Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kaki Nathan kembali maju beberapa langkah. Entah kenapa suara itu terdengar sangat tidak asing. Karena penasaran, ia pun mencoba memanggil sang anak agar bisa melihat perempuan di balik tubuh Darrel itu.
“Darrel!” panggilnya pelan.
Tidak lama kemudian Darrel menoleh ke arahnya.
Dan ya… pada saat itulah Nathan melihat bayangan masa lalunya berdiri di hadapannya.
Deg!
Tubuh keduanya membeku kaku. Ada rasa kecewa yang dibalut dengan kebencian.
Nathan awalnya biasa saja. Namun saat melihat perempuan di hadapannya, seketika tangannya mulai mengepal kuat.
Kenapa?
Kenapa harus dengan perempuan itu?
Perempuan yang dulu pernah ia perjuangkan mati-matian… namun memilih berkhianat di belakangnya.
“Darrel, masuk!” perintahnya dengan nada sedikit meninggi.
“Bentar, Dad,” sahut Darrel pelan. “Aku cuma bicara sebentar dengan Mbak Kantin.”
Mbak Kantin.
Nama yang sering diagung-agungkan Darrel di hadapan neneknya. Dan ternyata nama itu adalah Andin—gadis yang belasan tahun lalu pernah melukai hatinya.
“Sudah, jangan membantah,” seloroh Nathan dingin. “Ini jam pelajaran, bukan jam mengobrol.”
Darrel akhirnya tidak berani membantah lagi. Ia segera berpamitan pada Andin.
“Mbak Kantin, Darrel pamit dulu ya. Jangan hiraukan ucapan Daddy-ku yang kasar. Dia memang begitu,” bisik Darrel—yang masih sempat terdengar oleh Nathan.
Anak itu pun bergegas menuju kelasnya.
Tanpa tahu bahwa ada masalah besar yang tersembunyi di antara sang ayah dan Mbak Kantin.
Sementara itu Andin hanya menunduk sambil menelan kekecewaan. Belasan tahun berlalu, namun yang diingat pria itu hanya pengkhianatan yang bahkan tidak pernah ia lakukan.
“Bukannya Anda orang yang pandai, Tuan Nathan?” ucap Andin akhirnya memberanikan diri. “Tapi sayang… untuk mencari kebenaran sekecil itu saja Anda ternyata payah.”
Nathan mendengus.
“Kau memang pandai berdalih, wanita licik,” ketusnya.
Andin tersenyum tipis, meski getir. Ada rasa sakit yang tertahan di dadanya, namun ia memilih untuk tidak menunjukkannya.
“Silakan saja Anda mau menilai aku perempuan seperti apa,” sahutnya tenang. “Tapi jika suatu hari kebenaran itu datang… jangan pernah sekalipun Anda mencariku.”
Nathan tersenyum mengejek, menganggap wanita itu terlalu percaya diri.
“Kau pikir kau siapa, Anindita Larasati?” katanya dingin. “Kau hanya penjaga kantin kecil, dan berani mengaturku?”
“Aku memang dari dulu bukan siapa-siapa,” jawab Andin tanpa gentar. “Tapi jangan melawan lupa… jika gadis biasa ini pernah Anda perjuangkan.”
Meski kata-katanya terdengar tegar, di dalam hatinya Andin menahan sesak yang hampir tak terbendung.
“Bangga, ya? Yang pernah diperjuangkan tapi memilih untuk tidak setia? Kenapa, merasa diri paling cantik?” celetuk Nathan.
“Asal kamu tahu, mencintaimu merupakan penyesalan terbesar dalam hidupku,” sahut Nathan kembali.
“Pergi!” bentak Andin. “Pergi!” Nadanya penuh kemarahan.
Nathan menyeringai puas melihat perempuan itu tidak terima dengan kata-katanya.
“Baik, aku akan pergi. Lagian lama-lama di sini bisa merusak penglihatanku,” cetus Nathan lalu memilih pergi.
Setelah kepergian pria itu, tangis Andin mendadak pecah. Ia tidak menyangka takdir akan mempertemukannya kembali dengan cinta pertamanya—cinta yang dulu datang dengan tulus, kini berubah menjadi kebencian.
Bahkan Nathan menatapnya dengan tatapan jijik, seolah-olah dirinya wanita kotor.
“Aku bukan perempuan yang kau tuduhkan, Nathan. Aku sudah menjelaskan semuanya, tapi kamu tetap memilih acuh dan bersikap dingin kepadaku,” jerit Andin pilu.
Andin mencoba menghapus air matanya. Lagipula percuma menjelaskan sesuatu pada orang yang masih diliputi amarah. Mungkin hati Nathan masih terluka karena kesalahpahaman itu.
Namun apakah Nathan pernah berpikir bahwa Andin di sini juga korban?
Tentu tidak.
Padahal sampai saat ini perempuan itu masih belum menikah, karena cintanya telah habis bersama cinta pertamanya.
“Bodoh kau, Ndin. Jangan bilang kamu masih mencintai dia, sementara dia saja menatapmu dengan tatapan jijik. Dan itu benar-benar membuat dadaku sesak,” gumam Andin sambil mengusap ingus yang keluar.
☘️☘️☘️☘️☘️
Tidak terasa bel istirahat sudah berbunyi, dan anak-anak pun mulai berhamburan keluar.
Mereka ada yang berlaku ke lapangan ada juga yang berlari ke kantin, begitu juga dengan Nathan karena merasa haus, akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi kantin Andin.
Sementara di dalam kantin sana, Andin yang sedari tadi berusaha untuk menghapus air matanya, entah kenapa air mata itu masih jatuh menetes dengan sendirinya? Apakah ucapan pria tadi terlalu menyakitkan atau sulit untuk dilupakan, yang jelas untuk saat ini hati Andin sedang tidak baik-baik saja.
Darrel mulai mendekat, namun semakin dekat, ia mendengar suara yang tidak biasanya, langkah kecilnya terus saja masuk ke dalam kantin.
Di sana perempuan dewasa itu sedang menangis, ia melihat Andin menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Mbak kantin," panggilnya pelan.
Andin sedikit terkejut mendengar suara itu. Ia buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya dan mencoba tersenyum.
“Eh, Adek… kamu sudah istirahat?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Darrel mengernyit.
“Mbak habis menangis?”
“Tidak,” jawab Andin cepat. “Mbak cuma… kelilipan saja.”
Darrel tentu tidak langsung percaya. Ia sudah melihat jelas bagaimana mata perempuan itu memerah.
“Kalau Mbak ada masalah, Mbak bisa cerita ke Darrel,” ucapnya polos.
Andin tersenyum tipis mendengar itu.
“Kamu ini masih kecil, tapi sudah mau jadi tempat curhat Mbak.”
Darrel mengangkat bahunya kecil.
“Tapi Mbak selalu dengar ceritaku.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Andin kembali terasa hangat. Ia menatap Darrel beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Terima kasih, ya.”
Darrel kemudian mengambil minuman di meja kantin. Namun di dalam hatinya muncul satu pertanyaan yang tidak bisa ia pahami.
Kenapa Mbak Kantin bisa menangis seperti itu?
Dan yang lebih aneh lagi? Kenapa tadi saat Daddy datang ke sekolah, wajah Mbak Kantin terlihat begitu berbeda?
Darrel sama sekali tidak tahu bahwa tanpa sengaja, ia sudah berada tepat di tengah-tengah cerita lama yang penuh luka antara ayahnya dan perempuan itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di ruang kerjanya, siang ini Nathan tidak bisa fokus bekerja. Tumpukan dokumen di hadapannya ia biarkan begitu saja. Bayangan wajah Andin masih terngiang di dalam pikirannya.
Ada sesal yang tak bisa ia ungkapkan. Namun di sisi lain, menurutnya perempuan itu memang pantas mendapatkan penghinaan darinya.
“Kau tega, Ndin. Bahkan sampai aku menikah dan mempunyai seorang anak… tetap saja kamu yang selalu ada di pikiranku,” ucapnya dengan nada tinggi.
“Aku benci kamu. Aku benci! Kenapa hati ini masih belum sepenuhnya bisa melepaskanmu?” dengusnya kembali.
Saat ini Nathan benar-benar kacau. Banyak masalah yang ia pendam sendirian, apalagi urusan hati yang tidak bisa ia sembunyikan.
Bahkan sampai detik ini ia masih merasa bersalah pada mendiang istrinya, karena selama pernikahan mereka ia tidak pernah benar-benar mencintainya.
“Fiesta… maafkan pria kurang ajar ini,” gumamnya lirih. “Bahkan sampai sekarang pria bodoh ini masih menyimpan rasa pada wanita yang jelas-jelas sudah menyakitinya.”
Nathan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar lelah dengan perasaannya sendiri.
Bersambung ....