Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kehadiran Yang mengusik
Sore itu datang dengan langit yang mulai berubah warna.
Cahaya matahari perlahan meredup, digantikan semburat jingga yang menyelimuti desa kecil itu dengan suasana hangat namun tenang. Angin berhembus pelan dari arah hutan, membawa aroma daun kering dan tanah yang mulai mendingin.
Di rumah paman Alana, suasana dapur terlihat sibuk seperti biasa.
Bibi Alana sedang menyiapkan makan malam, sementara suara peralatan masak terdengar ringan di dalam ruangan. Aroma masakan hangat mulai menyebar, menciptakan rasa nyaman yang akrab.
Alana duduk di meja sambil membantu memotong sayuran.
Hari itu terasa… biasa Namun entah kenapa, ada perasaan ringan yang ia rasakan sejak pagi mungkin karena ia menghabiskan waktu bersama Edward sebelumnya Atau mungkin karena pikirannya sedikit lebih tenang setelah memastikan kondisi kakeknya.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya bibi Alana tiba-tiba.
Alana tersadar dari lamunannya.
“Hm? Tidak apa-apa.”
Bibi Alana tersenyum tipis.
“Kau terlihat sering melamun akhir-akhir ini.”
Alana hanya tersenyum kecil tanpa menjawab.
Namun sebelum percakapan mereka berlanjut—
Tok… tok…
Suara ketukan pintu terdengar dari depan rumah.
Bibi Alana mengerutkan kening.
“Siapa sore-sore begini?”
Paman Alana yang baru saja masuk dari luar langsung menoleh.
“Aku buka.”
Ia berjalan menuju pintu depan tanpa banyak berpikir Alana tetap duduk di tempatnya Namun entah kenapa…ia merasa sedikit penasaran Langkah kaki paman terdengar berhenti didepan pintu.
Kemudian pintu dibuka beberapa detik hening lalu suara yang tidak asing terdengar.
“Lama tidak bertemu, Ayah.”
Suasana langsung berubah Alana membeku di tempatnya.
Suara itu…ia kenal sangat kenal.Ia berdiri dengan cepat, hampir menjatuhkan pisau yang dipegangnya.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Dari ruang depan, terdengar suara paman Alana yang penuh keterkejutan.
“Arlan…?”
Alana langsung berlari keluar dari dapur.
Dan di sana di depan pintu rumah seorang pria berdiri dengan senyum santai.Rambutnya sedikit lebih panjang dari biasanya Pakaiannya sederhana namun rapi, khas orang yang terbiasa hidup di kota.
Wajahnya terlihat lebih dewasa Namun tidak ada yang berubah dari senyumnya.
“Alana.”
Pria itu membuka tangannya sedikit Tanpa berpikir panjang, Alana langsung menghampirinya.
“Arlan!”
Ia memeluknya tanpa ragu.
Arlan tertawa kecil sambil menepuk punggungnya.
“Kau tidak berubah.”
Alana melepaskan pelukan itu, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Kau yang menghilang terlalu lama!”
Bibi Alana keluar dari dapur dengan wajah terkejut.
“Arlan?!”
Arlan tersenyum lebar.
“Halo, Ibu.”
Tanpa menunggu, bibi Alana langsung memeluknya dengan erat.
“Kenapa tidak bilang kalau mau pulang?!”
Arlan hanya tertawa ringan.
“Aku ingin memberi kejutan.”
Paman Alana masih berdiri di dekat pintu, menatap anaknya dengan ekspresi campur aduk.
“Dasar anak ini…”
Namun senyum perlahan muncul di wajahnya.
Rumah yang sebelumnya tenang…tiba-tiba menjadi hangat dan penuh suara Kehadiran Arlan membawa sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang sudah lama hilang malam datang lebih cepat dari biasanya di ruang makan, suasana terasa lebih hidup Arlan duduk di samping Alana, sementara paman dan bibi Alana berada di seberang mereka.
Percakapan tidak berhenti sejak tadi.
“Kau benar-benar tidak memberi kabar,” kata paman Alana.
Arlan mengangkat bahu.
“Pekerjaan di kota cukup sibuk.”
“Apa sekarang kau sudah selesai?”
“Untuk sementara, ya.”
Bibi Alana tersenyum lega.
“Baguslah. Rumah ini terasa sepi tanpa dirimu.”
Arlan tertawa kecil.
“Aku juga merindukannya.”
Ia melirik ke arah Alana.
“Dan tentu saja… si kecil ini.”
Alana langsung cemberut.
“Aku bukan anak kecil lagi.”
Arlan mengacak rambutnya dengan santai.
“Bagiku kau tetap sama.”
Alana mencoba menepis tangannya Namun tidak benar-benar marah hubungan mereka terlalu dekat untuk itu Sejak kecil, Arlan selalu memperlakukannya seperti adik sendiri.
Menjaganya,Menggodanya Dan selalu ada di sisinya.
Namun di tengah suasana hangat itu seseorang berdiri di luar rumah.
Edward Ia datang seperti biasa.
Langkahnya tenang, tanpa suara.
Namun sebelum ia mengetuk pintu…ia berhenti.
Dari dalam rumah, suara tawa terdengar jelas.
Suara yang tidak biasa Suara seorang pria.
Edward menyipitkan matanya sedikit.
Ia tidak langsung masuk Namun berdiri diam beberapa detik.
Mendengarkan Mengamati Kemudian, perlahan, ia membuka pintu.
Saat Edward masuk ke dalam rumah, semua orang menoleh.
Alana langsung tersenyum.
“Edward, kau datang.”
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih dekat Arlan sudah lebih dulu berdiri.
Tatapannya langsung tertuju pada Edward.
“Siapa ini?”
Nada suaranya santai.
Namun ada sedikit ketajaman yang tidak terlihat oleh orang lain.
Alana menjawab dengan cepat,
“Ini Edward. Temanku.”
Arlan mengangguk pelan.
“Teman?”
Ia tersenyum tipis.
Namun matanya tetap menilai.
Edward membalas dengan sopan,
“Senang bertemu denganmu.”
Arlan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu Kemudian ia menjabat tangan Edward.
“Arlan.”
Sentuhan tangan itu singkat.Namun cukup ,Cukup untuk membuat keduanya saling memahami sesuatu aura tekanan hal yang tidak bisa dirasakan manusia biasa.
Edward melepaskan tangannya lebih dulu Namun dalam hatinya…ia sudah tahu.
Pria ini…bukan sekadar sepupu Ia melihat cara Arlan berdiri.
Cara ia memandang Alana dan cara ia langsung menilai orang asing yang datang Itu bukan sikap biasa.
Dan yang paling membuatnya tidak nyaman…
adalah jarak antara Arlan dan Alana.
Terlalu dekat.
Terlalu alami.
Seolah tidak ada batas.
Mereka semua kembali duduk.
Namun suasana tidak lagi sama bagi Edward.
Alana terlihat sangat nyaman di dekat Arlan.
Tertawa.
Berbicara tanpa ragu.
Hal yang jarang ia lakukan dengan orang lain.
“Jadi kau tinggal di sini?” tanya Arlan pada Edward.
“Untuk sementara.”
“Pekerjaan?”
“Penelitian.”
Arlan mengangguk pelan.
“Hutan, ya?”
Edward menatapnya.
“Kau tahu?”
Arlan tersenyum tipis.
“Desa ini tidak banyak berubah.”
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia bukan orang yang mudah dibaca.
Edward tidak melanjutkan.
Namun perasaan tidak nyaman itu…
tidak hilang.
Malam semakin larut.
Setelah makan, Alana dan Arlan duduk di teras rumah.
Langit gelap dihiasi bintang.
Angin malam berhembus pelan.
“Kau benar-benar tidak memberi kabar,” kata Alana lagi.
Arlan tersenyum.
“Aku ingin melihat reaksimu.”
Alana memukul lengannya pelan.
“Bodoh.”
Namun ia tersenyum.
“Kau berubah,” kata Arlan.
Alana mengerutkan kening.
“Berubah bagaimana?”
“Lebih… dewasa.”
Alana tertawa kecil.
“Karena aku memang sudah bukan anak kecil.”
Arlan menatapnya beberapa detik.
Namun tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sementara itu, dari dalam rumah…
Edward berdiri di dekat jendela.
Tatapannya tertuju pada mereka berdua.
Ia tidak berniat menguping.
Namun ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Sesuatu di dalam dirinya…
tidak nyaman.
Perasaan yang asing.
Perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Cemburu.
Ia menarik napas pelan.
Berusaha menenangkan dirinya.
Namun semakin ia melihat…
semakin jelas perasaan itu.
Alana tertawa.
Dan bukan karena dirinya.
Hal itu sederhana.
Namun cukup untuk mengganggunya.
Beberapa saat kemudian, Edward keluar dari rumah.
Langkahnya pelan.
Alana menoleh.
“Kau mau pulang?”
Edward mengangguk.
“Sudah malam.”
Alana berdiri.
“Aku antar.”
Arlan tetap duduk.
Namun tatapannya mengikuti mereka.
Diam.
Mengamati.
Di luar rumah, suasana lebih sunyi.
Hanya suara angin dan serangga malam.
“Kau tidak banyak bicara tadi,” kata Alana.
Edward terdiam sejenak.
“Aku hanya… memperhatikan.”
Alana tersenyum kecil.
“Itu memang kebiasaanmu.”
Beberapa langkah mereka berjalan dalam diam.
Lalu Alana berkata,
“Arlan sudah seperti kakakku sendiri.”
Edward menoleh.
Nada suaranya tetap tenang.
“Aku bisa melihat itu.”
Alana tersenyum.
“Dia selalu menjagaku sejak kecil.”
Edward tidak menjawab.
Namun langkahnya sedikit melambat.
“Kau tidak suka dia?” tanya Alana tiba-tiba.
Edward berhenti.
Pertanyaan itu datang tanpa diduga.
Ia menatap Alana.
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Edward terdiam.
Beberapa detik berlalu.
“Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya.”
Jawaban itu terdengar netral.
Namun Alana merasa…
itu bukan jawaban sebenarnya.
Ia tidak memaksa.
Namun perasaan aneh muncul di dalam hatinya.
Di sisi lain, di teras rumah…
Arlan masih duduk sendirian.
Tatapannya mengarah ke arah mereka pergi.
Wajahnya tidak lagi santai seperti sebelumnya.
Lebih serius.
Lebih tajam.
“Aneh…”
gumamnya pelan.
Ia tidak tahu kenapa.
Namun sejak pertama kali melihat Edward…
ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Bukan sekadar orang asing.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Lebih gelap.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Belum.
Karena ia tahu satu hal.
Selama ia di sini…
ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Alana tanpa ia ketahui.
Malam itu berakhir dengan tenang di permukaan.
Namun di balik itu…
sesuatu telah berubah.
Keseimbangan yang sebelumnya stabil…
mulai bergeser.
Kehadiran Arlan membawa dinamika baru.
Hubungan yang sebelumnya sederhana…
mulai menjadi rumit.
Dan di tengah semua itu…
Edward mulai merasakan sesuatu yang tidak ia duga.
Perasaan manusia.
Yang perlahan…
mengganggu ketenangan seorang Raja Vampir.