Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Croissant
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di lantai eksekutif Sinclair Group, namun suasana di dalam ruangan tidak sehangat cahaya yang masuk. Di atas meja kerja Alessia, tumpukan berkas laporan analisis pasar dan proyeksi kuartal depan tampak menggunung, membuat kepalanya terasa berdenyut pening.
Di kantor, aturan mainnya sangat berbeda. Nathaniel yang lembut dan penuh perhatian di balkon malam itu seolah menghilang, berganti menjadi sosok mentor yang dingin, tajam, dan tidak kenal ampun. Bagi Nathaniel, kantor adalah medan tempur di mana Alessia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri, berpikir logis, dan mengambil keputusan berani tanpa bayang-bayang perlindungannya.
"Aku sudah membaca bagian ini tiga kali, Kak, tapi angka-angka di tabel ini tetap tidak masuk akal bagiku," keluh Alessia sambil memijat pelipisnya.
Nathaniel yang berdiri di dekat papan tulis digital tidak segera menghampiri. Ia melipat tangan di dada, menatap Alessia dengan tatapan yang sangat datar.
"Jika kamu hanya melihat angka, memang tidak akan masuk akal. Lihat strateginya, Alessia. Apa yang coba mereka lakukan dengan mengubah sistem tenant di lantai dasar?"
"Mungkin untuk menarik lebih banyak pengunjung muda?" jawab Alessia ragu-ragu.
Nathaniel menggebrak meja dengan pelan namun cukup untuk membuat Alessia tersentak. "Mungkin? Di bisnis ini tidak ada kata 'mungkin', Alessia! Kita sedang membicarakan nasib ratusan karyawan dan reputasi keluarga Sinclair di era yang terus berubah ini."
Nathaniel melangkah mendekat, namun suaranya justru semakin meninggi. "Kamu adalah calon penerus! Jika kamu bahkan tidak bisa memahami bagaimana cara mempertahankan eksistensi mall kita di tengah gempuran belanja online dan kompetitor baru seperti Maverick, bagaimana kamu bisa memimpin ribuan orang di bawahmu nanti?"
Alessia terdiam, matanya mulai terasa panas karena terkejut diparahi secara terang-terangan. "Tapi aku baru belajar, Kak..."
"Sepuluh tahun aku mendampingimu, dan musuhmu di luar sana tidak akan menunggumu selesai belajar," potong Nathaniel tegas. "Berhenti merengek dan gunakan logikamu. Jika kamu tidak bisa menjelaskan strategi ini padaku dalam sepuluh menit ke depan, aku akan membatalkan semua jadwal pertemuanmu hari ini sampai kamu benar-benar paham."
Nathaniel berbalik, meninggalkan Alessia yang terpaku di kursinya. Kemarahan Nathaniel bukan karena benci, melainkan karena ia tahu betapa kerasnya dunia yang akan dihadapi Alessia sendirian suatu saat nanti. Ia harus menjadi "badai" agar Alessia belajar cara menjadi pelaut yang tangguh.
Ketegangan di ruang kerja itu perlahan mereda, menyisakan kesunyian yang terasa berat. Nathaniel berdiri di koridor luar, menatap pintu ruangan Alessia dengan penyesalan yang mulai menggerogoti hatinya. Suara bentakannya tadi seolah masih bergema, dan ia tahu ia telah melampaui batas ketegasan yang biasa ia terapkan.
Tanpa membuang waktu, Nathaniel segera menghubungi sopir pribadinya. "Tolong ke toko roti langganan Alessia sekarang. Beli satu matcha latte less sugar dan dua croissant butter keju yang baru keluar dari oven. Antarkan langsung ke lantai eksekutif."
Beberapa saat kemudian, aroma mentega yang gurih dan wangi matcha yang menenangkan memenuhi ruangan kerja Alessia saat Nathaniel melangkah masuk. Ia membawa nampan kecil itu dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada saat ia menggebrak meja tadi.
Alessia masih duduk di posisinya, menunduk menatap berkas-berkas rumit yang tadi menjadi sumber kemarahan Nathaniel. Namun, begitu melihat kotak roti dan minuman favoritnya diletakkan di meja, pertahanan Alessia runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang kemerahan.
"Kenapa harus semarah itu sih, Kak? Aku kan benar-benar tidak paham bagian ini," gumam Alessia sesenggukan, suaranya terdengar sangat kecil dan terluka.
Ia menjauhkan berkas-berkas itu seolah-olah itu adalah benda paling menakutkan di dunia.
Melihat bahu Alessia yang berguncang, hati Nathaniel terasa seperti diremas. Ia meletakkan nampan itu, lalu melangkah mendekat hingga berdiri tepat di samping kursi kebesaran Alessia.
"Iya... maafkan aku, ya? Aku terbawa suasana karena ingin kamu cepat menguasai ini," ucap Nathaniel pelan, suaranya kini kembali menjadi sosok "lentera" yang hangat.
Ia mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Alessia dengan sangat lembut, merapikan anak rambut yang berantakan karena frustrasi. "Kita belajar pelan-pelan lagi, oke? Makan dulu rotinya selagi hangat. Setelah ini, aku akan jelaskan bagian strateginya dengan cara yang lebih sederhana. Aku janji tidak akan membentak lagi."
Alessia mendongak, matanya yang sembab menatap Nathaniel dengan tatapan yang campur aduk antara kesal dan butuh sandaran. Ia meraih ujung kemeja Nathaniel, menggunakannya untuk menyeka air matanya, sebuah tindakan manja yang hanya berani ia lakukan pada pria ini.
Nathaniel hanya bisa tersenyum tipis, membiarkan kemeja mahalnya menjadi sapu tangan darurat. Baginya, melihat Alessia kembali tenang jauh lebih penting daripada kewibawaannya sebagai direktur di kantor ini.
———
Di ruang kerja keluarga yang tenang, cahaya lampu meja berpendar hangat di atas tumpukan dokumen laporan keuangan Sinclair Mall. William baru saja meletakkan kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah, saat Rosetta melangkah masuk dengan anggun.
Ia tidak membawa kopi atau camilan, melainkan sebuah pemikiran yang rupanya sudah ia simpan sejak malam dansa tempo hari. Rosetta menghampiri suaminya, menyandarkan tangan di bahu kursi besar yang diduduki William.
"Aku sepertinya tidak akan memaksa Alessia menikah dengan relasi bisnis kita lagi. Aku sudah menemukan pria yang paling tepat untuknya," kata Rosetta tiba-tiba, suaranya tenang namun penuh keyakinan.
William tertegun sejenak. Ia memutar kursinya menghadap sang istri, menatap mata Rosetta yang memancarkan binar rahasia. "Siapa? Jangan bilang pikiranmu sama dengan apa yang ada di kepalaku sekarang," jawab William dengan nada menyelidik namun ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
Rosetta tersenyum lebar, sebuah senyum yang penuh pengertian sebagai pasangan yang telah hidup puluhan tahun bersama. "Iya... persis dengan pemikiranmu. Kenapa kita harus jauh-jauh mencarikan suami untuk Alessia dan mempertaruhkan kebahagiaannya pada orang asing? Iya, kan?"
William menyandarkan punggungnya, mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti kelegaan. "Nathaniel."
"Tentu saja Nathaniel," sambung Rosetta lembut. "Siapa lagi yang bisa memahami temperamen Alessia? Siapa lagi yang rela mengobati kakinya di balkon saat orang lain hanya memuji kecantikannya? Dan siapa lagi yang akan menjaga Sinclair Group seperti menjaga nyawanya sendiri kalau bukan dia?"
William terdiam, menatap foto keluarga di atas meja kerjanya. Di sana ada Nathaniel yang berdiri tegak di belakang kursi Alessia, selalu dalam posisi melindungi.
"Dia anak yang luar biasa, Rosetta. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana kaku dan keras kepalanya Nathaniel. Dia merasa dirinya hanya 'orang luar' yang berutang budi padaku. Dia membatasi perasaannya sendiri demi rasa hormat padaku," ungkap William dengan nada sedikit prihatin.
"Itulah tugas kita, William," ujar Rosetta sambil menggenggam tangan suaminya. "Memberi mereka restu sebelum mereka bahkan berani memintanya. Nathaniel butuh tahu bahwa dia bukan sekadar penerus bisnis, tapi dia adalah bagian dari jantung keluarga ini."
William mengangguk pelan. Strategi bisnis serumit apa pun bisa ia selesaikan, namun menyatukan dua hati yang saling menjaga namun sama-sama takut melanggar batas adalah tantangan baru baginya.