Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2: Integritas Melawan Kekuasaan
Kabar tentang "Bu Nara yang Berani Mengusir Karina" menyebar lebih cepat daripada api di padang ilalang kering. Begitu Nara melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah, ia bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya.
Ada tatapan kasihan dari para staf kebersihan, tatapan mengejek dari kelompok siswa populer, dan bisik-bisik ketakutan dari rekan-rekan sesama guru. Di mading sekolah, entah siapa yang memulai, sudah ada coretan provokatif: “RIP Karier Bu Nara.”
Nara tetap berjalan tegak. Dagunya terangkat, bukan karena sombong, tapi karena ia menolak untuk terlihat kecil di bawah intimidasi mental. Jilbab marunnya berkibar tertiup angin pagi, memberikan kesan anggun sekaligus tak tergoyahkan.
"Pagi, Bu Nara," sapa Pak satpam dengan suara sangat pelan, hampir seperti bisikan rahasia.
"Hati-hati, Bu. Mobil hitam besar sudah mondar-mandir di depan sejak tadi subuh. Sepertinya orang-orang suruhan keluarga Setiawan sudah mulai mengawasi."
Nara tersenyum tipis, "Terima kasih pengingatnya, Pak. Saya hanya menjalankan tugas."
Belum sempat Nara menaruh tas di mejanya, interkom di ruang guru sudah berbunyi nyaring.
"panggilan kepada Ibu Nara Setianingrum, untuk segera ke ruangan Kepala Sekolah. Sekarang."
Suara Pak Handoko, sang Kepala Sekolah, terdengar bergetar.
Ruang guru mendadak hening. Bu Tanti menatap Nara dengan tatapan yang seolah mengatakan, ‘Ini akhirnya.’
Nara mengetuk pintu kayu jati yang megah itu. Di dalam, Pak Handoko sedang mondar-mandir dengan keringat dingin di dahi, meski AC di ruangan itu disetel pada suhu 16 derajat.
Di atas mejanya, sebuah map mewah berwarna hitam dengan logo emas bertuliskan 'Setiawan Group' terbuka lebar.
"Duduk, Bu Nara! Duduk!" perintah Pak Handoko tanpa melihatnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Nara tenang sembari duduk di kursi kulit di depan meja besar itu.
"Ada apa? Kamu tanya ada apa?!" Pak Handoko akhirnya berhenti mondar-mandir dan mengebrak meja, meski tidak terlalu keras karena ketakutan.
"Kamu tahu siapa yang menelepon saya jam satu malam tadi? Sekretaris pribadi Danu Setiawan! Dia bilang, bosnya merasa sangat terganggu karena adiknya menangis histeris dan tidak mau makan karena dipermalukan oleh 'seorang guru rendahan' begitu istilah mereka!"
Nara menarik napas panjang. "Saya tidak mempermalukannya, Pak. Saya mendisiplinkannya. Dia menaikkan kaki ke meja dan menghina profesi guru di depan kelas. Sebagai wali kelas, saya wajib bertindak."
"Prinsip! Prinsip! Prinsip!" Pak Handoko menjambak rambutnya yang mulai menipis.
"Prinsip tidak bisa membayar tagihan listrik sekolah ini, Bu Nara! Yayasan kita menerima hibah lima miliar rupiah tahun lalu hanya dari satu perusahaan Danu Setiawan. Jika dia menarik dukungannya, sekolah ini bisa kolaps!"
"Jadi, harga diri sekolah ini bisa dibeli dengan lima miliar, Pak?" tanya Nara, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu.
Pak Handoko tertegun. Ia menatap Nara, mencari celah ketakutan di mata wanita muda itu, namun ia tidak menemukannya.
"Bu Nara, dengar. Saya tidak minta kamu menjilat. Saya hanya minta kamu meminta maaf secara terbuka di depan kelas kepada Karin. Katakan kamu salah paham. Katakan kamu khilaf."
"Saya tidak akan berbohong, Pak. Itu akan mengajarkan Karin bahwa uang bisa mengubah kebenaran. Saya tidak akan meminta maaf untuk sesuatu yang benar."
"Kalau begitu..." Pak Handoko bersandar di kursinya, wajahnya tampak lelah.
"Besok pagi jam sembilan, Danu Setiawan sendiri yang akan datang ke sini. Dia ingin bertemu dengan 'guru yang berani itu'. Jika kamu tidak bisa menyelesaikannya secara damai besok... saya terpaksa harus memecat kamu secara tidak hormat agar kemarahan Danu tidak merembet ke sekolah ini."
Nara berdiri. "Saya mengerti, Pak. Saya akan menghadapi Pak Danu besok. Permisi."
Suasana di ruang guru terasa terbelah. Saat Nara kembali, beberapa guru muda menghampirinya dengan sorot mata mendukung, namun mereka tidak berani bicara keras.
"Bu Nara, saya kagum. Jujur, kami semua muak dengan tingkah Karin, tapi kami butuh pekerjaan ini," bisik Bu Sari, guru Matematika yang baru menikah.
Namun, Pak Bambang, guru olahraga yang dikenal pragmatis, malah mencibir.
"Kagum boleh, bodoh jangan. Bu Nara ini masih muda, cantik lagi. Harusnya pakai otaknya. Kalau dia minta maaf, siapa tahu dia malah bisa memikat hati CEO itu. Daripada sok pahlawan tapi akhirnya jadi pengangguran."
Nara yang sedang mengoreksi tugas siswa, berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Pak Bambang.
"Pak Bambang, saya mengajar Bahasa Indonesia. Dalam bahasa kita, ada kata 'Integritas'. Mungkin Bapak perlu membacanya lagi di kamus. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dengan posisi atau kenyamanan."
Pak Bambang terbungkam, wajahnya merah padam karena malu dipatahkan oleh guru muda di depan rekan lainnya.
Karin Setiawan duduk di meja paling tengah kantin, dikelilingi oleh "dayang-dayangnya". Ia sengaja mengeraskan suaranya saat melihat Nara berjalan melintas di kejauhan menuju perpustakaan.
"Kalian lihat kan? Bentar lagi singa bakal datang ke sini," ujar Karin sambil mengikir kukunya.
"Kak Danu itu nggak pernah kenal kata 'tidak'. Sekali dia bilang hancur, ya hancur. Guru sok suci itu bakal ngerasain gimana rasanya jadi gelandangan besok pagi."
Mawar, salah satu pengikutnya, tertawa. "Tapi Rin, kalau dia dipecat, kasihan juga ya. Cantik-cantik jadi pengemis."
"Salah siapa cari masalah sama gue?" Karin menyeringai puas. "Gue sengaja bilang ke Kak Danu kalau dia juga sempat mau nampar gue. Kak Danu paling nggak bisa lihat gue disentuh. Habis dia besok!"
Karin membayangkan wajah kakaknya yang dingin dan tanpa ampun. Ia tahu kakaknya sangat sibuk, tapi untuk urusan adiknya, Danu akan menjadi eksekutor yang paling kejam.
Nara duduk di teras rumahnya yang kecil namun asri. Di tangannya ada segelas teh hangat yang sudah mendingin. Ia menatap bintang-bintang, mencoba mencari ketenangan.
Ibunya keluar membawa selimut kecil dan menyampirkannya di bahu Nara. "Nduk, wajahmu kok mendung? Ada masalah di sekolah?"
Nara terdiam lama. Ia tidak ingin membebani Ibunya dengan berita bahwa besok ia mungkin akan kehilangan pekerjaan utamanya.
"Hanya masalah kecil dengan wali murid, Bu. Doakan Nara ya, supaya besok tetap bisa menjaga hati dan lisan."
"Ibu selalu doakan, Nduk... Jadi guru itu bukan cuma soal mengajar ilmu, tapi soal menjaga amanah Tuhan. Jangan takut pada manusia yang punya harta, takutlah pada Tuhan yang punya nyawa kita."
Nara memeluk Ibunya erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu tetes. Ia tidak takut kehilangan pekerjaan, ia hanya takut jika dunia ini benar-benar tidak lagi menyisakan ruang bagi orang-orang yang jujur.
Di sebuah ruangan di lantai 50, suasana tampak gelap. Hanya ada cahaya dari lampu meja yang menerangi sosok pria yang duduk di kursi kebesarannya.
Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan seharga satu rumah mewah. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun auranya memenuhi ruangan. Ia sedang mendengarkan rekaman suara Karin yang terisak-isak di telepon.
"Nara Setianingrum.." suaranya rendah, berat, dan mengandung nada ancaman yang nyata.
Ia menutup berkas profil Nara yang didapatkan dari intelijen pribadinya. Foto Nara yang sedang tersenyum tipis di depan kelas tertempel di sana.
"Besok jam sembilan," gumamnya dingin. "Kita lihat seberapa kuat prinsipmu di depan saya."