Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — Jarum dan Harga Nyawa
“Hey!”
Suara wanita itu memecah kesunyian malam dengan nada yang tajam dan tidak bersahabat. Ia berdiri di ambang pintu saat tubuh Leon limbung dan jatuh menghantam pintu kayu tua yang masih tertahan oleh rantai pengaman logam. Rantai itu menegang keras hingga mengeluarkan bunyi derit yang memilukan, menahan seluruh beban tubuh Leon agar tidak ambruk sepenuhnya ke lantai. Leon berusaha memaksakan kakinya untuk tetap berdiri, namun gravitasi terasa ribuan kali lebih kuat malam ini. Seluruh ototnya berteriak menolak perintah, sementara pandangannya mulai berputar seperti pusaran air keruh.
“Sialan,” gumam wanita itu pelan sambil mendesah kesal.
Ia menutup pintu sejenak hanya untuk melepaskan pengait rantai pengaman dengan gerakan gusar. Saat pintu dibuka kembali sepenuhnya, tubuh Leon langsung terjatuh ke dalam klinik tanpa ada yang menahan. Bunyi gedebuk berat saat tubuhnya menghantam lantai kayu yang kusam bergema di ruangan yang sempit tersebut. Wanita itu bertindak cepat; ia menutup pintu, memutar kunci ganda, dan menyampirkan kain penutup jendela agar tidak ada cahaya yang merembes keluar ke gang gelap.
“Bangun, Kurir,” perintahnya sambil menendang pelan sepatu bot Leon. “Jangan mati sekarang.”
Leon mencoba mendorong tubuhnya sendiri menggunakan sikut, namun lantai itu terasa sangat licin oleh darahnya sendiri. Napasnya tersengal, membawa rasa logam yang pekat di pangkal tenggorokan. Wanita itu sudah berlutut di sampingnya dengan gerakan yang sangat klinis dan efisien. Jemarinya yang dingin menekan sisi perut Leon yang terkoyak, mengabaikan jaket hitam mahal yang kini sudah hancur dan basah kuyup.
“Satu lubang peluru,” katanya pendek tanpa ada sedikit pun nada simpati.
Leon menarik napas berat, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang mulai tercerai-berai. “Ya.”
Wanita itu berdiri dengan cepat, lalu melangkah menuju sebuah lemari kaca yang berisi berbagai peralatan medis yang tampak tua namun bersih. “Berdiri jika kau masih ingin melihat matahari besok. Jangan berani-berani mati di lantai klinikku, aku baru saja mengepelnya sore tadi.”
Ia meraih bahu Leon dan menariknya dengan kekuatan yang tidak terduga untuk tubuh sekurus itu. Leon bertumpu pada meja pemeriksaan baja yang terasa dingin menusuk kulit, lalu perlahan mendudukkan dirinya dengan erangan tertahan. Di atas mereka, lampu operasi berbentuk bundar menyala dengan suara berdengung yang khas. Cahaya putih yang menyilaukan itu seketika membanjiri setiap sudut ruangan kecil tersebut, menelanjangi semua luka dan kotoran yang dibawa Leon dari jalanan.
Wanita itu kembali dengan sarung tangan lateks yang sudah terpasang kencang di tangannya. “Kau masih bisa tetap sadar?”
Leon mengangguk sedikit, meski kepalanya terasa sangat berat seperti diisi timah panas. “Masih.”
“Bagus, aku tidak suka melayani pasien yang pingsan karena mereka tidak bisa membayar di akhir,” ujarnya sambil mengambil gunting bedah dari baki logam.
Tanpa menunggu izin atau aba-aba, ia memotong kain jaket taktis Leon dengan gerakan yang sangat mahir. Kain hitam yang robek itu jatuh ke lantai, menyisakan pemandangan luka yang mengerikan di sisi perut Leon. Darah segar kembali mengalir bebas, menciptakan garis-garis merah tua di atas kulitnya yang pucat.
“Peluru masih ada di dalam, bersarang cukup dalam di dekat otot miring,” katanya setelah memeriksa lubang luka itu dengan teliti.
Leon menyandarkan kepalanya ke dinding dingin, menatap langit-langit klinik yang penuh dengan retakan halus. “Ambil saja, lakukan dengan cepat.”
Wanita itu berhenti sejenak, menatap Leon dengan mata yang tajam di balik helai rambutnya yang sedikit berantakan. “Kau selalu bicara sesingkat itu saat sedang sekarat?”
“Bicara terlalu banyak hanya akan membuang tenagaku,” jawab Leon datar. “Lakukan saja pekerjaanmu.”
“Terserah kau saja,” sahut wanita itu sambil mengambil kapas antiseptik.
Ia mulai membersihkan area sekitar luka dengan cairan dingin yang seketika menyengat daging yang terbuka. Leon tidak bergerak sedikit pun, bahkan tidak ada satu pun otot wajahnya yang berkedut saat zat kimia itu bereaksi dengan lukanya. Wanita itu memperhatikan reaksi diam Leon selama beberapa detik sebelum kembali fokus pada peralatan medisnya.
“Kau tidak bereaksi sama sekali,” komentarnya dengan nada heran.
“Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti ini,” jawab Leon singkat.
Wanita itu mendengus sambil menyiapkan nampan berisi alat-alat tajam lainnya. “Dengar, orang yang biasa ditembak di distrik ini biasanya tidak akan berjalan kaki sendirian ke klinik tersembunyi. Mereka biasanya dibawa oleh komplotannya atau dibuang di selokan terdekat.”
Leon tidak menjawab, ia lebih memilih mengatur pola napasnya agar detak jantungnya tetap stabil. Wanita itu kemudian mengambil sebuah suntikan berisi cairan bening dan mendekatkannya ke arah luka.
“Anestesi lokal,” katanya memberi tahu.
Leon menggeleng pelan, matanya menatap tajam ke arah jarum suntik itu. “Tidak perlu, aku butuh kesadaranku tetap penuh.”
Wanita itu menatapnya dengan pandangan datar, seolah-olah ia sedang melihat orang gila yang mencoba bunuh diri dengan cara yang kreatif. “Jangan konyol, ini akan sangat sakit saat aku mengaduk bagian dalam perutmu dengan penjepit logam. Kau mau aku bekerja dengan benar atau ingin aku menusuk ususmu karena kau terus bergerak?”
Leon terdiam, ia menyadari bahwa keras kepala di hadapan seorang dokter di Distrik 6 adalah langkah yang bodoh. Ia akhirnya membiarkan jarum itu masuk ke dalam jaringan kulitnya. Sensasi dingin dan kebas perlahan menyebar, menggantikan rasa panas yang membakar. Beberapa detik kemudian, wanita itu mengambil sepasang penjepit logam panjang.
“Aku akan menarik pelurunya keluar sekarang,” katanya memberi peringatan terakhir.
Leon mengangguk sedikit dan menggenggam tepi meja pemeriksaan dengan tangan kirinya. Instrumen logam itu masuk ke dalam lubang luka, menekan jaringan lunak di dalamnya. Leon bisa merasakan tekanan yang sangat dalam, sebuah sensasi yang aneh meski rasa sakitnya sudah sedikit teredam. Wanita itu bekerja dengan kecepatan dan akurasi yang luar biasa, seolah ia sudah melakukan hal ini ribuan kali sepanjang hidupnya.
Bunyi klik logam yang beradu terdengar di dalam luka. Beberapa saat kemudian, sebuah proyektil timah kecil yang sudah berubah bentuk ditarik keluar. Wanita itu menjatuhkannya ke dalam wadah logam dengan bunyi denting kecil yang bergema di ruangan yang sunyi tersebut.
“Selesai bagian yang paling sulit,” katanya sambil mengambil jarum dan benang jahit medis.
Leon kembali menatap dinding, mencoba mengabaikan bau darah dan antiseptik yang memenuhi hidungnya. Jarum itu mulai menembus kulitnya, menarik benang hitam melintasi daging untuk menutup lubang yang menganga. Tarikan pertama terasa seperti cubitan keras. Tarikan kedua lebih terasa seperti tekanan. Tarikan ketiga membuat otot-ototnya menegang secara alami. Wanita itu menjahit dengan kerapian yang hampir terlihat seperti sebuah karya seni daripada sekadar tindakan medis darurat.
Leon memperhatikannya bekerja dalam diam selama beberapa saat. “Kau tidak bertanya?”
Wanita itu menarik jahitan berikutnya tanpa mengangkat kepala. “Bertanya tentang apa?”
“Tentang siapa aku atau kenapa aku bisa tertembak di tengah malam seperti ini,” kata Leon.
Wanita itu memotong sisa benang dengan gunting kecil lalu menatap Leon dengan sorot mata yang letih namun bijaksana. “Distrik 6 adalah tempat penampungan bagi orang-orang yang terlupakan dan orang-orang yang ingin dilupakan. Tempat ini penuh dengan orang-orang yang ditembak karena berbagai alasan bodoh.”
Jarumnya masuk lagi ke kulit Leon untuk jahitan terakhir. “Jika aku menghabiskan waktuku untuk bertanya pada setiap pasien yang datang dengan luka lubang peluru, aku tidak akan pernah selesai bekerja. Rahasiamu bukan urusanku, selama kau membayar dan tidak membuat klinis ini diledakkan oleh musuhmu.”
Leon mengangguk tipis, ia menghargai pragmatisme yang ditunjukkan wanita ini. Itu adalah hukum tak tertulis di Valmere; rasa ingin tahu adalah cara tercepat untuk mati. Wanita itu akhirnya menyelesaikan jahitan terakhir dan menempelkan perban perekat dengan kuat di atas luka Leon.
“Selesai,” katanya sambil melepas sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah medis.
Leon berdiri perlahan, merasakan sisa-sisa pening di kepalanya namun tubuhnya sudah terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Meski dunia masih terasa sedikit miring, ia sudah bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik. Wanita itu hanya memperhatikannya tanpa menawarkan bantuan lebih lanjut.
“Jangan melakukan gerakan tiba-tiba untuk dua puluh empat jam ke depan jika kau tidak ingin jahitan itu robek kembali,” sarannya singkat.
Leon mengambil jaket hitamnya yang sudah hancur dari lantai, lalu merogoh saku dalamnya. Ia mengeluarkan segulung uang tunai yang diikat karet dan meletakkannya di atas meja baja di samping nampan peralatan bedah. Jumlahnya jauh melebihi tarif operasi pasar gelap standar di Distrik 6.
Wanita itu melirik uang itu sejenak, lalu menatap Leon. “Ini terlalu banyak hanya untuk sekadar mengambil satu butir peluru rendahan.”
“Uang tambahannya untuk lantai yang terkena darah,” jawab Leon sambil mulai melangkah menuju pintu.
Wanita itu menatap noda darah yang mulai mengering di lantai kayu kliniknya. “Lantai bisa dipel dengan air sabun murah, kau tidak perlu membayar sebanyak itu.”
Leon tetap berjalan menuju pintu depan tanpa menoleh lagi. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, wanita itu berbicara lagi dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya.
“Hey!”
Leon berhenti di tempatnya, otot-ototnya kembali waspada.
“Kau membawa masalah besar bersamamu ke sini,” kata wanita itu sambil menunjuk ke arah jendela kecil di samping pintu dengan dagunya. “Dua pria dengan mantel panjang berdiri di ujung gang sejak kau jatuh di depan pintuku. Mereka tidak terlihat seperti orang yang ingin berobat.”
Leon mengintip sedikit melalui celah gorden jendela. Benar saja, dua siluet gelap berdiri dalam diam di bawah bayangan tiang lampu yang mati. Mereka sedang menunggu mangsa mereka keluar dari lubang persembunyiannya. Leon kemudian menatap ke arah pintu belakang ruangan yang tertutup oleh rak-rak obat yang menjulang tinggi.
“Ada jalan keluar lain?” tanyanya pelan.
Wanita itu menunjuk ke arah lorong sempit yang berada di balik rak obat paling pojok. “Ada gang paralel yang terhubung ke gudang penyimpanan air. Gunakan itu jika kau ingin menghindari mereka.”
Leon berjalan menuju lorong yang ditunjuk. Sebelum ia membuka pintu belakang untuk menghilang ke dalam kegelapan, ia berhenti sejenak dan menoleh sedikit ke arah wanita itu. “Terima kasih, Dokter.”
Wanita itu hanya mengangkat bahu sambil mulai memunguti alat-alat bedahnya yang kotor. “Lain kali jika kau ingin berdarah, lakukanlah di depan pintu klinik pesaingku. Aku sangat benci aroma darah segar di tengah malam.”
Leon membuka pintu belakang dengan gerakan yang sangat halus. Udara malam yang dingin seketika merasuk ke dalam ruangan, membawa aroma lembap dari kanal-kanal tua di Distrik 6. Motor hitamnya masih terparkir di sana, tersembunyi di bawah tumpukan karung goni di gang belakang. Ia naik ke atas jok motor, menahan napas sejenak saat rasa nyeri kembali menusuk perutnya, lalu menyalakan mesin.
Suara Gray muncul kembali di earpiece Leon, memecah keheningan digital setelah sekian lama terputus karena gangguan sinyal di dalam klinik. “Leon?”
“Aku masih hidup, Gray,” jawab Leon sambil memacu motornya keluar dari gang dengan lampu depan yang sengaja tidak dinyalakan.
“Bagus, karena aku hampir saja mengaktifkan protokol penghapusan data jika kau tidak merespons dalam satu menit lagi,” suara Gray terdengar lega namun segera berubah menjadi nada yang jauh lebih serius.
Leon memutar gas lebih dalam, membiarkan motornya melaju kencang di jalanan Distrik 6 yang sepi dan hancur. “Status target?”
“Lupakan soal target pengejaranmu sejenak,” kata Gray pelan, sebuah peringatan tersirat dalam getaran suaranya. “Karena ada seseorang di jaringan bayangan yang baru saja melakukan sesuatu yang sangat menarik sekaligus berbahaya malam ini.”
Leon melaju menembus kabut malam yang mulai turun menyelimuti jalanan kota. “Apa yang menarik?”
Gray menarik napas panjang di seberang sana sebelum menjawab. “Seseorang baru saja menjual informasi lokasi terbarumu beserta identitas kendaraanmu ke semua pihak yang memegang kontrak perburuan Phantom. Perburuan ini baru saja naik ke level yang berbeda, Leon. Kau bukan lagi sekadar mencari barang, kau adalah barangnya.”