Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pikiranku mendadak kosong. Pertanyaan Rasya adalah sebuah tamparan yang paling menyakitkan hari ini. Apa yang Baskara sukai? Apa hobinya selain bekerja? Apa hal yang bisa membuatnya tertawa lepas?
Aku tertegun. Selama dua tahun kami berpacaran, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku sibuk dengan kuliahku, sibuk dengan teman-temanku, bahkan sibuk dengan pria lain. Aku menerima semua kebaikannya tanpa pernah sekali pun benar-benar melihatnya. Aku tidak tahu jenis musik favoritnya, aku tidak tahu mimpi-mimpinya, bahkan aku tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana harinya berjalan.
Aku bersamanya selama dua tahun, tapi aku adalah orang asing yang paling dekat dengannya.
"Mbak Aruna?"
Suara Rasya mengagetkanku, memutus benang ingatan yang berantakan di kepalaku. Aku tersentak kecil, hampir saja menumpahkan kopi yang bahkan belum kusentuh.
"Mbak? Mbak nggak apa-apa?" Rasya menatapku dengan kerutan cemas di dahi cantiknya. "Wajah Mbak pucat sekali. Apa pertanyaan saya aneh?"
"Ah, tidak... maaf, Rasya," aku berdehem, mencoba menetralkan getaran di suaraku. "Aku hanya... sedang mencoba mengingat-ingat."
Aku menarik napas panjang, perih di dadaku semakin menjadi-jadi saat menyadari kenyataan pahit ini. "Jujur saja, saat kuliah dulu kami tidak sedekat itu. Dia memang orang yang sangat tertutup. Sepertinya, aku tidak tahu banyak hal tentang apa yang benar-benar dia sukai."
Aku menjeda kalimatku, menatap mata Rasya yang berkilat penuh ketulusan. "Tapi satu hal yang aku tahu... Baskara hanya butuh seseorang yang tidak pernah pergi, Rasya. Dia butuh kepastian bahwa dia tidak akan dibuang lagi. Sesuatu yang... mungkin tidak pernah ia dapatkan dari orang-orang di masa lalunya."
Rasya terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Seseorang yang tidak pernah pergi ya? Terima kasih, Mbak. Itu sangat membantu. Aku akan memastikan dia tahu bahwa aku tidak akan ke mana-mana."
Tepat saat itu, ponsel Rasya berdering. Ia melihat layarnya dan wajahnya langsung berseri. "Baskara menelepon. Sebentar ya, Mbak."
Aku hanya bisa terdiam melihatnya menjawab telepon dengan nada manja yang penuh kebahagiaan, sementara aku di sini, tenggelam dalam lubang hitam bernama penyesalan yang baru saja kugali lebih dalam.
"Bas? Iya, aku masih di kafe seberang sama Mbak Aruna. Kamu mau ke sini?" Suara Rasya terdengar renyah, kontras dengan jantungku yang mendadak berpacu liar.
Aku ingin segera berdiri, membayar kopi yang belum kusentuh, dan lari sekencang mungkin. Namun, tubuhku seolah dipaku ke kursi. Hanya dalam hitungan menit, sosok tinggi itu muncul di pintu kaca kafe. Baskara. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang sama, namun sorot matanya yang tenang mendadak berubah tajam saat menangkap sosokku duduk di hadapan kekasihnya.
"Lama sekali teleponnya tidak diangkat, Sya," ucap Baskara sambil menghampiri meja kami. Ia sama sekali tidak menoleh padaku, seolah aku hanyalah bagian dari dekorasi kafe yang tak kasat mata.
"Maaf, Bas. Tadi aku asyik mengobrol dengan Mbak Aruna," Rasya menarik kursi di sebelahnya, mempersilakan Baskara duduk. "Ternyata Mbak Aruna satu kampus sama kamu dulu, lho. Kamu nggak pernah cerita kalau punya teman secantik dia."
Baskara duduk, namun aura dingin yang ia bawa membuat suhu di sekitar meja kami terasa turun drastis. Ia menyesap air putih milik Rasya, lalu akhirnya melirikku—sebuah tatapan yang penuh dengan peringatan dan kemuakan yang tertahan.
"Teman?" Baskara mengulang kata itu dengan nada getir yang hanya bisa kupahami. "Aku tidak merasa kami berteman sedekat itu saat kuliah, Sya. Aruna... dia punya dunianya sendiri yang sangat sibuk. Aku bahkan ragu dia ingat wajahku kalau kami tidak sengaja sekantor sekarang."
Kalimat itu seperti sembilu. Dia sedang menelanjangi ketidakpedulianku di masa lalu tepat di depan orang yang paling mencintainya sekarang.
"Ah, masa sih? Tapi tadi Mbak Aruna kasih aku saran yang bagus banget buat ulang tahun kamu," sela Rasya tanpa dosa, mencoba mencairkan suasana.
Baskara meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. "Saran apa?"
"Dia bilang, kamu cuma butuh seseorang yang nggak akan pernah pergi. Benar kan, Bas?" Rasya menggenggam tangan Baskara di atas meja.
Suasana mendadak senyap. Aku melihat rahang Baskara mengeras. Ia menatap genggaman tangan Rasya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya padaku. Matanya memerah, menyimpan badai luka yang selama satu tahun ini ia simpan rapat.
"Seseorang yang tidak akan pernah pergi?" Baskara terkekeh sinis, suaranya rendah namun menusuk. "Saran yang sangat ironis, bukan? Datang dari seseorang yang bahkan tidak tahu caranya berpamitan sebelum menghilang."
Aku menunduk dalam, meremas ujung rokku hingga kusut. Rasya tampak bingung, matanya bergantian menatap kami berdua. "Bas? Kamu bicara apa?"
"Bukan apa-apa, Sya," Baskara bangkit berdiri, menarik lembut tangan Rasya agar ikut berdiri. "Ayo kembali ke kantor. Pekerjaanku masih banyak. Dan untuk Mbak Aruna..." ia menjeda, menatapku dengan kebencian yang murni. "...terima kasih atas 'sarannya'. Tapi sepertinya kamu salah orang. Aku tidak butuh saran dari seseorang yang bahkan tidak pernah tahu apa yang aku butuhkan selama dua tahun."
Mereka melangkah pergi, meninggalkan aku yang mematung dengan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Di meja itu, aku menyadari bahwa Baskara bukan hanya sudah tidak mencintaiku; dia bahkan sudah tidak sudi menerima belas kasihanku.