Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.
Semua orang mengira ia telah mati.
Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.
Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Manusia biasa tentu tidak dapat hidup hingga usia seratus tahun. Namun, ketika kekuatan tenaga dalam seseorang mencapai tingkat tertentu, hidup ratusan tahun bukanlah hal yang mustahil. Konon, begitu seseorang menembus Alam tenaga dalam Raja, usia hidupnya bisa mencapai ribuan tahun.
Setelah mendengar penjelasan kakeknya, Arka merenung sejenak, lalu merasa tercerahkan. Tak heran Perguruan Wijaya tiba-tiba berinisiatif mengirim orang. Rupanya, karena urusan semacam ini. Tampaknya Tetua Bayu Wijaya yang telah wafat masih memiliki kedudukan tertentu di Perguruan Wijaya, sehingga keinginannya dihormati. Ia juga akhirnya mengerti mengapa Nata Wijaya mengatakan bahwa hal ini tidak ada kaitannya dengan mereka.
“Memilih kandidat paling berbakat untuk dibawa kembali ke Perguruan Wijaya untuk dibina”… mustahil kandidat itu ada hubungannya dengan Arka.
Namun, jelas bahwa setelah mendengar kabar ini, batin para tetua lain di Keluarga Wijaya pasti bergolak hebat. Dibawa kembali ke Perguruan Wijaya untuk dibina—gagasan macam apa itu? Jika putra atau cucu mereka terpilih dan dibawa ke Perguruan Wijaya, bukankah itu seperti cacing tanah yang seketika berubah menjadi naga emas yang melayang di antara awan? Seluruh keluarga mereka akan ikut terangkat derajatnya. Bukan hanya di Keluarga Wijaya, bahkan di seluruh Kota Tirta Awan, mereka bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa takut siapa pun. Siapa pun yang berani membantah, cukup menyebut dua kata “Perguruan Wijaya”, bahkan penguasa kota pun takkan berani bersuara.
Wajah Nata Wijaya tampak benar-benar tenang, tetapi kekecewaan yang ia sembunyikan dengan susah payah tetap tak luput dari pandangan Arka. Di dalam Keluarga Wijaya, tidak ada seorang pun yang tidak mendambakan Perguruan Wijaya. Bahkan Nata Wijaya di masa mudanya pun demikian. Dan kini, ketika Perguruan Wijaya sendiri datang, ini jelas merupakan kesempatan terbaik untuk mendekat, karena inilah saat di mana mereka dapat berinteraksi langsung dengan orang-orang Perguruan Wijaya. Semua anggota Keluarga Wijaya menyimpan secercah harapan. Hanya Nata Wijaya yang bahkan tak berani berharap, karena tidak mungkin Arka-lah orang yang akan dipilih oleh Perguruan Wijaya.
Arka membuka mulut, ingin menghibur kakeknya. Namun, setelah berpikir cukup lama, ia tak menemukan satu kata pun yang bisa diucapkan. Kondisi pembuluh tenaga dalamnya sudah diketahui semua orang. Sekalipun ia mengucapkan kata-kata manis, apa gunanya?
“Meski urusan ini tidak ada hubungannya dengan kita, itu juga bisa dianggap hal baik,” kata Nata Wijaya sambil tersenyum ringan dan duduk kembali di meja makan. “Perguruan Wijaya sebesar langit. Kalaupun kita pergi ke sana, kita hanya akan berada di lapisan terbawah. Mana bisa dibandingkan dengan hidup bebas dan damai sebagai yang teratas di Kota Tirta Awan? Ayo, bantu kakek menghabiskan sarapan.”
Setelah keluar dari halaman kediaman Nata Wijaya, Arka segera menyadari bahwa suasana seluruh Keluarga Wijaya telah berubah drastis. Biasanya, pada jam seperti ini, cukup banyak orang yang berlatih di pagi hari. Namun kini, sejauh mata memandang, hanya terlihat bayangan-bayangan yang berserakan, kebanyakan berjalan tergesa-gesa dengan wajah penuh kegembiraan.
“Sepertinya semua orang merasa bisa memanjat cabang tinggi bernama Perguruan Wijaya. Tapi apakah melonjak ke langit dalam satu langkah benar-benar hal baik? Tak seorang pun memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka benar-benar masuk Perguruan Wijaya. Kurasa mereka hanya akan menjadi pelayan paling rendah,” kata Arka dengan nada sinis.
“Iri?” tanya Ratna datar.
“Tentu tidak!” jawab Arka spontan. Begitu selesai bicara, ia baru teringat bahwa Ratna adalah murid Padepokan Awan Beku, yang sama sekali tidak kalah dari Perguruan Wijaya. Ia hanya meringis dan berkata, “Kau berbeda dari mereka… sudahlah, anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa.”
Ratna tak lagi menanggapi. Ia melangkah maju. Meski langkahnya tampak sangat pelan, tubuhnya sudah berpindah sejauh tujuh atau delapan langkah. Dengan satu langkah lagi, jaraknya dari Arka semakin jauh, meninggalkannya di belakang. Arka menghentikan langkahnya, sepenuhnya memusatkan perhatian pada sosok Ratna yang bergerak anggun bak bayangan ilusi. Ia bergumam, “Jangan-jangan ini adalah langkah legendaris ‘Langkah Tarian Salju Beku’ dari Padepokan Awan Beku? Kekuatan tenaga dalam wanita ini jelas tidak sesederhana itu. Sepertinya bukan sekadar tingkat kesepuluh Alam tenaga dalam Dasar.”
“Yo! Bukankah ini Saudara Arka!”
Suara terdengar dari arah kanan. Arka menoleh dan melihat Daru Wijaya berjalan mendekat. Biasanya, Daru selalu menengadah angkuh dan memandangnya dengan penuh penghinaan. Fakta bahwa ia kali ini menyapanya lebih dulu benar-benar tidak biasa.
“Saudara Daru. Pagi sekali sudah bangun,” sapa Arka dengan ramah.
“Kebetulan sekali. Aku memang hendak mencarimu, tidak menyangka malah bertemu di sini,” kata Daru sambil tertawa.
“Ada keperluan apa Saudara Daru mencariku?” tanya Arka dengan wajah heran.
“Mm,” Daru mengangguk. “Sebenarnya Kak Sandi yang menyuruhku memanggilmu. Katanya, kau yang paling muda di antara kita, tapi justru yang pertama menikah. Sebagai sesama anggota keluarga, ia ingin mengadakan perayaan kecil untukmu. Lagi pula, kemarin terlalu banyak orang di pesta pernikahan, jadi sulit menikmati arak. Pagi ini lebih baik minum dan makan sedikit bersama. Bagaimana? Kau punya waktu?”
Mengundangnya minum arak sepagi ini—ternyata kesabaran Sandi Wijaya memang biasa saja. Arka mencibir dalam hati. Ia tahu betul alasan Sandi mencarinya. Namun, wajahnya segera menampilkan ekspresi terharu berlebihan, dan ia menjawab dengan penuh semangat, “Benarkah Kak Sandi memanggilku? Tentu! Tentu saja aku punya waktu! Kalau Kak Sandi yang memanggil, mana mungkin aku tidak datang? Kalau begitu… kita berangkat sekarang?”
Ekspresi Arka Wijaya membuat Daru diam-diam mencibir dengan meremehkan. Ia mengangguk. “Tentu, ayo.”
Halaman kediaman Sandi Wijaya sekitar empat hingga lima kali lebih besar daripada milik Arka. Selain sangat mewah, tempat itu juga memiliki pelayan khusus.
Di sisi agak utara halaman tengah, terdapat sebuah paviliun persegi. Meja di dalamnya dipenuhi hidangan dan arak. Sandi mengangkat cawan araknya dengan senyum hangat. “Adik Arka, kau telah menikahi permata nomor satu Kota Tirta Awan. Sekali lagi, selamat untukmu. Sebagai kakak, aku harus berusaha lebih keras mulai sekarang.”
“Terima kasih, Kak Sandi,” Arka juga segera mengangkat cawannya, wajahnya memerah karena kegembiraan. “Sebenarnya… soal itu, pernikahanku bukanlah hal besar. Justru seharusnya aku yang mengucapkan selamat kepada Kak Sandi.”
“Oh?” Wajah Sandi menunjukkan sedikit keheranan. Ia bertanya sambil tersenyum, “Mengucapkan selamat padaku? Aku kurang mengerti.”
Arka menjawab dengan wajah serius, “Tidak mungkin Kak Sandi belum mendengar kabar tentang rombongan dari Perguruan Wijaya yang akan memilih pemuda paling berbakat untuk dibawa kembali, bukan? Di generasi Keluarga Wijaya ini, dari segi bakat, kedudukan, penampilan, maupun karakter, siapa yang bisa menandingi Kak Sandi? Jadi kali ini, Kak Sandi pasti yang akan dibawa ke Perguruan Wijaya. Ini benar-benar peristiwa yang membahagiakan.”