Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Satu bulan telah berlalu sejak Anya menandatangani kontrak gila itu.
Kehidupan gadis tomboy itu berubah drastis dari pelayan bar yang menghindari kejaran lintah darat menjadi "tawanan" mewah di penthouse Kaelan. Rutinitasnya kini terdiri dari: sarapan buatan Kaelan yang sialnya selalu enak, dihajar Kaelan di ring tinju hingga babak belur, lalu menghabiskan sisa hari dengan membaca buku tebal tentang sejarah dan aturan Klan Obsidian yang dijejalkan Kaelan padanya.
"Ini lebih buruk dari ujian nasional," keluh Anya suatu sore, menelungkupkan wajahnya di atas buku setebal bantal di meja ruang tengah.
Kaelan, yang sedang memeriksa laporan keuangan klan di sofa seberang, hanya melirik sekilas dari balik kacamata bacanya. "Kalau kau ingin kepalamu tetap menempel di leher saat bertemu para Tetua bulan depan, baca halaman 204 tentang hierarki Caporegime."
Anya mengerang frustrasi. Ia rindu udara luar. Ia rindu bau polusi kota, suara klakson yang memekakkan telinga, dan, entah kenapa, ia merindukan omelan Miko di Oasis Club. Kehidupan sebagai Nyonya Mafia ternyata sangat... membosankan.
"Kaelan, kumohon," rengek Anya, mengangkat kepalanya dan memasang wajah memelas—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. "Biarkan aku keluar. Hanya sebentar. Aku ingin makan siomay di pertigaan jalan. Atau apalah. Aku bisa mati konyol karena kurang vitamin D di sangkar ini."
Kaelan menghela napas, menutup laptopnya. Ia tahu Anya sudah mencapai batas kesabarannya. Memaksa gadis liar seperti Anya untuk terus dikurung sama saja dengan menunggu bom waktu meledak.
"Baiklah," ucap Kaelan akhirnya, membuat mata Anya berbinar seketika. "Tapi kau harus pergi bersama Dante dan Leo."
Dante dan Leo adalah dua pengawal pribadi Kaelan yang paling tangguh. Mereka bertubuh kekar, jarang tersenyum, dan selalu mengenakan kacamata hitam bahkan di dalam ruangan.
"Terserah, asal aku bisa menghirup udara yang tidak difilter AC sentral," sahut Anya riang, langsung berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Tiga puluh menit kemudian, Anya berdiri di pinggir jalanan kota yang sibuk, mengenakan jaket bomber kebesarannya, celana kargo, dan topi beanie yang menutupi rambut wolf-cut-nya. Dante dan Leo berdiri menjulang di belakangnya seperti dua menara pengawas, membuat para pejalan kaki menyingkir dengan tatapan ngeri.
"Kalian berdua bisa mundur sedikit, tidak?" gerutu Anya, mengunyah siomay bumbu kacang favoritnya dari piring kertas. "Orang-orang mengira aku ini bos kartel narkoba."
"Perintah Tuan Kaelan, Nyonya. Kami tidak boleh berjarak lebih dari dua meter dari Anda," jawab Dante kaku, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.
Anya memutar bola matanya. Ia berjalan menyusuri trotoar, menikmati hiruk-pikuk kota. Namun, insting jalanannya yang tajam—yang telah diasah Kaelan selama sebulan terakhir—mulai menangkap sesuatu yang tidak beres.
Sebuah van hitam tanpa pelat nomor melaju pelan di seberang jalan, seolah mengikuti langkah mereka. Kaca jendelanya gelap total.
Anya menghentikan langkahnya, pura-pura melihat etalase toko sepatu. Ia melirik dari sudut matanya. Kaca van hitam itu perlahan turun. Sebuah moncong logam mengkilap menyembul dari celah jendela.
Sial.
"Dante! Leo! Merunduk!" teriak Anya sekuat tenaga.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan beruntun memecah keramaian jalan. Kaca etalase toko sepatu di depan Anya hancur berantakan, menghujani trotoar dengan pecahan tajam. Orang-orang menjerit histeris dan berlarian mencari tempat berlindung.
Dante dan Leo dengan sigap menarik Anya, menjatuhkannya ke balik sebuah mobil sedan yang terparkir. Keduanya mencabut pistol dari balik jas mereka dan mulai melepaskan tembakan balasan ke arah van hitam tersebut.
"Nyonya, tetap di bawah!" perintah Leo, wajahnya tegang.
Peluru demi peluru menghantam bodi mobil yang melindungi mereka, memercikkan bunga api. Telinga Anya berdenging keras. Ini bukan perkelahian jalanan. Ini adalah percobaan pembunuhan nyata.
"Sialan, Arthur benar-benar tidak main-main," umpat Anya, jantungnya berdebar kencang, namun anehnya, ia tidak merasa takut. Latihan kerasnya bersama Kaelan ternyata membuahkan hasil. Pikirannya tetap jernih.
Van hitam itu melaju kencang, berusaha kabur setelah melihat tembakan balasan dari Dante dan Leo yang cukup presisi mengenai ban belakang mereka.
"Mereka kabur!" seru Dante, bersiap mengejar.
Namun, sebelum Dante sempat bergerak, Anya tiba-tiba bangkit. Mata gadis tomboy itu berkilat marah. "Enak saja mau lari setelah membuang siomayku yang baru kusuap setengah!"
Dengan gerakan lincah yang membuat kedua pengawal bertubuh raksasa itu ternganga, Anya melompati kap mobil sedan, berlari kencang memotong jalan lewat gang sempit, dan mencegat arah laju van hitam yang mulai oleng karena bannya kempes.
Van itu terpaksa mengerem mendadak agar tidak menabrak tong sampah besar yang sengaja didorong Anya ke tengah jalan. Dua pria bertopeng ski melompat keluar dari van, menodongkan pistol ke arah Anya.
"Menyerahlah, pelacur. Paman Arthur mengirim salam," desis salah satu pria itu.
Anya menyeringai, senyum tengil yang selalu membuat Kaelan sakit kepala. "Salam kembali dari preman pasar."
Sebelum pria bertopeng itu sempat menarik pelatuknya, Anya melesat maju, lebih cepat dari yang bisa ditangkap mata mereka. Ia mempraktikkan teknik lucutan senjata yang diajarkan Kaelan pagi tadi. Dengan satu putaran pergelangan tangan yang keras, pistol pria itu terpelanting ke udara.
Anya menggunakan momentum itu untuk mendaratkan tendangan memutar tepat ke rahang si pria bertopeng, membuatnya tersungkur pingsan.
Pria kedua yang terkejut, panik dan menembak sembarangan. Peluru meleset tipis dari telinga Anya, merobek sedikit ujung topi beanie-nya. Adrenalin Anya memuncak. Ia merunduk rendah, melakukan sapuan kaki, lalu saat pria itu kehilangan keseimbangan, Anya mendaratkan pukulan uppercut bertenaga penuh ke dagunya.
Bugh!
Tukang pukul bayaran itu ambruk, mengerang kesakitan, hidungnya patah, dan darah merembes dari balik topengnya.
Anya berdiri tegak, napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun. Ia mengusap keringat di dahinya, menatap dua pria besar yang menggelepar di tanah dengan puas.
"Sudah kubilang, jangan remehkan preman pasar," gumam Anya bangga.
Suara derit ban yang memekakkan telinga terdengar di belakangnya. Sebuah Rolls-Royce hitam berhenti mendadak. Pintu terbanting terbuka, dan Kaelan melompat keluar. Wajah sang mafia es itu... terlihat sangat pucat dan panik. Sebuah ekspresi yang belum pernah Anya lihat sebelumnya.
Kaelan melangkah lebar mendekati Anya, matanya menyapu tubuh gadis itu dari atas ke bawah, mencari luka tembak. Ia mengabaikan dua pembunuh bayaran yang terkapar di tanah.
"Anya..." suara Kaelan serak, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini gemetar saat menyentuh lengan Anya. "Kau... terluka?"
Anya menatap wajah khawatir Kaelan yang begitu kentara. Senyum tengilnya memudar, digantikan oleh rasa hangat yang aneh di dadanya. "Aku tidak apa-apa, Kaelan. Cuma... topi beanie kesayanganku bolong sedikit. Dan siomayku jatuh."
Kaelan mengembuskan napas panjang, sangat panjang, seolah ia baru saja lolos dari eksekusi mati. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Kaelan menarik lengan Anya dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sangat erat.
Anya terkesiap. Wajahnya terbenam di dada bidang Kaelan yang terbalut jas mahal. Ia bisa mendengar detak jantung Kaelan yang bertalu-talu sama kencangnya dengan miliknya.
"Dasar bodoh," bisik Kaelan di puncak kepala Anya, suaranya bergetar penuh kelegaan yang menyesakkan. "Jangan pernah membuatku hampir jantungan seperti ini lagi."
Di tengah kekacauan jalanan, suara sirene polisi yang mulai mendekat, dan tatapan takjub dari Dante serta Leo yang baru tiba... Anya membalas pelukan Kaelan dengan canggung namun erat. Si tomboy keras kepala itu akhirnya menyadari satu hal: ia tidak lagi berjuang sendirian di dunia yang kejam ini.