Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.
Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.
Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:
Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.
Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam sudah lewat tengah, tapi kota asing itu tetap hidup. Lampu-lampu neon menari di udara lembab, sementara suara kendaraan dan keramaian tengah malam bergema dari kejauhan.
Di sebuah rumah kontrakan sederhana penuh aroma obat antiseptik, Lyra berjalan mondar-mandir seperti ayam kehilangan sandal.
Damian duduk di kursi kayu, tubuhnya tegang, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Tapi lututnya sedikit gemetar—tanda ia sebenarnya menahan nyeri luar biasa.
Kaos hitam yang tadi dipakai Lyra kini ia sobek dan jadikan perban darurat di dada Damian. Baju itu jelas kebesaran untuk dijadikan perban, tetapi Lyra tidak peduli.
“Kenapa kamu nggak ke rumah sakit aja?” tanya Lyra sambil mensterilkan pisau kecil. “Atau panggil ambulans kek. Ini negara yang lumayan waras, tau.”
Damian menatapnya dingin. “Karena mereka akan datang mencari.”
“Ya, tapi mereka juga nyari kamu ke sini,” balas Lyra. “Kamu bawa masalah sepanjang jalan.”
“Dan kau ikut.”
Lyra mendengus. “Kesannya aku yang ngekor, padahal kamu yang pingsan duluan.”
Damian menahan jeda sesaat, tatapannya jatuh pada luka robek di bahunya. Bukan pingsan… Dia hanya kehilangan keseimbangan karena darah yang terlalu banyak keluar. Tapi Lyra tak perlu tahu itu.
Lyra kembali mendekat dengan pisau kecil.
“Jangan bergerak.”
“Apa yang kau lakukan?” Damian bertanya datar.
Lyra menatapnya dengan serius. “Aku harus keluarkan pecahan peluru yang nyangkut di jaringan otot kamu. Kalau nggak, kamu bakal infeksi dan mati besok pagi.”
“Tidak akan.”
Lyra menyipitkan mata. “Kamu ngomong gitu karena percaya diri atau karena kamu nggak mau terlihat lemah?”
Damian tidak menjawab.
Lyra mendecak sebal. “Ya udah, diem. Aku mulai.”
Ia menyibakkan kain dan menaruh jarinya di sekitar luka Damian. Pria itu tidak bergerak meski napasnya menahan.
Pisau menyentuh kulit.
Damian tanpa sadar meremas sandaran kursi.
“Kalau sakit, bilang,” ucap Lyra pelan.
“Aku tidak—”
Lyra menekan titik luka, dan Damian menggertakkan gigi. Rahangnya menegang keras.
“—merasa… sakit.” Ia memaksa kalimat itu keluar.
“Yakin? Soalnya tampang kamu kayak orang nahan kentut.”
Damian menoleh cepat, menatap Lyra dengan ekspresi yang… sulit didefinisikan. Terkejut sekaligus tersinggung.
“Kau selalu berbicara seperti itu?”
“Cuma ke orang yang tidak tau cara istirahat dan suka mati-matian sok kuat,” jawab Lyra tanpa mengangkat wajah.
Ia menggali pecahan peluru yang tertanam. Darah mengalir, tetapi Lyra cekatan, terlatih—jelas ia pernah melakukan hal seperti ini lebih dari sekali.
Tatapan Damian meruncing.
“Siapa kau sebenarnya?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Lyra berhenti sejenak. “Lyra Arsetha. Tadi sudah aku kasih tau kan.”
“Bukan itu.” Suara Damian lebih rendah. “Kemampuanmu. Keberanianmu. Reaksimu saat bertarung. Itu bukan milik gadis biasa.”
Lyra mendadak tersenyum, tapi senyum itu lebih seperti pelindung.
“Kalau aku bilang aku cuma cewek bar-bar dari ujung kampung, kamu percaya nggak?”
“Tidak.”
Lyra mendecak pelan. “Ya udah. Anggap aja aku punya masa kecil yang ribet dikit.”
Damian mempelajarinya dalam diam. Cara Lyra menutup diri halus, bukan bohong… lebih seperti menyembunyikan luka lama yang tidak ingin dibuka.
Akhirnya Lyra menarik pecahan peluru kecil, mengangkatnya di depan mata Damian.
“Tuh. Keluar juga.”
Damian menghela napas perlahan.
Lyra menyeka darah dengan lembut, jauh lebih lembut dari gaya bicaranya. Lalu ia menempelkan perban baru di bahu Damian.
“selesai,” katanya sambil menjentikkan pecahan itu ke tempat sampah. “Kalau kamu bergerak terlalu banyak, lukamu bakal terbuka lagi.”
Damian tidak menjawab. Ia hanya mengamati Lyra yang sibuk merapikan meja alat seadanya itu. Gerakan gadis itu cepat, terlatih, dan efisien.
“Sebenarnya…” Damian akhirnya membuka suara, tenang namun lebih dalam. “Aku tidak butuh bantuanmu.”
Lyra menoleh, kedua tangan berada di pinggang. “Oh? Mau aku cabut lagi perbannya?”
Damian terdiam.
Lyra tersenyum kecil. “Kamu boleh sok kuat, Damian. Tapi kamu manusia, bukan cyborg.”
Ia melangkah mendekat sampai berdiri tepat di depannya. Tanpa ragu, ia menepuk pipi Damian satu kali—berani dan tidak takut.
“Tapi ada satu hal yang harus kamu tau…”
Tatapan mereka bertemu.
Dingin bertemu api.
“…aku nggak suka ninggalin orang terluka di belakang.”
Damian menatap Lyra lama.
Ada sesuatu di balik tatapan itu—tidak hangat, tapi… penasaran.
Dan bagi seorang pria seperti Damian Alveros, rasa penasaran saja sudah tanda besar.
“Terima kasih,” katanya akhirnya, datar namun jujur.
Lyra mengangkat bahu. “Sip. Sekarang giliran kamu.”
“Untuk apa?”
“Kau utang penjelasan.”
Damian membeku sesaat.
Lyra menatap lurus, tidak main-main. “Siapa orang-orang yang mengejar kamu?”
Hening panjang.
Damian menghela napas ringan.
“…Mereka bukan orang yang bisa kau singghng.”
“Terus kenapa aku ternyata singgung mereka?”
Damian terdiam beberapa detik lagi, hingga akhirnya ia berkata—
“Namaku… Damian Alveros.”
Lyra berkedip. “Iya, aku tau. Tadi aku yang nyebut.”
“Tidak. Lengkapnya.”
Sekejap, udara di ruangan berubah lebih dingin.
“Damian Alveros,” ucapnya pelan. “Pemimpin keluarga Alveros… dan kepala organisasi yang menguasai setengah jaringan bawah tanah Eropa Timur.”
Lyra membeku.
Damian menatap matanya langsung. “Dan sekarang, kau terlibat di dalamnya.”
Hening.
Lalu Lyra menarik napas panjang, menaruh tangan di pinggang.
“…pantesan kau banyak musuh.”
Damian hampir mengerutkan alis. Ia menunggu reaksi panik, takut, atau marah.
Tapi Lyra hanya melanjutkan:
“Ya udah. Mau makan mie instan dulu nggak?”
Damian menatapnya lama, seperti tidak percaya seseorang bisa bereaksi seperti itu setelah mengetahui identitasnya.
“Aku tidak—”
“Diam. Badan kamu butuh kalori. Kamu makan dulu sebelum aku paksa.”
Untuk pertama kalinya, Damian tidak tahu harus berkata apa.
Dan untuk pertama kalinya… ia merasa bahwa malam ini, ia bertemu seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada musuh-musuhnya.
Gadis bar-bar yang tidak takut mafia.
Gadis yang justru membuatnya berhenti bernapas beberapa detik.
Lyra Arsetha.
Gadis yang seharusnya hanya menjadi orang asing di negara asing.
Tapi kini, Damian tahu…
Ia sudah terlibat terlalu jauh.
---