Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Api unggun di tengah gua kuno itu berderak pelan, mengunyah sisa-sisa ranting pinus yang mengering. Bunga-bunga api merah keemasan melesat sesaat ke udara sebelum akhirnya memudar menjadi abu yang luruh ke lantai batu. Di luar tirai air terjun perak, malam Hutan Wanamarta semakin pekat dan sunyi, seolah semesta sengaja menahan napasnya untuk mendengarkan percakapan dua anak manusia yang terpisahkan oleh kasta, wujud, dan takdir.
Di atas dipan batu alami, Pregiwati telah terlelap sepenuhnya. Dengkur halusnya menyatu dengan ritme gemuruh air terjun di kejauhan. Namun bagi Dewi Pregiwa, kantuk adalah hal terakhir yang sudi menghampirinya malam ini. Matanya yang teduh, yang memantulkan tarian cahaya perapian, terpaku sepenuhnya pada sosok raksasa yang duduk bersila hanya beberapa langkah darinya.
Gatotkaca duduk mematung. Punggung lebarnya tegak kaku layaknya pilar penyangga candi. Ia menatap lekat-lekat pada inti api yang menyala kemerahan, seolah sedang mencari perlindungan di dalam nyala panas tersebut dari tatapan mata Pregiwa yang begitu menelanjangi jiwanya. Perintah sang putri untuk menceritakan kisah hidupnya masih menggantung di udara, menciptakan keheningan yang jauh lebih memekakkan telinga daripada denting ribuan pedang di medan laga.
"Kanda Ksatria..." panggil Pregiwa lagi, suaranya sangat pelan, sehalus kepakan sayap kupu-kupu, namun sanggup menggetarkan pertahanan batin sang panglima. "Apakah permintaanku terlalu lancang? Jika masa lalu itu terlalu kelam untuk diurai, hamba tidak akan memaksa Kanda untuk membukanya."
Mendengar nada penuh pengertian dan kelembutan itu, Gatotkaca memejamkan matanya. Rahangnya yang sekeras batu andesit mengeras, menahan gemuruh ombak di dalam dadanya. Bagaimana ia harus menjelaskan? Bagaimana ia harus merangkai kata-kata untuk menceritakan sebuah riwayat yang bahkan bagi dirinya sendiri terasa seperti kutukan abadi?
"Bukan lancang, Tuan Putri," jawab Gatotkaca parau. Ia perlahan membuka matanya, namun tetap tidak berani menatap langsung ke arah Pregiwa. Ia memusatkan pandangannya pada tangannya sendiri yang bertumpu di atas lutut—tangan besar yang terbungkus sarung tangan baja. "Hanya saja... dongeng hamba bukanlah jenis dongeng pengantar tidur yang biasa diceritakan oleh para inang pengasuh di keputrian Amarta. Cerita hamba tidak berisi tentang taman bunga teratai, bidadari kahyangan, atau pangeran tampan berkuda putih yang menyelamatkan dunia dengan senyuman."
Gatotkaca menelan ludah, tenggorokannya terasa dipenuhi kerikil tajam. "Cerita hamba berbau amis darah, Tuan Putri. Berbau belerang yang mendidih, jeritan keputusasaan, dan daging yang terbakar. Hamba takut... jika hamba menceritakannya, Tuan Putri akan melihat hamba dengan tatapan ngeri, persis seperti tatapan orang-orang Astina sebelum tulang mereka hamba remukkan."
Pregiwa sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar dari pergelangan kakinya. Ia menggeleng pelan, meski ia tahu Gatotkaca tidak sedang menatapnya.
"Apakah Kanda lupa siapa ayahandaku?" ucap Pregiwa tegas namun tetap anggun. "Hamba adalah putri dari seorang ksatria yang hidupnya dihabiskan di medan perang. Hamba dibesarkan dengan aroma dupa kemenyan dan tajamnya ujung anak panah. Hamba tidak takut pada darah, dan hamba sama sekali tidak melihat monster ketika hamba menatap Kanda malam ini. Yang hamba lihat adalah pelindung hamba."
Kata "pelindung hamba" yang meluncur dari bibir Pregiwa itu menghantam relung hati Gatotkaca dengan telak. Tidak pernah ada yang mengklaim dirinya dengan nada sehangat itu. Ia selalu menjadi "pelindung Amarta", "pelindung Pandawa", sebuah aset militer negara. Namun malam ini, di dalam gua yang lembap ini, ia diakui sebagai seorang manusia.
Gatotkaca menghela napas panjang dan berat, hembusan napasnya membuat lidah api unggun bergoyang liar sesaat. Ia akhirnya mengumpulkan kepingan-kepingan keberaniannya, keberanian yang terasa jauh lebih sulit dikumpulkan daripada saat ia harus menghadapi raksasa pemakan manusia di garis depan.
"Orang-orang memanggil hamba dengan julukan Ksatria Otot Kawat Tulang Besi," Gatotkaca memulai ceritanya, suaranya menggema rendah memantul di dinding pualam gua. "Mereka meneriakkan julukan itu dengan kebanggaan saat hamba merobek barisan musuh. Mereka memuji kehebatan kulit hamba yang tak mempan ditembus pusaka apa pun. Tetapi, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bertanya, bagaimana rasanya memiliki besi yang tertanam di dalam dagingmu sendiri."
Gatotkaca menunduk semakin dalam. Bayang-bayang masa lalu yang telah lama ia kubur di dasar ingatannya perlahan merayap naik, membawa serta sensasi panas yang membakar kulitnya dari dalam.
"Hamba dilahirkan dengan nama Jabang Tutuka. Kata ibunda hamba, Dewi Arimbi, saat hamba lahir, hamba hanyalah seorang bayi biasa. Bayi raksasa, mungkin, mengingat darah ibunda hamba, namun tetaplah seorang bayi yang menangis mencari kehangatan pelukan. Namun, bahkan sejak hamba menghirup udara dunia untuk pertama kalinya, takdir telah menunjukkan taringnya yang kejam. Tali pusar hamba tidak bisa dipotong oleh senjata apa pun di muka bumi ini."
Pregiwa menahan napasnya. Ia pernah mendengar selentingan kisah ini dari para pelayan keraton, namun mendengarnya langsung dari bibir sang subjek utama memberikan sensasi kengerian yang teramat nyata.
"Hanya sarung dari senjata pusaka dewata, Konta Wijayadanu, yang sanggup memutus tali pusar itu," lanjut Gatotkaca, suaranya semakin berat, seolah setiap kata yang ia ucapkan menarik energi kehidupannya perlahan-lahan. "Sarung pusaka itu berhasil memutusnya, namun sarung itu justru tertanam dan menyatu di dalam perut hamba. Itulah tanda pertama, Tuan Putri. Tanda bahwa hamba memang tidak ditakdirkan untuk menjadi manusia biasa, melainkan wadah bagi pusaka pembunuh."
Gatotkaca mengangkat wajahnya sedikit, menatap langit-langit gua yang gelap gulita.
"Saat hamba masih berupa bayi merah yang belum genap berusia satu purnama, kahyangan para dewa diserang. Seorang raja raksasa bernama Kala Pracona mengamuk, menghancurkan gerbang surga, menuntut bidadari, dan tidak ada satu pun dewa yang sanggup menandingi kekuatannya. Kahyangan berada di ambang kehancuran. Lalu, apa yang dilakukan oleh para dewa yang agung itu? Mereka turun ke bumi. Batara Narada menemui ayahanda hamba, Bima, dan ibunda Arimbi. Mereka tidak datang untuk memberikan berkah, Tuan Putri. Mereka datang untuk meminta bayi merah itu sebagai tumbal pertahanan kahyangan."
Mata Pregiwa membelalak ngeri. "Mereka... mereka membawa seorang bayi ke medan perang para dewa?" bisiknya tak percaya, kedua tangannya meremas ujung kain kembennya hingga buku-buku jarinya memutih.
Gatotkaca tersenyum getir, sebuah senyum yang lebih mirip ringisan luka yang robek kembali. "Lebih buruk dari itu, Tuan Putri. Bayi merah berumur satu purnama tidak bisa mengalahkan raksasa penakluk surga. Untuk membuat hamba mampu bertarung, para dewa harus mengubah hamba. Mereka tidak membesarkan hamba dengan susu dan kasih sayang. Mereka membawa bayi Jabang Tutuka ke tepi Kawah Candradimuka."
Keheningan yang mencekam turun merengkuh gua tersebut. Suara gemeretak kayu bakar tiba-tiba terdengar seperti suara tulang yang patah. Pregiwa bisa merasakan hawa dingin merayap naik ke tengkuknya, membekukan darah di pembuluhnya. Kawah Candradimuka. Tempat penyiksaan paling kejam di alam semesta, lahar abadi yang digunakan untuk melebur dosa-dosa para asura.
"Apakah Tuan Putri bisa membayangkan?" suara Gatotkaca bergetar hebat, pertahanan batinnya yang sekuat baja akhirnya mulai retak di hadapan mata teduh Pregiwa. "Bayi itu dilemparkan ke dalam kawah lahar yang mendidih. Hamba tidak memiliki ingatan sadar tentang hari itu, namun jiwa hamba... jiwa hamba mengingat setiap detiknya. Hamba mengingat bagaimana lahar panas itu membakar habis kulit bayi yang lembut, menghanguskan daging hingga ke tulang, sementara hamba menjerit tanpa suara di dasar kawah neraka itu."
Air mata bening akhirnya menetes dari pelupuk mata Pregiwa. Satu tetes jatuh membasahi punggung tangannya yang gemetar. Ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Tenggorokannya terkunci oleh duka yang teramat dalam.
"Dan siksaan itu belum berakhir," desis Gatotkaca, meremas kedua lututnya sendiri dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan batu pualam, seolah ia sedang menahan rasa sakit gaib yang kembali menjalar di sekujur tubuhnya. "Saat hamba meregang nyawa di dalam lahar, para dewa melemparkan pusaka-pusaka kahyangan menyusul hamba. Logam-logam pusaka suci, baja murni, tembaga dewa, dan kawat-kawat surga. Di dalam suhu yang sanggup meleburkan dunia itu, pusaka-pusaka itu mencair dan menyatu dengan tubuh hamba. Kawat baja menggantikan urat nadi hamba. Tulang belulang hamba diganti dengan tembaga cor murni. Kulit hamba ditempa ulang dengan pelindung gaib."
Gatotkaca menoleh, akhirnya menatap langsung ke sepasang mata Pregiwa yang kini basah oleh air mata. Dalam sorot mata tajam sang panglima malam itu, tidak ada kilat pembunuh bayaran, tidak ada amarah peperangan. Yang ada hanyalah keputusasaan seorang anak yang direnggut masa kecilnya dengan paksa.
"Hamba masuk ke dalam Kawah Candradimuka sebagai seorang bayi merah yang rapuh, dan hamba merangkak keluar dari kawah itu beberapa saat kemudian sebagai seorang pemuda dewasa raksasa. Hamba tidak pernah belajar merangkai langkah pertama hamba. Hamba tidak pernah belajar berbicara. Hamba tidak pernah merasakan belaian tangan ibunda menyanyikan kidung tidur. Hamba lahir, dibakar, ditempa, dan langsung diserahkan sebuah gada untuk membunuh Kala Pracona."
"Hamba berhasil membunuhnya," Gatotkaca melanjutkan dengan nada hampa, kekosongan yang sangat menyayat hati. "Hamba menyelamatkan kahyangan. Para dewa bersorak memuji kehebatan ciptaan baru mereka. Ayahanda Bima menepuk pundak hamba dengan bangga. Namun saat hamba menatap wajah ibunda hamba, Dewi Arimbi... ia menangis. Ia memeluk kaki hamba, namun ia menangis bukan karena bangga. Ia menangis karena ia sadar, ia telah kehilangan bayi kecilnya untuk selamanya. Bayi itu mati di dalam kawah, dan yang kembali pulang kepadanya hanyalah sebuah senjata berbentuk manusia."
Gatotkaca kembali menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang mulai memanas dari tatapan Pregiwa.
"Itulah sebabnya, Tuan Putri... hamba tidak tahu bagaimana caranya bersikap lembut. Hamba tidak mengerti tata krama keraton yang indah. Jika hamba terlihat canggung malam ini, jika hamba terlihat ketakutan saat menyentuh kulit Tuan Putri... itu karena tangan ini tidak pernah diajarkan untuk merengkuh keindahan. Tangan ini hanya diajarkan untuk mematahkan leher musuh di bawah langit yang sunyi. Hamba adalah senjata. Dan sebuah senjata, tidak seharusnya memiliki hati yang berani merindukan pelukan."
Gema dari kalimat terakhir Gatotkaca perlahan memudar, ditelan oleh suara gemuruh air terjun.
Di atas dipan batu, Pregiwa terisak tanpa suara. Air mata membasahi kedua pipinya yang pucat, mengalir turun ke lehernya. Hatinya hancur lebur berkeping-keping. Bukan karena ia ketakutan mendengar kengerian proses penempaan Gatotkaca, melainkan karena rasa empati dan duka yang begitu luar biasa menyayat dadanya.
Selama ini, dunia memandang pria di hadapannya sebagai pahlawan sakti mandraguna. Mereka memuja kekebalannya. Mereka memanfaatkan keperkasaannya. Tidak ada satupun yang berhenti sejenak untuk bertanya harga apa yang harus dibayar oleh sang ksatria untuk keperkasaan itu. Pria raksasa yang mengerikan ini, di matanya sekarang, tidak lebih dari sosok jiwa yang terluka parah—terpenjara di dalam sangkar baja yang tak bisa dihancurkan, mengemban tugas berat melindungi dunia yang bahkan menolak untuk merangkul kemanusiaannya.
Tanpa mempedulikan rasa sakit di pergelangan kakinya, Pregiwa menggeser posisi duduknya. Ia memajukan tubuhnya ke ujung dipan batu, memperpendek jarak yang membentang di antara dirinya dan sang panglima langit.
"Kanda Gatotkaca," panggil Pregiwa, suaranya parau oleh tangis yang tertahan, namun memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
Gatotkaca tidak merespons. Ia terus menunduk, siap menerima penghakiman. Siap mendengar sang putri memintanya mundur, menyuruh monster pembunuh ini untuk menjauh dari kesucian dirinya.
Namun, alih-alih kata-kata usiran, Gatotkaca merasakan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal menembus kesadarannya.
Sebuah sentuhan hangat, begitu ringan dan lembut hingga nyaris terasa tidak nyata, hinggap di punggung tangannya yang besar dan terbalut sarung tangan baja.
Gatotkaca tersentak hebat, seolah ia baru saja disambar petir dari langit yang cerah. Ia langsung mendongak.
Di sana, dalam keremangan cahaya api jingga, Dewi Pregiwa mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan kanannya yang putih pualam, dengan jemari lentik yang gemetar, terulur melewati batas perapian kecil mereka, dan kini beristirahat dengan damai di atas telapak tangan besar sang ksatria. Kulit yang selembut sutra itu bersentuhan langsung dengan logam dingin yang dipenuhi goresan pedang musuh.
"T-Tuan Putri... apa yang—" Gatotkaca tercekat, matanya membelalak lebar, napasnya terputus seketika. Seluruh tubuh raksasanya mematung kaku. Ia ingin menarik tangannya menjauh agar tidak melukai kulit lembut itu, namun cengkeraman halus Pregiwa seolah memiliki kekuatan gaib yang menahan tangannya agar tetap di tempat.
Pregiwa menatap tajam ke dalam mata elang Gatotkaca. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyum yang memancarkan penderitaan yang dibagi bersama, sebuah senyum pengakuan.
"Dunia mungkin buta, Kanda," ucap Pregiwa dengan suara bergetar yang sarat akan kedalaman emosi. "Para dewa di kahyangan mungkin hanya melihat Kanda sebagai gada dan perisai tak bernyawa. Dan keraton Amarta mungkin hanya memanggil namamu saat sangkakala perang ditiup. Tetapi hamba... hamba tidak buta."
Pregiwa perlahan mengusapkan ibu jarinya ke atas pelat baja di punggung tangan Gatotkaca, memberikan sentuhan afirmasi yang membuat darah sang ksatria berdesir gila-gilaan, mengirimkan sengatan panas yang jauh lebih membakar daripada lahar Candradimuka. Panas yang kali ini tidak membawa rasa sakit, melainkan sebuah penyembuhan.
"Tangan ini," bisik Pregiwa, membelai pelan ujung sarung tangan baja itu. "Tangan yang Kanda sebut diciptakan hanya untuk membunuh ini... adalah tangan yang sama yang merengkuhku dengan kehati-hatian yang begitu luar biasa, seolah hamba adalah pusaka yang paling rapuh di dunia. Tangan ini yang mengangkat tubuhku menjauh dari maut di bawah tebing Wanamarta. Tangan ini yang menangkis tajamnya angin malam agar tidak membekukan kulit hamba."
Pregiwa meremas pelan tangan raksasa itu.
"Kanda mungkin kehilangan masa kecil di Candradimuka. Kanda mungkin kehilangan rasa sakit fisik yang membuat kita merasa hidup. Tetapi, satu hal yang gagal direnggut oleh para dewa dan lahar mendidih itu dari diri Kanda..." Pregiwa menghentikan kalimatnya sesaat, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan mereka yang saling bertaut. "Mereka gagal merenggut hati Kanda. Di balik otot kawat dan tulang besi ini, bersemayam sebuah jiwa yang jauh lebih lembut, jauh lebih mulia, dan jauh lebih manusiawi dari pangeran mana pun yang pernah hamba temui seumur hidup hamba."
Gatotkaca lumpuh. Ia benar-benar lumpuh. Seluruh perbendaharaan kata tentang perang, strategi militer, dan tugas negara hancur tak bersisa, tersapu oleh gelombang tsunami emosi yang tak mampu lagi ia bendung.
Air mata Pregiwa yang jatuh di atas tangannya terasa bagaikan siraman air Tirta Amarta yang menghidupkan kembali padang ilalang yang telah hangus terbakar selama puluhan tahun di dalam dadanya. Pria bertubuh raksasa itu mulai bergetar. Pertahanan yang telah ia bangun seumur hidup, dinding baja tebal yang ia gunakan untuk memenjarakan kesepiannya, kini runtuh berkeping-keping.
Tanpa sadar, Gatotkaca memutar pergelangan tangannya. Perlahan, dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tidak melukai, ia balas menggenggam jemari mungil Pregiwa. Telapak tangannya yang kapalan dan kasar membungkus tangan pualam itu. Kehangatan kulit Pregiwa mengalir masuk, meresap melewati pori-pori bajanya, langsung menuju pusat jantungnya.
Di dalam gua yang dikelilingi oleh tirai air terjun magis itu, hanya diterangi oleh redupnya cahaya api unggun yang semakin meremang, Gatotkaca menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas tangan mereka yang saling menggenggam.
Untuk pertama kalinya sejak ia merangkak keluar dari siksaan Kawah Candradimuka berpuluh-puluh tahun yang lalu, air mata lolos dari sudut mata elang sang pahlawan tak terkalahkan. Setitik air mata bening yang jatuh bukan karena rasa sakit disayat pedang, melainkan karena rasa syukur yang tiada tara. Syukur karena semesta akhirnya mengirimkan satu jiwa, satu pasang mata teduh, yang bersedia melihatnya tidak sebagai senjata, melainkan sebagai seorang pria yang utuh.
Dan malam itu, di tengah sunyinya belantara Wanamarta, takdir kematian di Tegal Kurusetra yang kelam seolah terlupakan sejenak, tergantikan oleh sebuah ikatan asmara yang terikat erat dalam balutan duka dan penerimaan yang paling sejati.