Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
10 peserta sudah ada di titik kumpul. Gian dan juga Nisa sibuk mengeluarkan barang dari bagasi mobil. Saat hendak berangkat tadi Gian mengusir Hari yang hendak menjemput Nisa dengan alasan Ibunya telah menitipkan Nisa padanya.
"Kita ada tracking sekitar 1 jam buat sampai ke tempat camping, tracknya cukup sulit karena musim hujan tanahnya jadi licin, jadi kalian berhati-hati dalam melangkah." Ucap guide yang memimpin grup Hati dan teman-temannya.
"Happy gak?" Bisik Hari pada Nisa, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Gian yang berdiri tepat di belakang Nisa.
Nisa mengangguk pelan sambil tersenyum.
Gian menahan geram karena dia mencium aroma modus dari acar camping yang Hari buat.
Modus nya kejauhan banget sampe ngajak banyak orang. Batin Gian.
.
.
Sampai di perjalanan Arabela terus mengekori Gian, sedangkan di hadapan Gian ada Hari yang terus sigap menjaga Nisa karena khawatir terpleset karena jalur yang licin.
"Hati-hati Nis, aku gak mau sampai kamu luka."
"Iya kak, tenang aja."
"Kamu tenang, aku yang gak tenang." Sahut Hari, dan itu membuat Gian kepanasan.
Kenapa gue emosi banget sama ini orang?! Modus banget! Batin Gian.
"Hari, sepertinya Arabela yang harus di khawatirkan, dia ringkih sekali." Gian menarik tubuh Hari dengan memegang kedua pundaknya agar bertukar posisi dengannya, sehingga saat ini Gian yang berada tepat di belakang Nisa dan juga guide yang berjalan paling depan.
Nisa melihat ke belakang bertepatan Gian yang sedang memandang ke arahnya.
"Nyari siapa? Hari lagi sama Bela." Ucap Gian ketus.
Nisa langsung mengedikan kedua bahunya lalu berjalan lebih cepat saat mengetahui bahwa di belakangnya adalah Gian.
.
.
Sampai di tempat untuk mendirikan tenda, pemandangannya cukup indah ... Siang hari dengan pemandangan alam yang menakjubkan, dan juga malam dengan city lightnya yang mempesona.
Beberapa pria sedang sibuk membangun tenda, dan para wanita sibuk berfoto di beberapa spot, terkecuali Nisa ... Dia sibuk mengisi perutnya dengan bekal yang sudah di siapkan oleh Lulu.
Gian melirik sebentar ke arah istrinya itu, matanya lalu melihat sekitar, semua orang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing ... begitu juga Hari yang sedang mendirikan tenda.
Di rasa situasi aman, kakinya melangkah mendekat pada Nisa.
"Suamimu lapar." Ucap Gian spontan, sontak saja Nisa langsung panik di buatnya ... Karena yang Ranti dan Hati tau mereka adalah saudara sepupu, terkecuali Arabela.
"Sshhttt ... berisik! Nanti ada yang dengar!" Kata Nisa dengan kesal."
"Cepatlah, aku lapar."
"Kenapa tadi tidak minta pada Ibu?!"
"Aku tidak di siapkan, semenjak kau tinggal di rumah ... Kan aku bukan lagi anaknya sekarang!"
Haha rasakan.
Nisa hanya diam sambil menahan senyum dengan pandangan ke arah langit.
"Hey, mana?" Pinta Gian lagi.
"Ish ... " Dengan raut wajah kesal, Nisa membuka kotak makannya dan menyerahkan satu gulung kebab. "Ini!"
"Perutku adalah tanggung jawabmu disini." Ucapnya sambil menyuap kebab sedikit demi sedikit ke mulutnya lalu berjalan meninggalkan Nisa untuk lanjut mendirikan tenda.
Beberapa menit berlalu, tenda pun sudah siap didirikan.
"Hey Nisa." Panggil Ranti dengan Arabela yang ada di sampingnya.
Nisa yang sedang menikmati pemandangan seorang diri pun langsung terperanjat, "I-iya kak."
"Kita satu tenda ya, Aku ... kamu sama Bela."
"I-iya kak, warna pink kan?"
"Iya, ayo masukin barangnya ... Biar kita tata."
Nisa pun langsung membawa tentengannya ke arah tenda, mengikuti langkah kaki Ranti dan juga Bela.
"Ranti ... Aku tidur di pinggir ya." Ucap Bela saat mereka sedang mengatur posisi tidur.
"Kayaknya aku deh Bel yang di pinggir."
"Aku gak bisa kalau tidur deket orang asing, apalagi dia ... kan kita gak tau dia ada penyakit menular atau apa gitu." Ucap Bela dengan tatapannya mengarah pada Nisa.
Nisa tersenyum gemas, tak tahan untuk tidak bersuara dengan apa yang sudah Bela katakan tentangnya. "Aku? Yang kamu maksud orang asing adalah aku? Mohon maaf Kak Bela yang terhormat ... Aku tidak mempunyai penyakit seperti yang kamu tuduhkan."
"Bela apaan sih?!" Kata Ranti. "Nisa sori, kamu jangan dengerin Bela ya ... Kita harus have fun disini, kasian Hari udah bikin acara ini."
Bela langsung melipat kedua tangannya kesal saat Ranti sama sekali tidak membelanya.
Sore harinya, mereka masak bersama ... ada yang berfoto-foto, mengobrol dan sibuk menyediakan makanan. Hari dan Nisa adalah orang yang termasuk sibuk dengan beberapa bahan masakan, sedangkan Gian masih sibuk mencari sinyal pada ponselnya, karena dia harus memantau pekerjaannya dari jarak jauh.
"Ini saus apa kak?" Tanya Nisa saat memegang botol dengan cairan coklat.
"Barbeque Nis, suka kan?"
Nisa mengangguk, "Suka kok, tapi ini baru pertama kali kayaknya."
"Oh iya ... Aku lupa kalau kamu dari desa, disana pasti jarang kan ada saus barbeque?" Kata hari.
"Iya kak, aku taunya saus sambal." Kata Nisa terkekeh.
Bela tertarik dengan apa yang sudah dia dengar saat tak sengaja melewati Hari dan juga Nisa. "Ng ... Sori, tadi apa kata kamu Har, Nisa dari desa?"
"Iya, kenapa?"
Bela menahan tawanya, tapi itu sangat terlihat jelas oleh Nisa seperti meledek. "Ada masalah kak?" Tanya Nisa.
"Haha engga kok engga." Ucap Bela sambil melanjutkan langkah kakinya menuju Ranti sambil terkekeh.
Hari melihat ke arah Nisa, tangannya terulur menepuk pelan bahunya. "Jangan di masukin hati, si Bela memang gitu orangnya."
"Belagu." Celetuk Nisa.
Matahari terbenam, akhirnya masakan sudah siap ... Tak tahu malu Ranti dan Bela yang jelas tidak membantu dalam hal apapun tiba-tiba merengek minta di percepat persiapan makanan.
"Lapar banget nih Nis, ayolah." Rengek Ranti.
Gian memang tak membantu juga, tapi pria itu tidak menyusahkan ... Dia hanya duduk diam dan memantau dari beberapa meter.
"Ti, kamu bisa bentangin tikar di dekat api unggun, minta tolong Bela juga." kata Hari.
"Tadi aku udah coba kok, tap kita tetep gak bisa ... Ya maaf ... Namanya juga gak biasa, biasa tinggal makan."
"Disini Nisa yang baru pertama kali camping, tapi keliatannya kamu dan Bela deh yang gak pernah rasain camping." Celetuk Hari kesal.
Tak menyahut apapun karena memang apanya g di katakan Hari benar, Ranti dan Bela hanya diam sambil terus memperhatikan gerak gerik Nisa.
"Kak Hari betul, daripada kalian mengawasiku seperti ini lebih baik kalian membantu apa yang kalian bisa, itu kan bisa menghemat waktu."
"Loh, kamu kok berani banget sih nyuruh kita? Kamu kan bukan siapa-siapa disini, cuma sepupu Gian. Itupun kita gak jelas ... Mana ada sepupu Gian dari desa, palingan Tante Lulu kasian terus mungut kamu jadi anak, iya kan?" Kata Ranti yang mulai merasa kesal.