Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Perburuan di Ujung Dermaga
Suara sirine ambulans mulai terdengar di kejauhan, namun bagi Sean Nathaniel Elgar, suara itu hanya gangguan. Matanya berkilat dengan kegelapan yang belum pernah dilihat Lyra sebelumnya. Ia menatap mayat Gunawan Wijaya satu kali lagi, lalu beralih ke arah jendela yang hancur.
"Arsen, awasi Lyra dan Hana. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali timku!" perintah Sean dengan nada otoritas mutlak.
Tanpa menunggu jawaban, Sean melesat keluar. Mobil sport hitamnya menderu di halaman klinik, bannya mencit keras saat ia memacu kendaraan itu keluar menuju jalan raya, mengejar mobil Vasco yang terlihat di ujung jalan.
Beberapa menit setelah Sean pergi, dua mobil mewah lainnya masuk ke halaman klinik dengan terburu-buru. Edward Elgar dan Kirana turun dengan wajah yang sangat pucat. Kirana langsung berlari masuk ke dalam paviliun, diikuti oleh Edward yang tampak gemetar.
"Lyra! Arsen!" teriak Kirana.
Di dalam ruangan yang bersimbah darah, Kirana terpaku melihat pemandangan tragis itu. Namun, matanya segera tertuju pada sosok pria tinggi yang berdiri di samping Lyra. Pria itu, Arsen, perlahan memutar tubuhnya.
"Ibu..." bisik Arsen, suaranya yang biasanya dingin mendadak serak.
Kirana menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika. Ia berlari dan menghambur ke pelukan Arsen, mendekap putra kandungnya yang selama puluhan tahun ia sembunyikan di Singapura demi melindunginya dari Martha.
"Anakku... Arsen... kau di sini," isak Kirana, ia memeluk Arsen seolah takut pria itu akan menghilang lagi.
Arsen membalas pelukan ibunya dengan sangat erat. Di tengah bahunya yang bidang, Kirana merasa aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Arsen mencium kening ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan. Di sisi lain, Edward Elgar berdiri terpaku, menatap Arsen—putra kandungnya—dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah dan kerinduan yang amat dalam.
"Arsen... maafkan aku," gumam Edward lirih.
Arsen melirik Edward sejenak, ada kilatan emosi di matanya, namun ia menahannya. Ia melepaskan pelukan ibunya perlahan. "Ibu, Ayah... tolong jaga Lyra dan Ibu Hana di sini. Polisi dan tim medis sedang dalam perjalanan."
"Kau mau ke mana, Arsen?" tanya Lyra sambil memegang tangan kakaknya itu.
"Sean sendirian mengejar Vasco. Pria itu tidak terkendali sekarang. Jika aku tidak menyusul, dia bukan hanya akan membunuh Vasco, tapi dia juga bisa menghancurkan dirinya sendiri dalam kemarahan itu," Arsen mengambil kunci motor dari saku jaket taktisnya.
Arsen menoleh ke arah Edward, memberikan tatapan yang sangat serius. "Jaga mereka, Tuan Elgar. Jangan biarkan satu pun pengikut Martha atau Vasco menyentuh mereka lagi."
Tanpa menunggu balasan, Arsen berlari keluar. Mesin motor trail-nya menderu kencang, membelah hujan yang mulai turun deras, menyusul jejak Sean menuju kawasan pelabuhan tua Jakarta.
Di jalanan menuju dermaga, Sean memacu mobilnya hingga kecepatan maksimal. Di depannya, mobil SUV perak milik Vasco meliuk-liuk menghindari kendaraan lain. Sean tidak peduli pada keselamatan dirinya. Ia menabrakkan bagian depan mobilnya ke bumper belakang Vasco berkali-kali, mencoba memaksanya keluar dari jalan.
"Kau tidak akan lolos, Vasco!" teriak Sean di dalam kemudi yang bergetar.
Hingga akhirnya, di sebuah area dermaga yang sepi dan dipenuhi peti kemas, mobil Vasco tergelincir dan menghantam tumpukan kayu tua. Vasco merangkak keluar dengan napas tersengal, masih mendekap tas berisi dokumen aset Wijaya Group yang ingin ia curi.
Sean turun dari mobilnya, berjalan perlahan dengan pistol yang terarah lurus. Wajahnya basah oleh hujan, namun matanya tetap fokus membidik. "Berdiri, Vasco. Berdiri dan hadapi aku seperti pria, bukan seperti pengecut yang menembak pamannya sendiri dari belakang."
Vasco tertawa getir sambil mencoba berdiri, tangannya yang berdarah meraih pistol di pinggangnya. "Kau pikir kau pahlawan, Sean? Kau hanya putra dari seorang pembunuh! Darah Martha ada di nadimu! Kau dan aku sama saja!"
"Mungkin benar," desis Sean, jarinya mulai menarik pelatuk. "Itulah kenapa aku tahu persis betapa menyakitkannya peluru yang akan menembus jantungmu nanti."
Tepat saat Sean akan menembak, sebuah sorot lampu motor menyilaukan pandangan mereka. Arsen tiba, menghentikan motornya dengan manuver tajam dan langsung turun dengan senjata teracu.
"Sean! Jangan lakukan di sini! Polisi butuh dia hidup untuk membongkar jaringan Martha!" teriak Arsen di tengah deru hujan.
"Dia membunuh Gunawan di depan Lyra, Arsen! Dia membuat Hana trauma lagi!" raung Sean tanpa menurunkan senjatanya. "Pria ini harus mati!"
Arsen melangkah mendekati Sean, menempatkan dirinya sedikit di depan agar Sean tidak langsung menembak. "Jika kau membunuhnya sekarang tanpa bukti yang sah, posisimu akan terancam, dan Lyra akan kehilangan suaminya. Kau ingin meninggalkannya sendirian lagi?"
Mendengar nama Lyra, tangan Sean sedikit bergetar.
Vasco yang melihat celah itu, mencoba melepaskan tembakan ke arah Arsen.
"ARSEN! AWAS!" teriak Sean.
DOR!
Suara tembakan meletus, bergema di antara peti kemas yang dingin. Kali ini, bukan hanya soal harta atau rahasia, melainkan soal nyawa yang dipertaruhkan di bawah guyuran hujan badai.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...