NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

BAB 6: Badai dari London dan Singgasana yang Dingin

Lantai marmer penthouse itu biasanya memantulkan kemewahan yang tenang, namun malam ini, atmosfer di dalamnya terasa seperti udara sebelum ledakan nuklir. Saat pintu lift pribadi terbuka dan Aurelius melangkah masuk dengan mantel hitam yang masih tersampir di bahunya, ia tidak disambut oleh keheningan teknis yang biasa diciptakan Julian.

Sebaliknya, ia menemukan Elara dan Julian berdiri di tengah ruang tamu yang luas, wajah mereka sepucat salju di pegunungan Alpen. Julian bahkan tidak memegang tabletnya; tangannya gemetar di samping tubuhnya. Elara, yang biasanya selalu punya kata-kata tajam untuk menggoda, hanya menatap kakaknya dengan mata yang menyiratkan ketakutan murni.

Aurelius berhenti, matanya menyipit tajam. Aura predator yang ia bawa dari pertemuan dengan Takeshi Shimada belum sepenuhnya luntur. "Kenapa kalian terlihat seperti baru saja melihat hantu?" suaranya rendah, bergetar dengan otoritas yang menuntut penjelasan.

"Kak..." Elara menelan ludah, suaranya hampir hilang. "Ayah... Ayah akan mendarat di Narita besok pagi."

Rahang Aurelius mengeras seketika. "Besok? Untuk apa?"

"Dia menerima undangan dari sahabat lamanya, Tuan Moretti—orang terkaya nomor lima di dunia," Julian menyambung dengan suara parau. "Anak bungsu Moretti akan melangsungkan pernikahan megah di Tokyo besok malam. Ayah mengirim pesan melalui jalur enkripsi pusat. Dia tahu kita bertiga ada di Jepang. Dia memerintahkan kita semua hadir di acara itu. Tanpa terkecuali. Tanpa alasan."

Aurelius tidak menjawab. Ia berbalik, menatap dinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu Tokyo yang kini terasa seperti jebakan. Kemarahannya meluap secara internal—sebuah badai sunyi yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan. Ayahnya, Maximilian von Hohenzollern, tidak pernah melakukan sesuatu secara kebetulan. Kedatangannya ke Jepang di tengah rencana Aurelius menghancurkan keluarga Shimada bukanlah sebuah koinsidensi. Itu adalah peringatan. Sebuah cara Maximilian untuk menunjukkan bahwa setinggi apa pun Aurelius terbang, ia masih berada di bawah bayang-bayang sayap elang ayahnya.

"Sialan," desis Aurelius. Suaranya begitu dingin hingga Elara tersentak mundur.

Tanpa sepatah kata lagi, Aurelius melangkah menuju kamar utamanya. Suara langkah sepatunya yang berat bergema di aula yang sunyi. Ia masuk ke kamarnya, membanting pintu kayu jati yang berat itu, dan menguncinya dari dalam. Di dalam kegelapan kamarnya, ia melempar jasnya ke kursi. Pikirannya kacau. Hana masih dalam cengkeraman Kaito, rencana penghancuran Shimada baru saja dimulai, dan sekarang raksasa dari London itu datang untuk mengacaukan papan caturnya.

Aurelius tidak tidur. Ia menghabiskan malam dengan duduk di kursi kerjanya, menatap langit subuh yang perlahan berubah warna menjadi abu-abu.

Keesokan paginya, saat cahaya matahari pertama menembus gorden sutranya, Aurelius keluar dari kamar. Ruang tamu itu kosong. Tidak ada suara ketikan Julian atau tawa kecil Elara.

"Yoto," panggil Aurelius pelan namun tajam.

Yoto muncul dari arah dapur, membungkuk dalam. "Selamat pagi, Tuan Muda Aurelius."

"Di mana adik-adikku?"

"Dua jam yang lalu, supir dari Mansion Tokyo datang menjemput mereka," jawab Yoto dengan nada datar yang profesional. "Tuan Besar Maximilian telah tiba di kediaman pribadinya di Minato. Beliau secara spesifik meminta Nona Elara dan Tuan Muda Julian untuk menemaninya sarapan. Beliau juga meninggalkan pesan untuk Anda."

Aurelius menatap Yoto, menunggu.

"Tuan Besar mengharapkan kehadiran Anda di Mansion sebelum pukul sepuluh pagi. Beliau mengatakan bahwa ada 'masalah keluarga' yang harus diluruskan sebelum acara malam nanti."

Aurelius hanya mengangguk kecil. Wajahnya datar seperti topeng porselen. Ia tidak membantah, tidak pula mengeluh. Ia tahu bahwa melawan Maximilian secara terang-terangan saat ini adalah tindakan bunuh diri taktis. Ia berbalik, masuk ke kamar mandi, dan membiarkan air dingin membasuh tubuhnya.

Pagi ini, ia tidak lagi berdandan seperti Ren sang mekanik, tidak pula seperti Aurelius yang santai saat bertemu Takeshi. Ia memilih kemeja putih Stiff-collar yang kaku, dasi sutra berwarna biru gelap yang melambangkan loyalitas keluarga, dan setelan jas hitam bespoke yang paling formal. Saat ia melihat cermin, ia tidak lagi melihat Ren yang lembut dengan tutur kata baik. Ia melihat seorang Hohenzollern. Seorang pangeran berdarah dingin yang siap berperang.

Mobil Rolls-Royce hitam yang dikemudikan Yoto melaju membelah jalanan Tokyo yang mulai padat. Tujuan mereka bukan lagi apartemen atau bengkel, melainkan sebuah kompleks mansion tersembunyi di balik dinding batu tinggi di kawasan elit Minato—sebuah benteng Eropa di jantung Jepang.

Saat gerbang besar itu terbuka, para penjaga berseragam militer memberikan hormat. Aurelius menatap keluar jendela, melihat taman Zen yang indah bercampur dengan arsitektur neo-klasik Jerman. Mobil berhenti di depan tangga marmer utama. Yoto membukakan pintu.

Aurelius melangkah keluar. Udara di Mansion ini berbeda. Terasa berat, penuh dengan aroma sejarah, kekuasaan, dan kedinginan yang mencekik. Ia menaiki tangga dengan langkah mantap. Di pintu utama, dua kepala pelayan membungkuk hampir menyentuh lantai.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Aurelius," ucap mereka serempak.

Aurelius melangkah masuk ke dalam aula utama yang megah. Di ujung aula, di dekat perapian besar yang meskipun musim panas tetap menyala, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang tertata rapi. Maximilian von Hohenzollern sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran finansial fisik, seolah-olah teknologi digital tidak pernah ada di dunianya. Di sisi kiri dan kanannya, Elara dan Julian duduk dengan kaku, seperti pajangan yang indah namun tak bernyawa.

Maximilian tidak mendongak saat Aurelius mendekat. "Kau terlambat lima menit, Aurelius," suaranya berat, dalam, dan membawa wibawa yang membuat seluruh ruangan seolah bergetar.

Aurelius berhenti lima langkah di depan ayahnya, berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. "Lalu lintas Tokyo tidak bisa diprediksi, Ayah."

Maximilian menurunkan korannya, menatap putra sulungnya dengan mata yang identik dengan mata Aurelius—dingin, tajam, dan tanpa ampun. "Lalu lintas? Atau kau terlalu sibuk bermain menjadi pahlawan di bengkel kumuh itu sehingga lupa cara menjadi seorang Hohenzollern?"

Suasana di ruangan itu membeku. Julian menahan napas, sementara Elara menunduk dalam.

Aurelius tidak berkedip. "Penyamaran adalah bagian dari strategi, Ayah. Kau sendiri yang mengajariku bahwa untuk menghancurkan musuh, kita harus tahu bagaimana rasanya hidup di bawah kaki mereka."

Maximilian berdiri, tubuhnya masih tegak dan kuat meski usianya sudah tidak muda. Ia berjalan mendekati Aurelius, mengelilingi putranya seolah sedang memeriksa kuda pacu miliknya. "Strategi? Menghancurkan keluarga Shimada hanya demi seorang wanita dari keluarga Asuka yang hampir bangkrut? Itu bukan strategi, Aurelius. Itu impulsif. Itu emosional. Dan di dunia ini, emosi adalah racun."

"Aku tidak melakukan ini demi wanita itu," Aurelius berbohong dengan nada paling tenang yang pernah ia miliki. "Keluarga Shimada telah melampaui batas mereka di pasar Asia. Menghancurkan mereka melalui Asuka Group adalah cara paling bersih agar kita tidak terlihat sebagai agresor utama."

Maximilian tertawa kecil, sebuah suara tanpa rasa humor. Ia berhenti tepat di depan Aurelius, menatap lurus ke dalam mata putranya. "Jangan pernah berbohong pada orang yang menciptakanmu. Kau menginginkan Hana Asuka. Dan karena keinginanmu itu, kau mulai meninggalkan kewajibanmu di Eropa. Ibu tirimu, Victoria, sudah mulai menghitung berapa banyak kerugian yang kau timbulkan hanya untuk 'liburan' di Tokyo ini."

Maximilian menepuk bahu Aurelius dengan keras—sebuah gerakan yang terlihat kasih sayang namun sebenarnya adalah penekanan kekuasaan. "Malam ini, di pernikahan Moretti, kau akan berdiri di sampingku. Kau akan menjadi Aurelius Renzo von Hohenzollern yang sesungguhnya. Dan setelah acara itu selesai, kau akan mengakhiri permainanmu dengan keluarga Shimada. Aku akan mengambil alih sisanya. Jika kau ingin wanita itu, kau bisa memilikinya sebagai peliharaan, bukan sebagai alasan untuk menghancurkan bisnis dunia."

Aurelius merasakan amarahnya mencapai titik didih, namun wajahnya tetap seperti es. "Aku punya caraku sendiri, Ayah."

"Cara yang hanya akan berhasil jika kau tetap hidup," Maximilian berbisik, lalu berbalik kembali ke kursinya. "Pergilah. Siapkan dirimu. Malam ini adalah panggungmu. Jangan buat aku malu di depan Moretti. Dan Julian, Elara... pastikan kakak kalian tidak melarikan diri kembali ke bengkel itu sebelum matahari terbenam."

Aurelius berbalik dan melangkah keluar dari aula tanpa pamit. Di koridor Mansion yang panjang, ia berpapasan dengan bayangannya di cermin besar. Ia melihat seorang pria yang mengenakan jas mahal, namun di dalam matanya, ada kemarahan terpendam dari seorang mekanik bernama Ren yang ingin menghancurkan semua aturan emas ini.

Ia masuk ke kamar yang telah disiapkan untuknya di Mansion. Di atas meja rias, sudah terletak undangan emas untuk pernikahan anak Moretti. Ia membukanya dengan kasar. Di sana tertera daftar tamu kehormatan.

Nama pertama: Maximilian von Hohenzollern.

Nama kedua: Aurelius Renzo von Hohenzollern.

Dan di bagian bawah, dalam daftar tamu mitra strategis lokal: Daichi Asuka & Hana Asuka. Serta: Takeshi Shimada & Kaito Shimada.

Aurelius meremas undangan itu hingga hancur di tangannya. Senyum dingin dan kejam muncul di wajahnya. Ayahnya ingin panggung? Ayahnya ingin dia menjadi Aurelius yang sesungguhnya?

"Baiklah," bisik Aurelius pada ruangan yang sunyi. "Malam ini, aku akan memberi kalian pertunjukan yang tidak akan pernah dilupakan oleh dunia. Dan Kaito... kau akan melihat siapa pria yang kau sebut tikus bengkel saat dia berdiri di atas takhta yang bahkan ayahmu tidak bisa mencapainya."

Aurelius melangkah ke kamar mandi, bersiap untuk mengubah dirinya menjadi senjata paling mematikan yang pernah diciptakan oleh keluarga Hohenzollern. Malam ini bukan sekadar pernikahan; malam ini adalah awal dari eksekusi publik bagi siapa pun yang berani menyentuh Hana Asuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!