NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Realita Benua Tengah

"Ini... tingkat Kaisar Kuno," desis Bai Chen.

Kipas perak di tangannya jatuh berdebum ke tanah berbatu. Wajah utusan yang selalu santai itu kini sepucat mayat. Wibawanya runtuh tak tersisa.

Zian tidak menoleh ke belakang. Matanya terus terkunci pada kakek bungkuk yang perlahan mendekat. Setiap langkah kakek itu membuat tanah di bawah sepatu Zian amblas semakin dalam. Tarikan gravitasinya membunuh siapa pun yang berani berdiri di sekitarnya.

"Kaisar Kuno? Boleh juga," suara tawa serak memecah ketegangan maut itu.

Jian melangkah maju dari samping Zian. Pemuda berambut perak itu menarik pedang raksasanya dari punggung. Mata abu-abunya menyala penuh kegilaan yang memabukkan. Hawa membunuh menyelimuti pedangnya, memancarkan aura merah yang sangat pekat.

"Kaisar atau dewa, kalau lehernya ditebas pasti putus juga!" teriak Jian liar.

Pemuda gila itu melompat tinggi membelah tekanan gravitasi. Dia mengayunkan pedang raksasanya dengan kekuatan penuh. Tebasan energi darah meluncur deras, mengincar kepala kakek bungkuk itu tanpa ragu sedikit pun.

Kakek itu bahkan tidak repot-repot mendongak melihat serangan maut tersebut. Dia hanya tersenyum memamerkan deretan gigi hitamnya. Tangan keriputnya perlahan terangkat dari balik jubah lusuhnya.

Dia menjentikkan jari telunjuknya dengan gerakan sangat santai ke arah mata pedang raksasa Jian.

Trang! KRAK!

Suara logam patah terdengar menyayat telinga. Pedang pusaka kebanggaan Jian hancur berkeping-keping menjadi debu besi hanya dengan satu sentuhan jari.

"Bocah berisik. Dagingmu tidak enak," gumam kakek itu datar.

Gelombang kejut dari jentikan jari itu melesat lurus menghantam dada Jian. Pemuda arogan itu langsung memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Bunyi tulang rusuk yang remuk berantakan terdengar jelas. Tubuh Jian terlempar ganas ke belakang, menabrak sisa lambung kapal hingga hancur berantakan.

Jian jatuh terkapar tak berdaya di atas tanah berbatu merah. Napasnya putus-putus. Satu jentikan jari tingkat Kaisar Kuno benar-benar meluluhlantakkan kebanggaan jenius Benua Tengah itu.

Kakek bungkuk itu kembali menatap Zian. Mata hitam pekatnya berkilat penuh selera makan yang mengerikan.

"Nah, sekarang giliran hidangan utamanya. Kemarikan sumsum tulangmu, Anak Muda," kekeh kakek itu sambil melangkah lebih dekat.

Zian menggertakkan giginya rapat-rapat. Rasa takut memang tidak ada di kamusnya, tapi insting bertahannya berteriak kencang memperingatkan bahaya mutlak. Tulang Asuranya mendidih hebat, memompa darah dengan kecepatan gila hingga kulitnya berubah menjadi merah gelap.

"Kau mau tulangku?" Zian menyeringai iblis. "Coba saja ambil sendiri, Pak Tua Bangka!"

Bum!

Zian melesat maju dengan kecepatan penuh. Tanah berbatu di bawahnya meledak membentuk kawah raksasa. Dia mengabaikan gravitasi yang meremukkan persendiannya. Zian memusatkan seluruh daya hancur ke lengan kanannya yang baru saja berevolusi.

"Hancur!" aum Zian membelah udara berat ngarai itu.

Ledakan sonik meledak dari kepalan tangan Zian. Udara di sekitarnya terkompresi menjadi dinding palu raksasa tak kasat mata. Zian mengayunkan tinjunya lurus ke arah wajah kakek bungkuk itu dengan niat membunuh maksimal.

Kakek itu sama sekali tidak berniat menghindar. Dia merentangkan tangan kirinya untuk menangkis pukulan Zian dengan wajah meremehkan.

"Tenaga fisik murni? Sayang sekali, mainan anak-anak itu tidak mempan padaku," remeh kakek itu.

Namun, Zian menarik lengan kanannya sedikit di udara, lalu memutar pinggangnya dalam sekejap mata. Dia memanfaatkan kelenturan ototnya untuk membelokkan arah pukulannya melewati pertahanan tangan kakek itu.

Bugh!

Tinju murni Zian bersarang telak di pipi kiri kakek bungkuk tersebut.

Suara benturan keras bergema memantul di dinding ngarai. Wajah kakek itu terdorong paksa ke samping. Langkahnya mundur setengah inci ke belakang. Setetes darah merah segar menetes perlahan dari sudut bibirnya yang pecah.

Hening seketika merayap turun. Bai Chen yang masih pucat pasi langsung membelalakkan matanya tidak percaya. Rahangnya seakan jatuh menyentuh tanah.

Seorang pemuda tanpa energi kultivasi baru saja membuat petarung tingkat Kaisar Kuno berdarah! Ini adalah keajaiban gila yang menampar telak logika dunia kultivasi Benua Tengah.

Kakek bungkuk itu meraba bibirnya yang pecah perlahan. Dia melihat noda darah merah di ujung jari keriputnya. Mata hitamnya mendadak berubah menjadi lubang maut yang memancarkan kengerian tak terbatas.

"Luar biasa. Tenaga murnimu melampaui dugaanku," suara kakek itu berubah sangat berat, menggetarkan rongga dada siapa pun yang mendengarnya. "Tapi kau baru saja membangunkan naga yang sedang tidur, Semut Kecil."

Kakek itu mengayunkan punggung tangannya ke depan. Gerakannya terlihat sangat lambat dan santai.

Namun, insting Zian berteriak ngeri. Zian sama sekali tidak bisa menghindar atau menarik tubuhnya mundur. Kecepatan serangan kakek itu melampaui batasan ruang. Zian secara refleks menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menahan hantaman maut tersebut.

Brak!

Lengan Zian terasa seperti baru saja ditabrak oleh gunung besi seberat ribuan ton yang jatuh dari langit.

KRAAAAK!

Suara tulang patah berbunyi sangat mengerikan. Lengan kanan Zian yang baru saja ditempa ulang semalaman kini patah berantakan tak berbentuk. Kulitnya robek lebar menyemburkan darah segar ke udara. Tulang Asuranya menjerit kesakitan menahan benturan murni dari level dimensi yang sangat jauh berbeda.

Zian terlempar ke udara bagai layangan putus. Dia memuntahkan banyak darah hitam. Organ dalamnya berguncang hebat, rasanya hampir pecah berkeping-keping. Pemandangan di matanya mulai berputar buram.

Tubuhnya menghantam tanah berbatu merah dengan sangat keras. Dia terseret sejauh belasan meter, meninggalkan jejak darah memanjang, dan akhirnya berhenti tepat di dekat kaki Bai Chen.

Zian terbatuk hebat. Dia mencoba memaksa tubuhnya bangun, tapi otot-ototnya menolak perintahnya. Dia sudah mencapai batas maksimal pertahanan fisiknya hari ini.

"Zian! Jangan bergerak lagi!" teriak Bai Chen panik.

Utusan Fraksi Langit itu merogoh saku jubah peraknya dengan gerakan sangat kasar. Dia membuang seluruh wibawa dan ketenangannya demi bertahan hidup. Bai Chen mengeluarkan sebuah jimat emas kuno yang memancarkan cahaya bintang sangat menyilaukan.

"Itu... Jimat Warp Ruang Angkasa?!" kakek bungkuk itu menyipitkan matanya tajam. "Jangan harap kalian bisa kabur dari tanganku, Cacing Tanah!"

Kakek itu melesat maju menembus jarak puluhan meter dalam satu kedipan mata. Tangan keriputnya berubah wujud menjadi cakar bayangan raksasa yang siap merobek dada Bai Chen dan Zian sekaligus.

Bai Chen meremas jimat emas pusaka itu hingga hancur menjadi serbuk cahaya.

"Pindah!" teriak Bai Chen sekuat tenaga.

Seketika, ruang udara di sekitar mereka berputar liar. Sebuah lubang dimensi berwarna hitam legam seukuran rumah perlahan terbuka tepat di belakang punggung mereka. Gaya tarik dari portal itu menyedot segala hal di sekitarnya dengan sangat kuat.

Bai Chen langsung menarik kerah baju Zian yang terkapar tak berdaya. Utusan itu juga menggunakan sisa sihir anginnya untuk menyeret paksa tubuh Jian yang pingsan masuk ke dalam pusaran portal.

"Tidak akan kubiarkan kau membawa makananku!" raung kakek bungkuk itu murka.

Cakar raksasanya menyambar kilat ke depan, merobek udara hingga berbunyi melengking tajam. Tapi serangannya terlambat satu detik. Cakar itu hanya berhasil menggores udara kosong.

WUSH!

Portal dimensi hitam itu menelan tubuh Zian, Bai Chen, dan Jian bulat-bulat. Lubang itu langsung menutup rapat dan menghilang tanpa meninggalkan riak sihir sedikit pun di udara.

Kakek bungkuk itu mematung di tempat portal tadi terbuka. Wajah keriputnya berkerut penuh amarah yang mendidih. Dia menggertakkan giginya hingga berdarah. Makan malam mewahnya baru saja kabur dari depan hidungnya.

Mata hitam pekatnya perlahan menoleh tajam ke arah bangkai Kapal Penembus Awan.

Di sana, Pangeran Feng dan puluhan jenius dari benua kecil masih terkapar pingsan dan gemetar ketakutan di tanah berbatu. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa mereka telah ditinggalkan begitu saja untuk menghadapi monster maut.

Kakek itu menjilat sisa darah di bibirnya dengan senyum yang sangat sadis. Hawa membunuh menyebar luas memenuhi ngarai.

"Kalau begitu, aku harus puas dengan camilan sampah ini dulu," gumam kakek itu pelan sambil melangkah menyusuri tanah merah menuju para jenius malang tersebut.

---

Di tempat lain yang jaraknya ratusan ribu kilometer dari ngarai tandus.

Di dalam sebuah lorong gelap yang lembap, berbau karat besi, dan pengap.

Brak! Bruk!

Tiga tubuh jatuh bergulingan kasar dari celah udara yang tiba-tiba terbuka di atas langit-langit.

Zian menghantam dinding batu bata dengan keras. Dia meringis pelan menahan rasa sakit yang luar biasa menusuk dari lengan kanan dan dada kirinya. Napasnya berat dan tersengal-sengal.

Bai Chen mendarat dengan kedua lututnya membentur tanah basah. Utusan itu terengah-engah hebat mencari oksigen. Jubah perak mewahnya kini robek kotor dan penuh noda darah.

Sementara Jian masih terkapar diam tak sadarkan diri di tengah genangan air lumpur kotor.

Zian memaksa tubuhnya bergeser dan bersandar ke dinding batu yang basah itu. Dia menatap langit-langit lorong yang hanya diterangi obor api redup di kejauhan. Gravitasi di tempat ini terasa sama beratnya dengan ngarai tadi.

"Kita... ada di mana?" suara Zian terdengar serak.

Bai Chen menghela napas sangat panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila. Dia menyeka keringat dingin di dahinya.

"Kita berhasil selamat dari kematian yang pasti, Zian," jawab Bai Chen pelan sambil bersandar ke dinding seberang. "Jimat darurat tadi memindahkan kita ke titik acak terdekat. Selamat datang di Kota Baja."

Bai Chen menoleh menatap Zian. Sorot mata pemuda berjubah perak itu kini terlihat sangat serius dan tajam.

"Lenganmu hancur parah, tulangmu retak berantakan. Dan tulang rusuk anak gila ini remuk total," Bai Chen menunjuk Jian yang masih pingsan.

"Turnamen Kematian akan dimulai bulan depan. Kalau kau tidak bisa menemukan obat penempa tulang tingkat tinggi di kota ini untuk mempercepat evolusimu, tamat riwayatmu. Kau hanya akan jadi samsak mati di arena nanti."

Zian menunduk melirik lengan kanannya yang terkulai lemas dan bersimbah darah. Rasa sakitnya memang membuat pandangannya berputar, tapi senyum buas justru perlahan kembali terukir di wajahnya. Matanya menyala penuh tekad yang tidak pernah padam.

Dia baru saja mencicipi tamparan realita kekuatan tingkat Kaisar Kuno. Kekuatan mutlak yang hampir merenggut nyawanya dalam satu serangan santai.

"Samsak tua tadi... pukulannya sangat bagus," bisik Zian pelan sambil menjilat darah di bibirnya. "Aku harus cepat sembuh. Tangannya harus kupatahkan nanti."

Zian menopang tubuhnya pada dinding basah. Dia memaksakan diri berdiri tegak. Kakinya gemetar keras menahan bobot gravitasi yang menekan organ dalamnya, tapi pemuda itu menolak untuk menyerah. Langkah berdarahnya di Kota Baja ini akan menjadi saksi kebangkitan fisiknya menuju puncak Benua Tengah.

Namun, baru saja Zian berdiri menghela napas, bayangan dari ujung lorong gelap itu memanjang.

Dua sosok pria bertubuh kekar melangkah keluar dari balik bayangan. Mereka mengenakan pakaian zirah kulit lusuh dan membawa golok besar berlumuran darah segar. Kedua pria itu menatap Zian dan Bai Chen dengan senyuman menyeringai lebar.

"Lihat siapa yang jatuh dari langit malam ini, Bos," ucap salah satu preman itu santai sambil menjilat mata goloknya. "Banyak daging segar bermunculan untuk arena bawah tanah kita."

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!