"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Makasih banyak ya, Bin. Masuk dulu yuk, Bunda tadi mau buat teh jahe," ajakku pelan, mencoba menebus rasa bersalahku.
Bintang menggeleng lembut, senyumnya masih sejuk seperti biasa meski aku tahu hatinya mungkin sedang tidak karuan. Ia melirik jam tangan digitalnya sejenak.
"Lain kali ya, Fis. Ini sudah sore, aku harus langsung pulang. Kamu tahu kan besok Pak Herman ada ulangan harian Fisika? Aku belum sempat menyentuh buku catatan sama sekali karena tadi kepikiran kamu terus," ucapnya jujur, tanpa bermaksud menyindir.
Aku terenyuh. Di tengah badai yang kubuat sendiri, Bintang masih menjadikanku prioritas di atas nilai pelajarannya. "Sori ya, Bin. Gara-gara gue lo jadi repot."
"Nggak repot kok. Yang penting kamu istirahat, jangan lupa diminum vitaminnya. Fokus buat besok saja, jangan pikirkan yang lain dulu," Bintang mengacak pelan puncak kepalaku—kebiasaan yang tadi pagi sempat kuhindari, tapi kali ini kubiarkan karena aku memang butuh pegangan. "Aku pamit ya. Salam buat Bunda."
Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggung Bintang yang berjalan menuju gerbang. Ia menyalakan motornya dengan tenang, memberikan lambaian tangan kecil sebelum hilang di belokan komplek.
Kepergian Bintang meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Aku menunduk menatap plastik obat di tanganku. Sosoknya adalah kontras murni dari Guntur yang penuh rahasia atau Radit yang penuh dendam. Bintang adalah rumah yang aman, tapi aku justru lebih sering menjadikannya tempat singgah saat aku terluka.
Aku menutup pintu kayu itu rapat-rapat, memutar kunci hingga terdengar bunyi klik yang seolah mengunci segala kebisingan dari luar. Aku bersandar sejenak di balik daun pintu, mendekap plastik obat dari Bintang di dadaku. Rasanya hangat, jauh lebih menenangkan daripada tiket pertandingan yang kini sudah remuk di saku rokku.
Aku berjalan pelan menuju meja makan, meletakkan vitamin dan minuman elektrolit itu dengan hati-hati. Di sana, Bunda sudah berdiri sambil membawa dua cangkir teh jahe yang uapnya masih mengepul tipis.
Bunda menatap plastik di meja itu, lalu beralih menatapku. Beliau tidak bertanya siapa yang datang, tidak juga menuntut penjelasan tentang mataku yang sembab. Bunda hanya tersenyum hangat—jenis senyum yang seolah mengatakan bahwa beliau tahu segalanya tanpa aku perlu bersusah payah merangkai kata.
"Bintang itu anak yang baik ya, Fis," ujar Bunda lembut sambil menyodorkan satu cangkir teh ke arahku. "Dia tahu kapan harus datang dan kapan harus memberi ruang. Jarang ada orang yang mau repot-repot membawakan obat di saat dia sendiri punya urusan penting."
Aku menyesap teh jahe itu perlahan. Rasa hangatnya menjalar hingga ke kerongkongan, sedikit mencairkan rasa sesak yang sejak tadi menyumbat di dada. "Iya, Bun. Bintang selalu baik. Terlalu baik sampai Fis merasa nggak pantas buat dibantu."
"Nggak ada orang yang nggak pantas buat kebaikan, Sayang," Bunda mengusap punggung tanganku. "Yang ada hanya orang yang terlalu sibuk melihat ke arah yang salah, sampai lupa kalau di dekatnya ada sesuatu yang jauh lebih berharga."
Aku tertegun. Kalimat Bunda terasa seperti sindiran halus namun telak. Aku terlalu sibuk memperhatikan Guntur yang berkhianat, terlalu fokus pada Radit yang penuh dendam, dan terlalu ambisius membuktikan diri pada Alan, sampai aku hampir mengabaikan ketulusan Bintang.
"Sudah, sekarang kamu naik ke atas. Mandi, ganti baju, lalu buka buku sejarah-mu. Jangan biarkan perhatian Bintang sia-sia hanya karena kamu masih memikirkan orang-orang di lapangan bola itu," perintah Bunda dengan nada yang tidak bisa dibantah namun penuh kasih.
Aku mengangguk patuh. Aku membawa plastik obat itu ke kamar. dan merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk menatap langit-langit kamar
Dua minggu ini, hidupku berputar di antara deretan buku referensi dan mosi debat yang rumit. Aku sengaja membenamkan diri dalam tivitas yang menguras otak agar tidak ada celah bagi bayang-bayang Guntur untuk masuk. Benar kata Alan, kecerdasan adalah senjata terbaik untuk membuat lawan mentalnya ciut.
Di koridor sekolah, aku bukan lagi Afisa yang menunduk saat berpapasan dengan geng Kaila. Aku berjalan tegak, melewati mereka seolah mereka hanyalah dekorasi dinding yang tidak penting. Prestasiku di kelas pun melonjak; ulangan sejarah Pak Danu kemarin berhasil kulalui dengan nilai hampir sempurna, berkat vitamin dan semangat tenang dari Bintang.
Sore ini, aku dan Alan duduk di pojok perpustakaan yang sepi. Alan sedang sibuk membedah mosi tentang "Etika Teknologi", sementara aku menyusun poin-poin sanggahan.
"Fis, lo sadar nggak?" Alan tiba-tiba bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Radit belakangan ini sering sliweran di depan ruang OSIS pas kita latihan. Padahal anak IPA kayak dia biasanya anti main ke blok IPS."
Aku menghentikan ketikanku sejenak. "Mungkin dia cuma mau cari gara-gara sama Guntur lagi. Gue nggak peduli."
"Gue rasa bukan soal Guntur," Alan menyeringai tipis, lalu menunjuk ke arah pintu perpustakaan dengan dagunya.
Aku menoleh. Di ambang pintu, Radit berdiri dengan gaya khasnya—seragam yang tidak rapi dan tatapan yang selalu meremehkan. Namun, saat matanya bertemu denganku, ekspresinya melunak sedikit. Dia tidak masuk, hanya menyandarkan bahunya di kusen pintu seolah sedang mengawasiku.
"Dia kayaknya masih penasaran kenapa lo lebih milih debat daripada nonton dia tanding bola lagi," gumam Alan pelan.
"Gue milih masa depan gue, Lan. Bukan milih di antara mereka," sahutku tegas, kembali menatap layar komputer.
Tepat saat itu, sebuah pesan masuk di grup kelas. Undangan ulang tahun Kaila besok malam. Di bawah undangan itu, Kaila menulis: "Wajib dateng ya semua! Ada pengumuman penting dari Guntur & Fita. Jangan sampai ketinggalan drama paling romantis tahun ini!"
Aku menarik napas panjang. "Pengumuman penting", ya? Semua orang di sekolah sudah tahu itu kode untuk peresmian hubungan mereka.
"Besok malam acara Kaila," ujar Alan, kali ini dia menutup laptopnya dan menatapku serius. "Lo tahu kan, kalau lo nggak datang, mereka bakal mikir lo masih kalah. Tapi kalau lo datang, lo bakal liat sesuatu yang mungkin bakal bikin lo pengen hancurin meja."
Aku terdiam. Di saku tas, masih ada pulpen pemberian Bintang dan di hadapanku ada tantangan dari Alan. Aku tidak ingin prestasiku turun, tapi aku juga tidak ingin terlihat seperti pengecut yang bersembunyi di balik buku.
"Gue bakal datang," kataku pelan namun tajam. "Tapi bukan sebagai penonton drama mereka. Gue datang buat nunjukin kalau 'bayangan' Guntur yang dulu, sekarang udah punya cahayanya sendiri."
Alan menyeringai puas. "Itu baru rekan tim gue. Tapi inget, besok sore kita tetap latihan dulu di kafe depan. Jangan telat."
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2