Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08: Racun Mimpi Koblet!
***
Malam kembali turun diatas wilayah Sekte Abadi.
Setelah sidang skandal yang terjadi di dalam Sekte Abadi, suasana di dalam sana tidak lagi sama.
Bisikan para murid bergema di seluruh lorong Sekte, seperti sekam yang terbakar oleh api.
Lianhua dan Tetua Li Chik, dikurung dalam ruangan terpisah di Paviliun Hukuman Sekte Abadi, di jaga oleh beberapa murid Inti yang dipercaya oleh Ketua Mo.
Walaupun telah dijaga ketat, penjara yang paling kuat sekalipun ... tetap memiliki celah.
☣
Di dalam Paviliun miliknya, Mo Yuyan duduk dalam posisi meditasi, dimana dia mencoba untuk berkultivasi diluar ruang dimensinya.
Namun sangat sulit untuk bisa menyerap energi Yin di tempat yang ber-vibes positif itu, hanya asap tipis warna ungu melingkar lembut disekelilingnya, yang keluar dari tungku legendaris miliknya.
Duan Xue berdiri di depannya dengan tangan terlipat.
"Ternyata kamu tidak puas hanya dengan mempermalukan mereka saja, ya?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan tersenyum tipis ...
"Aku hanya tidak suka melakukan pekerjaan setengah-setengah ..." jawab Mo Yuyan.
"Lalu, kamu mau memberikan mereka racun koblet yang kamu buat kemarin?" tanya Duan Xue kembali.
Mo Yuyan menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Ya ... Racun Mimpi Koblet ini tidak akan membunuh, namun membuat mental korban menjadi hancur, karena terjebak dalam mimpi buruk yang sama berulang kali ..." jawab Mo Yuyan.
Duan Xue menganggik-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tidak lama kemudian, dia celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Cari siapa?" tanya Mo Yuyan.
"Dimana Nenek Du? Dari kemarin tidak kelihatan?"
"Oh ... Nenek tinggal di ruang dimensi, kalau diperlukan baru keluar ..." jawab Mo Yuyan, santai.
"Setelah urusan dua orang itu selesai, aku juga mau latihan tertutup, guna menaikkan level kultivasiku. Kamu ikut?"
"Oke ... Aku juga ingin kuat! Energi Yin di sini sulit, harus pergi ke area pemakaman massal atau hutan angker, agar bisa meningkatkan kekuatan Iblisku ..." jawab Duan Xue.
Duan Xue duduk di dekat Mo Yuyan, sambil menuang teh hangat untuk dirinya sendiri.
"Apakah ular kobra dalam racun mimpi itu masih akan mengejar korban sambil melet-melet begitu?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan terkekeh saat mendengar pertanyaan tersebut.
'Kali ini bukan hanya mengejar korban, tapi aku masukkan ilusi ke dalamnya, agar si kobra bisa menginterogasi mereka ..." jawab Mo Yuyan dengan nada bangga.
Duan Xue sampai tersedak air teh, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Uhuuuk! ... Uhuuuk! ... Ular Kobra bisa menginterogasi ...?!?!" beo Duan Xue sambil terbatuk-batuk.
'Yup! Benar sekali! Karena ketakutan terbesar manusia itu bukan pada kematian, tapi pada sebuah ... Penghakiman!" jawab Mo Yuyan dengan nada dingin.
Mo Yuyan mengangkat dua botol kecil berisi cairan berwarna ungu kehitaman ke depan wajah Duan Xue.
"Itu adalah tugasmu ..."
"Pastikan mereka berdua meminum racun ini. Setelah meminumnya, mereka akan langsung tertidur. Dan disanalah ilusi milikku akan bekerja ..." ujar Mo Yuyan.
"Apa kamu yakin, jika mereka akan mengakui semuanya?" tanya Duan Xue dengan nada skeptis.
Mo Yuyan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Tentu saja yakin! Orang yang sudah ketakutan dan terpojok akan berbicara kebenaran, dan mereka akan mengakui semua kesalahannya!"
☣
Tidak lama setelah perbincangan itu, Duan Xue melesat keluar untuk menyusup ke dalam dapur Paviliun Hukuman, sambil membawa dua mangkuk sup yang sudah diberi racun.
"Perintah dari Ketua Sekte Mo! Tahanan harus minum sup penenang ini, agar mereka tetap waras sampai hari hukumannya tiba ..." ujar Duan Xue dengan nada santai kepada murid Inti yang berjaga disana.
Para penjaga itu menganggukkan kepalanya tanpa curiga sedikitpun.
Di dalam mangkuk sup tersebut, terdapat liam tetes racun 'Mimpi Koblet', yantelah larut tanpa meningggalkan jejak sedkitpun.
Di dalam ruangan pertama, Lianhua terlihat duduk dipojokan sambil memeluk lututnya.
Wajahnya terlihat pucat dan berantakan.
Salah satu murid Inti yang menjaga ruangan itu menyodorkan mangkuk sup tersebut dengan sedikit kasar.
"Makan! Jangan sampai mati dulu, sebelum hukuman itu ditetapkan!" ujar murid Inti itu dengan nada sinis.
Lianhua mengambil mangkuk itu dengan tatapan sinis, seakan-akan dia sedang memperhitungkan, siapa saja yang akan dia balas nanti setelah keluar dari ruang hukuman itu.
Dia meminum sup itu dengan sekali teguk.
Gluk!
"Sudah habis! Keluarlah kaian dari sini!" usir Lianhua dengan kasar, sambil memperlihatkan mangkuk yang telah kosong itu.
"Bagus! Tetaplah hidup dan jangan buat masalah!"
Sementara di ruangan yang lainnya, Tetua Li Chik juga menerima mangkuk yang sama dengan Lianhua.
Gluk!
"Sudah habis! Kalian pikir, aku akan kabur dari sini, huh?! Sampai banyak yang berjaga begini ..." ujar Tetua Li dengan nada kesal, sambil memperlihatkan mangkuk kosongnya.
"Kami hanya menjalankan perintah saja, Tetua Li. Tolong jangan mempersulit kami ..."
Tidak butuh waktu lama, setelah para murid yang menjaga itu keluar dari dalam kedua ruangan itu, Lianhua dan Li Chik langsung merasa mengantuk.
"Hoaaamzzz ...."
Dan keduanya pun masuk ke dalam mimpi buruk masing-masing.
☣
Dalam mimpi buruk Lianhua~
Dia sedang berdiri di atas sebuah padang pasir berwarna hitam.
Langit berwarna merah darah, dan angin membawa sebuah suara desisan yang menakutkan.
"Sssssss ..."
Padang pasir itu bergetar hebat ...
Dan dari balik kabut, seekor ular kobra raksasa muncul dengan liukkan tubuh yang membuat bulu kuduk merinding.
"Sssss .... Sssss .... Sssssss ..."
Sisik hitamnya terlihat berkilau, dan mata ungunya menyala terang.
Mulutnya terbuka lebar dengan taring panjang yang mengerikan, lidahnya menjulur panjang keluar.
Ular itu merayap mendekati Lianhua, membuat Lianhua terjengkang ke arah belakang.
"Aaakhh! S-siapa kamu ..?!!!" teriak Lianhua ketakutan.
Terdengar suara berat menggema, yang menjawab pertanyaan Lianhua.
"SAYA ... ADALAH MIMPI BURUKMU! HAHAHAHAHA! SSSSHHHS ..."
"DAN SAYA ADALAH HAKIMMU!"
"Apa-apaan ini?! Saya tidak merasa bersalah! Kenapa sampai ada hakim berbentuk ular begini?!" seru Lianhua dengan wajah panik.
Ular Kobra itu mendekat perlahan ke arah Lianhua.
"Yakin tidak bersalah ...?? Jika merasa tidak bersalah, kenapa kamu mendorong temanmu itu ke dalam Jurang Pemakan Jiwa, hm?" tanya Kobra itu sambil melet-melet.
Lianhua memejamkan matanya sambil menjerit histeris.
"Aaaaaaa!!! Itu bukan keinginanku! Aku hanya menjalankan perintah saja! Menjauhlah, jangan mendekat!" jawab Lianhua dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Atas perintah siapa?" tanya Kobra itu kembali.
"I-itu atas perintah T-tetua Wang dan Tetua Shang! Mereka bilang, jika Mo Yyan tiada, maka Sekte Abadi akan aman!" jawab Lianhua.
Dan di dunia nyata, tubuh Lianhua menggeliat dan gemetar di atas ranjang.
Semua yang dia ucapkan di dalam mimpi, ternyata dia teriakkan pula di dunia nyata, membuat para murid Inti yang berjaga saling pandang dengan wajah terkejut.
"Apa dia bilang tadi? Dia bilang Tetua Wang dan Tetua Shang yang merencanakan pembunuhan atas diri Mo Yuyan???"
"KIta harus melaporkan semua ini keada Tetua Mo secepatnya!"
"Baik!"
Di ruangan Tetua Li juga sama, dia terjebak dalam mimpi buruk dan diinterogasi oleh seekor ular kobra warna hitam yang besar.
Tetua Li mengakui semuanya dalam mimpi sampai terkencing-kencing, sehingga murid yang berjaga disana mendengar semuanya.
☣
Pagi belum sepenuhnya terang, ketika para murid Inti itu melaporkan semuanya kepada Ketua Mo.
"Apa laporan penting yang ingin kalian sampaikan?" tanya Ketua Mo.
Salah satu murid inti maju selangkah ke arah depan, sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Kami mendengar Linhua dan Tetua Li bicara dalam tidurnya. Mereka bilang ... mereka mendorong Mo Yuyan ke dalam Jurang Pemakan Jiwa atas perintah Tetua Shang dan Tetua Wang. Mereka adalah dalang utama dalam percobaan pembunuhan atas Mo Yuyan!' lapor murid itu dengan nada tegas.
Tubuh Ketua Mo langsung membeku, saat dia mendengar laporan tersebut.
"Apakah kalian yakin?" tanya Ketua Mo.
"Kami semua mendengarnya, Ketua Mo!"
"Baiklah kalau begitu ... Kalian adalah saksinya!"
"Kami bersedia!"
-
Di Paviliun miliknya, Mo Yuyan sedang fokus dalam menyeduh teh, ketika Duan Xue masuk dengan wajah sumringah.
"Berhasil, Yuyan!"
Mo Yuyan tersenyum tipis mendengarnya.
"Apakah mereka semua mendengarnya?" tanya Mo Yuyan.
"Ya, mereka semua mendengarnya sendiri ..." jawab Duan Xue.
"Bagus!" ujar mo Yuyan sambil menyesap tehnya perlahan.
"Kamu tidak merasa takut jika mereka menaruh kecurigaan terhadapmu?" tanya Duan Xue.
Mo Yuyan menatap langit yang berada di luar jendela.
"Buat apa takut? Bukti itu datang dari mulut mereka sendiri ..."
☣
Tidak berselang lama dari pelaporan itu, Ketua Sekte Mo memanggil Tetua Wang dan Tetua Shang ke dalam sebuah aula kecil disamping Paviliun miliknya.
Tetua Wang adalah seorang pria paruh baya berwajah dingin, sementara Tetua Shang adalah pria tua bermata tajam seperti elang.
Ketika mereka sudah duduk, Ketua Mo melemparkan semua catatan hasil dari pengakuan 'tidak sengaja' kedua tahanan itu dalam tidurnya.
Bruk!
"Apa maksud Anda dengan semua tuduhan ini, Ketua Mo?" tanya Tetua wang dengan wajah datar, setelah dia membaca laporan itu sekilas.
"Tetua Li dan Lianhua sudah menyebut nama kalian berdua sebagai dalang utama usaha pembunuhan putri angkat saya ..." jawab Ketua Mo dengan nada tidak kalah dingin.
"Apa ucapan orang dalam tidurnya dapat dipercaya?" tanya Tetua Shang dengan nada sinis.
Ketua Mo memandang mereka berdua dengan wajah datar.
"Keduanya menyebutkan nama dan hal yang sama dalam tidurnya. Tanpa rekayasa ..." jawab Ketua Mo dengan wajah datar.
"Hmmp! Pasti semua ini adalah ulah Mo Yuyan, si anak angkat Anda itu ..." dengus Tetua Shang tidak mau kalah.
Saat Ketua Mo ingin membalas ucapan itu, tiba-tiba Mo Yuyan datang dengan memakai hanfu warna ungu dengan langkah anggun.
Sementara Duan Xue mengikuti dibelakangnya.
"Apakah Ayah memanggilku?" tanya Mo Yuyan dengan tatapan mata tenang.
Tetua Wang langsung menatap nyalang gadis itu.
"Dasar ja-lang! Kamu sudah menjebak kami dalam masalah ini!" ujar Tetua Wang dengan nada emosi.
Mo Yuyan memiringkan kepalanya ke arah Tetua Wang, tatapan matanya sepolos anak rusa yang baru saja bisa berjalan.
"Aku ... menjebak Anda? Bukankah mereka sendiri yang menyebut nama Anda berdua dalam tidurnya, serta rencana yang kalian buat untuk menyingkirkan aku?" ujar Mo Yuyan dengan wajah bingung.
"Memangnya, aku salah apa terhadap kalian berdua, sampai kalian ingin menyingkirkan aku?" tanya Mo Yuyan.
Merasa tersudut, Tetua Shang menggebrak meja yang ada disampingnya dengan kencang.
BRAK!
"Gadis sia-lan! Kamu pikir kami bo-doh, hah?!"
"Hey! Aku tidak pernah mengatakan itu, oke?! Jangan pernah memaki aku seperti itu lagi, jika tidak ingin kepala kalian lepas dari leher kalian!" balas Mo Yuyan dengan nada naik satu oktaf.
"Lagipula, jika kalian benar-benar tidak merasa bersalah, maka ... Buktikanlah! Jangan bisanya memaki saja! Tua bangka sia-lan!" lanjut Mo Yuyan yang balas memaki mereka.
"Hahahahaha! Bagaimana cara kami membuktikanya, hah?!" tanya Tetua Wang sambil tertawa sinis.
Mo Yuyan maju satu langkah ke arah Tetua Wang.
"Mudah saja ... Bersumpahlah di depan Pusaka Sekte Abadi!" jawab Mo Yuyan dengan nada dingin.
Ruangan itu mendadak hening, saat ucapan Mo Yuyan jatuh.
Tetua Shang mengerutkan kening tuanya.
"Yuyan ... Pusaka Sekte itu hanya akan bereaksi pada darah Pewarisnya ... Tidak bisa sembarangan ..." ujar Ketua Mo.
Mo Yuyan mengeluarkan pecahan iok yang selama ini diburu dan dicari oleh mereka, dan giok itu langsung merespon hangat.
"Dan akulah Pewarisnya, Ayah ..." jawab Mo Yuyan.
Jedddeerrr!
Wajah Tetua Wang dan Tetua Shang memucat sepersekian detik, sementara ketua Mo membeliakkan matanya karena terkejut.
"Mustahil ...!!!!"
Mo Yuyan hanya tersenyum dingin, saat melihat reaksi dari ketiga pria paruh baya di depannya itu.
"Mustahil atau tidaknya ... hanya perlu pembuktian nyata. Kalian berdua tidak merasa takut, bukan?" ujar Mo Yuyan dengan seringai kejam diwajah cantiknya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Yuyan. Jika tidak bersalah, untuk apa takut? Jadi ... bersumpahlah sekarang!" ujar Ketua Mo.
Tetua Wang dan Tetua Shang saling pandang, keringat tipis sudah muncul di pelipis mereka.
Duan Xue berbisik pelan ke tenlinga Mo Yuyan.
"Sepertnya mereka sudah ketakutan ..."
"Orang yang bersalah, selalu takut dengan cahaya kebenaran ..." sahut Mo Yuyan dengan nada lirih.
Setelah terdiam beberapa saat, Tetua Wang akhirnya bekata dengan nada kencang.
"Ini penghinaan terhadap kesetiaan kami!"
"Jika kalian menolak bersumpah, itu artinya kalian mengaku salah dan harus menerima konsekuensinya!" balas Ketua Mo dengan nada tidak kalah kencang.
Tetua Shang mengepalkan tangannya.
"Kami hanya ingin melindungi Sekte ini!" ujar Tetua Shang, berdalih.
"Melindungi Sekte dengan cara membunuh Pewaris Sah-nya?" tanya Mo Yuyan dengan nada lembut.
"Siapa yang pewaris sah? Kamu sangat tidak layak untuk menjadi pewaris sah Sekte ini!" teriak Tetua Shang, histeris.
Setelah kata-kata jatuh, Giok ditangan Mo Yuyan tiba-tiba memancarkan cahaya ungu terang.
Wussssh!
Mereka semua terpaku saat melihatnya, karena giok pusaka tersebut benar-benar mengakui Mo Yuyan sebagai Pewarisnya.
Mo Yuyan menatap Tetua Shang dan Tetua Wang yang masih menatap ngeri giok itu.
"Kalian bilang ingin melindungi Sekte ini, tapi sebaliknya ... Kalian hanya takut kehilangan kekuasaan yang di dapat dari giok ini ..." ujar Mo Yuyan dengan nada dingin.
Kedua Tetua serakah itu memundurkan langkahnya menjauh dari Mo Yuyan, karena mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.
"Cukup! Kalian berdua akan dikenakan hukuman kurungan, sampai penyelidikan selesai!" ujar Ketua Mo memutuskan.
Tetua Wang menatap Mo Yuyan penuh kebencian.
"Ini semua belum selesai, Ja-lang!" desis Tetua Wang.
Mo Yuyan menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Aku tahu ... Dan aku menantikannya ..."
☣☣☣