NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Pagi datang tanpa suara yang benar-benar jelas.

Cahaya matahari menyelinap perlahan dari celah tirai jendela, membentuk garis tipis berwarna keemasan di atas lantai kamar yang tenang. Udara di dalam ruangan terasa hangat, sedikit berbeda dari dingin hujan semalam yang masih samar terdengar di ingatan.

Yusallia terbangun dengan gerakan kecil yang hampir ragu.

Kesadarannya datang perlahan, seolah pikirannya masih berusaha mengejar bagian-bagian malam yang terasa kabur.

Hal pertama yang ia sadari adalah rasa asing.

Seprai berwarna netral yang tidak ia kenali. Aroma sabun yang berbeda dari yang biasa ia gunakan. Tekstur bantal yang terasa terlalu rapi untuk ukuran tempat yang ia kunjungi secara spontan.

Lalu ia menyadari sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Ia tidak mengenakan apa pun selain selimut yang menutupi tubuhnya setengah.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar dengan ekspresi kosong, seperti mencoba memastikan bahwa pikirannya tidak sedang mempermainkannya.

Namun potongan-potongan ingatan mulai muncul.

Lampu redup.

Suara hujan.

Tatapan yang terlalu dekat.

Ciuman.

Bisikan pelan.

Kehangatan yang terasa nyata.

Wajah Rionegro.

Yusallia langsung menutup wajahnya dengan tangan.

“Ya Tuhan…” gumamnya sangat pelan, hampir seperti tidak ingin dirinya sendiri mendengarnya.

Ia menarik napas perlahan, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba terasa penuh.

Perasaan canggung datang bersamaan dengan kesadaran bahwa ia benar-benar berada di apartemen seorang pria yang baru beberapa kali ia temui.

Dan bukan hanya sekadar bertamu.

Ia duduk perlahan, memastikan selimut tetap menutupi tubuhnya.

Kamar itu terlihat rapi.

Terlalu rapi.

Warna-warna netral mendominasi hampir seluruh sudut ruangan, memberikan kesan bersih dan teratur.

Tidak banyak dekorasi, hanya beberapa buku yang tersusun di rak kecil dekat meja kerja, lampu tidur dengan cahaya lembut, dan lemari dengan pintu tertutup rapat.

Segalanya terasa… terkontrol.

Sangat berbeda dengan pikirannya yang saat ini terasa berantakan.

Ia menoleh ke samping tempat tidur.

Kosong.

Tidak ada Rionegro.

Hal itu justru membuatnya sedikit lega sekaligus bingung.

Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa memberinya petunjuk waktu.

Jam digital kecil di atas meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 07.02.

Ia menghembuskan napas pelan.

Untungnya hari itu ia tidak memiliki jadwal jaga di rumah sakit.

Jika tidak, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kondisi dirinya saat ini.

Ia menyingkirkan selimut sedikit, lalu berdiri perlahan.

Tubuhnya terasa sedikit lelah, namun tidak terlalu.

Lebih seperti sisa kelelahan emosional daripada fisik.

Ia mengambil pakaian yang terlipat rapi di kursi dekat tempat tidur.

Gaun yang ia kenakan semalam sudah dibersihkan dari kerutan sebisanya.

Entah kapan Rionegro menaruhnya di sana.

Pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak sempat ia susun menjadi kalimat utuh.

Apakah semalam benar-benar terjadi?

Atau ia hanya terlalu lelah untuk mengingat semuanya dengan jelas?

Ia baru saja ingin melangkah menuju kamar mandi ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar.

Dua ketukan singkat.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuatnya menegang.

“Ya?” jawabnya pelan.

Pintu terbuka perlahan.

Rionegro masuk dengan langkah yang tetap tenang seperti biasanya.

Ia sudah rapi.

Kemeja berwarna netral dengan lengan panjang yang digulung sedikit, celana bahan gelap, dan rambut yang sudah tertata.

Ia membawa nampan kecil berisi sarapan sederhana.

Roti panggang, telur, dan segelas jus.

Tatapan mereka bertemu sebentar.

Lalu sama-sama mengalihkan pandangan.

Suasana langsung terasa berbeda.

Lebih kaku dari sebelumnya.

Lebih hati-hati.

“Saya pikir kamu mungkin lapar,” kata Rionegro dengan nada yang terdengar netral.

Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat tempat tidur.

“Terima kasih…” jawab Yusallia pelan.

Nada suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Sedikit ragu.

Rionegro mengangguk kecil.

“Saya tidak tahu kamu biasanya sarapan apa, jadi saya pilih yang sederhana.”

“Sudah cukup,” jawab Yusallia cepat, mungkin terlalu cepat.

Ia lalu menambahkan dengan nada lebih pelan, “Terima kasih.”

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang benar-benar tahu harus mengatakan apa.

Rionegro berdiri dengan jarak yang cukup aman.

Tidak terlalu dekat.

Namun juga tidak terlihat ingin segera pergi.

“Saya ada kelas jam sembilan,” katanya akhirnya.

Nada bicaranya tetap tenang.

“Tapi waktunya masih cukup.”

Ia menunjuk ke arah kamar mandi dengan gerakan kecil.

“Kamu bisa mandi dulu. Setelah itu saya antar kamu ke club semalam untuk ambil mobil.”

Yusallia mengangguk pelan.

“Iya… terima kasih.”

Hening lagi.

Kali ini lebih panjang.

Rionegro tampak ingin mengatakan sesuatu, namun menahannya.

“Apa hari ini kamu bekerja?” tanyanya akhirnya.

Yusallia menggeleng pelan.

“Tidak ada shift hari ini.”

“Baik.”

Jawaban singkat.

Namun entah kenapa terasa seperti percakapan yang terlalu formal untuk dua orang yang baru saja melewati malam yang sangat tidak formal.

“Kalau begitu… tidak perlu terburu-buru,” tambah Rionegro.

Yusallia hanya mengangguk kecil.

Tatapannya lebih banyak tertuju ke arah nampan sarapan daripada wajah pria di depannya.

“Terima kasih… untuk semalam aku minta maaf,” katanya pelan, hampir seperti refleks.

Rionegro terdiam sebentar.

“Saya juga minta maaf,” jawabnya singkat.

Kalimat yang sederhana.

Namun menyisakan makna yang tidak sepenuhnya jelas.

Rionegro lalu mengangguk kecil, seperti memberi tanda bahwa percakapan itu cukup untuk saat ini.

“Saya tunggu di luar,” katanya.

Lalu ia keluar dari kamar dengan langkah yang tetap tenang.

Pintu tertutup pelan.

Yusallia menghembuskan napas panjang begitu ia benar-benar sendirian.

Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik.

Mencoba menenangkan pikirannya yang terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya sederhana.

Ia lalu masuk ke kamar mandi.

Air hangat terasa menenangkan.

Membantunya mengumpulkan kembali pikirannya yang sejak tadi berjalan tidak beraturan.

Setiap detik di bawah air terasa seperti jeda yang ia butuhkan.

Bukan hanya untuk membersihkan tubuhnya, tapi juga untuk memberi ruang bagi pikirannya memahami apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.

Setelah selesai, ia mengenakan kembali pakaiannya.

Rambutnya masih sedikit lembap ketika ia keluar dari kamar mandi.

Sarapan di meja kecil masih hangat.

Ia duduk perlahan.

Mengambil satu potong roti.

Gigitan pertama terasa sedikit hambar, bukan karena rasanya tidak enak, tapi karena pikirannya masih terlalu sibuk memikirkan banyak hal.

Namun perlahan, ia memaksakan dirinya untuk makan.

Ia tahu ia membutuhkan energi.

Hari ini mungkin tidak terlihat sibuk secara jadwal.

Namun emosinya jelas tidak sesederhana itu.

Setelah selesai, ia merapikan sedikit tempat tidur secara refleks.

Kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan bahkan di tempat yang bukan miliknya.

Ia lalu membuka pintu kamar.

Ruang tengah apartemen terlihat sama tenangnya seperti semalam.

Rionegro berdiri dekat meja, memeriksa sesuatu di tabletnya.

Ia sudah benar-benar siap berangkat.

Tas kerja berada di kursi dekat pintu.

Ketika mendengar pintu kamar terbuka, ia menoleh.

Tatapan mereka kembali bertemu sebentar.

“Sudah selesai?” tanyanya.

“Iya.”

Jawaban singkat.

Namun cukup.

“Kita bisa berangkat sekarang.”

“Iya.”

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu.

Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat.

Namun cukup untuk merasakan keberadaan satu sama lain.

Lift apartemen terasa lebih sunyi dibanding semalam.

Tidak ada hujan.

Tidak ada percakapan panjang.

Hanya dua orang yang sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Ketika pintu lift terbuka di basement, udara terasa sedikit lebih dingin.

Langkah mereka terdengar pelan di lantai parkiran yang luas.

Mobil Rionegro terparkir tidak jauh dari pintu lift.

Ia membuka pintu penumpang untuk Yusallia seperti sebelumnya.

Gestur yang sopan.

Namun kali ini terasa lebih formal.

Yusallia duduk dengan hati-hati.

Sabuk pengaman terpasang dengan bunyi klik kecil.

Perjalanan menuju club berlangsung tenang.

Lalu lintas pagi mulai ramai.

Namun suasana di dalam mobil tetap hening.

Bukan hening yang tidak nyaman.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama belum menemukan kalimat yang tepat.

Rionegro fokus pada jalan.

Yusallia menatap ke luar jendela.

Gedung-gedung kota terlihat berbeda di pagi hari.

Lebih terang.

Lebih nyata.

Dan entah kenapa, terasa seperti mengingatkan bahwa kehidupan tetap berjalan seperti biasa.

Meskipun sesuatu telah berubah.

Tanpa mereka sadari.

Tanpa mereka rencanakan.

Mobil akhirnya berhenti di depan club tempat mereka berada semalam.

Bangunan itu terlihat sangat berbeda dibanding malam sebelumnya.

Tidak ada lampu warna-warni.

Tidak ada suara musik.

Hanya pintu tertutup dan suasana pagi yang tenang.

Rionegro mematikan mesin mobil.

“Kita sudah sampai,” katanya pelan.

Yusallia mengangguk kecil.

“Terima kasih… sudah mengantar.”

“Sama-sama.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Hati-hati di jalan.”

Yusallia membuka pintu mobil perlahan.

Kakinya menapak trotoar dengan perasaan yang masih sulit dijelaskan.

Sebelum menutup pintu, ia menoleh sedikit.

“Terima kasih… untuk sarapannya juga.”

Rionegro mengangguk kecil.

“Saya senang bisa membantu.”

Kalimat yang sederhana.

Namun cukup untuk menutup percakapan pagi itu.

Pintu mobil tertutup pelan.

Dan pagi itu menjadi awal dari sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Sebuah perubahan yang masih terasa samar.

Namun perlahan akan menjadi nyata.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!