Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: KAKEK SURYA YANG JUAL SAWAH
Kakek Surya. Ayahnya ayah. Tujuh puluh tahun. Tubuh yang sudah bungkuk sejak nenek mati. Hati yang sudah kosong sejak lama.
Tinggal sendiri. Di rumah kayu di pinggir kampung. Di tempat yang dilupakan waktu. Sekarang punya Mahesa. Yang sakit. Yang tidak bisa kerja. Yang hanya bisa makan, minum obat, dan menunggu waktu.
Tapi kakek tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyesal. Tidak pernah menyerah.
Setiap pagi, ia bangun lebih dulu. Menyalakan api. Memasak bubur—bubur yang lebih encer dari yang ia makan sendiri. Menyisihkan bagian terbaik untuk Mahesa. Kentang yang lebih besar. Sayur yang lebih banyak.
Mahesa melihat. Tapi tidak berani protes. Tidak berani bilang, "Kek, makan yang banyak. Aku tidak apa-apa." Karena kakek akan marah. Kakek akan berkata, "Kamu sakit. Kamu butuh."
Dua bulan berlalu. Uang dari jual kain habis. Uang kiriman ibu—yang hanya sekali datang—habis. Kakek mulai menjual ayam. Satu per satu. Yang bertelur. Yang seharusnya jadi tabungan.
Sampai suatu pagi, kakek datang dengan wajah berbeda. Bukan sedih. Bukan marah. Tapi mantap. Seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu yang besar.
"Aku jual sawah," kata kakek. Duduk di samping tikar Mahesa. Suara tenang. Seperti bicara tentang cuaca.
Mahesa terpaku. Sawah. Satu-satunya yang kakek punya. Sebidang tanah di pinggir desa. Yang ditanami padi setiap musim. Yang menjadi sumber makan mereka. Yang menjadi penghidupan. Yang menjadi segalanya.
"Jangan, Kek." Mahesa duduk. Kaki kanan sakit. Tidak peduli. "Sawah Kakek. Jangan dijual. Aku... aku tidak apa-apa."
Kakek tersenyum. Senyum tipis yang membuat keriput di wajahnya semakin dalam. "Kamu anakku sekarang. Anak kakek. Sawah bisa dicari lagi. Kamu... tidak."
Anak. Kata itu. Kata yang tidak didengar sejak ayah mati. Kata yang tidak pernah diucapkan ibu. Kata yang hangat. Yang menyakitkan. Yang membuat mata berkaca.
"Tapi Kek..." Mahesa mencoba lagi. Suara tersedak. "Sawah itu... sawah itu dari nenek. Warisan. Satu-satunya yang Kakek punya."
Kakek menggeleng. Perlahan. "Nenekmu sudah lama pergi. Dia tidak butuh sawah. Kamu yang butuh dokter. Kamu yang butuh obat. Kamu yang... butuh hidup."
Hidup. Apakah ini masih disebut hidup? Kaki membesar. Luka tak sembuh. Ditinggal semua orang. Hanya menjadi beban.
Tapi kakek melihat berbeda. Kakek melihatnya sebagai anak. Sebagai alasan untuk hidup. Sebagai... keluarga.
---
Dua hari kemudian, sawah laku. Kakek pulang dengan uang di dalam tas kain. Lebih banyak dari yang pernah Mahesa lihat. Tapi tahu itu tidak akan cukup. Tidak untuk penyakit seperti ini.
"Besok kita ke kota," kata kakek. "Ke dokter besar. Di rumah sakit."
Mahesa tidak bisa menolak. Hanya bisa mengangguk. Hanya bisa jadi anak yang menerima. Lagi. Dan lagi. Sampai kakek tidak punya lagi yang bisa diberikan.
---
Pagi. Subuh. Mereka berangkat. Jalan kaki ke terminal. Satu kilometer. Kaki kanan Mahesa sakit setiap langkah. Tapi ia tahan. Tidak mau kakek tahu. Tidak mau kakek khawatir.
Di terminal, mereka naik bus. Untuk pertama kalinya dalam hidup Mahesa naik bus. Untuk pertama kalinya kakek naik bus dalam bertahun-tahun.
Bus penuh. Mereka dapat kursi di belakang. Mahesa di dekat jendela. Kakek di sampingnya.
Mahesa melihat ke luar. Gedung-gedung. Mobil-mobil. Dunia yang berbeda. Dunia yang tidak pernah ia kenal.
Tapi kemudian, ia sadar. Orang-orang melihat. Melihat ke bawah. Ke kakinya. Kaki kanan yang dibungkus kain bekas. Yang tetap terlihat bengkak. Yang tidak bisa disembunyikan.
Seorang ibu di depan. Menarik anaknya. Berbisik. Anak itu menatap Mahesa dengan mata takut. Lalu pindah ke kursi lain.
Yang lain ikut-ikutan. Satu per satu. Pindah. Menjauh. Seperti Mahesa adalah wabah. Seperti kakinya menular. Seperti... monster.
Mahesa menunduk. Seperti biasa. Seperti selalu. Tidak berhak marah. Tidak berhak protes. Hanya diam.
Tapi tiba-tiba, suara kakek mengguncang bus.
"HENTIKAN!"
Semua menoleh. Kakek berdiri. Tubuh tua itu bergetar. Tapi matanya menyala. Marah. Untuk pertama kalinya.
"Dia manusia!" teriak kakek. Suara serak memecah keheningan. "Dia cucu saya! Dia sakit, bukan kotor! Kalian lihat apa? Kalian tidak punya hati?"
Bus sunyi. Semua diam. Wajah-wajah yang tadi jijik, sekarang tertunduk. Malu. Atau takut.
"Ia hanya sakit," kakek melanjutkan. Suara mulai melemah. Tapi masih tegas. "Bukan dosa. Bukan kutukan. Hanya sakit. Sama seperti kalian bisa sakit. Apa kalian mau diperlakukan begini?"
Tidak ada yang menjawab. Hanya diam.
Kakek duduk kembali. Tubuhnya gemetar. Napasnya berat. Tapi tangannya—tangan keriput itu—menggenggam tangan Mahesa. Erat.
Mahesa menangis. Tidak bisa ditahan. Air mata mengalir deras. Di depan semua orang. Tidak peduli. Tidak malu. Tidak bisa.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ada yang membelanya. Ada yang marah karena ia dijauhi. Ada yang... peduli.
"Jangan nangis," kakek berbisik. Lembut. "Kamu tidak salah. Mereka yang salah. Mereka yang tidak mengerti."
Mahesa mengangguk. Masih menangis. Tapi kali ini bukan karena sakit. Bukan karena sedih. Tapi karena... haru. Karena... diterima. Karena... dicintai.
---
Sampai di kota. Rumah sakit besar. Putih. Dingin. Antrean panjang. Tapi mereka dapat nomor. Menunggu. Empat jam.
Dokter memeriksa. Sama seperti dokter-dokter lain. Melihat. Menekan. Menggeleng.
"Ini filariasis kronis," kata dokter. "Sudah terlalu lanjut. Tidak bisa sembuh total. Tapi bisa dirawat. Obat rutin. Jaga kebersihan. Hindari infeksi."
Kakek mendengarkan dengan saksama. Menyimpan setiap kata. Lalu bertanya, "Berapa lama, Dok?"
"Seumur hidup." Dokter menjawab datar. Tapi tidak kejam. Hanya fakta. "Obat setiap bulan. Kontrol rutin. Jangan putus."
Kakek mengangguk. Tidak kecewa. Tidak menyerah. Hanya menerima. Lalu membayar. Dengan uang sawah. Dengan uang penghidupan. Dengan uang segalanya.
---
Pulang. Bus yang sama. Tapi kali ini tidak ada yang pindah. Tidak ada yang berbisik. Mungkin karena kakek. Mungkin karena malu. Mungkin karena... tidak peduli lagi.
Mahesa duduk di samping kakek. Memegang obat di tangan. Obat untuk seumur hidup. Obat yang dibeli dengan sawah nenek.
"Kek," bisiknya. "Maaf... aku jual sawah Kakek."
Kakek menatapnya. Lama. Lalu tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang membuat keriput.
"Sawah bisa dicari lagi," katanya. "Kamu nggak. Kamu satu-satunya yang kakek punya."
Mahesa menangis lagi. Di bus. Di samping kakek. Di perjalanan pulang.
Tapi kali ini, ia tidak sendirian. Ada tangan keriput yang menggenggam. Ada suara tua yang berkata, "Kita berdua. Sampai kakek nggak ada."
---
Malam. Rumah kayu. Lampu minyak redup.
Mereka makan. Nasi dengan telur—telur terakhir dari ayam terakhir. Kakek menyisihkan bagian terbesar untuk Mahesa.
"Kek, makan yang banyak," Mahesa mencoba.
Kakek menggeleng. "Kamu butuh. Biar cepet sembuh."
Mahesa diam. Makan. Setiap suapan terasa berat. Tapi juga hangat. Hangat karena kakek. Karena pengorbanan. Karena... cinta.
Setelah makan, kakek mengeluarkan sesuatu. Buku kecil. Tua. Sobek di sana-sini.
"Ini punya nenekmu," katanya. "Catatan tentang tanaman obat. Nenekmu dulu pintar meracik. Mungkin bisa bantu."
Mahesa menerima. Membuka. Tulisan tangan nenek. Rapi. Detail. Tentang daun-daun. Tentang akar. Tentang ramuan.
"Ini untuk kakek?" tanya Mahesa.
"Untuk kamu," jawab kakek. "Biar kita bisa meracik sendiri. Nggak selalu beli obat mahal."
Mahesa memeluk buku itu. Seperti memeluk harapan. Seperti memeluk nenek yang tidak pernah dikenal. Seperti memeluk kakek yang ada di sampingnya.
---
Malam semakin larut. Kakek tidur di kamar sebelah. Mahesa di tikar—kini sudah pindah ke kamar, tidak di dapur lagi.
Ia memegang cincin ayah di jari. Membaca surat ayah—sudah hafal. Meraba buku nenek di samping bantal. Mendengar napas kakek dari kamar sebelah. Berat. Kadang batuk. Tapi ada. Masih ada.
Hari ini berat. Perjalanan panjang. Diagnosis seumur hidup. Uang sawah habis.
Tapi hari ini juga ia dapat sesuatu. Pembelaan di bus. Kata "anakku" dari kakek. Buku resep nenek. Harapan bahwa ia tidak sendiri.
Kakek menjual sawah untuknya. Kakek membelanya di depan orang. Kakek berkata "kamu satu-satunya yang kakek punya."
Dan itu lebih berharga dari sawah mana pun. Lebih mahal dari obat apa pun.
Mahesa memejamkan mata. Doa kecil meluncur. Untuk kakek. Untuk kesehatan kakek. Untuk waktu yang masih tersisa bersama.
Karena kakek tua. Sangat tua. Dan Mahesa tahu, suatu hari nanti, kakek juga akan pergi.
Tapi malam ini, kakek masih ada. Masih di kamar sebelah. Masih bernapas. Masih hidup. Masih bersamanya.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk sawah yang hilang. Untuk bus yang penuh penghakiman. Untuk diagnosis seumur hidup.
Itu cukup.
Karena ada yang menjual segalanya untuknya. Ada yang membela di depan umum. Ada yang berkata "kamu anakku."
Untuk pertama kalinya dalam terlalu lama, Mahesa merasa punya rumah. Bukan bangunan. Tapi orang. Kakek.
Malam ini, itu cukup.
---