[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi terakhir sebelum kiamat
Pagi itu, Lin Yan bangun dengan perasaan aneh. Udara terasa berbeda, lebih berat, seperti ada sesuatu yang mengintai di balik langit cerah. Ia meregangkan tubuh di ranjang king size-nya, menikmati lembutnya kasur mahal, lalu bangkit menuju kamar mandi.
Satu jam kemudian, ia berdiri di depan cermin besar, menatap penampilannya. Hari ini ia memilih pakaian serba hitam: kaos oblong hitam ketat, celana olahraga hitam, sepatu bot hitam setinggi mata kaki, dan sarung tangan hitam tipis yang membiarkan jari-jarinya bebas bergerak. Rambut putih panjang diikat tinggi dengan pita merah—satu-satunya warna mencolok di tubuhnya. Di mulutnya, permen karet dikunyah malas-malasan.
Di cermin, sesosok gadis dengan rambut putih, mata merah delima, pakaian serba hitam, dan ekspresi datar menatapnya kembali. Ia terlihat seperti pembunuh bayaran profesional yang siap mengeksekusi target kapan saja.
【Kau sadar penampilanmu sekarang agak... menakutkan?】
"Bagus. Itu tujuannya." Lin Yan mengunyah permen karetnya, membuat gelembung kecil yang meletus. "Aku mau jemput adik. Biar dia lihat kakaknya keren."
【...Prioritasmu aneh. Tapi sudahlah. Ingat, kiamat hari ini. Hujan mulai jam 5 sore.】
"Aku ingat."
Lin Yan melirik layar ponsel yang menunjukkan tanggal. 20 Juli 2024. Hari yang akan tercatat dalam sejarah sebagai awal dari akhir. Tapi ia hanya mengangkat bahu, lalu melangkah keluar kamar.
Sebelum pergi, ia memutuskan untuk berkeliling sejenak, memastikan semua persiapan beres. Ia turun ke lantai dasar, berjalan melewati ruang tamu megah menuju pintu belakang. Di halaman belakang, pemandangan yang sama sekali berbeda menyambutnya.
Kandang-kandang besar berdiri rapi, terisi berbagai hewan ternak. Ayam dan bebek berkeliaran di area berpagar, sapi dan kambing merumput di padang rumput buatan, babi berguling di kandang berlumpur. Semua hewan itu tampak sehat dan nyaman. Sistem pakan otomatis bekerja diam-diam, mengeluarkan butiran-butiran makanan ke wadah masing-masing.
【Semua hewan sudah ditempatkan sesuai zona. Pakan otomatis terisi setiap pagi. Air minum dari sistem irigasi. Kotoran didaur ulang menjadi pupuk.】
"Bagus." Lin Yan mengangguk puas, lalu berjalan ke area pertanian. Di sini, tanah hitam subur membentang luas, siap ditanami. Tapi untuk saat ini, ia belum menanam apa pun. Semua bibit dan tanamannya masih ada di ruang dimensi.
【Kenapa tidak kau tanam langsung?】
"Malas. Nanti saja kalau sudah darurat." Lin Yan mengunyah permen karetnya. "Lagipula, di dimensi juga bisa tanam. Lebih praktis, tinggal mikir, tanaman tumbuh."
【...Kau benar-benar manja. Tapi iya, dimensi memang otomatis. Kau bisa bercocok tanam di sana tanpa capek.】
"Dimensi adalah sahabat sejati pemalas sepertiku."
Lin Yan berjalan kembali ke dalam kastil, menuju basement. Di sini, ribuan bahan makanan tahan lama tersusun rapi di rak-rak besar. Beras dalam karung, mie instan dalam kardus, makanan kaleng, minyak, bumbu dapur, semuanya terorganisir dengan sistem kode warna. Di ruang terpisah, senjata-senjata koleksi pemilik tubuh tergantung rapi di dinding—mulai dari pisau lipat kecil hingga senapan serbu—siap digunakan kapan saja.
Di bagasi bawah tanah yang lebih dalam, puluhan mobil terparkir rapi. Dari SUV besar hingga mobil sport, semuanya siap melaju kapan pun dibutuhkan.
【Semua sudah tertata. Tinggal kau nikmati.】
"Enak sekali hidup jadi orang kaya gila." Lin Yan tersenyum puas. "Oke, sekarang jemput adik."
---
Satu jam kemudian, mobil sport hitamnya melaju meninggalkan gerbang kastil dengan ukiran mawar hitam-merah. Perjalanan menuju penginapan di kaki gunung hanya memakan waktu setengah jam. Saat mobil berhenti di depan pintu, Lin Feng sudah menunggu di teras, tampak gelisah. Begitu melihat mobil kakaknya, ia segera berlari mendekat.
"Jie! Kau pergi semalaman! Aku khawatir!" protesnya begitu masuk ke mobil.
(dibagian ini si Lin yan pergi lagi malamnya jadi baru kembali sekarang lagi)
Lin Yan mengunyah permen karetnya dengan malas. "Sibuk. Naik, kita pergi."
"Pergi ke mana?" Lin Feng bertanya sambil memasang sabuk pengaman. Ia menatap penampilan kakaknya yang serba hitam, lalu bersiul kecil. "Wah, Jie keren banget pagi-pagi. Mau main film?"
"Ini bukan main film." Lin Yan menginjak gas, mobil melaju meninggalkan penginapan. "Ke rumah baru kita."
"Rumah baru?" Lin Feng mengerutkan kening. "Bukannya kemarin kita udah di penginapan ini?"
"Itu cuma tempat sementara. Rumah asli kita di tempat lain."
Mobil melaju menuju jalan setapak yang mulai menanjak. Lin Feng memperhatikan jalan di luar jendela, alisnya semakin berkerut. "Ini jalan ke gunung, Jie. Apa kita mau ke vila?"
"Bukan vila." Lin Yan tersenyum misterius. "Istana milik kita."
"Hah?"
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan gerbang besi besar dengan ukiran mawar hitam dan merah. Lin Feng terbelalak melihat tembok tinggi yang membentang di kiri kanan, dihiasi pagar besi dengan bunga mawar. Di atas tembok, ia melihat sesuatu yang membuatnya bergidik—senapan-senapan dengan laras panjang terpasang di dudukan otomatis, mengarah ke luar.
"J-Jie... itu... itu senapan?!"
"Iya." Lin Yan menekan remote, gerbang terbuka perlahan. "Sistem keamanan."
Mobil melaju masuk, melewati jalan setapak beraspal hitam yang diapit semak mawar merah dan hitam. Lin Feng menatap sekeliling dengan mulut terbuka. Taman yang indah, patung-patung elegan, air mancur, dan di ujung jalan...
"ASTAGA!" teriak Lin Feng spontan.
Di hadapannya, kastil megah berdiri gagah. Tiga lantai menjulang, dinding hitam dan merah berpadu sempurna, jendela-jendela besar berbingkai emas, dan menara dengan ukiran panah. Di sekelilingnya, taman mawar yang luas bermekaran indah, aroma wangi semerbak di udara.
"J-Jie... ini... ini kastil beneran?" suara Lin Feng bergetar, hampir tidak percaya.
"Iya. Milik kita." Lin Yan memarkir mobil di depan pintu utama yang juga dihiasi ukiran mawar. "Turun."
Lin Feng turun dengan kaki gemetar. Ia menatap kastil itu tak percaya, lalu menoleh ke kiri dan kanan. Di samping gerbang, ia melihat sebuah posko kayu dua lantai dengan menara pengawas. Di atap posko, lampu sorot berputar pelan. Dan di sepanjang tembok, senapan-senapan sniper terus mengawasi.
"Tapi... dari mana? Ayah dan Ibu tidak pernah bilang kita punya kastil! Apalagi... dengan senapan segala!"
"Bukan punya Ayah Ibu. Punya aku." Lin Yan berjalan menuju pintu utama, membukanya lebar. "Aku yang beli diam-diam tahun lalu. Masuk."
Di dalam, Lin Feng semakin terpukau. Ruang tamu megah dengan lampu gantung kristal, sofa mewah berwarna hitam dengan bantal merah, lukisan-lukisan indah bergambar mawar, dan perapian marmer hitam. Lantai marmer hitam berkilau, karpet merah membentang di tangga. Setiap sudut dihiasi ukiran mawar hitam dan merah.
"Ini... ini seperti istana dalam film fantasi..." gumam Lin Feng, berjalan masuk dengan hati-hati.
"Duduk." Lin Yan menunjuk sofa. Ia sendiri duduk di sofa seberang, menghela napas panjang. "Kita perlu bicara."
Lin Feng duduk, masih tampak bingung dan kagum bercampur. "Jie, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kau jemput aku dari sekolah, bawa ke kastil misterius penuh senjata, dan... dan kelihatan serius banget? Ini semua... ini nyata?"
Lin Yan diam sejenak, menatap adiknya. Anak laki-laki tampan berusia 16 tahun itu masih polos, belum tahu apa yang akan terjadi. Matanya yang coklat hazel menatap dengan campuran rasa ingin tahu dan kecemasan. Lin Yan menghela napas lagi, lalu mulai berbicara.
"Dengar, Feng'er. Apa yang akan kakak katakan mungkin terdengar gila. Tapi kakak harap kau percaya."
"Iya, Jie. Aku percaya apapun kata Jie." Jawaban itu keluar cepat, tanpa ragu. Lin Feng memang selalu percaya pada kakaknya, meskipun tahu kakaknya sedikit aneh.
Lin Yan mengangguk pelan. "Hari ini, jam 5 sore, hujan akan turun. Hujan lebat. Dan malam ini, bulan purnama akan berwarna merah."
"Merah?" Lin Feng mengerutkan kening. "Apa itu fenomena alam? Kayak gerhana?"
"Bukan." Lin Yan menggeleng. "Itu awal dari kiamat."
"K-Kiamat?" Lin Feng terbelalak, tubuhnya menegang.
Lin Yan mengangguk serius. "Besok, hujan akan berhenti. Tapi dua hari setelahnya, tepatnya hari ketiga, orang-orang akan mulai bertingkah aneh. Mereka akan demam tinggi, kejang-kejang, lalu... mati. Tapi tidak benar-benar mati."
"Maksud Jie?" suara Lin Feng bergetar.
"Mereka akan bangkit kembali. Dan mereka akan menggigit siapa pun yang masih hidup. Satu gigitan, dan kau akan berubah menjadi seperti mereka." Suara Lin Yan datar, seperti membacakan berita cuaca. "Zombie, Feng'er. Itu yang akan terjadi."
Lin Feng terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menatap kakaknya lama, mencari tanda-tanda bercanda. Tapi tidak ada. Mata merah delima itu serius, tidak main-main. Ia menggigit bibir bawahnya, tangannya menggenggam erat.
"J-Jie serius?" bisiknya akhirnya.
"Aku tidak pernah seserius ini." Lin Yan bersandar di sofa, mengeluarkan permen karet baru dan memasukkannya ke mulut. "Itu sebabnya aku jemput kau. Itu sebabnya aku siapkan tempat ini."
Lin Feng menelan ludah, mencerna informasi yang luar biasa ini. Ia menatap sekeliling ruangan megah, lalu bertanya, "Tempat ini... tempat aman?"
"Tempat teraman di dunia." Lin Yan menunjuk sekeliling dengan jempol. "Tembok tinggi, sistem keamanan canggih—kau lihat sendiri senapan-senapan di luar. Persediaan makanan cukup untuk bertahun-tahun, hewan ternak, lahan pertanian. Kita bisa hidup di sini tanpa keluar sama sekali."
"Tapi... bagaimana Jie tahu semua ini? Dari mana Jie tahu akan ada kiamat?"
Lin Yan diam sejenak. Ia tidak bisa bilang "aku dari dunia lain" atau "ini semua novel". Terlalu rumit, dan adiknya mungkin akan tambah bingung. "Aku punya... firasat. Dan aku mempersiapkannya dari jauh-jauh hari. Rumah ini kubeli diam-diam, persediaan kusiapkan pelan-pelan. Aku tahu ini terdengar gila, tapi percayalah."
Lin Feng menatap kakaknya. Ia ingat sejak kecil, kakaknya memang sedikit aneh—sering bicara sendiri, kadang tertawa tanpa sebab, suka mengumpulkan benda-benda aneh. Tapi ia juga ingat, kakaknya selalu melindunginya. Saat ia diganggu teman sekolah, kakaknya datang dan membuat si pengganggu lari ketakutan. Saat ia jatuh sakit, kakaknya menjaganya semalaman. Dan sekarang, kakaknya membawanya ke tempat aman, menyelamatkannya dari sesuatu yang mengerikan.
"Aku percaya, Jie." suaranya lirih tapi pasti. Ada kekaguman baru dalam matanya. "Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tunggu." Lin Yan menunjuk jam dinding antik yang menunjukkan pukul 11.30. "Jam 5 sore, hujan akan turun. Kau akan lihat sendiri."
Mereka terdiam. Suasana hening, hanya suara detak jam yang terdengar. Lin Feng menggenggam tangannya sendiri, gelisah. Lin Yan tetap santai, mengunyah permen karetnya, sesekali membuat gelembung yang meletus.
【Dia menerimanya dengan baik.】
"Dia adikku. Dia tahu aku aneh sejak kecil."
【Dan kau memelintir fakta, tidak bilang soal novel dan tubuh asli.】
"Dia tidak perlu tahu itu. Cukup dia tahu aku kakaknya, dan aku akan melindungi dia."
【Kau benar. Keluarga adalah yang utama.】
Lin Yan tersenyum tipis mendengar pujian langka dari sistem.
---
Sisa waktu hingga sore dihabiskan Lin Yan dengan menunjukkan seluruh kastil kepada adiknya. Mereka naik ke lantai dua, melihat kamar-kamar tamu yang megah. Lin Feng memilih kamar nomor 201—kamar dengan jendela menghadap taman mawar.
"Jie, kamar ini keren banget!" serunya, menjatuhkan diri di ranjang empuk. "Ada TV besar, kamar mandi sendiri, bahkan balkon kecil!"
"Untung kau suka." Lin Yan bersandar di pintu. "Nanti kalau sudah kiamat, kau bisa di sini sepuasnya."
Mereka lalu naik ke lantai tiga. Lin Yan menunjukkan kamar utamanya, dan Lin Feng terkesima melihat foto raksasa kakaknya dengan pedang.
"JIE! KEREN BANGET! Ini kapan fotonya?!" teriaknya.
"Rahasia."
Di ujung lorong, Lin Yan membuka pintu menuju ruang kendali. Lin Feng terbelalak melihat puluhan layar CCTV yang menampilkan setiap sudut wilayah.
"Ini... ini seperti di film-film mata-mata!" Ia duduk di kursi pilot, memutar-mutar joystick, memperbesar gambar kamera. "Wah, bisa liat sampai ke hutan! Jie, ini canggih banget!"
"Sistem keamanan. Semua terpantau dari sini." Lin Yan menjelaskan fungsi setiap tombol dengan sabar.
Mereka turun ke lantai dasar, keluar ke halaman belakang. Lin Feng tercengang melihat area peternakan dan pertanian yang luas. Ia berlari ke kandang ayam, mencoba memberi makan, dan tertawa saat ayam-ayam berebut.
"Jie, ini kaya kebun binatang pribadi!"
"Bukan kebun binatang, ini sumber makanan."
Di basement, Lin Feng hampir pingsan melihat ribuan persediaan makanan dan puluhan mobil mewah. "JIE! KAU PUNYA HARTA KARUN! KITA KAYA RAYA!"
"Iya, iya. Udah, jangan heboh."
Saat mereka kembali ke ruang tamu, jam menunjukkan pukul 16.30. Lin Yan berdiri di depan jendela besar, menatap langit di luar. Awan gelap mulai berkumpul, menutupi matahari yang bersinar cerah tadi pagi. Angin bertiup lebih kencang, membuat pepohonan di taman bergoyang.
Lin Feng berdiri di sampingnya, ikut menatap langit. "Jie, langitnya..."
"Iya. Sebentar lagi."
Pukul 17.00 tepat.
Titik-titik air mulai jatuh. Perlahan, lalu makin deras. Hujan lebat turun membasahi seluruh wilayah, menciptakan suara gemuruh di atap kastil. Di langit, matahari mulai tenggelam, tapi sesuatu yang aneh terjadi.
Bulan purnama mulai muncul di ufuk timur. Dan warnanya... merah. Merah darah, seperti mata kakaknya.
"Ya Tuhan..." Lin Feng berbisik, matanya terbelalak melihat bulan merah yang mengerikan itu. Tangannya secara refleks meraih lengan kakaknya. "Jie, bulan... merah..."
"Iya." Lin Yan menatapnya datar, tidak terkejut sama sekali. "Awal dari segalanya."
Mereka berdiri di jendela, menyaksikan hujan lebat dan bulan merah yang mulai naik perlahan. Di luar, dunia masih terlihat normal. Lampu-lampu kota di kejauhan masih menyala, mobil-mobil masih melaju di jalan. Tapi di dalam hati Lin Feng, ia tahu, setelah malam ini, tidak akan ada yang sama.
---
Hujan turun tanpa henti sepanjang malam. Lin Yan dan Lin Feng duduk di ruang tamu, kadang bicara, kadang diam. Lin Yan menjelaskan lebih detail tentang fungsi setiap ruangan, cara menggunakan sistem keamanan, di mana makanan disimpan, bagaimana merawat hewan ternak. Lin Feng mendengarkan dengan saksama, meski pikirannya masih kacau.
Di sela-sela penjelasan, Lin Feng tiba-tiba bertanya, "Jie... kalau kiamat beneran terjadi, terus orang-orang pada mati jadi zombie... apa kita akan selamanya di sini?"
Lin Yan mengunyah permen karetnya, berpikir. "Mungkin. Tapi nggak selamanya. Nanti kalau keadaan sudah aman, kita bisa keluar, lihat dunia baru."
"Dunia baru?"
"Iya. Dunia tanpa aturan, tanpa polisi, tanpa pemerintah. Hanya yang kuat yang bertahan." Lin Yan menatap adiknya. "Tapi kita akan kuat. Kita punya segalanya di sini."
Lin Feng mengangguk, lalu bertanya lagi, "Jie... kau tidak takut?"
Lin Yan menatapnya, lalu tersenyum kecil—senyum langka yang jarang muncul. "Takut? Mungkin. Tapi orang gila seperti kakak mu ini lebih menakutkan dari zombie mana pun."
Lin Feng tertawa kecil. "Iya, Jie memang gila dan aneh. Dari dulu."
"Dasar adik kurang ajar." Lin Yan menjewer telinga adiknya pelan. "Ayo tidur. Besok kita lihat keadaan. Kamarmu di lantai dua, nomor 201. Ingat, jangan keluar malam-malam."
Lin Feng berdiri, berjalan menuju tangga, lalu berhenti. Ia berbalik, menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Jie... terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk menyelamatkanku. Untuk... semuanya." Suaranya bergetar. "Aku nggak tahu harus ngomong apa, tapi... aku bersyukur punya kakak seperti Jie."
Lin Yan diam sejenak. Dadanya terasa hangat—perasaan yang asing. Di RSJ dulu, tidak ada yang mengucapkan terima kasih padanya. Li Fei mungkin suka bermain, tapi itu bukan hubungan saudara. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasakan apa artinya memiliki keluarga.
Ia melambaikan tangan malas, menyembunyikan perasaannya. "Iya iya. Sekarang tidur. Jangan cengeng."
Lin Feng tersenyum, lalu naik ke lantai dua. Langkahnya ringan, meski dunia di luar sedang berubah.
Lin Yan sendiri duduk kembali di sofa, menatap layar pengawasan yang menampilkan hujan lebat di luar. Bulan merah masih bersinar, menerangi malam dengan cahaya aneh. Kamera-kamera menunjukkan area luar yang kosong—tidak ada zombie, belum. Tapi ia tahu, dalam dua hari lagi, semua akan berbeda.
【Dia anak baik.】
"Iya. Aku harus melindungi dia."
【Kau juga baik, meskipun gila.】
"Awas kau, sistem sialan."
【Serius. Awalnya kukira kau hanya psikopat tanpa perasaan. Tapi ternyata kau punya sisi lembut.】
Lin Yan mengunyah permen karetnya, tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada layar.
【Besok mungkin akan berat. Tapi kau sudah siap.】
"Lo juga siap, kan, sistem?"
【Aku selalu siap. Aku kan sistem.】
Lin Yan tersenyum kecil, lalu merebahkan tubuh di sofa. Ia tidak tidur, hanya memejamkan mata, mendengarkan suara hujan. Di luar, dunia sedang berubah. Tapi di dalam kastil ini, untuk sementara, semuanya aman.
Malam berlalu perlahan. Hujan terus turun, deras dan tak kenal ampun. Bulan merah bersinar sepanjang malam, menyaksikan awal dari akhir peradaban manusia.
Dan di dalam kastil megah di kaki Gunung Qingcheng, dua bersaudara—satu gila, satu polos—bersiap menghadapi hari esok yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Kiamat telah dimulai.