Takdir hanya membawaku jauh dari tanah kelahiranku, bukan jauh dari hidupmu, sudah sejauh ini kenapa aku masih bertemu dengan mu lagi pria Brengkes! Alea Januartha
aku mencari mu 10 tahun lamanya, kamu datang padaku dengan cara seperti ini, kenapa kamu tidak mengakui, kalau itu kamu wanita kribo, kenapa harus ada kepergian untuk kedua kalinya, Jonathan Will
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15
"tuan Jo! Lepas!" Teriak Shofia saat Jonathan mulai melepas paksa seluruh bajunya, bahkan hanya dengan sekali tarikan kemeja yang Shofia kenakan terlepas dengan bebas dan kancing kemeja itu berserakan.
Shofia terus memberontak, tapi sayang dia tetap tidak bisa menghindar perbuatan bejat Jonathan, malam itu akhirnya terjadi, malam yang tidak di inginkan oleh Shofia, hingga 3 jam lamanya Jonathan baru usai menikmati tubuh Shofia disertai deraian air mata dari Shofia, Shofia berlari ke arah kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan air yang mengalir, ia terduduk lemas dengan air yang terus membasahi tubuhnya, Shofia meremas bahunya sendiri dan mengusap bekas kemerahan yang ada di leher dan di tubuh lainnya, bagian intinya yang sakit tidak Shofia rasakan, yang iya rasakan hanya kesaktian dalam hati yang di akibatkan oleh Jonathan, dia merasa gagal menjaga diri seperti kakanya dulu, hingga ada viola di tengah tengah mereka.
Setelah cukup lama merenung di kamar mandi dan menikmati kesedihan di kamar mandi Jonathan, Shofia pun berdiri Hendak pergi dari sana, dia menggunakan kimono milik Jonathan yang sudah tersedia disana, Shofia keluar dari kamar mandi, dia menatap bajunya yang sudah tidak berbentuk lagi, dan dia juga menatap Jonathan yang masih terlelap diatas kasur empuk itu, akhirnya Shofia memilih kaos Jonathan yang kebesaran dan celana traning milik pria itu, Shofia segera menggunakan nya dengan cepat dan pergi dari apartemen terkutuk bagi Shofia, Shofia bersumpah tidak akan menginjakan kakinya di apartemen sialan ini lagi.
Waktu terus berlalu, jam 11 siang Jonathan baru terbangun dari tidurnya, pria itu membuka kedua matanya sekilas, bayangan dirinya dengan Jesika semalam kembali melintas, hingga dia mabuk di club.
"Sial! Apa yang terjadi, kenapa rasanya kepala ini berat sekali!" Geram Jonathan pria itu mencoba sadar sehingga beberapa saat Jo duduk, namun kedua alisnya mengernyit karena kamarnya sangat berantakan dan pandangannya tertuju pada kemeja coklat yang ada di samping tempat tidurnya, "gadis culun," gumam Jonathan setelah mengenali si pemilik kemeja tersebut, Jo dengan cepat membuka selimut nya, kedua bola matanya membeliak melihat dirinya tanpa sehelai benangpun, "Tidak, ini pasti tidak mungkin" gumam Jonathan, namun kedua matanya melihat bercak darah di sprei putih tulang miliknya.
Jo mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya dengan kasar, "Arggg! Apa sebenarnya yang terjadi!" Teriak Jonathan, Jonathan segera turun dan memeriksa cctv yang ada di kamarnya, tidak sia-sia dia memberikan cctv disana, yang awal niatnya hanya untuk memantau penyusup yang masuk.
Jonathan segera membuka laptop dan mengecek cctv di kamarnya, tidak lama Jonathan melempar laptop itu hingga terjatuh ke lantai, "Ahhh! Apa yang harus aku lakukan, kenapa bisa aku se kasar itu terhadap wanita!" Jonathan melihat dengan jelas saat dirinya menyentuh Shofia, bahkan dia merasa teriris saat Shofia berteriak meminta di lepaskan, namun dia justru lebih beringas.
"Tidak! Aku tidak bisa diam saja, aku harus segera menemui Shofia dan meminta maaf pada nya," Jo segera turun dari tempat tidur, dia akan segera bersiap kekantor dan menemui Shofia di kantornya.
Tidak lama Jonathan sampai di kantor, pria itu berjalan cepat menuju tempat cleaning service tempat biasa berkumpul, "Shofia!" Namun langkah pria itu terhenti saat tidak ada Shofia didalam sana, "Dimana Shofia!" Tanya Jonathan dengan nada tidak sabaran.
"Shofia ijin tuan, dia tidak berangkat hari ini karena tidak enak badan katanya," jawab salah satu teman Shofia.
"Sial!" Umpat Jonathan, Jonathan berlalu dari sana, dia pergi ke ruang kerjanya dan duduk disana memikirkan semua kejadian yang iya lalui dari ketemu Jesika hingga merusak shofia, "Maaf" gumam Jonathan yang di tuju pada Shofia, meski tidak ada Shofia disana, tapi pria itu merasa telah kurang ajar.
Hari terus berlalu, hingga 1 Minggu berlalu Shofia baru bisa memulai pekerjaannya, "Saya beneran tidak di pecat?" Tanya Shofia di ruang HRD.
"Iya Shofia, bahkan kamu boleh ambil cuti lagi jika masih membutuhkan waktu tambahan supaya cepat sembuh."
"Tidak-tidak, saya akan bekerja hari ini Mb, saya sudah sehat" ujar Shofia gak enak hati, mana mungkin dia ijin seenaknya sedangkan dia sadar siapa dirinya, "Kalau begitu saya permisi mb," pamit Shofia.
Kedua petugas yang ada disana saling tatap setelah Shofia berlalu dari sana, "Apa hubungan tuan Jonathan dengan Shofia ya, baru kali ini tuan Jonathan turun tangan sendiri memberi ijin pada seorang cleaning service," ujarnya.
"Iya, jangankan cleaning service, bahkan tuan Jonathan tidak pernah mau tau soal recehan seperti ini di kantor" tambah salah satu temannya.
"Apa mungkin mereka ada hubungan?"
"Jangan ngaco, kamu tau kan selera tuan Jonathan seperti apa, mana mungkin dia mau sama Shofia yang bentuknya culun begitu, jauh kalau di banding nona Jesika."
"Iya juga ya."
Di lantai atas, shofia menghentikan langkahnya saat melihat Jonathan ada di left kaca, dia berbalik hendak menyembunyikan diri dari Jonathan, tidak mungkin kalau tidak ketemu, tapi Shofia juga berharap tidak lagi bertegur sapa dengan pria didepannya ini, Shofia segera berbalik, namun Jonathan sudah telanjur meliat Shofia.
"Shofia tunggu!" Jonathan berjalan cepat menghampiri Shofia yang sama sekali tidak berbalik menghadap dirinya, "bisa kan ikut saya ke ruangan saya," pinta Jonathan.
"Maaf pak, saya sedang sangat sibuk, lain kali kita bisa bicara lagi," langkah Shofia terhenti saat mendengar perkataan Jonathan.
"Ini soal malam itu, apa kamu yakin tidak ingin membahas nya, saya sudah tau apa yang terjadi!"
Shofia menghembuskan nafasnya kasar, dia kembali berbalik dan menatap Jonathan, "Apa yang anda inginkan pak?"
"Mari kita bahas didalam, agar kamu tau apa yang saya inginkan," ujar Jonathan sambil berjalan mendekati Shofia.
Jonatan melewati Shofia, mau tidak mau wanita itu mengikuti langkah Jonathan, pria yang iya kagumi bentuk tubuhnya saat pertama kali bertemu, justru kini Shofia merasa jijik.
"Duduklah" ujar Jonathan, tanpa membantah Shofia akhrinya duduk didepan Jonathan yang sudah duduk sejak masuk kedalam ruangan nya.
Jonathan memijit pelipisnya dengan pelan, dia tiba-tiba merasa kelu ingin mengatakan apa yang sudah iya pikirkan sejak ingin bertemu shofia.
"Apa bisa di percepat pak, karena saya harus segera kembali bekerja," Shofia kali ini selalu takut jika hanya berduaan dengan Jonathan, apa lagi dia masih mengingat dengan jelas sentuhan dan sakitnya pada kejadian malam itu.
"Apa boleh saya meminta sesuatu dari kamu Shofia, dan semoga kamu bisa menerima ini tanpa berpikir yang tidak-tidak."
"Katakan saja pak, waktu saya tidak banyak!"
Jo mantap lekat wajah Shofia yang terus menunduk sejak tadi, "Apakah bisa kamu melupakan kejadian malam itu, dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi."