Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayangnya Mas Danu
"Jangan diganti, Sekar!"
Sebuah suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari arah pintu. Danu berdiri di sana, masih mengenakan kemeja kerjanya yang lengannya dilipat hingga siku. Ia rupanya baru saja pulang untuk makan siang dan mendengar keributan itu.
Pandangan Danu langsung tertuju pada Sekar. Selama beberapa detik, Danu terdiam, matanya menatap lekat penampilan istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada kilatan kekaguman yang sangat nyata di mata pria tampan itu. Sebuah tatapan yang membuat jantung Sekar seolah berhenti berdetak.
"Danu! Lihat adikmu, dia mengajarkan hal-hal yang tidak benar pada istrimu" Adu Bu Subroto.
Danu tidak menghiraukan ibunya. Ia melangkah mendekat ke arah Sekar, mengabaikan ketegangan di ruangan itu. Ia berdiri tepat di depan istrinya, membuat Sekar yang sedang menunduk terpaksa mendongak menatap suaminya.
"Kamu cantik, Sekar" Ucap Danu dengan nada suara yang sangat dalam dan tulus. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipi Sekar yang masih terlihat pucat, bahkan warna merah muda dari blush on yang dioleskan Riana di sana tak bisa menutupi wajah Sekar yang pucat.
"Pakaian ini cocok untukmu. Jangan dilepas!"
"Tapi Mas, Ibu bilang..."
"Mas yang menentukan apa yang pantas dan tidak pantas di rumah ini, bukan orang lain!"
Danu menoleh ke arah ibunya dengan tatapan yang sangat tegas, sebuah wibawa yang tidak bisa dibantah.
"Ibu, tolong berhenti menekan Sekar. Dia sedang hamil, dan dia adalah istriku. Jika Ibu tidak bisa menghormatinya, setidaknya hargailah keputusanku!"
Bu Subroto terperangah. Ia tidak menyangka putranya akan membelanya secara terang-terangan di depan adiknya. Dengan wajah merah padam karena kesal, Bu Subroto keluar dari kamar sambil menghentakkan kaki.
Riana menghela napas lega dan tersenyum lebar.
"Wah, Mas Danu keren banget! Benar kan kataku, Mbak? Mas Danu itu pelindung nomor satu!"
"Terima kasih sudah menjaga Mbakmu, Riana" Tatapan Danu tak lepas dari Sekar.
"Tentu saja aku akan menjaganya Mas. Aku tidak mau Ibu menindas Mbak Sekar lagi!" Riana memang berada di pihak Kakak iparnya garis keras.
"Oh ya, gimana Mas? Mas lebih suka Mbak Sekar dandan kaya gini kan?"
Sekar kembali menunduk saat Danu otomatis memeriksa penampilannya.
"Mas suka istri Mas berdandan yang menurutnya nyaman. Tapi kalau ini bisa membuatnya percaya diri, Mas lebih suka" Jawab Danu membuat Sekar kembali mengangkat wajahnya.
"Anjaayyyy, jadi cantik nggak nih istrinya sekarang?" Goda Riana.
"Cantik"
Blushhh...
Wajah Sekar memerah seketika, wajah pucat saat dihina Bu Subroto tadi langsung tergantikan dengan rona alami wajah dari wajah cantiknya.
"Ciieeee... Sekarang bisa dong panggil sayang gitu, bukan cuma nama doang?" Riana sepertinya sangat puas menggoda kedua orang dihadapannya.
Wajah Sekar semakin memerah, benar-benar terlihat merah padam saat ini.
"Boleh" Jawab Danu membuat Sekar ingin pingsan rasanya.
"Astaga astaga, gini amat jadi toping bumi ya?" Riana mengusap dadanya, seolah prihatin dengan nasibnya sendiri.
"Sudah sana, sebaiknya kamu turun. Mbok Sum sudah menyiapkan makan siang!"
"Iya-iya Mas. Pasti mau kangen-kangenan dulu sama sayangnya ya sebelum makan siang?" Imbuh Riana sebelum keluar dari kamar Kakaknya.
Setelah Riana pergi, menyisakan mereka berdua di kamar, Danu kembali menatap Sekar. Ia menarik Sekar ke dalam pelukannya, mendekap kepala istrinya di dadanya yang bidang. Sekar bisa mendengar detak jantung Danu yang stabil dan kuat.
"Mas senang kamu nggak nangis lagi karena ucapan Ibu. Kamu mulai kiat ternyata" Bisik Danu di rambut Sekar.
"Mas memang suka kamu apa adanya, tapi Mas juga suka melihatmu berdandan seperti ini. Itu artinya kamu mulai peduli pada dirimu sendiri. Kamu adalah istri Danu Subroto, ingat itu. Kamu layak mendapatkan yang terbaik!"
Sekar memejamkan mata, memeluk pinggang Danu dengan erat. Ia merasa sangat beruntung. Di balik sifatnya yang kaku dan dingin, Danu adalah pria yang luar biasa bertanggung jawab. Kekaguman Sekar pada sosok pria yang ia peluk ini semakin dalam. Danu bukan hanya memberinya rumah, tapi juga memberinya harga diri yang selama ini diinjak-injak oleh dunia.
"Sayang..."
Deg...
Sekar membeku, darahnya seperti berhenti mengalir ke seluruh tubuhnya karena panggilan Danu yang benar-bener berubah untuknya. Dia kira Danu hanya mengiyakan permintaan Riana tadi.
"Ayo turun, Mas lapar!"
Ajakan Danu sepertinya tidak didengarkan oleh Sekar. Buktinya dia masih terdiam dengan pandangan mata kosong.
"Sayang?" Tangan Danu yang menyisipkan anak rambut di belakang telinga Sekar membuat Sekar tersadar.
"I-iya Mas?"
"Ayo turun, Mas sudah lapar!" Ajak Danu lagi.
"Iya Mas. Maaf Sekar nggak denger" Sekar benar-benar malu.
Danu hanya menanggapi kegugupan Sekar itu dengan senyum tipisnya saja.
Mereka pun akhirnya turun, menyusul Riana yang sudah berada di meja makan. Danu senantiasa menggenggam tangan kecil Sekar dengan erat. Seolah memamerkan pada Ibunya jika dia tidak ingin Sekar diganggu lagi oleh Ibunya itu.
"Huhhh" Bu Subroto mendengus kesal sembari memalingkan wajahnya karena muak melihat kemesraan Danu dan Sekar yang semakin menjadi setiap harinya.
"Alah alah, kok bisa ya? Masku diam-diam manis giniiiiiiii...." Riana bernyanyi dengan keras menggoda Kakaknya dengan lagu yang sering terdengar di telinga semua orang akhir-akhir ini.
"Aduh duh duh duh, kok bisa yang..."
"Diam!" Bu Subroto mendelik hingga membuat Riana menghentikan nyanyiannya seketika. Namun dia tetap cekikikan karena puas menggoda Kakaknya.
Sekar mulai mengambilkan nasi untuk Danu serta lauk pauknya. Mencoba mengabaikan tatapan Bu Subroto yang terus mengawasinya.
"Segini cukup Mas?"
"Cukup sayang!"
Wajah Sekar kembali memerah, tangannya bahkan bergetar karena panggilan sayang Danu di meja makan.
"Aduh aduh, jantungku nggak aman ini!" Riana memegang dadanya memberikan reaksi yang berlebihan.
"Jangan lebay kamu!" Sinis Bu Subroto pada putrinya.
"Alah, bilang aja Ibu tidak suka melihat Mas Danu semakin sayang sama Mbak Sekar kan?"
"Dih sok tau!" Sinis Bu Subroto lagi sembari memalingkan wajahnya. Dia saat ini tidak berani menyinggung Danu setelah kejadian di kamar tadi.
"Kenapa sedikit sekali? Kamu nggak suka lauknya?" Danu mengomentari nasi dan lauk di piring Sekar yang hanya dia suap saja baginya.
Pertanyaan Danu membuat Riana dan Bu Subroto melihat ke arah Sekar.
"E-enggak kok Mas. Sekar cuma..." Sekar terlihat takut-takut menjawab Danu apalagi sekarang tatapan mata semua orang tertuju padanya.
"Cuma apa sayang? Kamu mau makan sesuatu?" Desak Danu dengan panggilan baru untuk ke tiga kalinya.
"Sekar mau..."