NovelToon NovelToon
Still You

Still You

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.

Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.

Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.

Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.

Still you.

Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Still You

Keesokan harinya, sel penjara itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Surya duduk di ranjang tipisnya. Sinar matahari masuk dari celah jeruji, membentuk garis-garis cahaya di lantai semen yang dingin. Untuk pertama kalinya sejak ia divonis, dadanya tidak terasa sesak.

Cali datang kemarin.

Ia benar-benar datang.

Wajahnya masih sama. Mata besar yang dulu sering menatapnya penuh tanya kini menatapnya penuh pengertian. Tidak ada benci. Tidak ada dendam.

Surya menunduk, senyum kecil terbit di bibirnya.

“Terima kasih…” gumamnya pelan, entah pada siapa ia menujukan kalimat itu

Suara langkah terdengar dari lorong.

Surya mengangkat wajahnya. Sipir berhenti di depan selnya.

“Ada yang ingin berkunjung.”

Surya mengernyit.

Siapa lagi?

Selain Cali dia sudah tidak mengharapkan siapa- siapa lagi untuk ia temui.

Beberapa menit kemudian, langkah yang lebih berat terdengar mendekat.

Surya terdiam,

Wiryamanta.

Rambutnya lebih memutih. Wajahnya lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu. Namun tatapan itu masih sama—tajam, tapi hari ini… retak.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Sejarah panjang puluhan tahun berdiri di antara mereka.

Wiryamanta duduk perlahan di kursi seberang.

“Aku… tak tahu harus memulai dari mana,” ucapnya pelan.

Surya tersenyum tipis. “Kau biasanya tidak pernah kehabisan kata.”

Wiryamanta menghela napas panjang.

“Seharusnya… dari semua ini, akulah yang paling pantas dihukum.” Suaranya berat. “Lihatlah keadaanmu, Kawan.”

Surya menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya.

“Jangan terlalu dramatis. Kau selalu suka mengambil peran utama.”

Wiryamanta terkekeh pelan. Tawa yang canggung, namun tulus.

“Aku gagal sebagai sahabat.”

“Dan aku gagal sebagai manusia,” balas Surya tenang.

Mereka terdiam.

Dan untuk kali ini, tak ada nada tinggi. Tak ada ego yang ingin menang sendiri.

“Aku membiarkan dendam tumbuh,” kata Wiryamanta lirih.

“Aku membiarkan luka lama membutakan semuanya.”

Surya mengangguk pelan. “Aku juga.”

“Aku merasa kau kejam dan pantas menerima dendamku,

Namun tanpa kusadari aku pun berubah menjadi monster yang menghancurkan kehidupan orang lain untuk kujadikan pijakan balas dendamku”.

Hening kembali menyelimuti, namun kali ini bukan hening yang menekan, namun hening yang menenangkan.

“Kau ingat,” ujar Wirya tiba-tiba, “saat kita hampir bangkrut karena ide gilamu membeli lima ratus kursi sebelum punya klien?”

Surya langsung mendengus. “Itu strategi jangka panjang.”

“Itu strategi bangkrut.”

Surya tertawa kecil. Tawanya serak, tapi nyata.

“Kau yang terlalu takut ambil risiko.”

“Dan kau terlalu percaya diri.”

“Karena kau selalu ada untuk menutupinya,” balas Surya cepat.

Mereka saling menatap. Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keduanya tertawa bersama.

Nama Laras terucap di antara mereka.

“Laras selalu bilang kita ini seperti anak kecil berebut mainan,” gumam Wirya.

“Dia satu-satunya yang bisa membuat kita berhenti berdebat,” Surya mengingat.

“Kita bodoh,” kata Wirya pelan. “Membiarkan semuanya hancur.”

“Ya,” jawab Surya tanpa membela diri. “Kita memang bodoh.”

Tak ada lagi pembelaan. Tak ada lagi siapa yang benar atau salah.

Hanya dua lelaki tua yang menyadari betapa mahalnya harga sebuah ego.

Wiryamanta menatap Surya lama.

“Aku meminta maaf, untuk semua luka dan kehilangan yang kau rasakan.”

Surya mengangguk. “Aku memaafkanmu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi beratnya seperti melepaskan batu besar dari dada.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Surya merasa napasnya benar-benar utuh.

Tubuhnya memang terkurung.

Namun hatinya… bebas.

“Ahh…ya, kita juga akan menjadi besan kau tahu itu?” ucap Wirya sambil tertawa.

“Ternyata takdir kita bukan sebagai kakak adik, namun sebagai besan.”

Mereka berdua melepas tawa…melepas beban…melepas dendam!!!

Di tempat lain, suasana terasa jauh lebih riuh.

“INI TERLALU RAMAI!”

“Itu justru poinnya, Cal!”

Cali berdiri di tengah gedung ballroom yang sedang dipersiapkan sebagai lokasi pernikahan. Di tangannya ada katalog dekorasi, di belakangnya ada Arka yang terlihat setengah frustasi.

“Arka, dengar ya. Aku mau white rose, baby breath, dan nuansa garden romantic. Bukan corporate gala!”

Arka menggaruk kepalanya.

“Kenapa kita tidak buat simpel saja, sederhana namun elegant?”

Arka menoleh cepat. “Simpel? Ini pernikahan kita!”

“Ya…dan aku akan tetap mau menikah denganmu meski hanya pakai kursi plastik.”

Doni yang berdiri tak jauh dari mereka langsung menyahut, “Ide bagus. Hemat anggaran.”

Arka melempar bantal sofa ke arah Doni.

“Diam kau!”

Arka tertawa kecil, lalu mendekat. “Cali… jujur saja. Apa pun dekorasinya, orang-orang tidak akan melihat bunga.”

“Lalu melihat apa?”

Arka menariknya pelan mendekat. “Pengantinnya.”

Cali langsung memalingkan wajah, menahan senyum.

“Jangan gombal.”

“Aku serius.”

Doni pura-pura muntah. “Tolong ada yang pisahkan mereka. Aku masih lajang.”

Kenzy yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum tipis. Ada sesuatu yang hangat di dadanya melihat Cali tertawa sebebas itu.

Seakan semua luka yang pernah ada benar-benar telah selesai.

“Sekarang soal catering,” ujar Cali penuh semangat.

Arka menutup mata sesaat. “Ini bagian paling berbahaya.”

“Aku mau delapan jenis dessert.”

“Delapan?!”

“Dan lima stall makanan internasional.”

“Cal, ini nikahan atau festival kuliner?”

“Sekali seumur hidup!”

Arka menyeringai. “Kita bisa ulang tahun pernikahan tiap tahun.”

“Tidak sama!”

Doni mengangkat tangan. “Tambah bakso aja. Semua orang suka bakso.”

Cali dan Arka bersamaan menatapnya tajam.

“DIAM, DONI!”

Kenzy tertawa kecil kali ini.

Cali berjalan ke arah Arka sambil membawa daftar menu. “Kamu pilih satu.”

Arka melihat daftar panjang itu dengan wajah menyerah. “Aku pilih kamu saja.”

“Arka…pernikahan kita sebentar lagi yang serius dong.”

“Apa? Itu pilihan terbaik.”

Cali memukul lengannya pelan, tapi senyumnya tak pernah hilang.

Sore itu mereka lanjut memilih gaun.

Cali berdiri di depan cermin mengenakan gaun A-line putih lembut. Rambutnya tergerai sederhana.

Arka terdiam.

Benar-benar terdiam.

“Bagaimana?” tanya Cali gugup.

Arka mendekat perlahan. “Aku tidak siap.”

“Tidak siap apa?”

“Tidak siap melihatmu secantik ini dan harus menunggu sampai hari pernikahan.”

Doni lagi-lagi pura-pura pingsan.

Kenzy berdiri sedikit menjauh, memandangi mereka dengan senyum dewasa yang tenang.

Entah mengapa, melihat Cali menemukan kebahagiaannya membuat Kenzy ikut merasa lega.

Mungkin karena akhirnya, setelah semua yang terjadi, tidak ada lagi air mata yang tersisa.

Malamnya, mereka duduk berempat di sebuah kafe kecil.

Daftar tamu berserakan di meja.

“Kenapa namaku di meja keluarga?” protes Doni.

“Karena kamu sudah seperti keluarga,” jawab Cali santai.

Doni terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.

“hmmm..pengen nangis deh…akhirnya bisa lepas dari bujang kesepian itu…

Akhirnya aku bisa memikirkan diriku sendiri sekarang.”

Mereka semua tertawa…Bahagia.

Arka menggenggam tangan Cali di atas meja.

“Kita benar-benar akan menikah,” bisiknya.

Cali menatapnya lama.

“Yes..true.”

Tidak ada drama. Tidak ada keraguan.

Hanya dua orang yang memilih satu sama lain, tanpa ragu.

Kenzy mengangkat gelasnya. “Untuk kebahagiaan yang pantas kalian dapatkan.”

Mereka saling bersulang.

Tawa memenuhi ruangan.

Dan di suatu tempat yang sunyi, seorang lelaki tua bernama Surya tersenyum dalam selnya, merasakan dunia bergerak tanpa lagi menyisakan beban di hatinya.

Masa lalu telah selesai.

Dendam telah dilepaskan.

Kini yang tersisa hanya harapan.

Dan cinta.

Selalu cinta.

1 bulan berlalu ….

 Hari yang dinanti bertahun tahun akhirnya menyapa indah….

Hari pernikahan mereka hangat.

Tidak berlebihan.

Elegan.

Putih dan sentuhan emas lembut.

Cali berjalan perlahan.

Cantik. Anggun. Damai.

Arka berdiri di ujung altar.

Dan untuk pertama kalinya…

Pria dingin itu terlihat benar-benar gugup.

Kenzy berdiri sebagai best man.

Ia menepuk bahu Arka pelan.

“Jangan pingsan ya.”

“Dan tolong jaga Cali, dia pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini.”

Arka menatapnya.

“Thank’s Bro….sudah menjaga permata ku tiga tahun ini.”

Kenzy tersenyum kecil.

“Bahagiakan dia... Itu saja.”

Saat Cali berdiri di hadapannya…

Semua perjalanan panjang itu terasa nyata.

Dendam.

Kehilangan.

Air mata.

Koma.

Perpisahan.

Tiga tahun,,,,rindu yang berkarat.

Dan kini,,,

Semua itu melebur dalam kalimat.

“Saya Arka Wiryamanta, Memilih engkau Caliandra Adiyaksa untuk menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit, untuk dicintai dan disayangi sampai maut memisahkan.”

Suara Arka mantap.

Cali menangis Bahagia, dan membalas

“Arka Wiryamanta, Saya menerima engkau sebagai suami saya, berjanji untuk setia, mencintai, dan menghormatimu dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan.”

Dan mereka resmi menjadi suami istri…

Arka menyentuh dahi Cali lembut.

Berbisik pelan hanya untuknya.

“Rindu yang tersesat  itu… akhirnya menemukan pemiliknya kembali”

Cali tersenyum di balik air mata.

“Aku pulang.”

Arka mencium keningnya lama.

Hangat.

Tenang.

Utuh.

Di antara tepuk tangan dan bunga yang berjatuhan…

Tidak ada lagi dendam.

Tidak ada lagi cemburu dan rindu.

Yang ada hanya dua hati yang pernah tersesat…

Dan akhirnya memilih untuk tetap tinggal.

Bersama….Selamanya….!!!

Ending….

Tuan Arka Wiryamanta & Ny. Caliandra Adiyaksa Wiryamanta.

Bukan sekadar nama dalam buku pernikahan.

Bukan hanya gelar suami dan istri.

Mereka adalah dua hati yang dipertemukan kembali oleh takdir,

anak dari dua sahabat yang dahulu pernah berjalan berdampingan,

Sahabat sejiwa yang seakan tak terpisahkan.

pernah membangun mimpi bersama,

namun terpisah oleh salah paham yang tak sempat diluruskan.

 Dosa masa lalu bukan milik mereka,

tetapi luka itu sempat diwariskan tanpa sengaja.

Namun sejauh apa pun langkah mereka pergi,

hati selalu tahu ke mana harus kembali.

Karena cinta mereka tidak pernah benar-benar hilang.

hanya menunggu untuk dipahami.

Dan ketika akhirnya dua nama itu kembali bersanding,

bukan sebagai bayang-bayang masa lalu,

melainkan sebagai pilihan yang diperjuangkan,

mereka menyadari satu hal sederhana yang tidak pernah berubah

Di antara segala jarak, luka, dan penantian panjang itu…

yang tetap ada,

yang tetap dicari,

yang tetap menjadi rumah,

Still you.

Dan seperti persahabatan yang pernah dimulai oleh kedua orang tua mereka,

kisah itu akhirnya kembali utuh.

melalui cinta anak-anaknya.

                                                                       ≈≈ TAMAT ≈≈

1
Azahra Wicaksono
👏👏 happy ending 🥰
Retno Isusiloningtyas
aaaaaaa.....
😭😭😭
Azahra Wicaksono
bagus banget thorr nangis aku tuh😭 kasian Aurora
Azahra Wicaksono
suka banget visualnya thorrr😍
Agustin Hariyani: terimakasih readers ku...
total 1 replies
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr👍
Azahra Wicaksono
seru bangettt thorrr, lanjutttt
Azahra Wicaksono
suka bangetttt😍
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!