil bangkit. Ia memiringkan kepala, matanya berbinar aneh. Lalu, ide gila melintas di benaknya. "Oh! Apa aku seperti tokoh utama dalam cerita-cerita di aplikasi baca novel itu? Yang bisa mendapatkan sistem?"

Dengan penuh semangat ia berkeliling ruang tamu apartemen yang cukup luas terdapat ruang tamu terbuka, dapur modern, sofa kulit putih, TV layar lebar 75 inci menempel di dinding. Lalu berteriak lantang, "Sistem! Sistem! Sistem!"

Tiga kali panggilan. Hening. Hanya suara kulkas LG yang berdengung di dapur dan suara televisi yang hidup.

Lin Yan cemberut, menghentakkan kakinya yang telanjang ke lantai parket seperti anak kecil. "Ih, kenapa tidak ada sistem! Jahat sekali sama aku!"

Tiba-tiba, di depan matanya muncul layar hologram biru tembus pandang. Karakter-karakter Mandarin sederhana muncul, rapi dan jelas.

【Ding Dong!】

【Selamat! Anda telah membuka misi tersembunyi, 'Gema Jiwa yang Hilang'. Sistem diaktifkan. Selamat datang, Host Lin Yan.】

【Anda mendapatkan hadiah pemula. Apakah ingin membukanya sekarang?】

Mata Lin Yan langsung berbinar. Ia melompat kecil, rambut putihnya terayun. "Hore!! Beneran ada sistem!" Ia menari-nari sebentar dengan gerakan aneh, seperti tarian orang kesurupan yah seperti itulah lalu menenangkan diri dan bertanya, "Sistem, sistem, namamu siapa?"

Layar hologram itu berubah menjadi sebuah antarmuka dengan ikon gadis kecil imut bergaya anime, lengkap dengan kuncir dua dan pita merah.

【Aku Sistem Xiyue. Sistem pintar yang tidak hanya bisa memberi tugas, tapi juga bisa mengobrol.】

【Meski aku tak berwujud dan hanya sebatas hologram, tapi aku punya perasaan dan emosi seperti manusia normal.】

【Tapi, jangan harap aku akan selalu manja.】

"Wah, hebat! Sistem, kenapa aku di sini? Apa aku akan jadi tokoh utama yang kuat dan disegani?" tanya Lin Yan antusias. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil melihat permen.

【Terserah kamu. Jika kamu mau berusaha, semua mungkin. Tapi melihat responsmu sekarang... sepertinya mustahil.】

Nada sistem itu sinis. Lin Yan cemberut.

"Eh, aku kan malas. Kalau gitu, aku nggak mau jadi tokoh utama. Aku mau jadi pemalas yang menikmati hidup!" tolak Lin Yan cepat. Ia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri di atasnya, meregangkan tubuh.

【...Terserah. Tapi ingat, hidup ini tidak gratis. Sekarang, buka hadiahmu?】

"Buka! Buka! Buka!"

【ding dong!Hadiah pemula dibuka. Anda mendapatkan: Material Bangunan*1, Kotak Obat Dasar1, dan Pil Pembersih Sumsum Tulang*1.】

【Semua item telah disimpan di inventaris sistem.】

Lin Yan membaca satu per satu deskripsi item yang muncul di layar. Matanya sedikit kecewa. "Hanya itu? Aku mau yang lain, dong. Kayak bensin, atau solar. Kan keren kalau punya cadangan bensin buat mobil."

Diam sejenak.

【...】 Keheningan beberapa detik. Lalu, sistem merespons dengan nada sinis yang sangat terasa bahkan tanpa suara.

【Apakah kamu gila? Oh yeah aku lupa kamu memang gila, Siapa juga yang mau minta bensin dan solar sebagai hadiah pemula? Cuman kau seorang, Dasar bodoh!】

Lin Yan cemberut lebih dalam, mukanya memerah. Ia bangkit dari sofa, menunjuk-nunjuk layar hologram. "Tapi... tapi aku mau! Lihat pemilik tubuh ini, dia menyimpan banyak senjata tajam di lemari kaca. Aneh banget, kan? Dia pasti juga gila. Masa aku nggak boleh nyimpen bensin atau solar?"

【Kamu bilang dia gila, tapi kamu sadar nggak sih, kamu ini pasien rumah sakit jiwa yang baru keluar? Lagi pula, dia kolektor senjata, bukan penimbun BBM. Jelas beda.】

"Hmph! Aku nggak peduli!" Lin Yan menjulurkan lidah ke arah layar hologram seolah sistem bisa melihatnya. Ekspresinya kekanakan, sama sekali tidak cocok dengan tubuh dewasa dan wajah cantiknya.

【...Sudah, sudah. Daripada debat hal yang nggak berguna kayak gini, lebih baik kamu persiapkan diri. Dua minggu lagi akan ada bencana besar. Kiamat. Kamu nggak mau mati, kan?】

Mendengar kata asing itu, Lin Yan memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. "Kiamat? Makanan apa itu? Enak?"

Layar hologram itu seperti bergetar, seolah sistem menahan emosi. Beberapa detik berlalu.

【...Ya Tuhan, kenapa aku punya host seberengsek ini? Kiamat itu berarti akhir dunia! Zombi, monster, kehancuran! Kamu mau mati konyol lagi?! Cepat bersihkan sumsum tulangmu, minum obat, dan pelajari cara pakai benda-benda tajam itu, BODOH!!】

Layar sistem berkedip-kedip merah, lalu menghilang, meninggalkan Lin Yan yang berdiri terpaku di ruang tamu apartemen mewah yang sunyi.

Diam.

Lalu Lin Yan tertawa kecil. "Hehe, lucu juga sistemnya."

Ia berjalan menuju jendela kaca besar. Di luar, lampu-lampu kota Taipei berkelap-kelip. Taipei 101 menjulang anggun dengan lampu-lampu hiasnya. Jalanan di bawah masih ramai, mobil-mobil melintas, orang-orang berjalan kaki, kehidupan normal berlangsung.

Tak tahu bahwa dua minggu lagi, semua cahaya itu akan padam selamanya.

Lin Yan menatap lemari kaca penuh senjata. Lalu tangannya meraba-raba perutnya yang keroncongan. Satu pertanyaan muncul di benaknya.

"Tapi... sebelum kiamat, sarapan dulu, ya? Hehe."

Ia berjalan menuju dapur, membuka kulkas. Isinya penuh dengan sayuran segar, daging, buah-buahan. Lin Yan asli ternyata rajin belanja. Ia mengambil sebotol susu kedelai, memanaskannya di microwave, dan duduk di meja makan.

Sambil menyeruput susu, matanya menerawang ke arah lemari senjata.

"Xiao Fei... apa kabar ya?" gumamnya pelan. "Pasti dia nangis karena aku pergi. Hehe. Maaf ya, Feifei. Tapi mungkin ini lebih baik. Di sini ada sistem, ada senjata, ada makanan enak."

Ia menyesap susu lagi.

"Dan ada paman yang mau rebut penthouse. Wah, seru."

Senyum aneh mengembang di bibirnya. Senyum yang tidak pernah muncul di wajah Lin Yan yang asli, senyum seorang psikopat yang baru menemukan taman bermain baru.

"Dua minggu, ya? Cukup waktu buat persiapan."

Ia bangkit, berjalan ke lemari kaca, dan membukanya. Tangannya meraih sebilah belati kecil namun memiliki panjang 15 sentimeter, gagang kayu berukir naga. Ia membolak-baliknya, merasakan beratnya.

"Kamu mau main sama aku?" bisiknya pada belati itu. "Kita akan bersenang-senang sebentar lagi."

Di luar jendela, kota Taipei terus berdenyut, tak tahu bahwa di dalam sebuah penthouse mewah, seorang gadis berambut putih sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan senjata-senjata mematikannya.

Dan di suatu tempat, di rumah sakit jiwa Taoyong, Li Fei terus menangis memanggil namanya, sambil memegang jarum akupunktur terakhir yang tidak sempat dipakainya.

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!