NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 LUKA DI BALIK CAHAYA BINTANG

​Sambil terbatuk-batuk karena asap yang tiba-tiba masuk ke tenggorokannya, Kirana Yudhoyono menatap Bryan Santoso dengan sorot mata penuh amarah.

Di bawah pengaruh sisa alkohol yang masih berdenyut di kepalanya, ia memandang pria di depannya itu seolah Bryan adalah bajingan paling tak tahu malu di seluruh dunia.

Wajah kecil Kirana yang memerah akibat batuk dan emosi justru membuatnya tampak sangat menggemaskan di mata pria itu.

"Heh."

Ekspresi imut yang ditunjukkan Kirana itu langsung membuat Bryan tertawa pelan.

Binar humor yang sangat jarang terlihat kini terpancar jelas dari kedua matanya yang biasanya sedingin es.

Dengan gerakan tenang, Bryan mematikan batang rokoknya pada asbak mobil, mengembuskan sisa asap terakhir dari paru-parunya, lalu menoleh kembali dan mendekatkan wajahnya untuk menutup bibir Kirana yang masih sedikit terbuka karena terkejut.

Insting pertama Kirana saat melihat wajah Bryan semakin mendekat adalah melarikan diri dan menjauh darinya.

Namun sebuah tangan kuat di pinggangnya menahan tubuhnya dengan erat, mencegahnya bergeser sedikit pun.

Dan pada saat berikutnya, suara rendah serak itu kembali terdengar tepat di telinganya, menghadirkan getaran yang membuat bulu kuduk Kirana meremang.

"Kali ini aku akan melakukannya dengan perlahan," ujar Bryan dengan nada penuh janji dan dominasi.

Lalu sebelum Kirana sempat menyadarinya, seluruh indranya seolah langsung dibanjiri ciuman beraroma tembakau yang dahsyat.

Ciuman itu terasa sangat intens, hampir mendekati kasar, seakan Bryan sedang melampiaskan seluruh rasa frustrasi yang terpendam sepanjang malam.

Kirana dicium begitu dalam hingga ia benar-benar merasa linglung dan pusing.

Dunianya seolah berputar cepat, membuatnya merasa seperti melayang tinggi di atas awan tanpa pijakan.

Satu-satunya hal yang masih bisa diyakini akal sehatnya saat ini adalah bahwa pria yang mendekapnya jauh lebih berbahaya daripada sebatang rokok mana pun di dunia.

Bang!

Tiba-tiba terdengar dentuman kecil ketika sandaran kursi mobil yang diduduki Kirana diturunkan paksa oleh Bryan.

Pada detik berikutnya, tubuh panas pria itu ikut turun, menindih tubuh Kirana di ruang mobil yang sempit dan terasa semakin panas.

Kirana hampir tak bisa bernapas karena beban tubuh Bryan dan intensitas suasana di antara mereka. Ia merasa seluruh tubuhnya seperti tenggelam semakin dalam, seolah jatuh ke dasar laut paling gelap.

'Tidak! Kenapa kau hanya diam saja, Kirana! Lawan! Singkirkan pria ini sekarang juga!' batin Kirana menjerit di dalam kepalanya.

Efek alkohol yang tadi membuat pikirannya kacau entah mengapa kini menghilang mendadak.

Rasionalitasnya telah kembali sepenuhnya dan sedang menjerit keras memperingatkannya akan bahaya situasi ini.

Namun anehnya, tubuhnya justru seolah menolak mematuhi perintah rasionalitas itu.

Kirana hanya bisa diam, membiarkan Bryan melakukan apa pun padanya tanpa kekuatan sedikit pun untuk menolak.

'Arghhhh, lebih baik pura-pura tidur saja! Ya, itu langkah paling aman sekarang. Kalau si Bos Besar Iblis ini bertindak lebih jauh, aku akan langsung menendang "burungnya" sampai hancur! Ya, kamu benar-benar pintar, Kirana!' batinnya, lalu ia langsung memejamkan mata rapat-rapat dan berpura-pura tertidur.

Menariknya, meskipun awalnya itu hanya rencana darurat untuk menyelamatkan diri dari situasi memalukan, baru beberapa detik setelah memejamkan mata, Kirana justru benar-benar tertidur.

Hal itu kemungkinan besar disebabkan sisa efek alkohol yang ternyata masih banyak tersisa di tubuhnya, meskipun sebelumnya ia sempat mengira efek itu sudah hilang karena pikirannya sempat terasa jernih.

Sementara itu, ketika orang di bawahnya tiba-tiba berhenti bergerak dan tak lagi bereaksi, Bryan mengangkat kepala.

Ia melihat wanita itu telah tertidur pulas tanpa perasaan, bahkan terdengar dengkuran pelan keluar dari bibir mungil Kirana.

Melihat itu, mata Bryan yang sempat memerah karena gairah kini kembali hitam legam seperti biasa.

Amarah dan frustrasi yang tadi membara lenyap sepenuhnya, digantikan rasa geli yang tak terbendung.

"Heh, apakah aku sudah gila? Kenapa aku bisa sampai bersikap serius dengan orang yang sedang mabuk berat seperti ini," gumam Bryan, pikirannya kini kembali jernih.

Sebelumnya ia memang sempat terbawa suasana intim hingga hampir melakukan sesuatu yang jauh lebih jauh pada Kirana di dalam mobil.

Baru tiga hari berlalu.

Mereka sebenarnya baru saling mengenal langsung selama tiga hari saja.

Namun bagi Bryan, ketertarikannya pada Kirana terasa sangat tidak masuk akal hingga ia hampir tak bisa menahan dirinya sendiri.

Dan ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu, padahal selama ini ia sudah sering didekati banyak wanita cantik.

Bryan sadar ada banyak wanita lain yang menurutnya jauh lebih cantik dan memiliki tubuh jauh lebih menggoda dibanding Kirana.

Sedangkan Kirana sendiri, sejujurnya, tampak biasa saja bila dibandingkan deretan sosialita atau model papan atas yang mengantre untuknya.

Namun anehnya, hanya Kirana yang mampu membuat hasratnya muncul begitu kuat setiap kali mereka berada dalam jarak dekat.

"Kenapa aku jadi harus terburu-buru seperti ini?" gumam Bryan pelan sambil menatap wajah tidur Kirana.

Saat pertama melihat Kirana di gudang bar malam itu, Bryan merasakan perasaan aneh yang sangat kuat, seolah jiwanya yang lama mati rasa tiba-tiba hidup kembali.

Meskipun secara teknis mereka belum pernah bertemu resmi sebelumnya, bagi Bryan rasanya seperti Kirana adalah seseorang yang sudah sangat ia kenal sejak lama.

Saat ia menggendong Kirana keluar dari gudang bar waktu itu, Bryan merasa hidupnya mendadak lengkap.

Seolah wanita ini adalah satu-satunya kepingan puzzle yang selama ini hilang dari hidupnya yang sempurna namun sepi.

Ia menginginkan Kirana, seluruh dirinya, hanya untuk dirinya sendiri, dan ia merasa tak ingin menunggu sedetik pun lagi untuk memilikinya.

Namun di sisi lain, Bryan sadar ia tak boleh kehilangan wanita itu jika bertindak terlalu agresif sekarang.

Jadi baginya, menunggu adalah satu-satunya pilihan terbaik saat ini, tak peduli seberapa besar rasa lapar di hatinya.

Bryan kemudian memutuskan membawa Kirana masuk ke dalam rumah. Ia menggendongnya kembali dengan gaya putri kerajaan, sangat hati-hati.

Para pelayan yang kebetulan masih terjaga di lantai bawah dan melihat pemandangan itu langsung tertegun di tempat.

Tak satu pun berani bersuara di depan majikan mereka yang selama ini dikenal dingin, karismatik, dan tak pernah membiarkan wanita mana pun mendekat.

Setelah Bryan naik ke lantai dua dan bayangannya menghilang di balik pintu kamar, barulah bisik-bisik penuh rasa ingin tahu terdengar di antara para pelayan.

"Barusan… aku nggak salah lihat, kan?" bisik seorang pelayan wanita muda dengan mata masih membelalak.

"Kamu nggak salah," sahut pelayan lain lirih namun tegas. "Tuan muda benar-benar menggendong Nona Kirana dengan tangannya sendiri."

"Dia bahkan nggak pernah menyentuh atau membiarkan wanita mana pun masuk ke area pribadinya sebelumnya…" tambah pelayan yang lebih senior, nadanya penuh makna.

"Dan cara beliau melihat Nona tadi… itu bukan tatapan biasa. Aku bisa melihat sesuatu yang berbeda."

"Menurutmu apakah mereka sebenarnya sudah…?"

"Shh! Pelan sedikit. Kau tahu sendiri dinding rumah ini punya telinga di mana-mana," tegur pelayan lain cepat.

"Tapi serius, aku sudah bekerja di rumah ini lima tahun. Baru kali ini aku melihat Tuan Muda bisa selembut itu pada seorang wanita."

"Kalau sampai Nona Kirana benar-benar menjadi nyonya rumah baru di sini…"

"…sepertinya suasana rumah ini bakal berubah total jadi jauh lebih hangat," sambung rekannya penuh harap.

Mereka saling berpandangan sejenak dengan ekspresi sulit diartikan, lalu serempak kembali berpura-pura sibuk saat suara langkah penjaga keamanan terdengar dari ujung koridor.

Sesampainya di kamar pribadinya yang luas, Bryan meletakkan tubuh Kirana dengan sangat lembut di atas tempat tidur king size miliknya.

Gadis itu langsung menggeliat kecil di kasur empuk, mencari posisi ternyaman.

Melihat itu, Bryan hanya tersenyum tipis.

Ia kemudian melepas satu per satu sepatu hak tinggi yang masih menempel di kaki Kirana, lalu menyelimuti tubuh wanita itu dengan selimut sutra hangat secara hati-hati.

Setelah itu ia menuju panel kontrol dinding untuk mengatur suhu ruangan agar nyaman bagi orang yang tidur.

Bryan memutuskan tidak mengganti pakaian Kirana karena merasa itu akan terlalu berlebihan dan mungkin menyinggung perasaannya nanti.

Jadi ia membiarkan Kirana tetap tidur dengan gaun pesta cantik yang masih dikenakannya.

Sebelum ikut berbaring di sisi lain tempat tidur besar itu, Bryan sempat merendahkan tubuhnya untuk memberi ciuman lembut di kening Kirana.

"Selamat malam, sayangku," bisik Bryan tulus.

​Waktu terus berjalan tenang hingga malam perlahan berganti menjadi hari baru.

Pagi sekali, saat matahari baru setengah terbit di ufuk timur langit Jakarta yang masih berkabut, Kirana terbangun dalam pelukan yang hangat dan nyaman.

Ia menggosok matanya pelan, mengumpulkan kesadaran. Dari jendela besar di samping tempat tidur, tampak dedaunan hijau rimbun di luar. Sinar matahari menembus celah gorden, menghangatkan kulitnya, sementara kicau burung terdengar merdu.

'Hm, aku di mana sekarang…?' batinnya, masih setengah sadar.

Kirana menoleh perlahan, mengamati ruangan asing itu. Efek alkohol semalam memang sudah hilang dari tubuhnya, tetapi sisa pusing masih berdenyut di belakang kepala. Meski begitu, pikirannya cukup jernih untuk menilai situasi.

"Hah—!"

Tubuhnya langsung menegang.

Ia baru sadar dirinya sedang tidur di kamar asing—dan lebih mengejutkan lagi, berada dalam dekapan Bryan Santoso.

'Oh my God!'

Dengan panik ia berusaha menyingkir. Namun gerakannya terlalu tergesa. Tubuhnya justru meluncur melewati tepi ranjang dan—

Buk!

"Aw!" rintihnya pelan, meringis sambil memegangi bokong dan lengan.

Ia duduk di lantai dingin, lalu mengintip dari balik sisi kasur.

Bryan masih tertidur. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan garis leher dan dada yang tegas.

"Dia… Bryan… dan ini pasti kamarnya…" gumam Kirana sangat pelan.

"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kenapa aku harus bangun dalam situasi memalukan begini?"

Belum sempat ia menata pikiran—

"Apa yang kamu lakukan di bawah sana?"

Suara berat itu membuat Kirana membeku.

Bryan sudah bangun. Ia menatap ke bawah ranjang, alisnya sedikit terangkat saat melihat Kirana duduk di lantai dengan ekspresi panik.

Otak Kirana langsung berputar mencari alasan. Tanpa berpikir, ia menjawab asal.

"Aku… aku cuma mikir… apa aku benar-benar semalam berhubungan seks dengan Raja Iblis Agung… membayangkannya saja sudah menyeramkan…"

"Raja Iblis Agung… Seks…?" ulang Bryan pelan, rahangnya menegang. "Kalau itu benar terjadi, menurutmu kau masih punya energi untuk melompat-lompat pagi ini?"

"AH—!"

Kirana baru sadar ia barusan bicara keras.

Ia refleks berdiri—lalu langsung tersandung gaunnya sendiri.

Tubuhnya nyaris jatuh lagi, tapi Bryan bergerak cepat. Tangannya menangkap lengan Kirana dan menariknya kembali ke atas kasur dalam satu tarikan kuat.

Sekarang Kirana terbaring di ranjang, kaki masih di luar. Wajah mereka sangat dekat—jaraknya bahkan kurang dari satu meter.

"Tuan… Tuan Bryan…"

"Gunakan namaku saja."

Nada suaranya datar, tapi tegas.

Bryan tidak ingin lagi dipanggil formal. Ia ingin perempuan ini berhenti menjaga jarak.

Kirana terpaku. Suara rendah itu terdengar lebih hangat dari biasanya. Wajah Bryan pun berbeda—tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang lembut, bahkan nyaris manis.

Ia menelan ludah.

'Kenapa dia terasa berbeda…? Atau sebenarnya dia memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia menyembunyikannya…?'

Perhatiannya tiba-tiba tertarik pada sesuatu.

Bekas luka.

Ada jejak gigitan kecil yang sudah mengering di punggung tangan Bryan.

"Bryan… itu tanganmu kenapa?" tanyanya khawatir.

Bryan melirik lukanya, lalu tersenyum tipis. "Menurutmu?"

Kirana menelan ludah. "Bekasnya… terasa familiar…"

"Pengamatan bagus."

"Uhuk… terima kasih…" Ia tersenyum canggung. "Pelakunya… aku?"

"Kalau masih ragu," kata Bryan santai sambil mengulurkan tangannya, "coba gigit lagi."

Kirana langsung melambaikan tangan panik. "Tidak perlu! Itu pasti aku! Tapi… apa yang sebenarnya terjadi semalam? Ingatanku kosong setelah dari toilet…"

"Kau pingsan di toilet perempuan. Aku masuk untuk menjemputmu. Kau menolak… lalu menggigit tanganku."

"Kau masuk toilet perempuan?" mata Kirana melebar.

Rasa bersalah langsung menghantamnya.

'Luar biasa… dia sampai mengorbankan harga diri demi menolongku…'

"Lalu kenapa aku tidur di sini? Dan… kenapa kita satu ranjang?"

Bryan tersenyum tipis melihat ekspresi wajahnya yang berubah cepat.

"Karena semalam kau menolak keras meninggalkan ‘anak kesayanganmu’."

"Anak kesayangan…?"

Sejenak ia bingung. Lalu potongan ingatan muncul—

Ia memeluk SUV Bryan sambil meracau.

Wajahnya langsung merah padam.

'Kirana, kau benar-benar gila! Mulai sekarang haram menyentuh alkohol seumur hidup!'

Ia menarik napas panjang, lalu berkata pelan, "Maaf… aku merepotkanmu semalam…"

Bryan tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tegap di kasur.

"Mengapa kau bisa mabuk separah itu?"

Pertanyaan itu membuat Kirana terdiam.

Kenangan semalam kembali muncul. Ekspresinya langsung berubah muram.

Melihat perubahan itu, tatapan Bryan menajam.

Ia sudah mendapat laporan dari Arion bahwa mantan Kirana, Aditya Pratama, ada di pesta itu bersama Aruna Yudhoyono.

Naluri protektifnya langsung bangkit.

Kirana menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Suaranya pelan.

"Aku… tidak mendapatkan peran Laura…"

"Hm? Siapa?"

"Peran pendukung di drama besar yang kuikuti…" Suaranya bergetar. "Mungkin bagimu itu sepele. Tapi aku sudah berusaha sangat keras. Aku benar-benar pikir aku berhasil… tak ada yang mengerti rasanya…"

Ia menutup wajah dengan tangan. Bahunya gemetar.

Bryan terdiam.

'Jadi bukan karena Aditya… tapi karena peran itu…' pikirnya, lega sekaligus iba.

Melihat Kirana menangis di depannya, dadanya terasa sesak.

Ia tahu betapa besar mimpinya menjadi aktris. Kalau tidak penting, Kirana pasti sudah mengambil jalan pintas sejak lama.

"Jangan sedih. Kau sudah melakukannya dengan baik," ucap Bryan lembut.

Ia menarik kepala Kirana dan menyandarkannya di dadanya.

Tatapannya mengeras.

'Hendrawan Yudhoyono… jadi kau dalangnya.'

Ia tahu pria itu investor besar proyek tersebut.

'Amatiran yang berani menindasnya…'

Tak lama kemudian, tangisan Kirana mereda.

Baru saat itu ia sadar dirinya sudah menangis hampir setengah jam dalam pelukan Bryan.

'Sial… apa yang kulakukan…'

"Maaf… kemejamu jadi basah…" katanya malu.

"Anggap saja kehormatan. Kemeja ini dibersihkan air mata murni."

Jantung Kirana langsung berdetak kencang.

Selama ini ia mengira Bryan jenius dingin tanpa empati. Ternyata pria ini bisa berkata manis mematikan.

'Jangan-jangan dia sebenarnya playboy terselubung…?'

Bryan mengusap rambutnya pelan. "Jadi, setelah ini kau mau mencari sandaran baru?"

"Hah? Sandaran apa?"

"Semalam kau bilang ingin mencari sandaran yang lebih kuat. Aku sudah menawarkan diri. Kau menolak—katamu aku tidak cukup kuat."

"Uhuk—!"

Kirana tersedak ludahnya sendiri.

'Daftar memalukan semalam ternyata masih berlanjut…'

"Bryan… tolong lupakan ocehanku semalam. Aku mabuk berat. Tidak mungkin pahamu tidak kuat jadi sandaran!" ucapnya buru-buru.

Ia langsung menyesal.

Pujian itu terdengar sangat ambigu.

Mata Bryan berkilat geli. "Kalau begitu, kenapa kau tetap menolak?"

"Aku… aku…"

Ia tak mampu menjawab.

Bryan tersenyum tipis lalu mengusap kepalanya lagi. "Sudah. Aku tidak akan menggodamu lagi. Tidurlah lagi di kamarmu sendiri."

Ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke balkon.

Udara pagi menyambutnya.

Tiba-tiba dahinya berkerut.

"Apa yang bocah itu lakukan di bawah sana?"

​Kirana yang baru saja hendak melangkah keluar dari kamar Bryan pun langsung berhenti saat mendengar suara itu. Ia pun berbalik dan menatap ke arah Bryan yang sedang berdiri mematung di balkon kamarnya tersebut.

​"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi di bawah sana?" tanya Kirana dengan rasa penasaran.

​Perempuan itu pun akhirnya tidak jadi keluar dari kamar itu. Rasa penasarannya yang besar justru membawanya untuk berjalan menuju ke arah balkon, tepat di samping tempat Bryan berada saat ini.

​Sesampainya di sana, Kirana segera mengarahkan pandangannya ke arah yang sedang dilihat oleh Bryan. Dan matanya pun membelalak lebar saat ia melihat sosok Arion Santoso yang sedang tertidur dengan sangat pulas di tengah-tengah semak-semak taman dengan sebuah kamera canggih yang masih berada di dalam genggaman tangannya.

​Kirana memang tahu bahwa agensi Glory World yang dipimpin Arion tidak hanya memiliki satu perusahaan manajemen artis saja, tetapi mereka juga memiliki lebih dari seratus media massa di bawah naungannya.

Dan ia juga tahu bahwa Arion sering dianggap sebagai bos besar dari para paparazzi di negara ini.

​Namun, ia tidak menyangka bahwa pria ini akan bertindak sampai sejauh itu. Arion benar-benar tampak sudah bertindak agak berlebihan, sampai-sampai ia rela menginap di semak-semak hanya demi mengumpulkan bahan gosip tentang saudara kandungnya sendiri.

​Bibir Kirana tampak sedikit berkedut menahan tawa saat melihat pemandangan konyol itu.

​"…apakah sebaiknya kita harus membangunkannya sekarang? Bukankah dia nantinya akan masuk angin jika dia terus dibiarkan tidur di tempat terbuka seperti itu semalaman?" tanya Kirana.

​Bryan hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya sebentar untuk mengambil sesuatu dari atas meja.

Tak lama kemudian ia kembali ke balkon dan melemparkan benda kecil yang tadi ia ambil itu tepat ke arah tubuh Arion yang masih tertidur pulas dalam posisi tangan memegang kamera yang siap memotret.

​Benda kecil yang dilempar oleh Bryan itu mengenai tubuh Arion dengan telak, yang seketika membuat pria itu langsung terbangun sambil berteriak kaget, "Aduh! Apa ini?!"

​Begitu ia tersadar sepenuhnya, Arion langsung meringis sambil mengusap bagian tubuhnya yang terkena lemparan tadi. Ia segera melihat ke arah mobil SUV perak-putih milik Bryan yang masih terparkir di bawah sana, yang tampak terlihat sangat tenang seolah tidak ada kejadian apa pun yang sedang terjadi di dalamnya.

​"Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Bryan dari atas balkon dengan nada suara yang sangat dingin.

​Mendengar suara familiar itu, Arion pun segera mencari-cari lokasi sumber suara abang laki-lakinya itu.

Ia kemudian mengadahkan kepalanya ke arah atas, dan ia pun melihat Bryan dan Kirana yang sedang berdiri berdampingan di atas balkon kamar.

​"Oh… jadi kalian sudah bangun ya…" Arion menggosok kedua matanya dan segera berdiri tegak, sambil bergumam dengan nada kecewa.

"Haa, Bang Bryan, kenapa sih Abang harus membuat jendela kaca mobil itu menjadi begitu sangat kedap suara dan sangat gelap! Apa pun usaha yang sudah kulakukan semalaman ini, aku tetap saja tidak bisa melihat apa-apa yang terjadi di dalam sana!"

​Bryan menatap dengan pandangan merendah ke arah saudara laki-lakinya yang konyol tersebut.

​"Kenapa juga mobilnya sama sekali tidak terlihat berguncang sedikit pun tadi? Apakah aku tadi sempat melewatkan momennya? Tidak mungkin!"

"Dengan stamina sehebat yang dimiliki oleh abangku ini, seharusnya mobil itu bakal terus berguncang sepanjang malam!"

"Apa jangan-jangan kalian berdua sudah berpindah ke dalam kamar saat aku tadi sempat tidak sengaja tertidur di sini?" tanya Arion dengan rentetan pertanyaan yang sangat memalukan.

​Mendengar perkataan Arion yang sangat blak-blakan itu, Kirana merasa sangat terkejut dan ia pun langsung tersipu malu dengan wajah yang memerah padam.

Padahal ia sendiri sudah menyadari sepenuhnya bahwa sebenarnya tidak ada kejadian aneh apa pun yang terjadi semalam antara dirinya dengan Bryan.

​Kirana saat ini memang masih belum bisa mengingat dengan jelas tentang kejadian ciuman panas yang sempat terjadi semalam di dalam mobil tersebut.

Hal itu dikarenakan saat kejadian itu berlangsung, ia sebenarnya masih berada di bawah pengaruh kuat alkohol, sehingga saat ia terbangun pagi ini ia mengalami fenomena amnesia jangka pendek yang membuatnya merasa tidak ada hal apa pun yang terjadi semalam.

​Namun dengan polosnya, Kirana justru memberikan tanggapan atas ucapan Arion yang nyeleneh itu, apalagi saat itu ia sedang berdiri tepat di samping Bryan.

​"Kenapa kau bisa tahu begitu detail seperti apa stamina yang dimiliki kakakmu ini dan berapa lama kira-kira dia bisa bertahan dalam hal seperti itu...?" tanya Kirana dengan nada heran.

​Arion pun menggaruk kepalanya sambil menyeringai lebar.

"Tentu saja aku tahu! Karena dia itu sangat sanggup untuk terus-menerus memukuliku sepanjang malam tanpa henti jika aku berbuat salah!"

​"..."

​Bryan seketika hanya bisa terdiam seribu bahasa saat mendengar ucapan adiknya yang sangat tidak masuk akal tersebut.

Terlebih lagi hal itu diucapkan di depan Kirana yang saat ini sedang berdiri tepat di sampingnya.

​'Kenapa juga Kirana harus merasa penasaran dengan hal seperti itu? Apa dia benar-benar menganggap bahwa aku ini adalah seorang pria yang lemah dalam hal ranjang?' batin Bryan yang merasa sedikit terhina secara tidak langsung.

​Terlepas dari rasa frustrasinya itu, Bryan pun menatap tajam ke arah adik laki-lakinya itu dengan tatapan mata yang sangat dingin dan mengancam.

​"Datanglah ke dalam ruang kerjaku nanti siang. Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kubicarakan secara pribadi denganmu," ujar Bryan dengan suara rendahnya yang membuat Arion seketika merinding.

​--+++---

​Setelah kembali ke kamar yang telah disiapkan khusus oleh Bryan Santoso untuknya, Kirana hanya bisa terdiam saat melihat interior ruangan itu.

Ia tinggal di sini sebagai pengasuh putra tunggal Bryan—Kael Santoso.

Kepribadian Kael benar-benar bertolak belakang dengan ayahnya. Anak itu imut, ceria, dan lembut, jauh berbeda dari Bryan yang dingin dan kaku. Bahkan sempat terlintas pikiran absurd di benak Kirana—

'Benarkah dia anak kandung Bryan?'

Namun wajah tampan kecil Kael jelas mewarisi garis wajah ayahnya.

Hanya dalam setengah hari dan satu malam, kamar tamu ini sudah berubah total. Bryan rupanya menyewa desainer interior ternama untuk mendekorasinya ulang khusus untuk Kirana.

Nuansa minimalis elegan yang dulu mendominasi kini berganti suasana hangat dan nyaman.

Saat membuka lemari, Kirana makin terdiam.

Deretan pakaian tersusun rapi—semuanya pas di tubuhnya.

Mulai dari piyama sutra lembut, pakaian kasual modis, hingga gaun malam mewah lengkap dengan tas dan aksesori edisi terbatas.

'Ini… pamer kekayaan tingkat dewa. Tapi tunggu… bagaimana dia tahu ukuran tubuhku seakurat ini?'

"Ada yang tidak kamu suka?"

Suara Bryan tiba-tiba terdengar dari belakang.

Kirana menepuk dahinya pelan. "Ini bukan soal suka atau tidak…"

"Lalu masalahnya?"

"Bryan… bukankah kamu terlalu baik padaku?"

Ia menatap pria itu ragu. Perlakuan Bryan terlalu berlebihan untuk seseorang yang baru dikenalnya. Mudah sekali membuat orang salah paham.

"Akhirnya kamu sadar juga kalau aku baik padamu," jawab Bryan tenang, seolah sedang memuji murid yang akhirnya memahami pelajaran.

"..."

Melihat ekspresi Kirana kembali murung, sorot mata Bryan sempat meredup, lalu pulih lagi.

"Kau menyelamatkan nyawa Kael. Dia mungkin masih membutuhkanmu lama. Menurutmu ada yang salah jika aku memperlakukan orang yang berjasa bagi putraku dengan baik?"

Ia berhenti sejenak, lalu menatapnya dalam.

"Kalau cara ini membuatmu tidak nyaman… apakah itu berarti kau ingin aku membalas jasamu dengan cara lain?"

Kirana langsung panik dan melambaikan tangan.

"Tidak! Tidak perlu! Seperti ini saja sudah sangat bagus!"

'Lupakan pikiran aneh itu. Aku tidak butuh balasan macam-macam,' batinnya lega.

Ia sadar betul dirinya dan Bryan berasal dari dua dunia berbeda. Jika suatu hari pria itu mengetahui masa lalunya yang kelam, mungkin ia akan langsung melarangnya bertemu Kael lagi.

"Waktu masih pagi. Istirahatlah dulu. Kita sarapan bersama nanti," ujar Bryan sebelum pergi.

"Baik. Terima kasih."

Setelah pintu tertutup, Kirana langsung menjatuhkan diri ke ranjang besar itu.

Tubuhnya lelah, tetapi matanya tak mau terpejam.

Bagaimana mungkin seseorang bisa tidur tenang saat menunggu kabar buruk?

Walaupun sutradara dan penulis naskah memuji audisinya sebagai Laura, apakah mereka mampu menahan tekanan investor?

"Aku tidak bisa cuma menunggu kegagalan," gumamnya tegas.

Ia duduk, membuka laptop, lalu masuk ke platform Discord.

Kesepian bagaikan anak panah tak berujung di kehampaan: "Apa kamu online?"

Balasan muncul cepat.

Raja Peri Jahat: "Wah, Superstar Kirana punya waktu menyapa rakyat jelata sepagi ini?"

Kesepian bagaikan anak panah tak berujung di kehampaan: "Apa kamu punya uang sekarang? Bisa pinjamkan aku Rp18.400.000.000?"

Raja Peri Jahat: "Jumlah yang fantastis. Apa yang terjadi?"

Kesepian bagaikan anak panah tak berujung di kehampaan: "Untuk sekali ini saja, jangan tanya alasan. Aku sangat butuh. Aku akan kembalikan secepatnya, dengan bunga kalau perlu."

Raja Peri Jahat: "Maaf. Semua danaku baru saja kuinvestasikan ke proyek kebun anggur. Butuh beberapa hari untuk dicairkan."

Kesepian bagaikan anak panah tak berujung di kehampaan: "Berapa lama?"

Raja Peri Jahat: "Sekitar tiga hari."

Kesepian bagaikan anak panah tak berujung di kehampaan: "Baik. Terima kasih."

Raja Peri Jahat: "Ini pertama kalinya kamu minta bantuan dariku. Aku tersanjung."

Kesepian bagaikan anak panah tak berujung di kehampaan: "Kapan kamu kembali ke Indonesia? Kabari aku. Aku jemput di bandara."

Raja Peri Jahat: "Kirana Yudhoyono, kamu memang wanita paling kejam yang pernah kukenal."

Statusnya langsung offline.

Kirana menghela napas panjang.

Ia sebenarnya tidak pernah ingin berutang budi pada siapa pun—terutama pada mantan kekasihnya.

Ia tahu sikapnya yang selalu menjaga jarak dan menghitung segalanya secara setara dulu pasti melukai pria itu. Namun ia tak punya pilihan.

Ia sudah lama berhenti mempercayai cinta. Ia tidak ingin merasakan sakit yang sama lagi.

Ia juga tak mau meminjam uang dari Bryan. Keterlibatannya dengan keluarga itu saja sudah terlalu dalam.

Satu jam kemudian, ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuat jantungnya menegang.

Merry.

Tangannya mengepal di pangkuan sebelum mengangkat telepon.

"Halo, Mbak Merry?"

"Jangan lupa syuting mulai jam sembilan. Cari jalanmu sendiri. Aku harus mengurus Aruna, tidak ada waktu mengantarmu," ujar Merry tajam.

"Tapi kamu kan sudah merasa mandiri. Pasti tidak butuh aku lagi, kan?!"

Nadanya menusuk, jauh lebih dingin dari biasanya.

"Apa? Syuting?" Kirana langsung duduk tegak.

"Kenapa malah tanya begitu? Masih tidur? Cepat berangkat! Jangan berani terlambat di hari pertama!"

Telepon langsung diputus.

Kirana terdiam, masih memegang ponselnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi…? Bukankah semalam aku sudah diganti?"

Ia bangkit dan berjalan mondar-mandir, mencoba menata pikiran.

Akhirnya ia menekan nomor lain.

"Halo, Sutradara Galang? Maaf mengganggu sepagi ini, tapi saya harus memastikan sesuatu."

"Ah, Kirana. Ini soal keputusan Ketua Hendrawan Yudhoyono yang semalam bersikeras menggantikanmu, bukan?"

"Ya… benar."

Dadanya menegang.

Ia tahu ancaman itu bukan gertakan.

Bersambung…

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!