Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIASAT DALAM PELARIAN
Bram duduk bersama dua orang kaki tangan intinya. Kaki tangannya yang ikut ada 10 orang, 2 orang ada di kapal, 6 orang berjaga di luar berjaga di depan rumah pondok kecil, dan 2 orang kaki tangan inti berjaga di dalam pondok, sekarang sedang duduk di dekatnya.
Di depan perapian, mereka membicarakan hal penting.
Bram duduk di bangku goyang yang ada di depan perapian, sementara dua lainnya duduk di bawah menghadap perapian. Keduanya menghangat badan. Ceko kaki tangan 1, mematahkan ranting kecil lalu memasukkan ke dalam api.
felix kaki tangan 2 duduk di samping Bram. Dia menemani Bram menghisab asap rokok yang menambah hangat badan mereka.
"Aku menemukan gelang pelacak di tangan Belinda dua hari lalu, tapi sudah kumusnahkan."
"Sepertinya kita sudah dimata-matai sejak awal bos."
"Bagaimana info mata-mata kita di dermaga?"
Menurut Abizor mereka mulai bergerak malam ini bos, tapi mereka masih menyisir pantai, mereka tidak tahu kita di sini."
"Aku tidak akan melepaskan Belinda."
"Bos mau apakan gadis itu?"
"Heiii, kau masih bertanya"
"Aku sudah menidurinya empat kali!"
"Tandanya apa itu, hah?"
"Bos ingin memilikinya, Bos?"
"Yaa, lebih dari itu!"
"Aku kira aku hanya tergoda saat meniduri pertama kali, tapi ini sampai empat kali. Jika aku cuma tergoda, tidak mungkin sampai menidurinya sampai empat kali."
"hehehe, selera bos beda kali ini."
"Hei, jaga ucapanmu!"
"sejak kapan aku tidur dengan yang lain?"
"Bukannya waktu di rumah pelacuran itu bos juga tidur bersama Vivian, Bos?"
"Tidak, aku cuma mengulur waktu, Vivian cuma alat untuk memancing korban keluar."
"Vivian tidak aku apa-apa kan!"
"Kukira bos berselera pada Vivian bos?"
"Gila kau!"
"Biarpun aku mafia, aku tidak mau sembarang perempuan!"
"Lantas Bos kenapa mau sandera satu ini?"
"Aku menyukainya."
"Bos tidak pernah begini?"
"Aku juga tidak tahu?"
"Bos mencintainya?"
"Yah, tentu saja."
"Bos di luar pradugaan, heheee!"
Kaki tangan 2, felix, adalah temannya. Mereka sudah 10 tahun berteman. Bram menjadikannya kaki tangan karena Felix dikejar-kejar rentenir, Bram menolongnya. Felix hafal betul watak Bram, dia berdarah dingin bahkan pada wanita sekalipun. Tapi, kali ini dia bisa takluk pada wanita. Dan, tadi saat menyusuri jalan di hutan, Bram menggendongnya di punggung sesuatu yang tidak pernah dilihatnya.
"Maksudmu?"
"Bos, kamu kurasa menggila karena perempuan itu!"
"Hati-hati dengan perkataanmu, nanti dia mendengar!"
"Bos, kau jadi bodoh karena wanita itu!"
"Heii!!!"
"Sekarang saja kita sudah dalam masalah, Bos!"
"Kamu mengubah rencana, Bos!"
"Misi kita dengan negara Bukimthan harus tertunda, harusnya kita sekarang sudah ada di Antartika bos!"
"Keberadaan perempuan itu mengacaukan semuanya!"
"Pelankan suaramu!"
"Otak Bos seakan dicuci oleh perempuan itu!"
"Heiii, Heiii, dia tidak tahu menahu..aku yang merencanakan semua, aku yang memilih jalan ini!"
"Bos menggila karenanya!"
Bram menghisap rokoknya dalam-dalam.
Kalau dipikir-pikir memang Felix ada benarnya, dia jadi mengubah rencana, sekarang dia yang diburu, misinya dengan pelanggannya yang lain jadi tertunda. Dia harus putar otak untuk menyelesaikannya.
Bagaimana caranya agar dia dan Belinda bisa aman dalam pelarian tapi tidak membuatnya repot. Membawa tahanan dan orang yang memberikan job padanya sudah membayar lunas adalah resiko besar. Kelak mereka tidak akan percaya lagi padanya.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆