NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...

Pagi ini, matahari bersinar terlalu terang, seolah-olah mengejek kegelisahan yang mengaduk-aduk perut ku. Aku berdiri di tengah dapur, menatap sebuah kotak bekal berwarna merah menyala yang tertinggal di atas meja makan. Dimas, suami ku yang ceroboh itu, pergi terburu-buru karena rapat mendadak dan melupakan satu-satunya "benteng pertahanan" yang sudah aku siapkan dengan susah payah.

“Bodoh. Benar-benar manusia bodoh,” batin ku sambil mengepalkan tangan. “Bagaimana jika dia lapar? Bagaimana jika dia akhirnya diajak makan siang oleh si Shinta itu karena tidak punya bekal? Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Wilayah ku terancam oleh kelalaian suami ku sendiri.”

Biasanya, aku akan diam di rumah, meringkuk di bawah selimut sambil menunggu kepulangannya dengan rasa posesif yang terpendam. Tapi hari ini berbeda. Rasa bersalah karena insiden kencan yang hampir batal kemarin masih menyisa, dan insting rubah ku berteriak bahwa aku harus melakukan sesuatu yang drastis.

Aku harus ke kantornya.

Aku berjalan menuju cermin besar. Aku tidak bisa pergi dengan telinga dan ekor yang mencuat begini. Aku memejamkan mata, memusatkan energi spiritual yang mengalir di nadi ku. “Sembunyi, masuk ke dalam, jadilah manusia sepenuhnya,” bisik ku dalam hati. Dengan sedikit sentakan sihir penyamaran, telinga cokelat ku melipat masuk ke dalam dimensi ilusi, dan ekor tebal yang biasanya mengibas bebas kini terasa "menghilang" dari realitas fisik.

Aku memilih pakaian yang paling sopan namun tetap mematikan. Sebuah gaun terusan berwarna krem yang memeluk lekuk tubuh ku dengan sopan, namun cukup elegan untuk membuat setiap mata yang memandang merasa segan. Aku memoles bibir ku dengan warna merah lembut dan menyemprotkan parfum melati favorit ku, aroma yang akan menandai keberadaan ku di mana pun aku berpijak.

"Tunggu aku, Dimas," gumam ku sambil menyambar kotak bekal itu. "Istri mu datang untuk mengklaim kembali miliknya."

Gedung perkantoran itu menjulang tinggi, penuh dengan kaca dan baja yang terasa dingin dan tidak ramah. Saat aku melangkah masuk ke lobi, aku bisa merasakan tatapan orang-orang mulai tertuju pada ku. Keheningan sesaat tercipta saat aku berjalan menuju meja resepsionis.

"Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan Bapak Dimas dari divisi logistik," kata ku dengan suara yang lembut namun memiliki nada otoritas yang tak terbantahkan.

Resepsionis itu, seorang wanita muda yang tampak lelah, tertegun sejenak. "Ah, ya... apakah sudah ada janji, Bu?"

"Saya istrinya," jawab ku singkat, sambil menunjukkan cincin emas di jari manis ku. "Dia melupakan bekalnya, dan saya tidak ingin dia kelaparan saat bekerja."

Wanita itu tampak terkejut. "I-Istri Pak Dimas? Oh, silakan... divisi logistik ada di lantai dua belas."

Saat aku melangkah menuju lift, aku mendengar bisikan-bisikan di belakang ku.

"Siapa itu? Cantik sekali."

"Istri Pak Dimas? Serius? Pak Dimas yang selalu terlihat murung dan lelah itu?"

Aku hanya tersenyum tipis. “Tentu saja dia murung,” batin ku dalam hati saat pintu lift tertutup. “Dia menghabiskan energinya untuk menghadapi kalian, dan menghabiskan sisa tenaganya untuk melayani ku di rumah. Tapi kalian tidak perlu tahu itu.”

Lantai dua belas. Pintu lift terbuka dan aku disambut oleh hiruk-pikuk suasana kantor. Meja-meja penuh kertas, suara telepon yang berdering, dan aroma kopi murahan yang menyesakkan dada. Aku berjalan menyusuri lorong, mencari ruangan suami ku.

Tiba-tiba, aku melihatnya. Dimas sedang berdiri di dekat mesin fotokopi, wajahnya tampak sangat kuyu, matanya menatap kosong ke arah tumpukan kertas. Dia terlihat seperti pria yang kehilangan gairah hidup. Hati ku perih melihatnya. Di rumah, dia adalah singa—atau setidaknya kucing besar yang hangat—tapi di sini, dia hanyalah sekrup kecil dalam mesin besar yang kejam.

Dan di sampingnya... ada dia. Shinta.

Wanita itu tertawa kecil sambil menyentuh lengan Dimas. "Tenang saja, Pak Dimas. Laporan ini bisa kita selesaikan sambil makan siang nanti. Saya tahu tempat pasta yang enak di dekat sini."

Grrrr...

Geraman itu hampir saja keluar dari tenggorokan ku. Aku merasakan ujung jemari ku memanas. Sihir penyamaran ku bergetar hebat. Aku ingin menerjang wanita itu, menunjukkan taring ku, dan menyeret suami ku pulang sekarang juga.

“Sabar, Linda. Gunakan cara manusia,” bisik ku pada diri sendiri.

Aku melangkah maju dengan anggun, membiarkan bunyi sepatu hak tinggi ku beradu dengan lantai, menciptakan irama yang menuntut perhatian.

"Dimas?" panggil ku, suara ku aku buat semanis mungkin, namun cukup keras untuk menghentikan percakapan mereka.

Dimas menoleh, dan ekspresinya adalah sesuatu yang akan aku kenang selamanya. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka, dan seluruh tubuhnya menegang seolah dia baru saja melihat hantu atau dewi.

"Li... Linda?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan suara gagap.

"Kau melupakan bekal mu, Sayang," aku mendekat, mengabaikan Shinta sepenuhnya. Aku berdiri sangat dekat dengan Dimas, tangan ku dengan sengaja membenahi kerah kemejanya yang sedikit miring. "Aku tidak ingin kau makan makanan luar yang tidak sehat. Apalagi jika kau harus makan dengan orang yang... tidak aku kenal."

Aku melirik Shinta dengan tatapan dingin yang tajam. Wanita itu tampak mematung, tangannya yang tadi berada di lengan Dimas segera ditarik kembali seolah-olah dia baru saja menyentuh bara api.

"Oh... ini... ini istri Bapak?" tanya Shinta dengan suara yang bergetar.

Dimas berdehem, mencoba menguasai dirinya. "Ya... Shinta, perkenalkan, ini Linda, istri ku. Linda, ini Shinta, manajer pemasaran."

Aku mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat lambat. "Linda. Senang bertemu dengan mu, Shinta. Terima kasih sudah membantu suami ku, tapi untuk urusan makan siang, dia sudah memiliki jadwal yang sangat ketat dengan ku... setiap hari."

Genggaman tangan ku sedikit lebih kuat dari yang diperlukan. Shinta meringis kecil sebelum melepaskan tangannya. "Ah, ya... tentu saja. Saya... saya permisi dulu. Ada dokumen yang harus saya cek."

Dia hampir lari meninggalkan kami.

"Linda, kau berlebihan," bisik Dimas setelah Shinta pergi, namun aku bisa melihat binar kebahagiaan di matanya yang tadi kuyu. "Orang-orang memperhatikan kita."

"Biarkan saja," jawab ku sambil menyerahkan kotak bekal merah itu padanya. "Biarkan mereka tahu siapa pemilik manajer logistik yang hebat ini. Aku tidak suka cara mu terlihat murung di sini, Dimas. Itu merusak reputasi ku sebagai istri yang baik."

"Aku tidak murung, aku hanya lelah," belanya pelan.

"Maka makanlah ini," aku menepuk kotak bekal itu. "Aku sudah menyelipkan banyak 'cinta' di dalamnya. Dan satu hal lagi..."

Aku menarik dasinya, memaksanya menunduk, dan memberikan ciuman singkat namun sangat dalam tepat di bibirnya, di tengah-tengah kantor yang sekarang menjadi sangat sunyi karena semua orang menonton kami.

"Aku menunggu mu pulang tepat waktu malam ini. Jangan terlambat satu menit pun, atau kejutan di rumah akan jauh lebih... berisiko daripada kehadiran ku di sini," bisik ku di telinganya.

Dimas wajahnya merah padam sampai ke telinga. "I-iya, Linda. Aku janji."

Aku berbalik dan berjalan keluar dengan kepala tegak. Saat melewati meja-meja staf, aku bisa mendengar bisikan-bisikan baru yang lebih kencang.

"Gila, Pak Dimas punya istri seperti model!"

"Pantas saja dia selalu ingin cepat pulang."

"Tatapannya ngeri, tapi dia cantik sekali."

“Sukses,” batin ku saat melangkah masuk ke lift. “Tanda klaim telah diperbarui. Wilayah telah diamankan. Dan Shinta? Dia tidak akan berani menyentuh lengan suami ku lagi selama sisa hidupnya.”

Begitu pintu lift tertutup, aku menyandarkan tubuh ku ke dinding lift. Napas ku tersenggal. Menggunakan sihir penyamaran di tempat yang penuh dengan frekuensi elektronik seperti kantor ini ternyata sangat melelahkan. Aku merasakan telinga rubah ku menyembul keluar sedikit karena kelelahan, dan aku segera menutupinya dengan topi yang aku bawa.

“Maafkan aku, Dimas, jika aku membuat mu malu,” pikir ku sambil menatap bayangan ku di pintu lift yang mengkilap. “Tapi aku tidak bisa hanya diam saat milik ku terlihat menderita. Aku adalah istri mu, dan tugas seorang istri siluman adalah memastikan suaminya selalu diingatkan bahwa ada sarang yang hangat menunggunya, jauh lebih berharga daripada semua tumpukan kertas itu.”

Aku keluar dari gedung dengan perasaan lega. Kejutan ini mungkin berisiko bagi identitas asli ku, tapi melihat senyum kaget Dimas dan ketakutan di mata Shinta adalah bayaran yang sangat sepadan.

Hari ini, kantor logistik itu belajar satu hal penting: Dimas mungkin terlihat seperti manajer biasa yang lelah, tapi dia adalah milik dari sesuatu yang jauh lebih kuat, lebih cantik, dan jauh lebih posesif daripada apa pun yang bisa mereka bayangkan.

Aku berjalan pulang, membayangkan Dimas yang sedang menikmati bekalnya sambil tersenyum-senyum sendiri di mejanya. “Cepatlah pulang, Manajer ku,” gumam ku dalam hati. “Malam ini adalah malam kencan pengganti yang sesungguhnya. Dan aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja.”

Insting rubah ku akhirnya tenang. Untuk saat ini, wilayah ku aman dan suami ku adalah milik ku sepenuhnya.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!