Anastasya atau biasa dipanggil Ana, seorang wanita berusia 24 tahun yang tengah mengejar gelar S1.
Pertemuan pertamanya dengan seorang laki laki membuat hidup Ana berubah. Nathaniel Francisco, seorang dosen berusia 30 tahun yang terobsesi dengan dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Setelah beberapa hari mendapatkan perawatan, Ana pun akhirnya diizinkan pulang kerumah.
Nathan pun langsung mengantar Ana untuk pulang, ia ingin Ana beristirahat dengan segera.
Begitu sampai dirumah Nathan langsung mengantar Ana kedalam kamar, Ana pun akhirnya berbaring dikamarnya.
" Kamu mau pulang Nat ? " tanya Ana
" Engga ko, kamu butuh apa ? "
Ana memposisikan dirinya duduk, ia memeluk lengan Nathan yang berada didekatnya.
" Jangan pergi dulu ya Nat " kata Ana
" Iyah engga Na, yaudah kamu tiduran yah istirahat "
Ana kembali merebahkan tubuhnya, ia menepuk pelan tempat kosong disamping dirinya.
Nathan pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Ana, Nathan merasa Ana kali ini bukanlah Ana yang Nathan lihat sebelumnya.
" Aku kangen banget Nat sama ayah, andai dia masih ada apa dia bahagia ya ngeliat aku kayak sekarang. "
" Jujur aku sebenarnya cape Nat cape banget, tapi kalau aku nyerah gimana keluarga aku gimana adik dan ibu. "
" Aku iri liat temen temen yang udah sukses, udah berumah tangga, udah lulus sarjana. Kenapa ya aku masih gini gini aja, kenapa kayaknya duniaku tuh ga berputar "
Nathan mendengarkan semua isi hati Ana, ia ingin Ana merasa lega setelah bercerita.
" Jujur ya Nat, dulu saat pacaran sama Jeremy itu aku ga pernah cerita kayak gini ga pernah ngomong kayak gini. Setiap ketemu dia sibuk sama hp, tapi anehnya kenapa aku bodoh ya bisa bertahan sampai 3 tahun lamanya "
" Aku bukannya ga pernah putusin dia, tapi saat aku minta putus tiba tiba dia berubah gitu "
Sesekali Ana mulai menghapus air matanya, terdengar suaranya yang mulai bergetar.
" Aku gamau bikin ibu kecewa, aku ga mau jadi kaka yang gagal dan akhirnya ga bisa jadi contoh untuk adik adikku Nat "
Nathan mencoba untuk bangun, ia pun mengajak Ana untuk ikut bangun dan duduk disampingnya.
" Anastasya, kamu itu luar biasa Na. Bahkan adik dan ibu kamu bangga sama kamu. Dirumah mereka juga selalu berdoa buat kamu, mereka berharap kamu sehat kamu bahagia "
" Kamu juga ga bodoh, tapi mungkin tuhan punya rencana lain Na. Tuhan mempertemukan kamu dengan orang yang salah, sebelum nantinya kamu dipertemukan dengan orang yang tepat "
" Roda itu selalu berputar Ana, kamu mungkin ga sadar saat ini. Jangan pernah merasa tertinggal, kamu tau kan semuanya sudah tuhan rencanakan"
Nathan menghapus air mata Ana yang masih mengalir membasahi wajahnya, ia tau jika Ana tidak baik baik saja saat ini.
" Jangan nangis lagi, lupain Jeremy, jangan pernah liat kebelakang, jangan juga kamu kecil hati. Kamu sekarang ga sendirian Ana, ada aku yang temani kamu sekarang "
Ana mengangguk, ia pun memeluk tubuh Nathan.
" Oiya Na, ngomong ngomong nih hari ini kita terakhir pacaran satu Minggu. Mungkin ya mungkin kamu berencana untuk memperpanjang " Nathan mencoba mencairkan suasana
" Engga mau, perjanjian awal kan 2 bulan "
" Ya kali aja kamu berubah pikiran sayang " Nathan merapikan rambut Ana yang sedikit berantakan
" Engga ada, ga ada berubah pikiran tuh "
Ana melepaskan pelukannya, ia pun berniat turun dari ranjangnya.
" Mau kemana sih Na "
" Mau minum, haus "
" Kamu tunggu sini aja, biar aku yang ambil "
Ana pun menurut, ia menunggu diatas kasur sedangkan Nathan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air.
Ana melihat ponsel milik Nathan yang tergeletak diatas ranjang Ana, Ana sendiri penasaran apakah seorang Nathan benar benar setia dengan satu perempuan.
" Ini minumnya " kata Nathan sembari memberikan gelas itu kepada Ana
" Ini hp yang keberapa Nat ? "
" Hp yang kedua, yang pertama cuma dipakai buat bisnis. Kenapa Na ? "
" Engga apa apa, kali aja ada banyak hp nya gitu. Jadi satu perempuan satu hp "
Nathan terkekeh mendengar ucapan Ana, ia pun kembali mengeluarkan ponsel miliknya yang satu lagi.
" Ini Na, cuma ini ga ada lagi sayang "
" Kenapa dipisah bisnis dan pribadi ? "
" Ya biar urusan pekerjaan dan pribadi itu ga tercampur sayang "
" Emangnya pekerjaan apa ? Bukannya kamu cuma dosen ? "
" Nanti kamu juga tau, udah diminum airnya ko malah di pegangin aja "
Ana pun langsung meneguk air yang Nathan berikan, Ana kini berpikir jika Nathan bukan hanya seorang dosen.
" Kenapa sih Nat ? Ngeliatinnya gitu banget deh "
" Ga apa apa, cuma lagi mikir aja Na "
" Mikir apa ? Mikir yang aneh aneh yah, awas ya "
" Engga, cuma lagi mikir aja gimana ya dengan cepat ngambil hati kamu. Jadi biar ga gantung Na "
" Ohh itu, yaudah pikir aja sendiri "
Nathan mencubit pipi Ana karena merasa gemas, Ana pun mengusap pipinya.
" Makasih ya Nat, udah nemenin aku selama aku sakit, makasih juga karena kamu udah nanggung semuanya. Maaf aku bikin kamu repot "
" Makasih doang nih Na ? Ga ada yang lain gitu ? "
" Apa ? Kamu mau di traktir apa sih Nat ? "
" Engga mau aku bisa beli sendiri Na "
" Terus mau apa ? "
Nathan memberikan kode kepada Ana, ia menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.
" Modusnya bisa aja " ucap Ana sambil tersipu
" Bercanda Na, aku senang bisa bantu kamu. Ya sedihnya udahan pacaran seminggu nya " ucap Nathan sambil menunduk
Disaat Nathan tengah lengah, Ana memberikan sebuah kecupan dipipi Nathan.
" Udah.. " ucap Ana dengan malu
" Apaan Na ? Ga kerasa "
" Kalau mau kerasa nih dipukul "
" Jangan galak-galak Ana, daripada mukul mending tuh disayang Na "
" Nih disayang nih " ucap Ana sambil menggelitik Nathan
" Oohh mulai ya okee "
Nathan pun membalas menggelitik pinggang Ana, keduanya tertawa terbahak-bahak.
Hingga tanpa sadar kini tubuh Nathan sudah berada diatas tubuh Ana, keduanya pun kini saling bertatapan dan mengatur nafas.
Entah siapa yang memulai, kini bibir keduanya sudah saling terpaut. Kedua tangan Ana mencengkram pelan pundak Nathan, sambil memejamkan matanya Ana menikmati ciuman Nathan.
" Aku sayang kamu Na " ucap Nathan begitu ciuman mereka berakhir
" Aku harap kamu segera membalas perasaan aku "
Ana tersenyum, begitu juga dengan Nathan.