“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Peran yang Mulai Dipindahkan
Di kantor, Ridho langsung menegakkan badan.
“Di mana?”
Ia mencatat cepat. Lalu tanpa menunda, menekan nomor lain.
Beberapa dering.
“Katakan,” suara Kaisyaf terdengar di seberang. Rendah.
“Bu Ayza memeriksakan obat dalam sebuah botol, Pak. Apa botol obat Bapak tertinggal di rumah?”
Sunyi sesaat. Benar-benar sesaat. Namun cukup untuk membuat udara terasa berubah.
“Sial. Di mana dia?"
Ridho menelan ludah. “Beliau sedang di klinik. Obatnya sudah diserahkan untuk dicek.”
Di seberang sana… tidak langsung ada jawaban. Namun Ridho tahu. Kaisyaf sedang berpikir. Cepat.
“Ganti.”
Ridho terdiam. “Pak?”
“Ganti obatnya.”
Nada itu tenang. Tapi tidak memberi ruang bantahan.
“Pastikan yang diperiksa…” lanjut Kaisyaf pelan, “bukan itu.”
Ridho menarik napas. “Pak… kalau—”
“Dia tidak boleh tahu.”
Kalimat itu memotong. Tegas. Namun di baliknya… ada sesuatu yang tidak stabil. Seolah keputusan itu… bukan tanpa beban.
Beberapa menit berlalu.
Petugas yang tadi menerima botol itu kembali keluar. Namun di tangannya… bukan botol dengan isi yang sama.
“Ini hasilnya, Bu.”
Ayza menerimanya. Matanya langsung membaca. Normal. Hanya suplemen biasa.
Ia terdiam. Lama. Terlalu lama untuk seseorang yang baru mendapat jawaban.
“Cuma… ini?” tanyanya pelan.
Petugas mengangguk. “Iya, Bu. Tidak ada kandungan berbahaya.”
Ayza menatap kertas itu lagi. Normal. Suplemen. Seharusnya… ia lega. Namun yang ia rasakan justru sebaliknya. Dadanya semakin tidak nyaman. Ia menggeleng pelan.
“Gak mungkin…”
Tatapannya turun ke botol itu.
Kaisyaf, yang selalu menjaga tubuhnya. Yang disiplin. Yang hampir tidak pernah sakit.
Tapi sekarang, lebih kurus. Lebih pucat. Dan… menghindar. Ayza menggenggam hasil itu lebih erat.
“Kalau ini jawabannya…” bisiknya pelan, “…kenapa aku justru makin yakin ada yang salah?”
Ayza keluar dari klinik. Langkahnya tidak cepat. Namun pasti. Tangannya masih menggenggam botol itu. Matanya lurus ke depan. Lebih tajam dari sebelumnya.
“Kalau satu tempat bisa salah…” gumamnya pelan, “…aku cari tempat lain.”
Ia masuk ke mobil.
Dan tanpa ragu… menyalakan mesin.
Di kantor Kaisyaf, Ridho berdiri di depan meja kerja.
“Seperti dugaan Bapak,” ucapnya pelan.
“Bu Ayza tidak langsung percaya.”
Kaisyaf berdiri membelakangi. Menghadap jendela. Kota terbentang di depannya. Namun tatapannya… kosong.
“Aku tahu.” Jawaban itu tenang. Terlalu tenang. “Karena itu aku suruh diganti.”
Ridho terdiam.
Kaisyaf melanjutkan, tanpa menoleh. “Kalau dia periksa di tempat lain… hasilnya harus sama.”
Ada jeda pendek. Namun berat, hingga Ridho akhirnya bicara.
“Saya bisa menahan sekali, Pak…” Suaranya menurun. “…tapi tidak selamanya.”
Kaisyaf tidak menjawab. Namun bahunya sedikit menegang. Dan itu… sudah cukup.
Akhirnya pria itu membalikkan badannya. Tatapannya lurus ke depan. Tidak lagi goyah seperti sebelumnya. Justru… terlalu tenang.
“Hubungi Nara.”
Ridho menoleh.
“Katakan… aku setuju.”
Ridho mengernyit. “Setuju… untuk?”
“Pengobatan ke luar negeri.”
Kalimat itu membuat Ridho terdiam sesaat. Bukan karena tidak paham. Tapi karena… akhirnya Kaisyaf mengatakan itu. Selama ini, pria itu selalu menolak.
“Bapak… yakin?” tanyanya hati-hati.
Kaisyaf tidak langsung menjawab. Pandangannya bergeser ke jendela. Ke luar sana. Kosong.
“Di sini…” suaranya pelan, “terlalu dekat.”
Ridho mengerti. Bukan soal rumah sakitnya. Bukan soal fasilitasnya.
Terlalu dekat… dengan Ayza.
“Kalau aku pergi,” lanjut Kaisyaf, “dia tidak akan bisa menjangkau.”
Kalimat itu tenang. Namun jelas. Ini bukan keputusan medis..Ini keputusan… menjauh.
Ridho menarik napas. “Bapak ingin menghilang?”
“Anggap saja begitu.”
Tidak ada bantahan. Tidak ada penyangkalan.
“Selama ini aku tidak pergi,” lanjut Kaisyaf pelan, “karena pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan.”
Napasnya tertahan sesaat. Ia menatap tangannya sendiri. Pucat.
“Lagi pula… ke mana pun aku berobat, hasilnya tetap sama. Tidak akan menyembuhkan.”
Kalimat itu datar. Seolah ia sedang membicarakan orang lain.
“Paling hanya…” ia berhenti sejenak, “… memperpanjang sedikit waktu.”
Ridho menunduk.
“Dan sekarang,” lanjut Kaisyaf, “waktu itu yang kubutuhkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Bukan untukku.” Tatapannya tetap lurus. “Untuk memastikan… mereka tidak jatuh saat aku tak lagi ada.”
Kalimat itu pelan. Namun berat.
Ridho mengangguk kecil. “Baik, Pak.”
Beberapa detik berlalu.
“Satu lagi.”
Ridho kembali menoleh.
“Panggil Fahri.”
Tatapan Kaisyaf berubah. Lebih fokus sekarang. Lebih tajam.
Ridho memahami arah pembicaraan ini… bahkan sebelum dilanjutkan.
“Bapak ingin—”
“Ya.” Tidak ada ragu dalam suaranya. “Lebih cepat lebih baik.”
Napas Kaisyaf terdengar lebih dalam sekarang.
“Aku tidak tahu… berapa lama lagi aku bisa bertahan.”
Kalimat itu tidak dramatis. Justru karena itu… terasa lebih nyata.
Ridho diam.
“Selama ini,” lanjut Kaisyaf, “aku yang pegang semuanya.” Ia menatap Ridho. Lurus. “Tapi sekarang… aku harus mulai melepaskannya.”
Napasnya tertahan sejenak.
“Bukan cuma pekerjaan.”
Ridho tidak langsung menjawab. Ia tahu… yang sedang dilepaskan Kaisyaf bukan hanya itu.
“Bapak yakin Pak Fahri… siap?”
Kaisyaf terdiam sejenak. Lalu—
“Aku yang akan memastikan dia siap.”
Kalimat itu bukan harapan. Itu keputusan. Dan kali ini… terasa jelas.
Bahwa Fahri bukan lagi sekadar adik. Dia sedang… dipersiapkan. Untuk menggantikan posisi yang bahkan belum benar-benar hilang.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja diketuk dua kali.
“Masuk.”
Fahri mendorong pintu dan melangkah masuk. Langkahnya tidak tergesa, tapi juga tidak santai.
“Pak Ridho bilang Kakak nyari aku.”
Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia masih menatap berkas di depannya. Seolah memastikan satu hal terakhir sebelum benar-benar mengalihkan perhatian.
“Duduk," katanya singkat.
Fahri tidak langsung duduk. Tatapannya lebih dulu jatuh pada wajah pria di balik meja itu.
Sekilas… tidak ada yang berubah. Masih rapi. Masih tenang. Tapi entah kenapa… ada yang terasa berbeda.
Kaisyaf yang merasa diperhatikan akhirnya mengangkat wajahnya. “Kenapa lihat aku kayak gitu?” tanyanya datar, lalu kembali menatap berkas di hadapannya.
Fahri menyilangkan tangan di dada. Masih berdiri.
“Kakak lagi sakit?”
Kalimat itu keluar begitu saja. Singkat. Langsung.
Tangan Kaisyaf berhenti sepersekian detik di atas kertas. Namun hanya itu.
“Tidak,” jawabnya. Cepat. Terlalu cepat.
Fahri menghela napas pendek. “Kurang tidur?”
“Biasa," jawab Kaisyaf pendek.
Fahri tidak langsung menimpali. Ia melangkah sedikit lebih dekat.
"Kak, akhir-akhir ini kau bekerja terlalu --"
“Aku akan ke luar negeri beberapa waktu," potong Kaisyaf cepat.
Fahri langsung mengernyit. “Tiba-tiba?”
“Ada tender,” jawab Kaisyaf tenang. “Nilainya besar. Gak bisa diwakilkan.”
Fahri menatapnya lebih lama. “Berapa lama?”
Ada jeda singkat.
“Belum bisa ditentukan.”
Sunyi sebentar. Lalu Kaisyaf menutup map di depannya. Akhirnya menatap Fahri.
“Kantor pusat tetap jalan seperti biasa,” ucapnya datar. “Semua laporan langsung ke kamu. Ridho bantu koordinasi.”
Fahri tidak menyela.
“Khusus cabang Surabaya dan Makassar…” lanjutnya, “progressnya sudah aku tandai. Tinggal kamu lanjutkan sesuai timeline.”
Ia mendorong satu map ke arah Fahri.
“Vendor yang ini jangan diganti. Mereka sudah pegang draft final. Kalau ada revisi, kamu yang putuskan.”
Fahri mengernyit.
“Kamu juga pegang akses penuh ke rekening operasional mulai minggu ini,” tambah Kaisyaf. “Aku sudah instruksikan ke finance.”
Sekarang Fahri benar-benar diam.
“Ada beberapa kontrak yang belum aku tanda tangan,” lanjut Kaisyaf, nada tetap tenang. “Kalau aku belum balik, kamu selesaikan.”
Fahri menatapnya tajam.
“Sejak kapan Kakak jadi sedetail ini?”
Suara Fahri turun. Lebih pelan… tapi justru lebih menekan.
Tatapannya tidak lepas dari wajah Kaisyaf.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang seseorang tidak pergi karena berhenti mencintai, tapi karena ingin memastikan yang ditinggalkan tetap berdiri."...
..."Yang paling berbahaya bukan kehilangan, tapi saat seseorang mulai menyiapkan pengganti dirinya."...
..."Ia tidak sedang menyelamatkan dirinya, tapi sedang memastikan orang lain tidak ikut tenggelam bersamanya."...
..."Beberapa keputusan tidak dibuat untuk dimengerti, tapi untuk melindungi tanpa diketahui."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺