NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

"Nyonya, ada kiriman dari keluarga Hartawan."

Deg!

Seketika Violet mengangkat wajah dari buku yang sedang ia baca di sofa ruang tamu, atau lebih tepatnya dari buku yang sedang ia pegang tanpa benar-benar membaca karena pikirannya sudah sejak tadi pagi pergi ke tempat lain.

Matilda berdiri di depannya dengan sebuah kotak berukuran sedang dan amplop putih di atasnya. Ekspresi perempuan tua itu tidak berubah seperti biasa, tapi ada sesuatu dari cara ia memegang kotak itu, sedikit lebih jauh dari tubuhnya dari yang diperlukan, seperti orang yang membawa sesuatu yang tidak ia percayai sepenuhnya.

"Taruh di sana." Violet menunjuk meja kecil di dekat pintu.

"Tidak dibuka?"

"Nanti."

Matilda mengangguk mengerti lalu meletakkan kotak itu dan pergi kembali ke dapur. Violet menatap amplop putih di atas kotak itu dari jarak tiga meter dan tidak bergerak selama hampir satu menit penuh.

Lalu ia meletakkan bukunya, berdiri, dan mengambil amplopnya saja.

Tulisan tangan di bagian depan itu tulisan Bu Hartawan. Violet mengenalinya dari cara huruf-hurufnya terlalu tegak dan terlalu rapi seperti tulisan orang yang ingin terlihat terkendali bahkan di atas kertas.

Ia kemudian membukanya.

(Violet. Kembalilah ke rumah. Kita bicarakan ini baik-baik. Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan dalam keluarga.)

Kalimat terakhir itu yang paling menarik perhatiannya. Dalam keluarga. Dua kata yang selama dua puluh dua tahun tidak pernah benar-benar menyertakan namanya.

Violet melipat surat itu, memasukkannya kembali ke amplop, dan meletakkannya di atas meja.

Ia tidak membuka kotaknya.

Selama tiga hari ia tinggal di rumah ini, asing dan sendirian. Keluarga Hartawan baru menyadari nya, tdak menanyai nya kabar tapi langsung meminta nya pulang. Seolah-olah begitu gampang tanpa melihat situasinya.

Ia juga tidak tahu, apa yang akan menantinya disana.

Jangan sampai ia terjebak lagi, seperti yang dilakukan Teresa padanya.

****

Siang itu Violet mencoba menjelajahi rumah dengan cara yang sistematis.

Bukan karena tidak ada yang bisa dilakukannya lagi, tapi karena mengetahui sebuah tempat dengan benar adalah hal pertama yang selalu ia lakukan ketika terpaksa ada di lingkungan baru. Kebiasaan lamanya yang terbentuk dari bertahun-tahun hidup di rumah orang lain dan belajar bahwa mengetahui di mana letak setiap pintu dan setiap jendela adalah perbedaan antara merasa terperangkap dan merasa punya pilihan.

Lantai bawah ia sudah cukup tahu. Ruang tamu, ruang makan, dapur, ruang kerja Adriel, dan satu ruangan lagi di ujung koridor yang pintunya selalu tertutup dan dari bawahnya tidak ada cahaya yang merembes kapanpun.

Lantai atas ada empat kamar. Kamarnya sendiri, kamar Adriel di ujung kanan, dan dua kamar lain yang ketika Violet membuka pintunya menemukan ruangan yang bersih dan kosong dengan furnitur yang tertutup kain putih seperti kamar-kamar yang sudah lama tidak dikunjungi tapi tetap dirawat.

Di antara dua kamar kosong itu ada satu pintu yang sedikit berbeda dari pintu-pintu lain. Lebih tua, kayunya lebih gelap, dan gagangnya dari kuningan yang sudah menghitam di bagian tepinya.

Violet menyentuh gagangnya.

Tidak terkunci.

Entah apa yang mendorong nya, ia pelan- pelan membukanya.

Di dalamnya bukan kamar. Melainkan ruangan kecil yang lebih menyerupai perpustakaan pribadi. Rak-rak rendah penuh buku dari berbagai ukuran, sebuah kursi baca yang sudah usang di dekat jendela kecil, dan di atas meja kecil di sudutnya ada lampu baca yang ketika Violet menyalakannya ternyata masih berfungsi.

Ia melihat sekeliling.

Buku-buku itu bukan koleksi yang dibeli sekaligus untuk kesan. Ada yang sudah sangat tua dengan sampul yang retak, ada yang masih relatif baru, ada yang ditandai dengan begitu banyak lipatan halaman sampai punggungnya hampir patah. Judulnya bermacam-macam, sejarah militer, filsafat, beberapa novel, dan satu rak penuh buku tentang hukum internasional yang sepertinya sering dibuka.

Di lantai bawah kursi baca itu, tergeletak begitu saja seperti jatuh dari tangan seseorang yang tertidur sambil membaca, ada sebuah buku kecil dengan sampul cokelat tanpa judul di luar.

Violet mengambilnya. Membukanya.

Bukan buku bacaan, melainkan catatan. Tulisan tangan yang kecil dan padat, tanggal-tanggal di bagian atas setiap halaman, dan kalimat-kalimat pendek yang lebih menyerupai pengingat daripada jurnal.

Ia membaca satu baris sebelum menyadari apa yang sedang ia lakukan, lalu menutupnya dan meletakkannya kembali persis di posisi yang sama.

Menyadari, beberapa hal tidak perlu diketahui sebelum waktunya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Adriel pulang ketika langit sudah setengah gelap, karena Violet bisa mendengar suara mobilnya di depan.

Violet sedang berdiri di sofa ruang tengah ketika selesai membersihkan beberapa sudut rumah, dan Adriel masuk dengan jas yang sampirkan di lengan dan langkah yang biasanya teratur, tapi malam ini ia tampak sedikit berbeda, tidak tergoyahkan tapi ada sesuatu yang lebih berat dari biasanya. Ia menutup pintu, menggantung jaketnya, dan barulah ketika ia berbalik, sorot cahaya ruang tamu yang jatuh ke wajahnya, membuat Violet bisa melihatnya dengan jelas.

Memar yang cukup parah di wajah pria itu.

Tidak lagi besar memang tapi cukup jelas, kemerahan yang sudah mulai berubah warna ke arah ungu di bagian tengahnya.

Adriel melihat Violet melihatnya.

Ia tidak mengatakan apapun. Langsung berjalan ke arah tangga.

"Adriel."

Ia berhenti tapi tidak berbalik.

Violet tersentak sejenak, menyadari sesuatu. "Maksud saya... tuan. "

"Ada apa?"

Suara Adriel seperti tidak ingin di ganggu, namun sesuatu yang yang mengganjal di hati Violet membuat ia bergerak cepat ke arah dapur tanpa bilang apa-apa, membuka lemari es, lalu mengambil beberapa es batu, membungkusnya dengan kain lap kecil yang ada di laci, dan berjalan kembali ke ruang tamu.

Adriel masih berdiri di tempat yang sama. Entah kenapa tidak jadi naik.

Violet berdiri di depannya dan mengulurkan bungkusan es batu itu.

Adriel menatap tangannya.

"Buat memarnya," kata Violet pelan.

Ia tidak bertanya darimana. Tidak bertanya siapa. Tidak bertanya kenapa.

Adriel menatap Violet sebentar dengan tatapan yang sulit dibaca, lalu mengambil bungkusan es batu itu dari tangannya. Jari-jari mereka tidak sengaja bersentuhan sedetik sebelum Adriel menarik tangannya kembali.

Ia menempelkan es batu itu ke pipinya dan berjalan ke sofa, duduk di sana dengan punggung yang masih tegak meski malam ini terasa seperti punggung yang ingin berhenti sebentar tapi tidak tahu caranya.

Dan entah kenapa Violet juga tidak beranjak, melihat Adriel yang meringis karena lukanya yang terkena es batu.

Adriel menatapnya. "Ada yang ingin kau bicarakan lagi? "

violet pun bingung kenapa dia masih disini, bertanya dari mana luka yang di dapatkan laki-laki itu justru hal yang lancang, maka ia memutuskan untuk membicarakan yang satu ini.

Ia menghela napas pelan sejenak. "Saya rasa saya harus melaporkan ini pada, tuan. "

"Apa?"

"Tadi siang, saya baru saja mendapatkan paket dari keluarga Hartawan. "

Mengetahui Adriel pasti akan selalu sensitif dengan apapun yang berkaitan dengan keluarga Hartawan, jadi Violet merasa perlu melaporkan nya.

Adriel terdiam sejenak. "apa isinya? "

"Saya belum membuka isi paketnya, hanya isi suratnya. "

"Lalu apa isi suratnya?"

"Meminta saya kembali. "

Adriel sontak menoleh ke arahnya dan saat itulah dapat violet lihat ekspresi berbeda yang tak seharusnya ada di wajah yang selalu terlihat kaku dan dingin itu.

"Kau ingin pergi? "

*****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!