NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tamu tak diundang

Pagi di apartemen mewah Distrik Xinyi itu terasa begitu damai. Matahari pagi menembus tirai, membuat garis-garis emas di lantai marmer. Lin Yan terbangun dengan perasaan yang anehnya nyaman. Ini hari ketiga di tubuh baru, dan ia mulai terbiasa dengan kemewahan di sekelilingnya.

Di dapur, ia menyiapkan sarapan mewah: xiaolongbao beku merek Din Tai Fung yang tinggal dipanaskan di kukusan, ditemani segelas susu kedelai hangat dari 7-Eleven corner. Ia duduk di meja makan marmer, menikmati setiap suapan sambil sesekali bergumam,

"Hidup enak begini enaknya. Kiamat? Ah, masih dua minggu lagi. Santai dulu aja."

Layar hologram Sistem Xiyue tiba-tiba muncul, menampilkan ikon si gadis kecil yang cemberut dengan tangan berkacak pinggang.

【Pagi-pagi udah santai. Lu tahu, kalau di dunia novel, figuran yang santai biasanya mati paling cepat. Biasanya pas lagi makan juga, biar dramatis.]

Lin Yan menyuap xiaolongbao tanpa peduli, kuahnya sedikit memercik. "Ya elah, sistem. Hidup itu dinikmati, jangan dibawa stress. Lagipula, kiamat kan masih lama. Gue pernah baca di koran China Times, katanya kiamat 2012 aja enggak jadi."

【itu beda bodoh, ini dunia novel dan dua minggu itu cepat, goblok! Lu harus—】

Dringg... Dringg... Dringg!

Bel pintu berbunyi keras, bertubi-tubi, memotong ucapan sistem. Lin Yan mengerutkan kening, sumpitnya berhenti di udara. "Siapa pagi-pagi begini? Jam 8 pagi hari Sabtu, orang normal masih molor."

【Cek kamera pengawas di layar TV. Itu salah satu fitur keamanan apartemen mewah.】

Lin Yan mengambil remote Xiaomi dari meja dan menekan tombol. Layar TV Samsung 75 inci di ruang tamu menyala, menampilkan gambar dari kamera CCTV di depan pintu. Empat orang berdiri di sana: seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah licik, seorang wanita dengan rambut dikeriting ala ibu-ibu arisan dan ekspresi sombong, serta dua pria muda. Satu main handphone, satu lagi—yang agak tampan, berambut klimis, pakai kemeja lengan digulung—tersenyum tipis ke arah kamera, seperti tahu sedang diawasi.

【Keluarga Liu. Pamannya, Liu jianming. Bibinya, Wang Mei. Dua sepupunya: Liu Chao yang main hape, dan Liu Ming yang senyum-senyum nyebelin itu.】

【SPOILER: Liu Ming yang nanti jadi antagonis kecil. Tampan tapi bajingan. Suka gonta-ganti cewek, suka pamer harta, dan suka nguras ATM.】

Mata Lin Yan yang tadinya malas langsung berubah tajam. Ingatan pemilik tubuh memberi tahu segalanya tentang orang-orang ini. Liu jianming, adik dari almarhum ayahnya, tapi beda ibu. Wang Mei, istrinya, tukang gosip kompleks. Liu Chao, sepupu pertama, pemalas keroyokan. Dan Liu Ming... ah, Liu Ming.

Dari ingatan yang diwarisinya, Liu Ming ini model antagonis kelas teri. Tampang lumayan—hidung mancung, alis tebal, senyum sedikit miring—makanya bisa gonta-ganti cewek tiap bulan. Tapi otak? Pas-pasan. Kerjanya cuma pamer mobil, pakaian branded KW, dan menghabiskan uang yang bukan haknya.

Yang paling bikin gemas: Liu Ming ini dari dulu suka ngancem Lin Yan yang asli. Sering "minjem" kartu ATM, minta ditransfer, dan Lin Yan yang asli—karena penakut dan trauma—diam aja. Bahkan pernah suatu kali Liu Ming masuk kamar Lin Yan paksa, mau "ngobrol berdua" tengah malam, untung Lin Yan lari kunci diri di kamar mandi. Dasar bajingan.

【Lu senyum-senyum gitu kenapa? Mau bunuh mereka?】

"Bukan bunuh," gumam Lin Yan pelan. "Cuma mau main-main dikit. Kasih lihat kalau penghuni baru di sini udah ganti manajemen."

Bel berbunyi lagi, lebih keras dan panjang. "Lin Yan! Cepat buka pintu! Pamanmu datang!" teriak suara wanita melengking Wang Mei dari luar, sampai kedengaran tembus pintu baja.

Dengan malas Lin Yan berjalan ke pintu, masih pakai piyama sutra biru tua. Rambut putihnya diikat asal, beberapa helai terurai di pipi. Ia membuka sedikit pintu—hanya menyisakan celah sempit—dan menampakkan wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Mata merah delima menatap keempat orang itu dengan dingin.

"Ada apa pagi-pagi?" tanyanya singkat, nada seperti orang lagi kesiangan.

Liu jianming, pamannya, tersenyum lebar, berusaha terlihat ramah. Senyum khas pejabat kampanye. "Yanyan! Akhirnya ketemu. Paman khawatir sama kamu, bagaimana kabarmu tinggal sendirian di sini? Sudah seminggu lebih, kok tidak kabar-kabar?"

Lin Yan tidak bergerak, tidak mengubah ekspresi. Matanya beralih ke Liu Ming yang sedari tadi memandanginya aneh. Tatapan yang terlalu lama, terlalu intens. Seperti sedang menilai barang.

"Langsung ke tujuan," potong Lin Yan datar.

Wang Mei, bibinya, mendorong suaminya dan maju selangkah. Wajahnya memerah, siap marah. "Heh, bocah kurang ajar! Begini cara bicara dengan orang tua? Kami datang baik-baik, bawain buah tangan, masa tidak dipersilakan masuk?" Ia mengangkat keranjang buah murahan yang isinya apel impor grade tiga.

"Langsung. Ke. Tujuan," ulang Lin Yan, sama datarnya. Kali ini matanya menyipit sedikit, memberi tekanan.

Liu jianming menarik napas, masih mempertahankan senyum meski rahangnya mengeras. "Baiklah, baiklah. Sebenarnya, Paman datang untuk membicarakan sesuatu yang penting. Lihat, kedua sepupumu ini—Liu Chao dan Liu Ming—mereka mau menikah. Liu Chao sudah dapat calon, keluarga baik-baik dari Tainan. Liu Ming juga sebentar lagi. Mereka butuh tempat tinggal, tempat yang layak untuk memulai rumah tangga baru. Apartemen ini kan besar, tiga kamar, dua kamar mandi. Cocok buat mereka berdua dan istri nanti."

Liu Chao, yang sejak tadi main honor of kings di handphone, mendongak sebentar dengan senyum sombong. "Iya, Yan. Lo kan sendiri, mubazir. Nanti gue sama Ming pindah ke sini, kita satu atap lagi kayak kecil dulu. Seru, kan?"

Liu Ming tidak berkata apa-apa. Ia malah melangkah maju sedikit, mendekati celah pintu. Matanya menyipit menatap Lin Yan dari ujung rambut putih sampai ke ujung piyama. Lalu tersenyum—bukan senyum ramah, tapi senyum orang yang sedang menilai mangsa.

"Yanyan, lama nggak ketemu, kamu makin... menarik," ucapnya pelan, suara dibuat serak-serak basah. "Dulu suka lari kalau ketemu aku. Sekarang masih?"

Lin Yan menatapnya tanpa ekspresi. Tapi di dalam kepala, otaknya bekerja cepat.

Ini dia bajingan yang suka minjem ATM dan pernah mau masuk kamar tengah malam.

Senyumnya sedikit melebar. Tapi bukan senyum balasan mesra. Senyum yang membuat Liu Ming mengerutkan kening, bingung.

"Jadi?" Lin Yan kembali menatap Liu jianming, "Mereka mau pindah ke sini?"

paman liu mengangguk semangat, mengira menang. "Iya! Sementara, pinjam dulu. Untuk mereka berdua. Kamu kan tinggal sendiri, mubazir kalau rumah sebesar ini cuma diisi satu orang. Lagipula, keluarga harus saling membantu, kan? Nanti kalau mereka sudah punya rumah sendiri, baru dikembalikan."

"Pinjam?" Lin Yan memiringkan kepala, nada bicaranya masih datar. "Sampai kapan?"

Liu Chao terkekeh. "Sampai kami punya rumah sendiri. Tapi ya, siapa tahu nanti lama-lama jadi betah, mungkin kami beli saja sekalian. Dengan harga pantas, tentu saja."

"Harga pantas" yang dimaksud jelas bukan harga pasar. Dari ingatan pemilik tubuh, keluarga Liu ini terkenal suka memanfaatkan situasi. Liu Ming bahkan sudah beberapa kali meminjam uang dan tidak pernah mengembalikan. Sekarang mereka mau "meminjam" apartemen?

Lin Yan diam beberapa saat. Matanya bergantian menatap mereka satu per satu. paman Liu yang tegang, Wang Mei yang cemberut siap marah, Liu Chao yang sibuk main hape, dan Liu Ming yang masih memandanginya dengan senyum aneh.

Lalu tiba-tiba ia tersenyum. Senyum kecil yang tidak sampai ke mata. Sangat mirip dengan senyum Liu Ming tadi, tapi entah kenapa lebih... dingin.

"Tidak."

Wang Mei langsung berteriak, suaranya melengking sampai menggema di lorong. "APA?! TIDAK?! DASAR ANAK TAK TAHU DIRI! KAMI BAIK-BAIK MINTA, KAU MALAH MENOLAK! KAU PIKIR KAU SIAPA?!"

"Aku pemilik apartemen ini," jawab Lin Yan tenang, nada seperti sedang bicara cuaca. "Dan kalian bukan siapa-siapa."

Paman Liu mencoba menenangkan istri, tapi nada bicaranya juga berubah. "Yanyan, jangan begitu. Paman ini keluargamu. Ayahmu sudah tiada, sudah kewajiban Paman untuk menjagamu. Tapi kau juga harus menghargai keluarga. Ini untuk kebaikan bersama."

"Kebaikan bersama?" Lin Yan tertawa kecil, tawa yang aneh, datar, tanpa humor. "Saat kalian mengusirku dari rumah orang tuaku saat mayat mereka masih hangat, itu juga kebaikan bersama?"

Wajah paman Liu memerah padam. "Itu urusan rumah orang tuamu! Itu hak mereka, mereka butuh tempat tinggal! Rumah ini warisan orang tuamu, kami tidak ikut campur. Tapi lihat, kau tinggal mewah sendirian, sementara sepupu-sepupumu kesusahan. Apa kata orang nanti? Masyarakat kompleks akan gunjing kita!"

"Apasih bodoh, Biarkan mereka bergunjing. Paling juga nanti ganti topik. Lagian kan itu punya orang tua ku lalu apa hak mereka ingin mengambil rumah orang tua ku dan sekarang menginginkan penthouse ini juga, huh?"

Liu Ming akhirnya buka suara. Ia melangkah lebih maju, hampir menyentuh pintu. Matanya menatap Lin Yan dengan intensitas baru—ada sesuatu di sana, campuran antara hasrat dan ancaman. "Yanyan, kenapa kamu berubah? Dulu kamu penurut, manis, selalu nurut. Sekarang kok keras begini? Siapa yang ngajarin?"

Lin Yan menatapnya balik. Matanya merah delima, tapi kosong. Seperti melihat serangga.

"Orang yang ngajarin? Banyak. Mantan militer, mantan ilmuwan gila, mantan pembunuh bayaran. Kalian mau kenalan? Mereka semua di RSJ Taoyong. Mungkin kalian cocok di sana."

"Maksud kamu?" Liu Chao angkat bicara, mulai curiga.

"Maksudku..." Lin Yan membuka pintu sedikit lebih lebar. Bukan untuk mempersilakan masuk, tapi supaya gerakannya leluasa. Ia berbalik, berjalan ke dalam dengan langkah santai. Keluarga Liu saling pandang, bingung. Apa yang dilakukan gadis ini?

Tiba-tiba Lin Yan kembali ke pintu. Di tangannya kini tergenggam sebilah pisau dapur besar. Bukan pisau biasa, tapi cai dao khas Tiongkok—lebar, berat, biasanya untuk memotong tulang ayam atau iga babi. Mata pisaunya mengilap terkena lampu lorong.

"Waktu aku mampir di RSJ," Lin Yan mulai bicara sambil memainkan pisau di tangannya, jari-jarinya membelai mata pisau dengan lembut, "aku punya banyak teman. Ada pensiunan militer yang suka cerita cara membunuh orang dengan sendok. Ada mantan dokter militer yang ngajarin titik-titik vital tubuh—tusuk sini, mati dalam 3 detik. Ada pembuat racun yang ngasih aku beberapa sampel buat 'penelitian pribadi'."

Ia mengangkat pisau itu, memeriksanya dari berbagai sudut seperti sedang mengagumi karya seni.

"Sekarang, aku punya racun baru. Belum sempat coba. Mau lihat efeknya?" Senyum Lin Yan melebar, indah tapi menyeramkan. Matanya yang merah delima bersinar aneh, seperti ular siap menerkam.

"Tolong jadi kelinci percobaanku, ya?"

Wang Mei menjerit kecil, menarik mundur suaminya dengan kasar sampai hampir jatuh. Liu Chao terpaku, handphone-nya jatuh ke lantai tanpa peduli. Liu Ming mundur selangkah, wajah tampannya berubah pucat, senyumnya lenyap digantikan ekspresi ngeri.

"K-Kau gila! Kau benar-benar gila!" teriak paman Liu, berusaha terlihat berani meski suaranya bergetar hebat.

"Gila?" Lin Yan memiringkan kepala, senyumnya semakin lebar. "Iya, aku gila. Dari sononya. RSJ udah rumah kedua. Dan orang gilaku bilang..."

Dalam sekejap, ia sudah di depan paman Liu. Gerakannya cepat, tidak terduga—kecepatan yang tidak mungkin dimiliki gadis biasa. Tubuhnya yang baru, setelah pil pembersih, memang sudah berbeda.

Pisau dingin menempel di leher sang paman. Goresan tipis muncul, garis merah tipis mengalir pelan membasahi kerah kemeja.

"KALIAN TIDAK AKAN MENGAMBIL TEMPAT INI!"

Paman Liu gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Wang Mei menjerit lagi lalu pingsan di tempat, roboh seperti karung. Liu Chao dan Liu Ming mundur terbata-bata, hampir jatuh tersandung tubuh ibu mereka.

"S-Sakit... Yanyan.... tolong... lukaku..." merintih paman Liu , suaranya pecah.

"Luka? Cuma goresan, besok sembuh. Tapi racun di pisau ini?" Lin Yan mendekatkan mulutnya ke telinga pamannya, berbisik pelan, "Itu cuma air keran. Tapi kalian kan nggak tahu."

Ia tertawa kecil. Tawa yang sama, datar dan aneh.

Liu Ming, dengan sisa keberanian, mencoba bicara. "Yanyan... kita keluarga... jangan begini..."

"Keluarga?" Lin Yan menoleh padanya. Mata merah delima menatap tajam. "Keluarga yang suka minjem ATM dan gak balikin? Keluarga yang suka masuk kamar tengah malam? Keluarga macam apa itu, hah?"

Liu Ming membeku. Ia tahu Lin Yan yang asli penakut, tapi yang ini... ini monster.

"K-Kita pergi! Cepat pergi!" teriak Liu Chao akhirnya sadar. Ia menarik ibunya yang pingsan, Liu Ming menarik ayahnya yang lemas. Mereka berlari meninggalkan pintu, bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Tas buah murahan tertinggal di lantai, apel-apel berhamburan.

Lin Yan berdiri di ambang pintu, masih memegang pisau, menatap kepergian mereka dengan senyum yang perlahan memudar. Ia melihat Liu Ming menoleh sekilas dari ujung lorong—tatapan campuran takut, marah, dan sesuatu yang lain. Lalu mereka lenyap di balik pintu elevator.

Saat keluarga Liu sudah hilang dari pandangan, Lin Yan menutup pintu perlahan. Ia berbalik, berjalan kembali ke sofa, dan menjatuhkan diri dengan kasar. Pisau diletakkan di meja marmer. Ia menatap langit-langit, napasnya sedikit berat. Matanya yang tadi bersinar aneh, kini kembali redup, malas.

【Itu... menakutkan. Lu sadar lu hampir membunuhnya?】

"Hanya mengancam. Lukanya cuma goresan kecil, besok sudah sembuh, lagian kalau bunuh sekarang mungkin gak seru karena menggunakan hukum. Tunggu kiamat nanti, mereka akan bisa bermain dengan ku." Lin Yan menguap lebar. "Tapi seru juga. Darah segar pertama di dunia ini."

【...Lu benar-benar gila.】

"Iya, aku tahu. Itu sebabnya aku di RSJ Taoyong." Lin Yan meregangkan tubuh, piyamanya sedikit melorot. "Tapi di RSJ, aku belajar banyak. Ada pensiunan militer—bekas petinggi PLA, lho—yang suka cerita strategi perang. Ada dokter militer yang ngajarin pertolongan pertama dan titik-titik vital tubuh. Ada peneliti teknologi yang suka ngomongin robot dan senjata masa depan. Ada pembuat racun yang suka eksperimen diam-diam di kamar mandi."

Ia tersenyum, kali ini senyum normal, sedikit nostalgia. "Mereka semua 'gila' versi masing-masing. Tapi mereka jenius. Aku suka dengerin cerita mereka. Jadi meskipun aku gila, aku gila yang terdidik. Masa sih lo kira ilmu gue cuma dari Li Fei? Dia mah otak nya akupuntur mulu"

【...That's somehow terrifying and impressive at the same time. Tapi sudahlah, ini bukan waktunya nostalgia. Lu harus mulai latihan. Fisikmu emang udah meningkat setelah minum pil, tapi itu baru dasar. Teknik dan kontrol masih nol besar. Kiamat dua minggu lagi, lu harus siap.】

Lin Yan mendengus malas. "Latihan? Ah, sistem, kamu ini..."

【Dengar!】 Sistem memotong, suaranya tegas. Layar hologram berkedip merah. 【Gue serius. Lu punya potensi, tapi lu pemalas. Minimal, minum pil pembersih sum-sum yang udah gue kasih. Itu akan membersihkan tubuh lu dari kotoran, ningkatin fisik dasar. Udah gue kasih tau dari kemarin, lu gak denger! Sekarang baru minum setelah ada kejadian!】

Lin Yan mengerutkan kening. "Pil itu? Yang kecil item? Gue kira vitamin biasa."

【IYA! ITU BUKAN VITAMIN BIASA! Itu pil pembersih sum-sum! Level item pemula tapi efeknya gila! Lu udah minum?】

"Udah. Pas abis sarapan tadi. Emang kenapa?"

【...LU MINUM SEBELUM INTERAKSI SAMA MEREKA?!】

"Iya. Kan enak, badan enteng, nggak ngantuk."

Diam. Layar hologram berkedip-kedip seperti error. Lalu—

【ASTAGA! GUE PIKIR LU AKAN MINUM NANTI MALAM! Itu pil butuh waktu 2-3 jam buat proses pembersihan! Selama proses, tubuh lu bakal ngeluarin racun dan kotoran, LU BERINTERAKSI SAMA MEREKA DALAM KONDISI ITU?!】

"Oh..." Lin Yan menatap tangannya. Kulitnya masih bersih, tidak ada tanda-tanda aneh. "Tapi gue baik-baik aja, tuh. Malah kerasa enteng."

【...Mungkin karena lu udah selesai prosesnya. Gue cek... wow. Lu selesai dalam 10 menit? Itu cepet banget. Biasanya 2-3 jam. Mungkin karena otak lu yang kacau bikin metabolisme cepet atau gimana.】

Lin Yan mengangkat bahu. "Berarti gue spesial, dong."

【Lu spesial dalam artian anomali. Tapi sudahlah, sekarang lu udah minum. Rasain efeknya.】

Baru saja sistem selesai bicara, Lin Yan merasakan sesuatu. Perutnya terasa panas. Panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuh, seperti api merambat di pembuluh darah. Tapi kali ini lebih cepat, lebih intens. Ia meringkuk di sofa, napasnya tersengal.

"S-Sistem... kenapa rasanya kayak kebakar?"

【Itu proses pembersihan. Bentar lagi keluar kotorannya. Tahan aja.】

Kulitnya mulai mengeluarkan cairan hitam, kental dan berbau busuk. Dari pori-pori, kotoran-kotoran tubuh keluar, meninggalkan lapisan lendir hitam yang menutupi seluruh permukaan kulit. Bau busuk memenuhi ruangan, membuat Lin Yan hampir muntah. Sofa putihnya ikut terkena noda hitam.

Setelah lima menit yang terasa seperti sejam, proses selesai. Lin Yan berlari ke kamar mandi, membuka keran air panas, dan menggosok tubuhnya berulang-ulang. Air hitam mengalir ke saluran pembuangan, perlahan berubah jernih. Ia menghabiskan tiga botol sabun cair dan dua botol sampo sebelum benar-benar bersih.

Saat ia selesai dan berdiri di depan cermin besar, handuk melilit di tubuh, Lin Yan tertegun.

Di cermin, seorang gadis dengan rambut putih panjang basah menatapnya. Kulitnya kini putih bersih, hampir transparan, seperti porselen halus. Wajahnya yang dulu biasa saja, kini tampak seperti boneka buatan tangan—cantik, sempurna, tapi dengan mata merah delima yang tajam. Garis rahangnya sedikit tegas, memberi kesan kuat, tidak lemah. Dan tinggi badannya... bertambah! Dari sekitar 1,6 meter menjadi 1,7 meter lebih. Tubuhnya kini proporsional, ramping tapi terlihat padat, dengan otot-otot kecil yang terbentuk di perut dan lengan.

"Wah..." gumamnya, memutar tubuh ke kiri dan kanan, handuknya hampir terlepas. "Ini aku?"

【Hasil pil pembersih sum-sum. Tubuh lu kini murni, bebas racun dan kotoran. Fisik dasar meningkat pesat. Lu sekarang lebih kuat, lebih cepat, lebih tahan lama. Bahkan, lu sekarang masuk kategori 'peak human'. Belum super, tapi udah di atas rata-rata.】

Lin Yan menatap dirinya sendiri, lalu tersenyum lebar. "Aku cantik! Kayak artis Taiwan! Atau idol Korea! Atau tokoh kultivasi di novel-novel Xianxia!"

Ia berpose di depan cermin—angkat tangan, putar badan, pamer profil—tertawa senang. Rambut putih panjangnya tergerai indah, mata merahnya berbinar.

【...Dasar narsis. Tapi iya, lu memang cantik. Sekarang, setelah ini, latihan—】

"Ah, sistem! Jangan rusak momen bahagiaku!" potong Lin Yan. "Biar kulihat dulu diriku yang cantik ini. Lagian sofa jadi kotor, gue harus bersihin. Nanti sore baru latihan, ya?"

【...KAU INI! Kiamat dua minggu lagi, dan lu—】

"Tau, tau. Tapi lihat!" Lin Yan menunjuk cermin. "Ini aset berharga! Masa iya gue gak boleh nikmatin bentar?"

Sistem Xiyue diam. Layarnya berkedip-kedip, seperti orang menarik napas dalam-dalam. Lalu—

【Baiklah. Tapi janji, sore ini latihan. Minimal belajar dasar-dasar pertahanan diri. Gue gak mau host gue mati konyol di hari pertama kiamat cuma karena kegoblokan sendiri.】

"Iya, iya. Janji deh." Lin Yan menjulurkan kelingking ke arah layar. "Kelingking, udah kayak anak kecil aja."

【...Gue sistem, gak punya jari. Tapi gue catat janji lu. Kalau ingkar, gue bakal bunyiin alarm di kepala lu tiap jam 3 pagi.】

"JAHAT!"

Tapi Lin Yan sudah melompat-lompat kecil, berputar-putar di kamar mandi, menikmati penampilan barunya. Ia keluar, membersihkan sofa dengan semangat, lalu kembali bercermin. Bolak-balik. Seperti anak kecil dapat mainan baru.

Di luar jendela, matahari semakin tinggi, menerangi apartemen mewah itu. Dua minggu menuju kiamat, dan Lin Yan, si gadis gila dari RSJ Taoyong, baru saja memulai transformasinya.

Dengan cara yang paling santai dan narsis, tentu saja.

Tapi di dalam hatinya, ia tahu: pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai. Dan ia sudah tidak sabar.

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!