NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Violet masih membeku di tempatnya berdiri. Otaknya memproses cepat, ke berita-berita yang pernah ia baca, potongan-potongan informasi yang beredar tentang Adriel Voss di berbagai sumber, salah satunya yang cukup konsisten disebut adalah soal tekanan dari lingkaran militer dan keluarga besar Voss tentang penerus.

Adriel Voss memang menginginkan anak. Bukan dalam konteks keinginan yang romantis. Tapi karena garis keturunan, warisan nama, dan tekanan dari sistem yang sudah ada jauh sebelum ia lahir.

Dan sekarang ia berdiri di posisi perempuan yang namanya tertulis sebagai istrinya.

Wajah Violet memucat, kali ini bukan takut lagi kalau- kalau Adriel akan mem*enggal kepalanya atau menodongkan pistol ke jantungnya, lebih dari itu. Laki- laki ini terlihat dua kali lipat lebih menyeramkan dengan matanya yang kini mulai berkabut gairrah.

Sementara tangan Adriel masih tetap menempel lembut di perutnya, jarak mereka hanya satu jengkal, begitu dekat hingga hangat telapak tangannya meresap melalui kain gaun tidur tipis yang Violet kenakan. Denyut aneh di dada Violet semakin kencang, seperti ada sesuatu yang bangun dan bergerak pelan di balik tulang rusuknya. Bukan takut sepenuhnya. Tapi juga bukan rasa tenang.

"Saya..." Violet berusaha mencari kata- kata yang pas, tapi kepalanya tiba-tiba kosong seperti kertas putih. "Saya butuh waktu untuk memproses semua ini, Tuan."

Adriel tidak menjawab. Matanya menatap Violet dengan cara yang berbeda malam ini. Terlihat lebih gelap, lebih berat, seolah ada api yang menyala pelan di baliknya.

Dan baru sekarang dari jarak sedekat ini Violet menangkap sesuatu yang sejak tadi tidak ia perhatikan.

Bau samar yang familiar.

Alkohol.

Violet menelan ludah pelan.

Jadi ini bukan sepenuhnya Adriel yang biasa. Laki-laki yang terkontrol dalam setiap gerakan dan setiap kata-katanya itu malam ini berdiri di depannya dengan sesuatu yang sudah menggeser sebagian kendali yang biasanya tidak pernah lepas dari tangannya.

"Tuan," kata Violet, suaranya ia jaga tetap tenang, "A- anda habis minum? "

Adriel tidak menyangkal. Tapi ia juga tidak mundur.

"Itu tidak mengubah apa yang saya katakan."

Violet refleks mundur. Punggungnya menyentuh dinding dingin ruang kerja. Seketika ia terkurung. Kedua tangan Adriel bertumpu di dinding, di kiri dan kanan kepalanya, membuat ruang geraknya hilang. Dari sini, Violet bisa melihat jelas: matanya memang sedikit kabur karena alkohol, tapi tatapannya tetap tajam, bahkan terlalu tajam.

"Kamu istri saya," bisiknya rendah, suara baritonnya seperti getaran yang merambat ke tulang Violet. "Dan kamu datang ke sini dengan..."

Pandangannya turun sebentar ke gaun tidur tipis yang Violet kenakan, gaun yang tadi ia pilih karena itu satu-satunya pakaian tidur yang ada di lemarinya tanpa pernah memikirkan konsekuensinya.

Adriel tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tapi Violet mengerti maksudnya dan merasakan panas naik ke wajahnya.

"Ini satu-satunya yang ada di lemari," kata Violet cepat.

"Saya tahu."

"Lalu kenapa--"

"Karena saya tetap manusia, Violet."

Kalimat itu keluar pelan dan jujur dengan cara yang mengejutkan Violet lebih dari semua yang sudah diucapkan Adriel malam ini. Karena di balik semua kontrol dan semua jarak yang selalu ia pasang, di balik reputasi dan seragam dan cara berdiri yang tidak pernah memberi ruang untuk kelemahan, laki-laki ini mengakui sesuatu yang sederhana dan sangat manusiawi.

Dan Violet tidak tahu harus merespons itu dengan cara apa.

"Adriel..." Untuk pertama kalinya ia memanggil nama itu tanpa embel-embel"Tuan". Suaranya lembut, tapi tegas. "Saya belum siap. Saya serius. Bukan karena tidak mengerti posisi saya sebagai istri. Tapi karena ini... bukan sesuatu yang bisa saya berikan hanya karena kita kebetulan berada di ruangan yang sama malam ini."

Adriel diam. Matanya menatap Violet lama, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Lalu ia bergerak.

Terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba.

Satu tangannya turun dari dinding, menyentuh pipi Violet dengan lembut tapi tegas, mengangkat wajahnya. Bibir Adriel menyentuh bibir Violet dalam satu gerakan yang penuh hasrat. Rasa hangat, berat, dan beraroma alkohol yang samar langsung Violet rasakan. Ciuman itu tidak lembut seperti yang Violet bayangkan ketika ia melihat di drama- drama romantis. Ia dalam, lapar, seolah Adriel sudah menahan diri terlalu lama.

Violet tersentak. Napasnya tertahan saat lidah Adriel menyentuh bibirnya, meminta masuk dengan lembut tapi tak memberi ruang untuk menolak. Rasa alkohol yang pahit-manis bercampur dengan aroma maskulinnya yang kuat. Aroma kayu, kulit, dan sesuatu yang gelap, membuat kepala Violet sontak berputar. Tubuhnya bereaksi lebih dulu dari pikiran: lututnya melemas, dadanya spontan menempel lebih rapat ke dada Adriel.

Dan untuk sesaat yang memalukan, ia merasakan desir panas yang menjalar dari bibirnya turun ke perut, lalu ke bawah. Jantungnya berdegup liar. Getaran kecil merambat di kulitnya saat tangan Adriel yang lain merengkuh pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka.

Ciuman itu semakin panas. Adriel mendesah pelan di bibir Violet, lidahnya menari pelan, menggoda, seolah ingin mencicipi setiap inci dari mulutnya. Violet merasa seperti terbakar dari dalam. Panas, basah, dan begitu nyata. Tubuhnya mengkhianati, pinggulnya sedikit mendesak ke depan tanpa sadar, menyambut sentuhan itu meski pikirannya berteriak menolak.

Tapi hanya sesaat.

Lantas keesadarannya kembali seperti air dingin yang menyerbu ke kepala.

Violet mendorong dada Adriel sekuat tenaga. Tubuh laki-laki itu mundur dua langkah, napasnya tersengal sama seperti Violet. Air mata sudah mengalir di pipi gadis itu sebelum ia sempat menahannya, bukan karena takut, tapi karena campuran rasa malu, marah, dan sesuatu yang lebih dalam yang ia tak mau akui.

Ia menggeleng pelan. Satu kali. Dua kali.

Adriel lalu membeku. Lapisan alkohol di matanya seolah tersibak seketika. Wajahnya berubah drastis dari hasrat menjadi keterkejutan, lalu penyesalan yang dalam. Ia mundur selangkah lagi, tangan kanannya naik ke rambutnya sendiri, mengacak-acak dengan kasar seolah ingin menghukum dirinya.

"Pergi," katanya parau. Suara itu bukan perintah dingin seperti biasa. Lebih seperti permohonan yang pecah.

Violet tidak menunggu lagi. Ia berbalik, berjalan cepat melewati kursi-kursi ruang kerja, membuka pintu, dan keluar ke lorong yang sepi. Langkahnya berusaha tetap tenang, tapi gemuruh di dadanya berantakan.

Dan tanpa Violet ketahui, di balik pintu yang tertutup, Adriel bergumam.

"Apa yang kau lakukan, Adriel..." penuh penyesalan yang berat.

Sementara Violet berdiri di lorong beberapa detik, punggungnya menyentuh dinding dingin, jantungnya masih berdegup kencang. Bibirnya terasa panas, bengkak, dan masih menyimpan rasa bibir Adriel disana

Akhirnya ia berjalan ke kamarnya, menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi ranjang dalam kegelapan. Ujung jarinya menyentuh bibirnya sendiri, masih merasakan sisa ciuman yang membakar itu.

Dan besok pagi, mereka akan duduk di meja makan yang sama. Dan tak satu pun dari mereka yang tahu bagaimana memulai pembicaraan tentang malam yang sudah retak ini.

****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!