Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi dan permintaan terakhir
Terik matahari membakar aspal lapangan, namun Dita yang berdiri tegak dalam balutan seragam mayoret yang megah nyaris tak merasakannya. Matanya terus bergerak liar ke arah tribun penonton, menyisir setiap wajah, berharap menemukan sosok pria paruh baya yang sangat ia kenal.
"Dita! Fokus!" bisik Rena tajam, menyenggol bahunya pelan. "Juri sudah siap, nama sekolah kita taruhannya. Jangan sampai kacau hanya karena kamu celingukan!"
Dita menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. "Ayah ku janji mau datang, Ren. Ini lomba tingkat provinsi, Ayah bilang akan ada di baris depan."
"Mungkin Ayahmu masih di jalan. Sekarang, tunjukkan kalau kamu mayoret terbaik. Jangan permalukan tim kita!" tegas Rena.
Dita menelan ludah, rasa kecewa mulai menggerogoti dadanya. 'Sepertinya Ayah memang tidak akan pernah datang, batinnya pahit. Ia mengangkat tongkat mayoretnya, bersiap memulai gerakan, meski hatinya terasa hampa.
.
.
Di belahan kota yang lain, suasana jauh lebih mencekam. Pak Indra Wijaya berlari kencang, napasnya tersengal-sengal. Di belakangnya, dua pria bertubuh kekar terus membuntuti.
"Hey, jangan lari kau! Dasar manusia tidak tahu diri!" teriak salah satu pria berambut gondrong. "Bos Gareng sudah menolong mu, tapi apa balasannya, hah!"
Pak Indra tidak menoleh. Ketakutan menyelimutinya. Hingga di sebuah perempatan, ia nekat menerobos lampu merah. Di saat yang sama, sebuah mobil polisi dengan sirine meraung melintas cepat.
Ciiiittttt!
Ban mobil berdecit keras. Mobil itu berhenti tepat beberapa sentimeter dari tubuh Pak Indra. Akibat pengereman mendadak, pengemudinya adalah seorang polisi muda, ia terbentur setir hingga pelipisnya berdarah.
Namun, Pak Indra tiba-tiba memegangi dada kirinya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam jantungnya. Ia pun tumbang, kepalanya membentur aspal panas. Melihat ada polisi, dua preman tadi langsung putar balik dan melarikan diri.
Di ruang IGD rumah sakit, Pak Indra perlahan membuka mata. Di sampingnya, berdiri sosok polisi gagah yang tadi hampir menabraknya, masih dengan seragam lengkap dan luka kecil di pelipis.
"Cah bagus... Uhuk! Uhuk!" Pak Indra terbatuk lemah. "Apakah kau... sudah menikah?"
Polisi bernama Arjuna itu mengernyitkan kening. Pertanyaan yang sangat janggal di tengah situasi medis seperti ini. "B... Belum, Pak. Kenapa memangnya?"
Pak Indra tiba-tiba menggenggam tangan Arjuna dengan sisa tenaga yang ada. "Nak, tolong bantu Bapak sekali ini saja. Tolong jaga dan menikahlah dengan putriku. Dia berada dalam bahaya... Jika dia bersamamu, saya yakin dia akan selamat."
"Tapi Pak, saya tidak mengenal putri Bapak," jawab Arjuna tegas. "Menikah itu bukan hal mudah, jangan main-main, Pak!"
"Kalau saja kamu tidak menabrak saya, mungkin saya tidak akan meminta hal seperti ini!" balas Pak Indra dengan suara parau namun menekan.
Arjuna tersentak. "Bapak berani mengancam ku?"
"Tidak, cah bagus... tolong Bapak kali ini saja, biar nanti Bapak bisa pergi dengan tenang," pinta Pak Indra dengan mata berkaca-kaca.
Arjuna terdiam. Bayangan wajah ibunya yang setiap hari mendesaknya menikah tiba-tiba melintas. Segala perjodohan yang ia tolak, segala paksaan orang tuanya... mungkinkah ini jalan keluar yang tak terduga?
Sambil menghela napas panjang, Arjuna menatap pria tua yang sekarat itu. "Baiklah, Pak. Saya janji akan menikahi putri Bapak. Jadi Bapak tidak usah khawatir, dan semoga Bapak cepat sembuh!" jawabnya dengan nada tegas, meski ada keraguan yang terselip di hatinya.
.
.
Suara riuh tepuk tangan membahana di seluruh lapangan saat Dita melakukan gerakan penutup yang sempurna. Meskipun hatinya diliputi kecemasan, profesionalismenya sebagai mayoret utama membuat penampilannya tampak menakjubkan tanpa cela.
Sesaat setelah ia turun dari lapangan, Angga kekasihnya yang baru saja jadian genap satu bulan itu datang menghampiri dengan senyum lebar. Ia menyodorkan sebuket bunga mawar merah yang cantik.
"Selamat ya, Ta. Kamu luar biasa hari ini," ucap Angga lembut.
Rena yang berdiri di samping Dita langsung menyenggol lengan sahabatnya itu. "Cie... Dita! Senang tuh dikasih buket bunga sama Ketua OSIS kita yang paling populer. Kalian itu pasangan paling cocok, deh. Dita si cewek populer, dan Angga si Ketua OSIS plus kapten basket. Perfect!"
Teman-teman setim yang lain ikut bersorak menggoda, membuat wajah Angga memerah karena tersipu. Namun, di tengah keriuhan itu, Dita justru terdiam. Wajahnya perlahan berubah murung. Bunga di tangannya tak mampu mengobati rasa kecewa karena ayahnya tak kunjung terlihat.
Tiba-tiba, Bu Hesti, guru pembimbing mereka, datang dengan wajah pucat dan terburu-buru. "Dita, ikut Ibu sekarang!"
"Ada apa, Bu? Acara penyerahan pialanya kan belum...."
"Ikut saja dulu," potong Bu Hesti tegas. Angga mencoba melangkah maju. "Bu, boleh saya ikut?"
"Jangan, Angga. Ini urusan keluarga. Kamu tetap di sini bersama tim," larang Bu Hesti.
Di dekat pintu keluar gedung olahraga, Dita dikejutkan oleh sosok wanita yang sangat ia kenal sedang terisak.
"Dita... Hiks... hiks..."
"Loh, Tante Elsa? Kenapa Tante menangis?" tanya Dita dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
"Ayahmu, Dit... Ayahmu masuk rumah sakit. Tante ke sini sengaja untuk menjemputmu!"
Dunia seolah berhenti berputar. Dita merasa seperti disambar petir di siang bolong. Tanpa banyak bicara, ia langsung berlari menuju mobil, mengabaikan seragam mayoretnya yang masih melekat indah.
.
.
Suasana ruang IGD begitu dingin dan mencekam. Dita berlari menyusuri lorong, masih dengan kostum mayoretnya yang mencolok, kontras dengan bau antiseptik rumah sakit. Di sana, di samping ranjang ayahnya, berdiri seorang pria tegap berseragam polisi.
"Ayah!" Dita berteriak histeris, langsung menghambur memeluk tubuh lemah Pak Indra. Tante Elsa mengekor di belakang, tangisnya pecah melihat kondisi suaminya yang kian kritis.
Arjuna, yang sejak tadi berjaga, terpaku di tempatnya. Matanya tak berkedip menatap gadis yang sedang menangis sesenggukan itu.
'Hah, tidak salah aku menikah dengan bocah masih bau kencur?' batin Arjuna sambil memijit pelipisnya yang berdenyut. 'Aku yang sudah berusia tiga puluh lima tahun harus menikahi gadis polos yang masih ABG? Sungguh tidak terduga... kenapa tadi aku tidak tanya berapa usianya!' batinnya lagi.
Pak Indra menggerakkan tangannya yang gemetar, mengusap lembut kepala Dita.
"Nduk... maafkan Ayah... Ayah tidak bisa selalu melindungimu," bisiknya tersengal-sengal. "Dita, maukah kamu mengabulkan permintaan Ayah yang terakhir?"
Dita mendongak dengan wajah sembab. "Ayah mau minta apa sama Dita? Pasti Dita kabulkan, tapi Ayah harus janji untuk sembuh!"
Pak Indra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan perpisahan. "Nduk, Ayah ingin kamu menikah... dan pria berseragam polisi di sampingmu ini adalah calon suamimu."
Deg!
Dita melepaskan pelukannya, menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
"Apa, Ayah? Menikah?" suara Dita bergetar hebat. "Tapi Dita masih sekolah, Yah... dan Dita tidak kenal dia!"
Dita menoleh ke arah Arjuna dengan tatapan nanar, sementara Arjuna hanya bisa terdiam membisu dengan sejuta keraguan yang berkecamuk di kepalanya.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna